Surat Itu…

surat itu datangnya terlambat

saat asmara sudah dibuang lewat pintu asrama

jauh menuju samudra

terbang ke  negara tetangga

 

surat itu isinya banci

menyatakan maaf karena instruksi

bagaimana bisa mengandalkan cinta sejati

bila segala keputusan  harus lewat ibu suri

 

surat itu terhempas

dalam genggaman tangan diremas

bagai mengunyah tulang belulang sebegitu keras

tiada akhir hingga si pemakan  melanjutkan hidup pun malas

 

tak  lagi berpikir tentang surat

membuat langkah kaki ringan menapak

cinta tak perlu dicari

kelak akan hadir sendiri

hingga saatnya tiba nanti…

Categories: Puisi | 1 Comment

Sang Caleg Melamun…

 

 

Seorang pria menatap jalanan dari dalam rumahnya

tukang sayur sudah menggenjot gerobaknya sembari bersiul riang

mbok jamu senyum pagi-pagi dari beban botol kaca di punggungnya..

burung menari-nari melompat dari ujung pagar ke ujung pagar yang lain

ujar hatinya,

“duh enaknya jadi mereka

mampu tertawa lebar leluasa

tanpa was-was seperti aku

yang ludes harta demi kursi  wakil rakyat itu,

yang hasilnya ternyata kosong belaka…”

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Comments Off

Takut !

takut !

kalau kamu yang maju

berada di singgasana

tikus tak lagi berpesta

gergoti keju  hingga tulang

berbagai sikap curang

 

takut !

kalau kamu di sana

geram akan membahana

melihat pelabuhan berjaya

mengangkut barang berbagai negara

dari beras garam kopi coklat tapioka  dan gula

 

takut !

kalau kau unjuk gigi

tak dapat lagi komisi tinggi

dari sewa kapal hingga jualan karung

lewat calo dadakan di sana sini

kocek gelembung di saku sang menteri

hingga pensiun bisa ongkang-ongkang kaki

 

takut !

kalau kamu mulai mengaum

pencoleng bagai tersengat jarum

si bule sulit berdecak kagum

lantaran bisnis  impor musnah ribuan drum

 

takut !

tak ada yang bisa dijual

tak ada lagi harga mahal

sebab biaya tinggi terpangkas untuk si bengal

kunker . eh kunjungan kerja pun dianggap tak halal

 

takut !

takuuuuuuuuuut… !!

maka bumi acak adul pencoleng di tempat ini

tak akan mau menerimamu…

ketimbang kesejahteraan keluarga menjadi sepi

hingga tak bisa lagi mobil  gratis dibagi-bagi

sampai memudahkan berkali-kali

untuk kawin siri…..

dan menyimpan perempuan di sana sini…

Categories: Puisi | Leave a comment

Nyoblos Besok !

 

 

tangan kita esok hari

adalah sebuah tanggung jawab besar untuk kemudian hari

memilih yang salah akan menjadikan negeri ini terulang salah

dari garong hingga pengintip video porno di kala rapat,

biang bolos kerja sampai urusan memeras kiri kanan,

akankah terulang dari para makhluk

yang memperoleh upah besar bulanannya dari keringat kita,

yang  akan  berjaya mulia mendekam di gedung bulat itu ??

Categories: Puisi | Leave a comment

Percakapan Suami Istri di Pagi Hari….

 

Pagi-pagi, seorang istri duduk di teras belakang rumah dinas sang suami yang luas. Bangunan kuno bersejarah, menyimpan sejuta cerita. Berdiri di tengah kawasan elit terpandang, megah. Berwibawa. Mulia. Di situlah kini kehidupan keluarganya membahana hingga ujung dunia bermula. Angin semilir membawa sisa embun. Pipinya dingin, tersentuh air mata dari kelopak yyang hangat. Ketakutan dan was-was merasuk ke seluruh tulang.

 

Suaminya mendekati, dengan menggenggam secangkir minuman temulawak di tangan. “Ibu kenapa?’, tanyanya. Sang istri menatap tajam. Ada duka terbesit di pancarannya. “Ah bapak kan tau, aku ndak nyaman lagi rasanya. Rumah ini cukup luas, tanggung jawab kerja bapak juga sangat luas dan sudah cukup besar. Aku sudah nerimo semua ini pak. Aku bangga bapak menjabat di sini meski kepala kejedut-jedut tiap hari. Lha bapak kenapa sekarang masih mau hadapi bahaya yang lebih besar lagi? Aku ndak ngarep jadi nyonya besar lho pak. Digadang-gadang ke sana ke mari tiap hari tiap menit tiap detik. Apalagi bapak dipuji-puji orang seperti kesetanan begitu, yang ndak tau asli2nya bapak..aku yo wedi pak.. takut banget. Aku tau bapak sebetulnya yo wedi tapi ambisi bapak kelewatan”.

 

Sang suami terdiam. Matanya menatap rerumputan hijau. seakan-akan rumput berkata juga kepadanya, “Matamu juga hijau menatap kekuasaan besar yang baru, yang ada di depan matamu”.

 

Ia menyentuh pundak istrinya. Suaranya lirih, “Bu, hanya kamu, aku dan Tuhan yang tahu betapa aku menyesal setengah mati sebetulnya nerima tawaran itu. Sebagai manusia biasa aku ya malu bu.. sungguh…sebetulnya aku malu. Aku sadar sudah bikin kecewa banyak orang, termasuk ibu dan anak-anak. Mereka, orang-orang di sana itu tidak pernah tahu sejak aku terima tawaran itu, kaki ini seperti ndak bisa napak, bu… dan senyumku juga semu rasanya. Mungkin juga bahagiaku lebih lagi dari semu…” .

 

Lalu mereka berpelukan. Semilir angin menerpa lembut. Namun tetap rasanya nyelekit !

 

( ~ Linda ~ / Jakarta, Sabtu pagi, 5 April 2014 )

 

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Siapa Pilihan Saya?

 

 

Mengapa sekarang ramai sekali urusan pemilihan presiden dengan hanya dua nama? Ke mana yang lain? Tidakkah mereka juga adalah calon yang kuat? Apalagi yang termasuk dalam konvensi? Seakan-akan deretan nama itu bagai ubur-ubur yang menyusup ke dasar pasir di pinggir pantai….

Hingga detik ini, sayapun belum pernah bisa tahu apa kata hati saya untuk membuat suatu ketetapan, pilihan jatuh ke untuk siapa. Saya hanya sekadar ingin melihat Indonesia setelah ini punya greget di mana dunia…, aman tenteram antar tiap suku bangsa dan perbedaan kepercayaan yang dianut, dan indah kembali dalam perolehan rizkinya. No import…no import…no import — untuk komoditas sehari-hari ; beras, gula, bawang, coklat, garam, kedelai, hingga kaos kaki dan singlet lelaki !!!

Categories: Opini | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Tampil di Acara “Mata Najwa” Metro TV, 26 Maret 2014

ld-mtnaj

Dalam waktu yang singkat saya bertutur di “Mata Najwa” tentang pengalaman selama menjadi wartawan Istana di era Soeharto. Sesungguhnya, kurun waktu sembilan tahun ditugaskan di istana atas wakil dari majalah TEMPO dan dilanjutkan majalah GATRA, tentu banyak yang ingin diungkap. Sayangnya waktu begitu terbatas. Bahkan ada beberapa bagian cerita yang diedit.

Apapun, saya bersyukur diberi kesempatan tampil di acara Metro TV yang terkenal itu. Najwa Shihab, perempuan cantik yang mewawancarai saya sungguh cerdas, kritis, dan menyenangkan. Ia sangat paham celah serta ‘pancingan’ pertanyaan yang lugas seada-adanya, bahkan juga yang halus terselubung.

Semoga tayangan ini bermanfaat bagi semua.

 

Categories: Berbagi Info | 1 Comment

Hai Tetangga!!

Kalian biasanya sombong kepada kami. Dari urusan merebut pulau hingga penghinaan pada bangsa kami yang mencari nafkah di tempat kalian. Plus mengaku soal lagu hingga batik adalah ciptaan kalian. Kami sering dibuat mumet dan gregetan tetapi selalu berusaha menahan diri karena berlandaskan ‘saudara serumpun’.

Maka kini kami tinggal menjadi penonton saja melihat kepanikan, kesibukan, dan lontaran kecaman dari berbagai negara yang kalian rasakan sekarang… sampai-sampai keterangan resmi orang paling tinggi dan terhormat di tempat kalian itupun dicabut kembali — soal lokasi jatuhnya burung besi nan malang itu….

Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Ada Bunda Putri…

ada bunda putri
cantik sekali
indah senyumnya
legam rambutnya
langsing lekuk tubuhnya

bunda putri tertawa
menahan kepahitan
ia harus tetap berbinar
demi nama yang terlanjur tenar
dari suami yang nakal benar..

bunda putri berakting
menjelma menjadi bunda mulia
surga ikut
neraka turut
falsafah turun menurun
tatkala perjanjian nikah terwujud

bunda putri mengibaskan kebaya mahalnya
tenun puluhan juta harganya
kerennya batik sutra…
sesungguhnya ia ingin mencopot semua
mulai dari kalung mutiara
tertera di leher jenjang perkasa
hingga berlian pada jemari….
lentik penuh warna rupawan..
sebab semua hanya sarana…
bukan pembawa lekatan bahagia

bunda putri mendekap bantal
sembari berurai air mata
mulutnya berdesis ;
sampai kapan aku harus begini..
sampai kapan…
sampai belahan jiwa lumpuh tak berdaya
lalu aku juga yang kelak harus memandikannya…
karena hidup adalah perjalanan kewajiban
hingga predikatku terbawa mati..
tetap menjadi bunda putri
nan perkasa tak terperi….
sabar setia tertumpuk berpeti-peti..
berpeti-peti..
berpeti-peti…
padahal dadaku sesak menanggung nyeri

Categories: Puisi | 1 Comment

Oh, Beruang!!

beruang montok
kupeluk dikau
bagai tubuh berada di tengah selimut
hangat…

beruang gendut
kucubit dikau
karena kamu menggemaskan
bisa melirik
bibir membasah
mata merona
semua muncul pada aliran goda

beruang cinta
pucuk dicinta ulam tiba
ada anggukan
melayang di tengah awan
membelah angkasa
dari moncong burung besi
membuat orang lain iri…

oh beruang
tahukah kamu bila jadi manusia beruang
lho bukan dikau menjadi beruang
maksudku bila jadi manusia punya banyak uang
serasa lautan bisa dibeli
tak berlaku di negeri corat marut ini?

beruang….
dikau kupeluk karena uang…
ya karena beruang
cobalah tidak beruang
wajah tampanpun akan jauh-jauh terbuang…

maka beruang tergelak berderai
karena dusta membumbung tinggi
jauh ke ujung pulau
tempat memadu kasih erat jabat gemerlap
tinggal kini tumbal muncul dicari-cari…
berkata lebar tanpa sisi
khalayak mana percaya lagi??

Categories: Puisi | Leave a comment