Bernyanyi dan Bernyanyi,(Sebagian Besar) Tentang Indonesia !

Mengapa sesekali tidak berlepas lelah dengan duduk nyaman di  gedung  Usmar Ismail Kuningan jalan Rasuna Said?  Selasa malam,  21 Mei 2013 jam 19.30 akan digelar konser dari TIC (The Indonesia Choir) yang ‘seperti yang sudah-sudah’  pasti oke buanget ! Kali ini kelompok paduan suara ini akan menyuarakan tentang kehebatan Indonesia. Lagu-lagu nasional dan tradisi Indonesia menggema dengan leluasa sebagai mayoritas pilihan lagu di antara beberapa lagu asing.  Lagu radisi Minang “Indang”  akan diiringi dengan instrumen akordion dan perkusi khas Minang. Ahmad Dhani yang dikompisisikan bersama Bebi Romeo (lagu ‘Andai Aku Bisa’) yang sempat menjulang setelah dinyanyikan oleh Chrisye, akan diperdengarkan. Juga lagu karya Leo Kristi akan ‘diaduk-aduk’ dengan super indah….!

Siapa saja sih ke 28 penyanyi dalam paduan suara itu? Oho…, di tengah kesibukan mereka sebagai arsitek, perancang busana, bankir serta mahasiswa, mereka masih bisa berlelah-lelah dengan gembira mengikuti latihan berbulan-bulan untuk sebuah kesuksesan pagelaran di atas panggung. Lalu,  ada pula The Indonesia Childern Choir beranggotakan 34 anak-anak yang berusia delapan sampai 16 tahun. Suara ‘malaikat’  akan kembali menggema  yang muncul dari pita suara kejernihan anak-anak ini…!

Indonesia kaya lagu. Lagu tradisi, hymne, bahkan lagu pop. Itu yang selalu diutarakan oleh sang penggagas, pemimpin paduan suara ini, Jay Wijayanto yang luwes dan rajin berinteraksi dengan penonton manakala ia sudah di atas panggung, kocak dan sehari-hari   amat gemar menikmati penganan warteg manapun.  Jay begitu inovatif sebagai  music & art director  diberbagai  pertunjukan yang sudah-sudah.  Buktinya, TIC berhasil meraih kejuaraan kompetisi “2nd Vietnam International Choir Competition” Desember tahun lalu. Yang bagian anak-anak, Juli tahun ini akan tampil membawakan suara emas mereka pada kompetisi “Hong Kong International Youth & Children Choir Competition 2013″. Inilah yang Selasa malam juga akan diperdengarkan di muka penonton ruang konser Usmar Ismail.

TIC sendiri pernah berkonser “Bunga Rampai Tanah Airku”  tahun 2009, menampilkan berbagai lagu tradisi Indonesia. Di tahun yang sama, TIC mengadakan konser “Sirih Pinang Melayu”.  Setahun setelah itu “Menjadi Indonesia”, dan pada tahun 2011 “Nusa Silang Budaya”, “Dua Kisah Nusantara”. Tahun lalu “Manik-Manik Khatulistiwa dan “Negeri Rempah-Rempah”.  Pada tahun yang sama itulah TIC menjuarai “Viet Nam International Choir Competition  – Hue 2012 untuk kategori Mixed Chamber Choir.

Pada acara pagelaran ini, sekaligus akan diluncurkan  buku buah tangan TIC bekerjasama dengan Arto Kribiantoro, “Merek Indonesia Pasti Bisa”.  Apalagi tujuannya bila tidak untuk mengajak masyarakat Indonesia cinta pada produk lokal, tersu menerus tiada lelah membangun merk Indonesia agar mampu bersaing dalam pasar internasional.

Oya, siapa ya yang akan mengiringi suara menggelegar mereka?  Wow.., ada pianis Adelaide Simbolon Simanjuntak !  Perempuan yang satu ini, adalah pianis dahsyat yang  selalu  menyentuh tuts piano dengan jiwa raga dan hatinya yang terdalam. Ade, nama panggilannya, juga seorang guru sekolah musik di kawasan Cipete Jakarta Selatan. Muridnya ‘segudang’, termasuk anak bungsu Addie Ms berguru padanya. Gitaris Jubing Kristianto, akan kita saksikan pula kebolehannya yang selalu seru dan mengagumkan. Pemain arkodion adalah Andreas Arianto. Ketiganya tentu menjadi kesatuan  harmonisasi yang akan dibawa pulang oleh penontonnya sampai ke rumah masing-masing. Dan mengenang konser indah itu secara indah :  NYANYIAN TANAH MERDEKA.

Sayapun akan segera mencari tiket. Takut kehabisan seperti yang sudah-sudah, nyaris tak dapat kursi lhoooo…!  Ada Lucy (0813 17539685) atau Sisco (085719272040 ) untuk  mengetahui harga tiket dan persediaannya.

Selamat menonton!  Sampai jumpa di tempat konser ya!!

Categories: sos/bud | 1 Comment

Buah Lokal ‘Berjalan-jalan’ di Seputar Kebun Raya Bogor

IMG-20130515-00393

Bisa dibayangkan buah durian, jambu biji, rambutan, jeruk, salak, mangga,  alpukat, nanas, manggis, pepaya, pisang, dan segala macam buah-buahan lokal buatan Indonesia asli akan ‘berjalan-jalan’ di seputar luar Kebun Raya Bogor.  Dan dilengkapi oleh aneka warna bunga indah dari jenis krisan dan anggrek.  Lho?

 

Hari Minggu, 19 Mei 2013, Festival Bunga dan Buah Nusantara akan hadir di tengah kota. Penyelenggaranya  adalah  Institut Pertanian Bogor (IPB), bekerjasama dengan Kementrian BUMN RI dan Kementerian Pertanian RI. Dahlan Iskan, sang menteri, amat bersemangat saat usulan menyelenggarakan festival ini dilontarkan kepadanya beberapa bulan lalu oleh rektor IPB.  Tentu saja, karena  inilah kesempatan Indonesia memamerkan buah lokal sebanyak-banyaknya, dan untuk menumbuhkan semangat  ‘melebarkan sayap’  mengedepankan buah lokal di tengah maraknya buah impor yang makin tak terkendali masuk ke negeri ini.

Tampak luar memang tak selalu seindah makna asli yang di dalamnya. Begitu pula buah impor yang acapkali terpajang indah di berbagai supermarket keren. Tampilan yang menarik, warna kinclong, ukuran yang hampir beragam, memang mendominasi buah impor. Namun, banyak yang tak paham bahwa buah impor ternyata kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Bahan kimia banyak dilekatkan pada produk ini pada saat penanganan produksi dan saat setelah panen.  Kelebihan buah dalam negeri sayangnya tak banyak pula yang mengetahuinya -  sebagai buah yang kaya akan cita rasa dan unsur kesehatan yang memadai.  Dan jauh dari bahan kimia. Artinya, semua bukanlah  semata-mata tampilan cantik menarik.

Pawai bunga dan (terutama) buah akan berlangsung meriah. Tema karnaval adalah, CINTA BUNGA DAN BUAH NUSANTARA.  Sebanyak 5000 peserta akan memenuhi acara. Mereka sangat antusias untuk berpartisipasi, terdiri dari berbagai siswa-siswi SMA? SMK, instansi pemerintah,  pengusaha bunga dan buah, kelompok tani, warga IPB, bahkan masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Lomba karnaval SMA/SMK/MA sewilayah Bogor dan antar Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) di lingkungan IPB juga akan memeriahkan acara.

Pencanangan ikrar “Cinta Bunga dan Buah Nusantara”  akan berlangsung di lapangan kampus IPB Baranangsiang  pada Minggu pagi.  Menteri Pertanian RI akan memberangkatkan pawai seru ini mengelilingi Kebun Raya Bogor.

Betapa kita tentu berharap,  selain festival ini akan berlangsung meriah, bangsa Indonesia akan berjaya dengan buah lokalnya.  Negeri ini memiliki sumber daya alam yang  meruah, dengan berbagai jenis tanaman hortikultura di mana-mana. Potensi ini  sungguh sayang hingga kini belum maksimal dimanfaatkan. Padahal, nilai impor hortikultura terus menjulang dan menghabiskan devisa negara yang cukup mencengangkan tiap tahunnya. Bayangkan, tahun 2011 saja mencapai Rp 17.61 trilyun.  Semakin gencar pemerintah mengizinkan produk  buah luar negeri ke sini, rasanya semakin terasa produksi dalam negeri makin tidak mampu bersaing, dari segi harga maupun jaringan konsumennya.

Maka, dengan adanya festival buah yang akan diadakan di kotah hujan Bogor ini, semoga semua yang terkait ( pemerintah, petani bunga/buah, serta konsumennya) semakin tergelitik untuk turut serta bersama-sama memajukan pertumbuhan produk lokal.   Bukannya tak mungkin,   Indonesia akan bersinar dari bunga dan buah nusantara, serta muncul kesejahteraan baru dengan menjulangnya martabat petani bunga dan buah nusantara.

Jangan lupa, ke Bogor yuuuuuk…. hari  Minggu pagi tanggal 19 Mei 2013.  Saksikan kemegahan buah lokal Indonesia, dengan bertabur bunga semarak yang juga hasil petani bunga Indonesia !!

Categories: sos/bud | 1 Comment

“Tamu Si Dul Tukang Sop Kaki”

 “Kuping dua, babat jarit dua, kaki tiga, pelor satu, lidah satu, tulang muda tiga. Nggak pakai vetsin seperti biasa, tomat yang banyak, minyak samin segepok. Buruan, gue laper!”, ujar seorang laki-laki  sembari tolak pinggang. Dul, tanpa melihat lagi yang memesan di depan hidungnya, langsung nyosor mengambil garpu ompong, menusuk segala jeroan kambing yang siap dibelek jadi tiga bagian.  Hatinya berbunyi, berhitung, kuping dua babat jarid dua vetsin kagak, tomat banyak, minyak samin segepok. Lho…lho…rasanya dia ingat kalimat serentet itu yang selalu didengarnya puluhan tahun?

Seketika matanya menatap dari arah mana suara si pemesan itu. Jantungnya bagai digebug rotan kasur. “Pak Parno?  Hah? Kenapa ada di sini? Jangan bikin saya keder pak. Yang  dua minggu lalu dicemplungi ke tanah sekotak di  Karet Bivak bukannya ente?”, katanya gemeteran. Parno memelintir kumis tebalnya.Membuat Si Dul semakin jiper. Bulu kuduknya berdiri. Masyallah, apakah hantu bisa gentayangan di siang bolong?

“Eh Dul, ente bukan Dul Kumis tukang sop kaki seperti merk dagang Soleh Kumis di mana-mana itu. Elu malah nggak punya kumis, jadi kurang sakti. Kumis gue jauh lebih komersial. Duit nongol gara-gara kumis ini. Sangking aja gue nggak sudi jadi tukang sop kaki kayak elu begini, yang tiap hari uang receh melulu yang muncul. Capek, tauk?!” ujar Parno dengan garang, dan disusul tawanya berderai-derai.  Si Dul melirik ke arah tamu-tamunya yang sedang melahap sop kaki kambing di mangkok ngebul itu. Ia khawatir  semua mendengar percakapan itu. Dikira orang nanti dia sudah tidak waras berbicara sendiri. Orang gila masa’  jualan makanan? Bisa-bisa dagangan bubar jalan. “Udaaaaah…. don woli Dul, kagak usah takut. Mereka nggak akan dengar pembicaraan kita. Ini urusan penampakan yang hanya ahlinya yang bisa lihat!”, kata Parno.

Si Dul, sejak berjualan sop kaki tahun 1975 sampai sekarang di pojokan pinggir kali jalan Martapura, memang mempunyai berbagai pelanggan setia. Dari anak balita sampai orang jompo, yang sudah diharamkan untuk menelan makanan jeroan gudang kolesterol  itu. Semua tamu bagai tak perduli. Yang penting di mulut lezat, di perut kenyang. Darah tinggi naik, kolesterol selangit, asam urat meledak, semua toh ada lawannya. Si Dul sudah hafal serenceng nama obat. Kalau ada tamu mengeluh, “Gile Dul gue dilarang makan beginian tapi gimana dong, sop kaki ini emang rasa hantu, uenak tenan!” – maka si Dul dengan lancang berkata, “Tenang aje. Beli tuh di kios obat. Simvastatin untuk kolesterol, Lipantil supra, terus ada itu tuh, zyloric untuk asam urat, ada HP pro, ada vitorin, prolipid, lipitor. Beli jangan di apotik lho, muahal bunget. Ke kios obat Pramuka, blok M, Mayestik”, celotehnya sok tahu, sambil tangannya memegang botol kecap yang siap dikecrot ke daging kambing yang siap telan itu.  Di rumah, ia berkata kepada istrinya, “Harus belajar ilmu jiwa dan ilmu obat, bune! Kalau kita kasih saran obat ini itu, kan tamu ikuti, terus sembuh, terus datang lagi kan belanja sop kaki kita. Wakakaak!”.

Kembali ke Parno, ia makin gencar menunjuk baskom si Dul. Cincin berliannya yang kinclong empat  karat masih  bermukim di jari manisnya.  Dul melongo. Dia bermain-main atas pikirannya. Apa bisa ya orang Islam dikubur bawa harta? Cincin berlian kenapa masih ada di tangannya? Dikubur bawa cincin? Lalu pak Parno yang namanya tahun belakangan ini jadi beken karena urusan sogok menyogok, nyolong duit rakyat, bukannya sudah mati di bui karena urat nadinya ia potong sendiri?

“Heeeee.. Dul ! Gue hajar lu ya kalau mikir-mikir gue yang enggak-enggak.  Gue biar udah mampus, tetap kaya, tauk? Kamu ngiler kan lihat cincin berlianku ini?  Kalau dijual nih Dul, bisa untuk bikin cabang sop kaki lo sampai ke Sentul, BSD, dan Ancol. Makanya jangan mau jadi orang susah. Lo sampai gini hari kagak tau negeri Belanda,  kota di atas air seperti Venezia, lo nggak ngerti hotel bintang sepuluh di Bali yang romantis itu, malah naik pesawat aja lo cari yang oglak oglek murah tinggal tunggu terjun ke bawah. Cari tuh minimal Garuda. Kan bini lo si Jawa kowek itu pulang kampung ke Jetis Jogja udah pakai pesawat.  Kalau ada pesawat Singapur punya, naik itu. ..!”

Si Dul makin gemas.  Dadanya mendidih. Sialan juga ini hantu, pikirnya. Sudah gentayangan siang hari, mati bunuh diri, sebelumnya gede-gedean korupsi,  sempat masuk bui, masih juga blagu ni orang.  Rejeki orang diundat-undat, dihina tiada tara. Biar sudah jadi langganan puluhan tahun, tapi harga diri Dul tergesek pada akhirnya.  Tangannya sudah siap-siap meremas pisau daging. Garpu ompong masih mampu untuk menciptakan darah muncrat dari biji mata  si Parno.  Sedetik sebelum ia mulai beraksi, tiba-tiba ia mendengar Parno menangis tersedu-sedu.

“Kamu hebat Dul. Anakmu jadi sekolahnya sampai sarjana. Anakku dari istri pertama tiga-tiganya narkoba. Anakku dari istri kedua kakinya polio sebelah, tiap hari jalan pincang. Anak gelapku dari simpanan jalur gelapku punya bengek sesak nafas tiap hari. Istriku ada yang diam-diam pelihara brondong. Padahal badannya bogel, makanya teman-temannya sebut dia  si Yani Bogel. Otaknya sama pantatnya jaraknya dekat Dul. Jadi pikirannya yang jahat dari pantat masuk ke otak, untuk selalu selingkuhi suaminya. Dari dulu perempuan yang punya ibu tiri lima  itu punya cita-cita jadi orang kaya, pengen punya tas bermerk sekamar penuh. Nah, kesampaian deh! Dia tahu aku punya duit segubrak, lha belanja nggak karuan-karuan sampai ada minyak wangi lelaki harga sebotol enam juta, buat pacarnya. Dasar bogel gila. Sopir yang tahu jadwal hari selingkuhnya lama-lama nggak tahan, minta keluar. Katanya dia nggak tega disuruh si bogel bohongi tuannya melulu. Belum lagi istri pertamaku yang minta duit melulu untuk sumbang anak yatim ini itu. Semula aku kesal Dul. Tapi aku pikir-pikir ya sebaiknya begitu, daripada duit nyelonong buat brondong kayak bini bogel itu. Dan daripada dicopet anak buat ngobat. 

Ternyata sekarang aku sepi Dul. Mereka repot sekarang rebutan harta. Kalau perlu bunuh-bunuhan. Rumah tujuhbelas, mobil sembilan, emas berkilo-kilo. Ada yang diambil balik sama negara, ada yang masih bisa ngumpet dan nggak terlacak.  Terus nih Dul,  anak bini baru tahu juga masih ada enam ratus ribu dolar lagi yang aku sembunyikan di boks bank yang di Tanjung Priok, delapan ratus ribu  duit Jerman di boks bank jalan Thamrin, sembilan ratus ribu dolar di deposit boks bank yang kemarin ini nasabahnya dibantai itu. Semua aku sengaja taro di peti duit itu biar nggak dilacak, Dul.  Nggak ada hitung-hitungannya di atas kertas. Dulu kalau cina-cina itu nyogok, kan datang ke kantor bawa tas kresek. Atau kardus bekas mie instan.

Nah, jangan masuk deh uang rupiah. Makan tempat, nilainya dikit. Mending isi dolar. Segepok-segepok tapi artinya milyar-milyar.  Semua tiada arti sekarang Dul. Harta gue cuma kain kafan.  Ini cincin berlian kinclong juga cuma cincin hantu. Lihat sekarang tampangku di mana-mana.  Bukan sebagai pahlawan, tapi koruptor. 

Sekian puluh tahun lagi cucu aku buka dokumentasi di oom google, atau bongkar dokumen di perpustakaan, ada namaku lengkap… duh… apa mereka nggak malu?  Dul, aku nggak jadi makan sop kaki itu. Aku sudah kenyang karena aku bisa curhat sama kamu meski nggak semua.  Itu ada pengemis tadi di ujung trotoar, kasih saja sop kaki itu buat dia. Gue bayar ente pakai cincin berlian ini.  Ambil Dul. Barang ini memang nggak berkah di gue, tapi menjadi berkah kalau sudah di tanganmu. Pakailah Dul, untuk modal. Bikin warung sop kaki sampai Sentul, BSD, seluruh kota, ya? Jadi orang kaya sah-sah saja asal halal. Jadi orang miskin tapi disayang Tuhan, bahagia banget Dul!   Jangan ragu ambil cincin itu. Semua dari Tuhan. Untuk kamu dan istrimu yang hebat kerja jujur sepanjang nafasnya itu. Cincin itu bukan untuk aku yang seumur hidup maling duit rakyat…….”

Si Dul lemas. Cincin keluar dari jemari Parno. Tubuh gempal itu  menghilang seketika. Angin siang panasnya Jakarta menepis pipi. Cincin empat karat  digenggam si Dul. Dan diremas sekuat tenaga. Dan hancur berkeping-keping. Tiada ada manfaatnya lagi. Dul memandang isi baskomnya yang tinggal separo lagi…… babat jarit, paru, pelor, lidah, kuping, kaki, tulang muda……….

 

Categories: Cerpen (Fiksi) | 1 Comment

Kelam

teriris tajam

terbelah lunglai

kelam di dalam

tiada nur terselip

sampai kapan

tanya sang lembaran daun

kepada gemiricik sungai

di lengkung balong

dingin….

Categories: Puisi | Leave a comment

Dia Pergi dengan Gundah

dia pergi dengan gundah

sejuta rahasia

dalam batin yang was-was

takut luar biasa…

perih

karena kelak dianggap dusta

 

dia pergi dengan merdeka

karena tak ada yang tahu

sampai kapanpun

gulana senyap dalam ngeri

hanya dirinya

dan Tuhan yang tahu….

Categories: Puisi | 1 Comment

Harapan

 

 

 

dalam sepi kutitipkan salam
untukmu dewa dewi kehidupan
serta malaikat cinta…
betapa semua menjadi angan-angan
untuk senantiasa disayang Tuhan
dengan indah dan pertobatan..
yang terdalam…..
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Siapa Bilang Bunga Itu Telah Pergi…?

 

rerumputan masih di sana
mengelilingi bendera di tiang tinggi
kelembutan berkibar
jauh…
menuju sayup-sayup sanubari
menuju kuncup bunga menari
tanpa berpamer diri

semburat matamu bagai kaca
mencerminkan persahabatan sejati
tanpa terlintas apapun yang dimiliki
semua menjadi sama rata dan sama cinta
dalam kekerabatan indah terperi..

kau adalah bunga kami
yang kini pergi
tak jauh namun terasa jauh
karena tak lagi kami temui sehari-hari
bahasa cinta bagai tak lagi dinikmati
ah.. namun apakah benar demikian..?

kau adalah bunga kami
di sela rerumputan dan tiang bendera tinggi
di tengah irama musik kita sehari-hari
gelak tawa canda lepas sehari-hari…
tak mungkin kami rasakan tak ada engkau lagi…

panutan gerak tubuhmu
senyum dikulum bersahaja
apakah kau kira musnah begitu saja?
tidak, .. sama sekali tidak..
semua menjadi lekatan cinta tiada batas…
engkau adalah bunga kami
tetap menjadi bunga kami
dan masih ada selalu di sini…
karena tugas kita tetap sama..
mencintai tempat ini..
negeri ini…
dengan sepenuh hati…

selamat jalan bunga kami..
rasakan pelukan indah
rasakan butir air mata kami
rasakan kehilangan kami..
sebagai kekuatan baru bagimu
di tempat yang baru..
penuh sumringah
serta penuh sebongkah doa..
selalu..
dan selalu….

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Leave a comment

Tanyaku untuk Djoko

tatkala kau mengutil

apakah semua terasa kecil

oleh sebab itu kau merambah

ke perolehan yang lebih megah

 

tatkala kau menjadi maling

tidakkah kau ingat penjahat kau jirat beling

hingga mereka masuk penjara

bertahun-tahun lamanya

 

tatkala kau menggarong uang negara

mengoleksi rumah sedemikian hebatnya

mobil penuh di garasi di balik kaca

tak ingatkah kau pada rakyat sengsara

serta orang-orang yang kau tangkap berantai tangannya

 

tatkala kau tiduri perempuan

yang kau beli dari hasil duit tipuan

tidakkah kau ngeri benih yang kau tanam

adalah dari hebatnya rizki rongsokan…

 

tanyaku untuk Djoko

apakah agamamu, Djoko

siapakah Tuhanmu, Djoko

apakah tujuan hidupmu , Djoko…

 

Categories: Puisi | Tags: , , , | 3 Comments

Pramugari Oh Pramugari …!!

kamu cantik

dempul pipi tebal

gincu sumringah

rambut tertata

bertubuh  melambai…

langsing…

 

kamu melenggok

menenteng koper kecil

diikuti ekor mata orang-orang

menuju pesawat bergengsi

untuk ke mana-mana terbang sana-sini

 

selagi kamu melekatkan jemari

menandatangani surat daftar kerja

itulah langkah kakimu

untuk berkarir di tengah udara

dengan segala resikonya

 

tatkala menjalankan pendidikan

tak hanya lenggak lenggok menarik troli

serta membagikan minum yang dilakukan

namun juga cara keselamatan

untuk sigap membantu penumpang

bila maut tiba-tiba sudah mengembang

semua dipelajari dengan tak gampang

 

lalu,

mengapa saat kendaraanmu terjebur

di tengah lautan luas

serta penumpang selamat

kamu si gincu mewangi

berkata tak mau lagi

menjadi pramugari

karena seram

kapok

maut  mengintai…

dalam kesibukan kerja

di tengah udara…?

 

pramugari.. oh pramugari…

kamu sungguh aneh

orang semacammu itu

memang harusnya tak sekalipun muncul

dalam mengabdi

di dalam burung besi

lalulintasmu sehari-hari

bukankah penuh resiko tinggi

bukan lenggak lenggok bagai peragawati

di atas karpet merah berseri

dan difoto juru kamera sana sini…

untuk berpamer diri??!

 

kamu memang sebaiknya minggir

mencari kerja yang lebih banyak nyengir

barangkali cocok menjadi kasir…

di hotel berbintang tempat orang plesir

ketimbang darah senantiasa berdesir

bila pesawat  berguncang menyentuh ujung petir…

Categories: Puisi, Uncategorized | Tags: , , , , | 3 Comments

Dari Luar Jendela Pesawat…

aku adalah udara

aku juga kapas menggumpal putih

aku angin menderu

aku awan biru

aku ikuti kalian…

yang berada di pesawat menderu..

duh bagaimana bisa kuberitahu

dengan jeritan menggelegar sekalipun…

 

aku melihat wajah-wajah tenang

yang sebentar lagi hitungan sekian jam

kalian akan tercerabut dari darah mengalir

lemas..

kelu..

duka…

 

satu dari keluarga terdekat kalian..

sudah pergi pagi tadi…

jauh..

melebihi awan yang kalian tembus ini

dari dalam burung besi…

tak terbayangkan kedukaan ini..

menyerbu yang baru datang dari luar negeri

 

dari luar jendela pesawat

kuingin berkabar berita

suamimu telah tiada tadi pagi…

kalimat ini untuk sang istri

menantumu lenyap sudah…

kabar ini untuk sang ibu mertua…

ayahmu sudah mendahuluimu….

kata pedih ini untuk si anak…

 

betapa usia adalah hak penuh

Sang Rabb  Yang Tertinggi …

tak pula satu makhlukpun mampu

memaju mundurkan waktu kehidupan seseorang…

 

dari luar  jendela pesawat

kukirim doa kekuatan

atas berita duka yang tinggal beberapa jam lagi

kalian peroleh penuh nestapa……..

duka atas kewenangan DIA…….

 

( puisi ini didedikasikan untuk Santi, Darma dan mbak Iris — di hari duka 8 April 2013)

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment