Sekadar Renungan Tentang Tabungan

 

 

Yang dihinadina sudah datang ke acara besar itu. Egonya dikalahkan dengan ketulusan hatinya yang jernih. Yang dicacimaki dan dicurangi sudah tak mau ingat-ingat lagi kekalahannya. Tapi mengapa yang menzolimi justru yang tetap merasa sakit hati, was-was, tidak percaya diri, paranoid , serta menyimpan dendam yang dilontarkan dengan kelicikan-kelicikan baru yang lain ??

Tak adakah rasa kasihan kepada Ibu Pertiwi dengan segala isinya? Mengapa ambisi berkabut suram bisa selalu memenangkan sebuah keikhlasan ? Apa yang akan ditabung di dunia? Sekadar harta melimpah ruah dengan luas rumah yang tak terhingga ukurannya, simpanan uang, emas serta tiket berhamburan untuk selalu bisa dengan leluasa pergi ke berbagai mancanegara ? Apakah tabungan akan bertumpuk lewat pantat-pantat yg melekat di kursi kekuasaan? Mana tabungan kebaikan, keindahan budi, ketulusan sikap dan merendah serendah-rendahnya di hadapan Sang Rabb ?

Usia manusia mutlak di bawah kekuasaanNYA. Tak bisa dimajumundurkan oleh siapapun kecuali DIA. Sampai di mana tabungan kita…? Sampai di mana? Seberapa banyak tabungan yg bisa kita angkut , untuk menuju kehidupan lain yang dijanjikan oleh NYA sebagai tempat terindah ??

Ya Allah, berikan kami langkah kehidupan yang senantiasa menjadi berkahMU. Jangan melantur kepada kebengisan budi. Jangan kami dilumuri angin kencang beraroma kemunafikan. Jangan kami tidak disayang olehMU, ya Allah…. dan jauhi kami segera..segera..segera.. dari manusia-manusia dajal yang bisa mencelakakan kami, mencelakakan negeri ini…….dan jadikanlah kami memiliki tabungan  indah yang lebih dari cukup untuk menghadapMU,  bila waktunya tiba……

Categories: Renungan Hidup | Tags: , , , | 1 Comment

Inilah Ujar Orang yang Mengenal Susi

20141027_215439_susi-pudjiastuti-menteri-kelautanfoto : dari tribun news.

 

Susi, saya ingat ketika kamu masih SMA kelas dua sampai kelas tiga, kamu sudah mengangkut drum berisi ikan, kamu menyetir colt dan bekerja membantu ayahandamu menjual, memasarkan ikan-ikan. Kamu memang tidak ikut ujian karena sehari-hari bekerja meski ayahmu bukan orang tak punya. Kamu asyik bekerja. Kamu sejak dulu memang sudah menjadi perempuan jumpalitan. Kamu bagai kuli memang.  Tampak seperti pekerja kasar. Dan  kerjamu selalu total.

Ketika kamu membacakan kata sambutan dalam acara ‘peralihan kekuasaan’ di departemenmu yang menyediakan kursi menteri bagimu, sungguh bagus sekali isinya. Kamu terlihat sangat menguasai masalah di lapangan. Kamu paparkan semua rencana kerjamu, dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kamu menantang seluruh stafmu, sanggupkan bekerja keras bersamamu, lalu mereka menjerit dengan gempita : sanggguuuup..!!

Susi, saya tahu kamu kebingungan ketika pertama kali dipanggil oleh Jokowi dan ditawari untuk menjadi menteri. Kamu bilang kepada Jokowi, “Bapak nanti menyesal lho, saya ini apa adanya. Saya agak gila…. dan tidak punya ijazah SMA karena memang tidak ikut ujian. Masak mau jadi menteri, pak?”

Lalu Susi terperanjat ketika diundang minum teh dan disuruh memakai kemeja putih. Kamu  gemeteran. Tidak sangka sama sekali. Sepertinya Susi memang syok berat, bagaikan jarang menghadapi khalayak ramai. Padahal, selama ini  kamu  di  hadapan publik sering memberi kuliah sebagai dosen tamu atau entah apa itu namanya, di beberapa Universtas di Indonesia maupun di Singapura. Memang unik bukan? Yang hanya memiliki ijasah SMP tapi bisa melejit ke mana-mana.

Susi memang serampangan. Baju, gaya,  dan cara bicaramu. Bahkan sebelum pelantikan menjadi menteri, kamu bingung ketika berkaca, kebayamu  terlalu melorot sehingga terasa sexy dan kurang pantas dilihat. Lalu buru-buru bros besar menempel di dada.  Di kakimu  memang ada tatoo kupu-kupu. Juga suara yang berat sekali  menjadi bahan untuk diejek-ejek oleh sekelompok penyanyi kawakan Indonesia.  Kamu  pernah punya suami orang Jawa, Swiss dan Jerman. Kedua anakmu  yang keren itu sangat santun, Alfi yang duduk di SMP, dan Nadien yang kini sudah di Amerika. Suami terakhir, Christian, cukup ganteng dan sangat paham bisnis Susi serta turut mendukung penuh. Tetapi hubungan kalian  selesai tiga tahun terakhir ini.

Di perusahaanmu,  kamu membawahi 210 orang bule.  Kamu  sungguh gesit, jiwa kepemimpinanmu  luar biasa. Jangan dikira nasionalismemu  diragukan. Susi sangat cinta Indonesia.  Kamu mengirim obat-obatan, mengangkut para korban tsunami Aceh dengan sigap tanpa disuruh dan tanpa pamrih. Kamu lakukan sembari berurai air mata ketika itu.

Susi bercita-cita agar Indonesia menjadi kaya raya dari hasil laut. Jangan ada lagi ketololan dalam mengelola negara maritim yang super kaya ini.  Kamu  gemas sekali melihat kenyataan, bahwa sebagian besar dari Indonesia adalah lautan, tetapi mengapa Thailand dan Malaysia bisa mengekspor hasil laut lebih besar dari Indonesia.  Kamu  ingin kelautan dikomersialkan agar nelayan-nelayan tidak satu jiwapun lagi yang hidup miskin. Itu yang selalu dikatakan Susi jauh sebelum  melangkahkan kaki ke instansi yang akan dipimpin olehmu.

Susi memang gila, sesuai yang sudah  kamu katakan kepada Jokowi sebelumnya. Tapi apapun  kamu  harus belajar. Biarlah masyarakat mengkritikmu. Tidak apa-apa. Tatoomu caranya berpakaian maupun serampangan merokokmu. Biar kamu  belajar..hahahaaa.. rasain ! Sebab kalau saya yang nasihati,  kamu  sering bilang, “Habis bagaimana, sudah umur 50 kan susah lho ubah kebiasaan?” Tapi memang  kamu  harus menata lagi bahasa tubuhmu.  Apapun, cita-cita, kerja keras, tegas, disiplin hidup serta tajamnya intuisi dagangmu, semoga dan harus  tetap lancar mulus bersinar karena semua toh untuk kebaikan Indonesia. .. sesuai cita-citamu, Susi !!!

(seperti yang diceritakan  sahabatnya kepada saya)

Categories: sosok | Leave a comment

Puisi di Hambalang

 

Kupu-kupu melenggang senang

di dedaunan  indah Hambalang

embun merayap penuh sukma

di rerumputan luas

 

rombongan burung mengobrol senang

dengarlah apa kata mereka

si penghuni ini

memiliki hati yang luas

lebih luas dari rumahnya

 

semua cerca dianggap angin lewat

memaafkan adalah bagian dari jiwa…

si pemilik rumah ini

menjadi raja kesabaran

tatkala fitnah menjalar ke mana-mana

ia tetap punya segunung harta

yaitu pertemanan

yang tak lepas berdoa untuknya

 

dia tak jadi penghuni istana

namun banyak manusia

tak berpindah hati sekejappun darinya…

sebab bagi semua burung

kupu-kupu

embun

dan banyaknya manusia Indonesia

tetap menaruh hormat

tiada henti..

 

jadilah penghuni istana di sini…

di tempat cantik ini

bersama orang-orang yang dari kejauhan

tiada henti mengirim doa

kepada seseorang

yang sesungguhnya pantas memimpin Indonesia !!

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Leave a comment

Ngobrol Sambil Makan Siang di Hari Ulang Tahun Prabowo

ld2Waktu duduk bersebelahan Prabowo sembari makan mie godog Jawa di Pasar Raya Blok M, saya tanya sambil bisik-bisik,  “Gimana perasaanmu tadi waktu nerima Jokowi?”  Jawabnya, “Wah… gimana yaaa?’   Saya tanya lagi, “Ada rasa kesal, marah ?”   “Waduh, enggak tuh. Tidak sama sekali. Yang penting sekarang untuk kepentingan  yang  lebih besar, untuk  negara ini” – - – - “Kok tadi dalam pembicaraan di dalam ruangan , Jokowi nggak ada eye contac ya? Dia nggak natap biji matamu, mas?” – - – - “Ah, apa iya, saya nggak perhatiin tuh.. hahahahaa, apa iya begitu??? ‘” jawabnya  sambil mengaduk bakmie Jawa sedap dan tangannya  yang  satu lagi nyomot sate Khudori… Lalu katanya kepada Fadli Zon yang duduk di depannya, “Eh Fadli awas ya ambil sate kambing. Kamu nggak boleh !  Hahahaa..”

Saat saya beranjak sebentar dari kursi di sebelahnya, di meja seberang ada tamu Pasar Raya lain duduk sekeluarga. Mereka, keturunan Arab Betawi campur Solo  menyapa saya, “Mbak, bapak kami lumpuh, umur 80 lebih, dari dulu favorit sama pak Prabowo.  Beliau ingin sekali  foto  sama-sama. Boleh kami datang ke meja sana?”  Lalu jawab saya, “Sebentar ya  mbak, saya akan kasih tahu pak Prabowo,  biar nanti dia yang ke sini”.   “Ah, apa pak Prabowo mau?”, tanya salah satunya.  Lalu saya datangi lagi Prabowo, saya bisiki, “Lihat ke sebelah kanan, ada meja yang bapaknya lumpuh pakai kursi roda, ingin foto sama kamu, mas !  Mau kan datangi mereka?”   “Yang mana? O, mau..mau, saya ke situ sekarang”, jawab Prabowo segera, dan meninggalkan  hidangannya.

Keluarga keturunan Arab itu betul-betul terkejut waktu Prabowo menghampiri. Dan si bapak tua  dituntun berdiri oleh anaknya. “O, jangan pak. Tidak usah berdiri, saya saja yang duduk di sebelah bapak,” ujar Prabowo, sembari memeluk dan duduk akrab di sebelahnya. Ia menanyakan berasal dari mana, dan usia berapa.  Setelah  bersalaman hangat dengan seluruh keluarga, ia beranjak lagi ke mejanya. Tentu foto-foto tak ketinggalan. Prabowo meladeni dengan senang hati.  Salah satu dari keluarga itu memeluk saya, “Aduh mbak, Alhamdulillah kami berterima kasih sekali pada mbak…!”

ld-1

Tampak sekali di hari ulang tahunnya, 17 Oktober itu,  Prabowo  sungguh santai, tanpa beban, meskipun baru kedatangan Jokowi  di  rumah orang tuanya di jalan  Kertanegara  yang diserbu wartawan  untuk  meliput kejadian langka itu.

Kami cerita-cerita soal   lain sambil makan, bercanda soal orang Jawa, tanpa menyinggung peristiwa pertemuan antar dua tokoh itu.., seakan- akan tidak ada pertemuan maha penting  yang terjadi dua jam sebelum kami berkumpul makan siang itu. Saya, bersama tiga sahabat dekatnya (Ony, Yusuf, Maher),  ada Fadli Zon, juga seorang menteri, Djan Faridz ikut makan, plus pak Latief pemilik Pasar Raya dan Donna istrinya, juga ibu-ibu  P2K yang penuh semangat ,  bagai tak ingat yang berulang tahun ini adalah tokoh penting…., tokoh  yang  bikin heboh negeri ini.. Hahahaaa !

Oya,  Prabowo juga  usil datangi kursi Djan Faridz, katanya sambil memegang pundaknya, “Ini lho kenapa saya mau dia hadir di sini, dia ini teman saya. Orang kaya. Nggak jadi menteri lagi juga bisnisnya banyak. Saya minta kerjaan sama dia. Supaya saya dapat duit dari dia hahahahaaa..!”  Djan Farid pun tersipu-sipu.

ld7

ld-5

ld4

ld3

Sholat Jumat  dilakukan Prabowo di mesjid Pasar Raya lantai lima, dengan baju yang sama sejak pagi, baju putih-putih dan peci. Lalu turunlah ke lantai dasar usai sholat, masih dengan sandal, dan perut keroncongan. Buktinya, yang ulang tahun ini makan setengah piring besar  gado-gado, semangkok bakmie godog Jawa, sop kaki Dudung Roxy yang sodap buanget, dan empat tusuk sate Khudori. Wuaduh, laper berat  meeeeen… !!!  ( Oya, waktu disodori kue Ulang Tahun dengan lilin menyala, dia bilang, “Mbak Linda, saya nggak mau ah tipu lilin.., matiin aja ya lilinnya, kita gasak aja kuenya..hahahahaa…!”)

ld-6

Kami saat itu bagai menganggap sedang bersama seorang teman saja. Santai…. Rileks…. Tidak kaku sama sekali…., menikmati makanan sedap Pasar Raya, dan lagi-lagi  lupa baru saja terjadi sebuah peristiwa besar. – - – - dan  tidak membahasnya, kecuali pertanyaan saya yang  tadi saja .

Categories: Kepingan Kenangan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Ceu Popong

duh si eceu…

merah  jambon menyala busananya

menohok keriuhan malam

penuh manusia tiada punya adab

menerjang

menuding

serampangan

 

duh si eceu..

jelita penuh tanda tanya

jauh dalam hati nan mulia

siapa yang sedang berhadapan dengannya

ciptaan Tuhan jenis apa..

yang  tindak tanduk penuh kejam belantara

 

ceu Popong terlatih

dalam darah dagingnya

dihadang hewan berkedok manusia

tatapan mata berkejap

karena merasa semua bukan lawannya

bukan kelasnya

bukan derajatnya

 

ceu Popong bersinar

di tengah kusamnya karang nestapa

yang berceloteh dengan garang

hingga tangan menggenggam parang

siap-siap berperang

namun ia tak peduli

senyum mengembang jauh di lubuk terdalam

inilah kaum bengal yang baru melek mata

belum lagi pantat  seminggu  menyentuh  kursi kuasa

sudah besar kepala…

 

ceu Popong merdeka hatinya

merah jambon busana membantu memuliakan sinar wajahnya

hanya kesabaran semata-mata

yang tumpah melumuri tubuhnya

atas anugerah Tuhan yang selalu ia minta di sampingnya….

Categories: Puisi | Leave a comment

Bermimpi BersamaMU di Depan Ka’bah

bila kuperoleh lagi rizki

muncul di depan rumahMU

menjadi tamu yang menyemut

merasakan kecilnya diri

karena Engkau melebihi segalanya

 

bilakah datang kembali saat itu

telapak kakiku menyentuh lantai indah

di hadapan ribuan lautan manusia

menatap kiswah terjurai

aku di depan Ka’bah

menyebut namaMU hingga sanubari terdalam…

berserah serendah-rendahnya

memohon sesujud mungkin….

menuju putaran tawaf menggelegar

penuh gelora cinta

tertuju kepadaMU

sang kekasih hati

kubermimpi

dari kejauhan…

kembali bersamaMU di depan Ka’bah

bila hidayah mampir kembali

suatu saat nanti

atas aturan yang kutaati….

Categories: Puisi | Tags: , , , | Leave a comment

Ngopi Lezat di Manggar, Kota 1001 Warung Kopi

IMG-20141001-WA0000

 

Begitu masuk ke kota Manggar Belitung Timur sebagai kota kedua terbesar dan teramai di Pulau Belitung, monumen di tengah kota  menjadi pemandangan yang menarik. Teko kopi dan cangkir raksasa yang terpampang  menandakan ciri khas  kota yang menjadi kecamatan dan Ibukota Kabupaten Belitung Timur propinsi kepulauan Bangka Belitung.

“Manggar, Kota 1001 Warung Kopi”  adalah julukan khas yang mencerminkan keunikan kota ini. Di mana-mana warung kopi bertebaran. Suasana begitu hidup, hangat, dan masing-masing sudah dengan pelanggannya yang tiada henti berkunjung.

Warung Kopi Atet, di jalan Sudirman  no 187 kawasan Lipat Kajang Manggar termasuk warung yang menjadi pilihan warga maupun turis yang datang.  Suasana santai maupun serius berbaur, bersamaan dengan segala lapisan masyarakat duduk bersebelahan.  Yang berbusana seadanya, sedikit lebih rapi hingga seorang dokter maupun  deretan pak polisi berseragam yang  menikmati jam istirahatnya. Gelak tawa, obrolan warung kopi  dan kepulan asap rokok menjadi pemandangan sepanjang hari. Sesekali Basuri Tjahaya Purnama, adik Ahok wakil Gubernur Jakarta yang menjadi Bupati di Belitung Timur, turut pula duduk ngopi bersama rakyat. Yusril Isha Mahendra sang pakar hukum mantan Mensesneg  bila mudik juga mampir ke tempat itu. Suasana warung kopi Manggar sudah tercipta sejak puluhan tahun lalu. Para penambang timah berkumpul pagi sore, maupun pegawai pemerintahan serta yang bekerja di perkebunan.

Atet ( nama panjangnya  Antonius Abidin Suherman) yang berusia 64 tahun ini  mulai meneruskan usaha warung kopi kakeknya, Afu, sejak tahun 1992.  Warung itu dirintis sejak tahun 1949 di lokasi yang sama. Atet remaja, saat usia 15 tahun sudah  berbaur dengan aroma kopi karena sering membantu melayani tamu. “Harga secangkir kopi dulu masih Rp 300,- Sekarang sudah Rp 5000,-”, ujarnya sambil mengenang masa lalu. Untuk kopi O ( artinya kopi ‘kosong’  tanpa susu), segelas kecil Rp4000,-.  Untuk  penderita diabetis, Atet menyediakan gula jagung sebagai pengganti susu.  “Dulu  engkong pakai cangkir, sekarang saya pakai gelas saja supaya cucinya  gampang”, katanya.

 

IMG_20141001_160839

 

Sembari nyeruput segelas kopi susu, saya sesungguhnya was-was karena sudah hampir setahun tidak pernah menyentuh kopi  gara-gara  lambung saya bermasalah. Tiap meneguk kopi, perut terasa ngilu. Karena penasaran dengan kopi Atet, saya nyeruput pelan-pelan, dan…. waaaah, betul-betul memang lezaaaat !  Heran dan sekali lagi heran, mengapa perut saya sama sekali tidak ngambek?  Tak ada rasa senat-senut sedikitpun setelah menikmati kopi hasil olahan Belitung itu.

Menurut Atet, penggilingan kopi di Belitung punya cara tersendiri yang membuat kopi di kawasan itu ‘top’  rasanya. Tak ada campuran jagung sedikitpun, dan teknik penggilingan biji kopi juga beda dengan tempat lain. Perkebunan kopi memang tak ada di Belitung. Kiriman kopi dari Lampung berhasil diolah di daerah ini dengan cara khas yang menciptakan kelezatan tersendiri. Cara penyajian kopi di Manggarpun punya cara khas yang membuat kopi di sana terasa sangat istimewa.  Atet, yang berputri satu dan  baru lulus dari salah satu Universitas di Jakarta menjelaskan, bahwa bubuk kopi  pertama masuk ke dalam saringan kain dari bahan katun paris yang ia jahit sendiri. Lalu diseduh dengan air mendidih ke dalam saringan, baru setelah itu kopi ditumpahkan ke panci yang sudah dengan air mendidih yang lain.  Dituangkan ke  gelas, ditambahkan susu kental manis.

IMG_20141001_161008

 

 

IMG_20141001_160946

 

 

IMG_20141001_160912

 

 

 

IMG_20141001_160901

 

 

IMG_20141001_160923

 

Atet membuka warung kopinya mulai menjelang subuh hari. Biasanya ia menutup warung  sore  hari sebelum maghrib.  Warung-warung kopi lainnya, yang juga penuh pelanggan masing-masing, memiliki jam buka yang berbeda-beda. Ada yang buka agak siang dan tutup tengah malam. Hampir semua bergantian, bagai tercipta toleransi kesepakatan dagang kopi tak tertulis antara satu sama lain.

Tampilan warung kopi juga berbeda-beda. Atet belum lama merenovasi warungnya, yang semula hanya berupa dinding papan gaya tradisional. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan dua kilogram bubuk kopi untuk sekitar 500 gelas.  Ia hanya tersenyum ketika ditanya penghasilan sehari. Sebagai gambarannya, dalam sebulan keuntungan bersih bisa mencapai lebih dari Rp 10 juta.  Atet merasa tetap berbahagia dengan usaha turun menurun ini. Dari delapan bersaudara hanya dia sendirilah yang mewariskan minat nenek kakeknya. Generasi ketiga berada di tangannya. Asiu, istrinya yang setia menemani berjualan kopi , wafat tiga tahun lalu. “Dulu saya kerja di PN Timah, bagian distribusi peralatan kapal keruk sambil buka warung kopi ini, dan istri yang jaga,” cerita Atet.  Ia sempat sekolah ikatan dinas di perusahaan besar itu selama tiga tahun. Ketika muncul pemindahan pegawai ke Bangka dan pemberhentian tenaga kerja, Atet tak berminat pindah ke Bangka. “Warung ini adalah kebahagiaan saya,” ujarnya sambil tertawa lebar.

Atet juga menyediakan penganan kecil pendamping ngopi. Roti goreng maupun lemper yang dibungkus daun Simpor khas Belitung, dijual  seharga Rp 1000,- sepotong.  Murah dan enak. Rata-rata tamu sebanyak 200 an orang sehari itu nyeruput kopi dengan jajanan kue.

 

IMG_20141001_161227

 

 

IMG_20141001_161213

 

 

IMG_20141001_162905

 

 

IMG_20141001_161029

 

 

IMG_20141001_161017

 

Setelah puas ngopi, ngobrol dan bertanya segala rupa kepada Atet, saya pamit. Di jalan saya tercenung berlama-lama. Belitung jauh dari Jakarta, meski naik pesawat udara hanya membutuhkan waktu 45 menit. Tapi tempat ini tak memiliki kafe mewah, apalagi berAC dengan  alunan musik.  Kopinya?  Tiada tara lezatnya. Tak membuat sakit mag kambuh,  tidak juga menguras kocek dengan harga selangit. Saya bayangkan penganan kue seharga Rp 1000,- sepotong. Betapa ngilu rasa hati saya, apalagi membandingkan, lagi-lagi,selangitnya  harga secangkir kopi, sepotong cheese cake serta  suasana kafe di kota-kota besar, yang kopinya sangat jauuuuuh rasa bedanya dibanding  kopi Atet   maupun warung kopi lain di Manggar yang enak sekali. Tak heran pejabat asal Belitung bila datang pulang kampung tetap akan mampir ke warung-warung kopi nyaman itu. Tak berAC namun tubuh tak terasa panas, hatipun tak panas. Semua berbaur, pegawai rendahan, orang kantoran, pejabat, aparat keamanan, penuh keakraban.

Saya ingin sekali kembali ke Manggar, “Kota 1001 Warung Kopi”  yang menyenangkan.  Betul-betul saya ingin kembali lagi ke sana… Belitung Timur yang asri, dilewati desir angin laut dan jalan menuju ke sana begitu mulus, bersih, sembari menikmati kiri kanan kebun kelapa sawit maupun tanaman lada yang disebut sahang.  Seruput..seruput… seruput kopi yang lezaaaat…., rasanya semua masih di depan mata.

 

Categories: Catatan Perjalanan | Tags: , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Renungan 30 September

 

Dulu ada otak berceceran keluar dari batok kepala.

Disaksikan anak-anak kandung malang yang terguyur kepedihan dalam isak tangis dan jeritan berkepanjangan.

Kekejaman politik dari ambisi partai yg mengerikan menjadi fakta tak terhapuskan.

Sekarang ada otak utuh di dalam kepala kalian semua,

yang  tak kalian pakai sebagaimana mestinya.

Nanti tatkala kekuasaan kejam berulang pada kisah sejarah kelam,

masihkah  bangga pada pilihan  yg sangat keliru itu????

Categories: Puisi | Leave a comment

Puisi 30 September…

 

 

 

Seorang lelaki mengusap air matanya

desiran angin dingin Eropa melanda hati..

bagaimana mungkin ia melempar  jauh kenangan pahit akhir September…,

tatkala lengking jeritan pilu menggema di keluarga

para keparat merenggut nyawa sang ayah seenaknya

bagai membantai ayam tiada berharga

angin Eropa kembali menerpa kepedihan

peristiwa puluhan tahun silam  jauh di negerinya…

yang  tetap dicinta  sampai akhir hayat

hingga kini memberikan rasa was was…

apakah kejadian mengerikan itu akan terulang,

karena MEREKA kini diberi lagi peluang….?

Categories: Puisi | Leave a comment

Moerdiono, Kalau Masih Hidup……

Moerdiono pernah menjadi Sekretaris Negara. Ia seringkali dianggap o’on, membuat mual pemirsa televisi yang mendengarkan caranya berbicara. Terbata-bata, bagai orang bego’ yang duduk sebagai jubir Presiden Suharto kala itu. Tapi kami, para wartawan Istana yang tahu persis siapa Pak Moer, tentu tak menganggap demikian.

Pak Moer memang alergi kamera televisi. Ia akan terlihat gagap bila lampu kamera sudah terpasang di depannya. Atau, ia memang sering pura-pura gagap. Kalau alat perekam dimatikan, televisi tidak menyorot, Pak Moer akan lancar berbicara, selancar-lancarnya. Ia sangat cerdas, taktis, hati-hati, tidak serampangan melontarkan kata, dan kedekatannya dengan para wartawan Istana luar biasa.

Ia menjelaskan banyak informasi yang hanya sebagai latar belakang penulisan, dalam waktu yang panjang. Termasuk apa kata Pak Harto yang sesungguhnya, yang hanya untuk sikap penulisan. Semua diceritakan kepada kami, para wartawan yang bisa dipercaya untuk tidak memiliki hobi buruk untuk mlintir berita.

Apapun, kami selalu bertanya juga padanya, “Gimana sih pak Moer, bicara gagap begitu hanya pura-pura.., nanti dikira rakyat memang pak Moer bego’ beneran lhoooo”. Lalu ia hanya tertawa lebar. Katanya, “MENDING TERLIHAT BEGO’ PADAHAL TIDAK, DARIPADA SOK PINTAR BICARA INI ITU CEPLAS CEPLOS PADAHAL GOBLOG. MENDING BERPIKIR DULU BARU BERBICARA, DARIPADA BACOT GEDE KE MANA-MANA, MIKIRNYA BELAKANGAN !!”

Andai Moerdiono masih hidup dan melihat cara Ahok berbicara ….. waaaaah, tak terbayangkan apa komentarnya !!

Categories: sosok | Tags: , , , , , , , | Leave a comment