Marilah Menari….

 

marilah menari

hey ..hey..hey..hey..

hey kawan

akulah di sini

hey..hey..hey..hey..

hey kasih…

 

mari bergembira

di atas derita

dan tangis mereka…

yang penting kita juara …

 

siapa bilang dia menang

kotak suara banyak yang sudah ditendang

kalau menang nanti kita tak kebagian

padahal sudah rencana bagi-bagi kekuasaan

heeeeeeeyyyyy..

heeeeeeeeyyyy..

 

marilah kemari

hey.hey..hey..hey..

hey kawan..

gerakan menari

hey-hey..hey..hey

tanda kemenangan

jangan peduli  segala tangisan

suruh mereka pulang ke kandang

yang penting dalam kehidupan..

harus menang..

hey..hey..hey..

meski segala cara..

dihalalkan..

dihalalkan…

dihalalkan…..

Categories: Puisi | 1 Comment

Keputusan Saat Sahur

Bagas tampak kuyu.  Kerja tiada henti di media  terkenal Indonesia membuat tenaganya terkuras. Bulan puasa membuatnya harus bertahan pada haus lapar dan kesabaran. Kesabaran ?

Waktu sahur telah tiba. Bagas duduk termenung di meja makan. Ibunda sibuk menyendok nasi ke piringnya. Vitamin  dan madu di sebelah piring disediakan. Ayahnya, sembari menyeruput teh hangat, diam-diam mengamati wajah anaknya.

“Bapak lihat kamu capek sekali Bagas..”, ujarnya.  “Iya pak. Capek banget. Tapi yang bikin lebih capek adalah capek hati, dan capek menahan sabar”, jawabnya lirih.  Sang ayah terkesiap. Inilah yang ia takuti selama ini. Anaknya tak lagi bisa bekerja dengan hati ringan.  Keterpaksaan adalah hal yang mengerikan dalam menjalankan pekerjaan apapun. “Ayo ceritakan saja kepada kami, tidak usah malu nak,” kata sang ibu.

“Aku kerja lapangan, melihat semua kenyataan. Aku tahu hasilnya merah,  tapi sampai di kantor , laporan kerjaku diacak-acak oleh boss.  Merah harus diubah jadi kuning, hitam, hijau, pokoknya semau-maunya deh. Asal orang yang satu itu, yang jadi pusat berita,  namanya harus  jelek.  Kesan di masyarakat  pokoknya dia harus jelek. Di meja rapat, Bagas pernah migren berat karena mendengar instruksi atasan yang sangat kejam dan penuh rekayasa. Bagaimana bisa kerja terus-terusan di kantor itu kalau aku harus ikuti perintah jahat begitu pak?  Ibu juga pasti tidak bangga kan kalau anak ibu digaji bulanan dari hasil bohong?”

Sang ayah kembali terkesiap. Teh hangat terasa membara di mulut. Nasi berlauk sup kacang merah terasa hambar.  Hatinya berbicara, kasihan anakku. Tekanan batinnya sudah melampaui batas…

“Lalu kamu mau bagaimana?”, tanyanya. “Bagas minta izin ke bapak dan ibu,  untuk keluar saja dari dunia itu. Mending Bagas jualan syomai di pasar dekat rumah kita itu. Atau menjadi sopir mobil sewaan sementara ini sambil cari kerja yang lain,”  jawabnya.

Ibunda menahan butiran air matanya sekeras mungkin.  Duh anakku sarjana komunikasi. Pandai menulis, pintar berpidato, wawasannya cukup luas, bahasa asingnya lancar, ingin berjualan syomai atau menjadi sopir  mobil sewaan ?   Sahur malam itu terasa hening  kecuali darah di tubuh yang kencang berdesir.

“Lakukanlah nak. Bapak juga was-was, jangan sampai anakku lama-lama malah terbawa pada kegiatan tipu muslihat seperti itu. Sebetulnya Bapak sudah ingin bicara sejak lama soal ini, tapi kan rasanya kasihan melihat kamu begitu cemerlang melangkah karir di perusahaan hebat itu”.   Dan si Ibu pun nyeletuk , “Ibu tidak ada bangganya kalau anak ibu jadi makhluk penipu di kantor hebat itu.  Jualan syomai lah. Menyopir mobil orang lah sementara waktu. Tuhan tentu InsyaAllah akan kasih rejeki di lain waktu dan dalam waktu yang tidak lama…. kami rela ..sumpah .. kami rela.. meski tadi ibu cukup kaget dan sedih , kok anak ibu mau jualan syomai.  Tapi ketimbang mulut tangan kakimu penuh mudharat.  Harus ngibul tiap hari, harus menyerahkan pekerjaan palsu untuk kepentingan perusahaan, apalagi dengan tujuan untuk mencelakakan orang,  alangkah hinanya….”

Mita, adik Bagas segera  mengambil garpu. Langsung menusuk daging empal di meja. “Nih, gue tusuk boss elo , kak !  Gue tusuk juga kebohongan ! Itu bukan keluarga kita, lageeee… !  Lebaran nanti kita seada-adanya saja. Tapi bahagia. Kakak jualan syomai, nggak masalaaaaaaaah.. !”

Dan berempat tertawa lebar… berderai-derai. Hati lapang  menebar di meja makan. Riang menyerbu sahur mereka. Tentu malaikat pun tersenyum mengiringi kebahagiaan keluarga indah itu …….

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Ketika Kami Sudah Kehabisan Kata

kami hanya tercenung

bungkam

terpana

pedih

terkesima

 

ketika kami sudah kehabisan kata..

maka hanya hati yang bersuara

telinga bagai tak tersusupi bunyi kebaikan

sebab jelaga tumpah di sekitar muka

kami kehabisan kata

tak mampu berbicara

 

kedajalan merajalela

lalu kami  bisa apa

bila yang salah dibenarkan

yang benar ditindas mampus

kami kembali menganga

tanpa sebutir kata muncul

terserah mereka..

terserah  mereka…

silakan bergembira

hingga bukti nyata di depan mata

lalu  seberat batu pun muncul kecewa

Categories: Puisi | Leave a comment

Fitnah

Sekejam apakah fitnah ? Pedang tajam pun belum apa-apa dan tak sebanding dengan lontaran fitnah. Jangan lupa, pernah ada seorang diplomat karir yang diserang fitnah habis-habisan lalu ia tak diberi jabatan apapun di instansinya. Keuangan menjadi morat-marit, berjualan ini itu dan menjadi sopir taksi gelap untuk menjemput penumpang dari stasiun Gambir. Tuhan seakan-akan membiarkan nestapa melanda laki-laki itu beserta seluruh keluarga besarnya.

 

Namun buah manis yang dipetik akhirnya bisa dinikmati dengan kebahagiaan tiada tara. Monas yang dulu hanya sekadar dilihat dari stasiun dan dari dalam taksi butut sewaan, kini menjulang berbalik memperhatikannya yang acapkali mondar-mandir menyambut tamu agung dari negeri luar. Ia menjadi orang terhormat kembali, dibutuhkan presiden dan menterinya. Derajatnya kembali naik dan cemerlang. Fitnah telah membuahkan hadiah indah luar biasa.

 

Itu baru salah satu contoh kejadian hidup anak manusia. Bagaimana dengan yang lain ? FITNAH memang kejam luar biasa. Dilontarkan oleh mulut-mulut keparat demi memuluskan ambisinya. Durna pengadu domba yang berbahaya menjalar ke mana-mana. Namun mereka lupa, sang korban suatu saat memperoleh hadiah luar biasa dahsyat cemerlangnya….. yang tiada pernah kita ketahui kapan waktuya…

Categories: Opini | Leave a comment

Putriku yang Cantik Tetap Tersenyum

menggeliat

menahan lara

sakit sekujur tubuh

luar biasa

namun wajah perihnya

selalu berhias senyum

seakan ia selalu berkata

kepada ayah bunda serta suaminya

juga putra ciliknya

aku tidak apa-apa..

semua bisa teratasi…

 

putriku yang cantik

bila boleh sakitmu pindah ke kami

agar derita tak terlalu berat

agar kau bisa berlama-lama

merasakan mahligai bahagianya rumah tangga

 

senyummu lama-lama tak banyak lagi..

kami tahu..

paham benar..

bahwa nyeri melanda di luar kesanggupanmu lagi..

ah.. tapi lihatlah

kau mulai tersenyum lagi…

sembari memandang si cilik yang akan tak punya bunda lagi…

memandang belahan jiwamu yang mengikat janji   di muka kadi,,

menatap kami, ayah bundamu yang lemas…

 

lalu senyum itu muncul lagi

putriku bagai bidadari

senyum di kulum merebak kembali

lalu malaikat datang..

dewa dewi menghampiri…

menjemput untuk pergi

jauuuuuh sekali..

tanpa derita lagi..

tanpa nyeri lagi…

menyusup ke gumpalan awan putih..

seputih hatimu..

tanpa air mata..

aku pun  menghapus air mata terakhir

karena meyakini seyakin-yakinnya

putriku kini sudah pada tempat terindahnya…

terpelihara dengan segenap cinta…

lagi-lagi dengan senyum..

tetap tersenyum…

Tuhan… kutitipkan anakku dengan ikhlas..

hingga kelak  suatu saat kami berjumpa kembali

dengan senyum yang sama….

*******************************************************

 

 

(terinspirasi dari perginya Almira)

 

Categories: Puisi | Leave a comment

Horeeee, Apakah Bonus Lebaran Itu Barokah?

Berbagai keluarga bergembira. Bonus diterima, gaji naik, hadiah lebaran, uang THR, plus bonus prestasi atas daya tembus sumber yang hebat, dan membuat skenario dahsyat apapun untuk kepentingan pemilik kantor. Baju baru, makanan enak, kue lebaran… semua sudah di depan mata. Darah dialiri uang prestasi semacam itu untuk penganan keluarga. Dinikmati anak, istri, suami, orang tua, mertua, cucu….

Setan menari-nari….. tertawa di selipan tumpukan lembaran uang. Katanya, ‘Silakan menikmati rizkimu,,, atas hasil mengarang bebas merekayasa berita.., atas kekejaman kalian kepada sang sumber yang sehari-hari kalian tulis dari kacamata negatif, atas keberhasilan kalian memutarbalikkan fakta dengan keji, mengacak-acak emosi dan pembentukan opini pembaca dan penonton, untuk tujuan pemenangan dan kepuasan kalian….hahahaaa…., aku adalah SETAN yang sukses…, berhasil menempatkan kalian sebagai manusia DAJAL serupa dengan kedajalan kami… horeeeeee… SELAMAT BERLEBARAN YAAAAA… !!! Nikmati rizki “berkah” kalian, senikmat-nikmatnya…!’

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Antara Riang Menang di Atas Kepedihan

Sebentar lagi keriangan akan merebak di mana-mana. Gembira karena perjuangan murni, riang karena pembalasan kebencian. Semua berbaur menjadi satu. Tak ada hidup yang selalu mulus dan tanpa cobaan. Tak ada pula hanya malaikat yang mengitari bumi. Sebab Tuhan pun menciptakan panjang dan pendek, besar kecil serta pahit manis dan gelap benderang.

Kemenangan atas segala upaya, adalah sah-sah saja. Tapi cara menuju kemenangan, tak akan mungkin tanpa pencermatan Ilahi…sebab hanya DIAlah Yang Mengetahui Segalanya. Ya, hanya DIA yang Maha Paham…, setiap langkah dan nawaitu, niat yang terkandung di dalam langkah perbuatan hambaNYA.Mashalat maupun mudharat, jangan dikira tak tercatat dalam ‘buku’ NYA…

Manusia disentuh oleh takdir Sang Rabb, dan rahasianya tetap dipegang pula oleh NYA… hikmahnya, jalan cerita ujungnya kelak, serta segala akibatnya.
Berpasrah diri, ikhlas, dan menutup hati dari segala kepedihan adalah ikhtiar orang-orang yang masih menganggap dirinya beriman. Bila kita meyerahkan sepenuhnya kepada Sang Kekasih, maka tubuh, pikiran, hati akan terasa ringan kembali. Dan kembali pula menjalankan kehidupan dengan selalu meminta ridho Allah…. dijauhkan dari niatan culas, jauh pula dari lingkungan ketidakjujuran, dibersihkan hati dari lumpur congkak, agar tak perlu menyimpan rasa takabur berbangga hati berkepanjangan…..

Terima kasih Tuhan, selama ini Engkau tak lepas membimbing kami….dan menguatkan kami senantiasa tatkala hina dina iri dengki secara tersembunyi serta fitnah keji dan penistaan bertubi-tubi menghampiri. Engkau masih dan tetap dan akan selalu menjadi Kekasih kami….

Categories: Opini | 3 Comments

Beterbangan !

tatkala rudal tepat sasaran

menuju sembarang langit tak berbatas

yang terbang beterbangan

hancur seketika berkepingan

tiada berbentuk rupa

besi berbentuk burung angkasa segera lebur

manusia entah sedang mengapa sebelumnya

yang asyik mengobrol

si cantik-cantik yang sibuk siapkan makanan troli,,,

pilot gagah yang menatap jalur indahnya awan

sembari mereka menyeruput kopi panas

mengemil biskuit berlapis coklat…

yang sibuk menonton film dari pesawat

yang tengah menikmati lelap…

yang tengah berzikir

menunaikan kewajiban sholatnya…

maupun kakak beradik  berpelukan sembari mata asyik terpejam

hingga oleh-oleh di bagasi untuk tanah air

telah siap dibagi kepada sanak saudara

di kampung halaman..

duh betapa perihnya…

semua  lenyap tak terlaksana

 

beterbangan !

seluruh tubuh manusia yang tak bersalah itu..

semua atribut kehidupan

segala harapan dan rencana liburan…

segenap cita-cita masa depan…

tinggal menjadi berita duka amat pedih

 

rudal tak tahu sopan

betapa kejam menghantam bagai kesurupan

manusia beterbangan

manusia beterbangan

itulah garis yang ditetapkan Tuhan…

menjadi pelajaran bagi seluruh penduduk bumi

cita-cita

khayalan

ambisi

rencana muluk

akal-akalan

kelicikan

hingga kejujuran sekalipun…

mampu dibuat Sang Kuasa  tak berbekas

secuilpun..

ya.. secuilpun

hingga berkeping-keping maksud tak sampai

beterbangan..

beterbangan….  !!!

Atas ketetapan Tuhan….

Categories: Puisi | Tags: , , | Leave a comment

Saya Ingin Prabowo Presiden RI, Tapi Kalau Tidak Jadi??

 

Bagi saya, Prabowo tidak jadi presiden pun tidak masalah. Yang penting dia sudah berikhtiar sangat maksimal dan banyak sekali rakyat yang respek, jatuh sayang, hormat, melihat dengan mata kepala langsung soal kecerdasannya saat ia tampil di mana-mana, terutama selama debat berlangsung. Caranya berbicara yang elegan dan sangat terpelajar, terukur, gigih, dan masih banyak ternyata orang yang ikhlas tanpa diminta sepanjang waktu tetap mendoakannya -  lelaki Indonesia yang sejak remaja baru sekarang  kita ketahui ia sudah memikirkan dan berbuat sesuatu untuk pembuatan irigasi di Indonesia. Dan tak heran bila ia akan terus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi negerinya dengan segunung idenya. Ribuan anak yang sudah disantuni sekolah sejak sebelum urusan copras capres tetap dilakukannya.  Organisasi olah raga yang tetap ditekuni dan lagi-lagi, diurusnya  tanpa pamrih. Dan banyak lagi rencana yang sudah tersimpan di kepalanya. Semua demi negeri ini.
Prabowo telah memperoleh tempat di hati rakyat – kalau saja ternyata pada akhirnya tanpa memiliki predikat menjadi presiden sekalipun. Itu menjadi hal yang sangat berharga. Satu lagi yang maha penting, rakyat mulai banyak sekali belajar darinya, bagaimana ‘nrimonya’  dia,  dengan sabar sekali bersikap tatkala sepanjang menit  dihina difitnah keji diplintir ucapannya,  hingga dihajar gosip urusan internal privasinya, dan dianggap sebagai warga negara Indonesia yang bagai belum pernah berjuang bertaruh nyawa membela NKRI di tengah hutan seram dan daerah2 berbahaya lainnya, dan dianggap pula manusia tiada pernah berguna  seakan-akan ia  bukanlah  bangsa Indonesia yang memiliki kualitas dan kelebihan dalam karir demi bangsa ini yang sudah sempat dia raih selama ini.
Tuhan Maha Pembuka Tabir dan Penguasa Rahasia Kehidupan…., terutama pilihanNYA bagi orang-orang yang kejam.Maka, sebenarnya sah-sah saja bila tetap kita doakan kalau  memang itu adalah saatnya yang dikehendaki Tuhan, Prabowolah yang memimpin negeri ini.
Kita boleh berharap, namun kita juga bisa sekaligus menjadi penonton yang harus sadar penuh : tak ada keputusan Tuhan yang bisa dimajumundurkan…. dan, lagi-lagi, tak ada yang pernah tahu hikmah dari segala peristiwa, selain DIA yang membukanya kelak….
Categories: Opini | 3 Comments

Sabar

Tukang bangunanku namanya si Sabar. Sudah hampir tiga minggu ia berada di rumahku. Membetulkan kamar yang bocor amburadul, memoles teras belakang yang sudah seperti monster butut, hingga lemari piring yang pintu-pintunya sudah mulai ngadat.
Sabar bekerja bersama anaknya. Dia boss, anaknya jadi kenek. Selama bulan puasa berjalan, Sabar dan anaknya tetap berpuasa. Mengerok tembok berjam-jam, memakai topi agar tak kepanasan ketika mulai bekerja di halaman belakang, dan keringat peluhnya ke mana-mana. “Kamu tetap puasa Bar?’, tanyaku. “Iya bu… sayang dong kalau nggak puasa. Berat sih berat nih sembari kerja begini, tapi kok ya bisa aja bu.., tau-tau sudah hampir bedug maghrib,” jawabnya sembari nyengar-nyengir. Aku bertambah kagum padanya. Rakyat kecil yang tabah, gigih, dan memang sesuai dengan namanya : Sabar.

Lalu aku mengulang-ulang kata itu, sabar…sabar.. sabar…
Duh, betapa kita sering tidak sabar menghadapi sesuatu. Jalanan super macet dan kita terjebak di mobil berAC masih juga mengomel panjang pendek. Tak ada kesabaran untuk menunggu barang sejenak. Padahal, di kiri-kanan kita juga mengalami hal yang sama, terutama orang-orang yang duduk di kopaja, di bis dengan berdiri bergelantungan. Sabar pula mereka yang menanti tak kunjung datang bis-bis yang datang ke halte di pinggir jalan. Kita sering tak sabar melihat pembantu rumah tangga kita bekerja lamban ataupun melihat presiden kita yang sering juga lamban dalam mengambil keputusan. Kita tak sabar menunggu bedug maghrib untuk berbuka puasa berbunyi. Kita tak sabar melihat anak kita yang bandel, ataupun untuk antre masuk pintu lift sekalipun — yang di dalam belum keluar, kita sudah ingin nyondol masuk ke dalam lift. Kita juga gregetan menunggu antrian salaman di pesta kawin dan rasanya ingin nyerobot saja ke depan sebagaimana yang selalu dilakukan secara istimewa terhadap tamu-tamu terhormat lainnya.

Banyak sekali ketidaksabaran yang kita lakukan tanpa kita mencubit diri sendiri. Tanpa malu dan tanpa kesadaran bahwa hidup kita masih jauh lebih beruntung ketimbang orang lain. Kita ingin yang serba instan, tanpa proses, menduduki posisi jabatan sesegera mungkin menjulang tinggi.

Diam-diam kuamati tangan si Sabar, si tukang cat. Dengan busana kaos belepotan cat, ia memoles tembok dengan rapi dan cermat sekali. Ia pun menjalankan pekerjaanya melalui sebuah proses panjang. Tak mungkin tembok langsung ditimpa cat baru. Harus ada pengerokan lebih dahulu, dibersihkan satu persatu, dan pemilihan bidang tembok yang tidak rata dibetulkan pula lebih dahulu. Semua dengan proses. Duh, andaikan pak Gubernur kita menyadari penuh tanggungjawab janjinya serta menikmati posisi tingginya sebagai gubernur, menjadi orang yang sabar untuk menunggu saatnya tiba untuk meraih kedudukan yang jauh lebih tinggi lagi dengan gemilang…, suasana di negeri ini tak akan gemuruh seperti sekarang ini. Ramadhan kali ini sungguh penuh dengan embun gelap sejak dini hari hingga bulan yang bersinar redup mengawali malam. Kalau cerita awal dimulai berbeda dan penuh cinta kasih, tentu tak ada pertikaian antara suami istri, ibu dan anak, tetangga, persahabatan kiri kanan, hingga hubungan kekeluargaan yang indah, hanya gara-gara cinta buta dalam menentukan jagoannya. Betapa sabar itu memang indah, sesungguhnya……

 

 

Categories: Opini | Leave a comment