Ada Kartu Sakti, Ada Pula Kebo Bule Sakti

Kartu sakti diluncurkan oleh penguasa baru. Ibarat ada secercah matahari kinclong bagi rakyat. Sakit disembuhkan dengan pengobatan gratis. Sekolah juga meriah gratis. Betapa mulianya pemerintah masa kini.  Ya, namanya juga sakti. Jadi tentu akan membuat kemashlahatan bagi pihak-pihak tertentu bagi yang merasa diuntungkan maupun yang sudah merasakan manfaat kebaikan dari yang serba sakti itu.

Lalu, ada sakti yang lain lagi. Kebo Bule di kawasan Jawa Tengah tepatnya di Solo, juga dianggap keramat, sakti, dan bisa mendatangkan memashlahatan. Buktinya, orang berebut menyentuh tubuh sang Kebo Bule. Bahkan ketika tewas pun, pemberitaan media ada yang berjudul , “Kebo Bule meninggal”.  Ada pula yang mengulas bagaimana sang kebo dimakamkan layaknya manusia.  Banyak air mata, menangis meratapi kepergiannya. Terlebih orang-orang yang sudah pernah menyentuhnya. Berebutan.

Siapakah si Kebo Bule itu?   Kebo, atau  binantang berjenis kerbau itu memang berkulit putih agak  kemerahan.  Konon  kerbau itu adalah hadiah dari bupati Ponorogo yang dipersembahkan untuk Sri Susuhunan Pakubuwono II, plus pusaka bernama Kyai Slamet.  Sang kerbau dianggap  sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet.  Kebo Bule pun mendapat julukan Kyai Slamet.

Binatang kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwono  ini memperoleh tempat istimewa, bisa leluasa bebas di luar istana. Tak ada yang berani mengganggu, dan pengawal masa lalu, para abdi dalam turut menjaganya.  Tempat sang kerbau itu berkeliaran akhirnya ditetapkan sebagai lokasi untuk dibangunnya kraton Kasunan Surakarata Hadiningrat.   Tak heran dalam tiap upacara Satu Suro atau Tahun Baru Islam, kelompok Kebo Bule menjadi pusat perhatian saat keluar kandang. Dianggap keramat, disaksikan banyak orang, dan Kebo Bule menjadi pemimpin arak-arakan barisan manusia. Pusaka Kyai Slamet  keluar  dari tempatnya, menuju dunia luar dan dijaga oleh para abdi dalem.

Lalu terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Bagong, salah satu Kebo Bule yang kini tinggal selusin itu tewas. Diduga ada unsur kesengajaan dari orang tak dikenal yang menusuk dengan tombak.   Rakyat berduka.  Ada cibiran dari banyak pihak ketika diberitakan sang kerbau diberikan kain kafan, ditaburi bunga sampai diiringi doa saat penguburannya.  Apalagi, ‘sang mayat’ diposisikan menghadap arah barat, sebagaimana  manusia yang masuk ke dalam lubang kubur.  Unik. Tak bisa direndahkan begitu saja, sebab kesakralan sejak 250 tahun lalu itu tetap dianggap memiliki makna khusus.  Dianggap dulunya sudah dilumuri kesaktian karena tak mempan dengan  kobaran api yang membakar perkampungan di zaman Sultan Agung Hanyakrakusumo. Kebo Bule dianggap bisa mendatangkan rejeki, membawa berkah, menghindari bencana, dan berbagai peristiwa yang dianggap sakti lainnya.

Kebo Bule, riwayatnya tak kunjung punah. Ada yang mempercayainya sebagai media keselamatan kehidupan manusia. Ada yang tak ingin menggubrisnya dan menganggap sebagai kepercayaan konyol.  Semua berpulang pada keyakinan masing-masing……barangkali sama pula dengan rakyat Indonesia sekarang yang sedang terkagum-kagum dengan Kartu Sakti yang beredar, berobat gratis, sekolah gratis…., yang semoga saja juntrungannya betul-betul sakti, bukan sekadar pencitraan semu ,  dan lagi-lagi, moga-moga memang  memberikan banyak mashalat bagi kehidupan manusia Indonesia. Tapi, apa iya..?? Lho, iya dong.. asalkan teknisnya jelas untuk pelaksanaannya di lapangan. Kartu sakti kan bukan cerita masa lalu yang bermuasal dari  cerita tradisi 250 tahun silam seperti Kebo Bule Sakti ?? Jadi pertanggunganjawabnya harus benderang. Bukan ngasal percaya begitu saja….

 

 

Categories: sos/bud | Leave a comment

Puisi Mingkem

 

ada mulut-mulut  mingkem sekarang,

tak lagi menyatakan kekaguman dan puja setinggi angkasa

ada mulut mingkem tak kuasa pula menganga,

tatkala nalar mulai bekerja dan rasa malu terbesit menyusup dada,

ada mulut mingkem sekarang

tatkala fakta kezaliman di depan mata,

ada mulut mingkem sekarang

menerima hal nyata kebodohan mengelola negara,

yang sempat diagungkan secara luar biasa….

ada mulut mingkem sekarang ,

yang  tetap tak sudi protes

soal kedunguan meski hati sudah penuh seribu tanya…

semua terjadi karena gengsi,

tinggi hati

dan malu sudah menyebar dari ujung kaki hingga ubun-ubun kepala….,

akibat terbius oleh pengharapan citra gemerlap yang sia-sia

Categories: Puisi | Leave a comment

Sutradara Hebat Malaysia Itu Berdarah Minang

 

IMG-20141105-WA0001

 

U-Wei,  begitulah  orang memanggilnya. Nama panjangnya adalah U-Wei Hj Saari. Berbadan tegap, rambut memutih, dan tatapan optimis ada pada sinar matanya. Di kalangan perfileman Malaysia, namanya sudah tak asing lagi. Ia adalah sutradara kawakan untuk berbagai film bermutu yang telah dihasilkan melalui kreatifitasnya. Antara lain, Perempuan, Istri dan…, juga Kaki Bakar, Jogho, Buai Laju-Laju dan beberapa film televisi. U-Wei  sempat dinobatkan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Film Malaysia. Filmnya tak hanya beredar di negerinya, tetapi juga menyebar ke berbagai negara lain; Belgia,  Thailand, Amerika, dan lain-lain.

Lelaki kelahiran  Bentong yang dikelilingi sungai indah di mana-mana itu ternyata berdarah Minang. “Ya. ayah ibu saya dari Minang, Indonesia, tapi  mereka sudah tinggal di Malaysia sejak dulu, ” ujarnya sembari senyum. Ditemui di  sebuah ruangan sejuk di kawasan Kuningan Jakarta, U-Wei  kelahiran 1954 itu  berkata kedatangannya ke  Jakarta memang khusus  untuk pemutaran film Gunung Emas Almayer yang disutradarainya. Film ini akan diikutsertakan dalam festival film. Selain  di Malaysia tentunya,  dan di Indonesia,   Gunung Emas Almayer akan  beredar   pula di Kanada dan Amerika.

Membaca novel karya Joseph Conrad pada tahun 1996 yang berjudul Almayer’s Folly,  U-Wei  memiliki obsesi untuk mengangkatnya pada layar lebar.  Berbagai rencana matang bertahap dilaluinya. Menurutnya, untuk menuju sempurna, biaya film begitu mahal bila memang akan menciptakan suasana cerita abad ke 19  seperti yang dikisahkan sang novelis.

Impiannya terwujud pada tahun 2010. Film bermakna itu dibuat selama  berbulan-bulan dengan kegairahan bakat U-Wei yang menggelora. Ia berhasil menggambarkan perpaduan antara Barat dan Timur, gejolak perdebatan antar berbagai ambisi dari dua kulit berlainan. Perdagangan senjata masa lalu yang unik dan berbelit-belit penuh misteri, serta suasana mencekam dalam segala keterbatasan kesanggupan manusia. Semula, film itu berjudul Hanyut –  yang setelah beredar di Indonesia menjadi Gunung Emas Almayer. Baginya, perubahan nama itu tak menjadi masalah.

U-Wei  pun memoles para pemain dengan watak dan karakter penokohan secara luar biasa. Suasana pedesaan di Malaka pada tahun 1830 an itu dikombinasikan dengan  kekayaan dialek Melayu kuno para tokoh dengan sempurna. Peter O’Brien sebagai Almayer bermain total. Sofia Jane bintang film Malaysia berdarah Eropa yang cantik itu pun diarahkan U-Wei sangat nyata sebagai perempuan yang penuh gejolak depresi. Sebagai Mem, Sofia muncul amat baik. U-Wei pun tak luput mengasah Diana Danielle yang berperan sebagai Nina, anak Almayer. Dain Maroola si ganteng Adi Putra juga dibuat oleh U-Wei  meletup-letup  sebagai pedagang galak yang lumer oleh urusan jatuh hati. El Manik sebagai Raja Ibrahim mengeluarkan keahlian beraktingnya luar biasa. “Cakap” Melayu muncul dari El Manik dengan baik. Demikian pula Alex Komang yang menjadi Abdulah. Bagaimana dengan si penjaja kue, budak di desa yang selalu berada di berbagai situasi, gadis  Taminah yang dimainkan oleh Rahayu Saraswati (Sara)?  Untuk yang satu ini U-Wei berkata, “Urusan saya dengan Sara belum selesai!”  Lho?  “Ya, Sara sangat berbakat dan ia pemain watak yang baik. Saya ingin sekali  pakai lagi untuk film lain ,”  jawab  U-Wei dengan lantang dan tertawa lebar.

Ternyata, U-Wei sangat puas dengan permainan Sara, yang ia temui melalui iklan. Pada proses pencarian bintang, U-Wei menebar iklan ke segala penjuru. Dan Sara yang diterimanya. “Saya tidak pernah tahu dia siapa, anak siapa. Yang saya tahu dia cocok untuk film saya!”, katanya tegas.

Itulah U-Wei.  Bersahaja. Tegas. Pekerja keras. Ia tetap menjalankan obsesinya untuk berbagai film lain yang membawa Malaysia ke penjuru dunia. U-Wei mengalir bagai  sungai di Bentong tanah kelahirannya.  Ia memberikan pendalaman budi kepada para pemainnya. Ia adalah guru bagi para aktor dan aktrisnya.  Dengan  seksama, sebagaimana  kejeliannya memilih orang-orang yang ia anggap layak dalam memerankan film-film hebatnya.

IMG-20141105-WA0000

Ngobrol dengan U-Wei ….

 

emas 1

Gunung Emas Almayer  —- film U-Wei yang dahsyat  !!

 

 

Categories: Media | Tags: , , , , , | Leave a comment

Damai Itu Indah…

 

 

Mengapa tidak bisa meniru mereka ? Anang menggendong anak Kris Dayanti dari suami barunya. Istri Anang sumringah. Bahkan kedua perempuan itu bergandeng tangan dengan santainya. Perceraian tidak selalu harus dilumuri permusuhan, bukan ?

Masih banyak orang yang mengawinkan anak tapi si orang tua yang bercerai tidak mau bersanding bersama di pelaminan. Yang lebih gila lagi, istri baru tidak sudi mantan istri suaminya mengikuti upacara akad nikah apalagi bersanding dengan  anak kandungnya di pelaminan saat menerima tamu. Ada juga perempuan yang sudah menjanda tak sudi ayah anaknya hadir dan berada di pelaminan bersama anaknya.

Parah…! Manusia macam apa mereka. ? Hanya mementingkan ego yg memalukan dan merendahkan diri sendiri tanpa berpikir perasaan si anak di hari bahagianya…

Melihat foto indah ini, saya yakini  bila suatu saat kelak anak-anak Anang dan Kris Dayanti menikah, ayah  bunda kandung mereka  akan tetap bersanding di pelaminan dengan damainya.

 

 

 

KD, ASHANTI, ANANG

foto : istimewa

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Sara, Anggota DPR yang Menjadi Budak di Gunung Emas Almayer

 

Usianya 28 tahun. Ia sempat mengecap pendidikan seni peran di Inggris dan di Amerika.  Menjadi  tokoh Taminah, budak yang mengetahui banyak hal di kampung yang ia tempati, aktingnya begitu total di layar lebar produksi Malaysia ini. Rahayu Saraswati (Sara), dipilih oleh sutradara terkenal Malaysia U Wei Hj Saari yang berdarah Minang, melalui iklan.

Sara mendaftar lewat internet, tanpa mereka tahu siapa perempuan ini sesungguhnya. Ia melewati test yang ketat dan melelahkan. Dan ia buktikan kemampuannya di lokasi syuting yang bermedan berat. Sebulan penuh Sara berada di suatu desa di Malaysia. Mulai dari gigitan nyamuk hingga makanan nasi lamak yang harus ia nikmati sehari-hari, bergumul terik matahari dan berada di sungai yang tak bening lagi serta beraroma tak sedap, ia lalui tanpa alas kaki. Sara bermain total. Sara serius pada perannya. Ada satu adegan dengan kostum yang sudah dilekatkan pada tubuhnya,  ia wajib  menunggu dari pukul lima sore hingga pukul tiga subuh  esok harinya. ” Tapi saya  menikmati sekali adegan itu,” ujarnya sambil tertawa ringan. Awal November ini, Sara muncul dalam film yang sudah dilaluinya dengan bahagia : GUNUNG EMAS ALMAYER.

Sara, si cantik yang baru saja menjadi pengantin baru ini, sudah mulai menunaikan kewajibannya sebagai wakil rakyat di DPR. Perempuan belia dan cerdas ini, tentunya akan total pula mengerjakan tugasnya. Di manapun. Kecerdasannya tercermin dari keseharian sikapnya. Ayahnya, Hashim Djojohadikusumo, menurutnya adalah kamus berjalan baginya dalam menggali wawasan dan ilmu pengetahuan. Sara, selamat ditonton rakyat Indonesia, Amerika dan Kanada,  dalam film yang menayangkan suasana masyarakat Melayu abad 19, unik, dramatik, klasik :  …GUNUNG EMAS ALMAYER…….

dalam-gunung-emas-almayer-rahayu-saraswati-berperan-sebagai-taminah-

 

 

rahayu

 

 

SARAfoto : istimewa

Categories: Media | Leave a comment

Gunung Emas Almayer : Kisah Abad 19 yang Menarik

 

 

 

emas 1

 

Film produksi Malaysia ini, GUNUNG EMAS ALMAYER, melibatkan tiga pemain Indonesia ; El Manik, Alex Komang, dan  Rahayu Saraswati (Sara) di antara beberapa bintang film Malaysia terkenal lainnya.   Sutradara film ini adalah U-Wei Hj Saari,  orang Malaysia asal Minang. Ia adalah sutradara yang dikenal dengan hasil karya film-filmnya yang bermutu. Cerita film ini diangkat dari novel “Almayer’s Folly” karya Joseph Conrad, seorang penulis yang pada abad ke 19 menjelajahi wilayah Malaka .

 

Seorang pedagang senjata yang juga seorang ahli arkeologi,  Kaspar Almayer dari Belanda (diperankan oleh Peter O’Brien)  sangat berambisi meraih gunung emas yang dicita-citakannya . Bertahun-tahun ia bermimpi dan  berupaya terus menyelidiki gunung idamannya, hingga mengorbankan anaknya, Nina. Pada usia 10 tahun Nina sudah ‘dibuang’  ke Singapura, agar konsentrasi istrinya, perempuan lokal Melayu, Mem, hanya terpusat pada dirinya yang sibuk berupaya untuk menemukan  yang dicita-citakan : gunung emas. Selain anak kandungnya sendiri yang dianggap sebagai penghalang konsentrasinya, Kaspar Almayer menghadapi tantangan protes dari  penduduk setempat. Ketua suku adat (diperankan oleh El Manik) menentang keras. Pedagang Arab Abdullah (dimainkan oleh Alex Komang) juga tak sudi Almayer melanjutkan  upaya menemukan gunung idaman itu.

 

Taminah,  dimainkan oleh Sara  sebagai budak yang mengetahui banyak hal yang terjadi di kampung pelosok Melayu. Ia berada dalam suasana urusan rumah tangga Almayer yang kacau, juga tentang Nina(Diana Danielle) yang kembali setelah remaja dan jatuh hati pada Dain(Adi Putra) pedagang pendatang yang berasal dari Arab.

 

Mem (Sofia Jane) , ibu Nina yang hampir setengah gila sudah berkarat dendamnya pada sang suami, disaksikan oleh Taminah  dalam kesehariannya.  Sang ibu yang sudah frustrasi dalam hidupnya akhirnya membiarkan anaknya lari bersama Dain, yang sejak awal menjanjikan gunung emas itu akan ia temukan untuk Almayer.

 

 

foto_adegan_gunung_emas_almayer-6

 

Film indah berpenampilan atmosfir  abad 19 ini memang menarik. Sepanjang cerita bernuansa hutan, desa yang dikelilingi sungai, latar material kuno yang klasik, serta gambaran kehidupan masa lalu. Tampilan  gemerlap tak ditemui dalam film ini. Unik, dramatik dan  hanyut dalam adegan.

 

Ada ambisi tak berkesudahan yang menghancurkan hubungan baik antar manusia. Ada pengharapan kosong menggebu-gebu yang menciptakan permusuhan, serta ketidaknyamanan hidup karena segalanya dijalankan secara asosial. Suatu petikan hidup yang bisa dibawa pulang, selepas mengakhiri tontonan film GUNUNG EMAS ALMAYER yang akan berada di layar lebar mulai awal November 2014 ini. Di Indonesia, bahkan di Amerika dan Kanada. Film yang lain dari yang lain……

 

rahayu

foto : istimewa

 

 

 

 

Categories: Media | Tags: , , , , | Leave a comment

Sekadar Renungan Tentang Tabungan

 

 

Yang dihinadina sudah datang ke acara besar itu. Egonya dikalahkan dengan ketulusan hatinya yang jernih. Yang dicacimaki dan dicurangi sudah tak mau ingat-ingat lagi kekalahannya. Tapi mengapa yang menzolimi justru yang tetap merasa sakit hati, was-was, tidak percaya diri, paranoid , serta menyimpan dendam yang dilontarkan dengan kelicikan-kelicikan baru yang lain ??

Tak adakah rasa kasihan kepada Ibu Pertiwi dengan segala isinya? Mengapa ambisi berkabut suram bisa selalu memenangkan sebuah keikhlasan ? Apa yang akan ditabung di dunia? Sekadar harta melimpah ruah dengan luas rumah yang tak terhingga ukurannya, simpanan uang, emas serta tiket berhamburan untuk selalu bisa dengan leluasa pergi ke berbagai mancanegara ? Apakah tabungan akan bertumpuk lewat pantat-pantat yg melekat di kursi kekuasaan? Mana tabungan kebaikan, keindahan budi, ketulusan sikap dan merendah serendah-rendahnya di hadapan Sang Rabb ?

Usia manusia mutlak di bawah kekuasaanNYA. Tak bisa dimajumundurkan oleh siapapun kecuali DIA. Sampai di mana tabungan kita…? Sampai di mana? Seberapa banyak tabungan yg bisa kita angkut , untuk menuju kehidupan lain yang dijanjikan oleh NYA sebagai tempat terindah ??

Ya Allah, berikan kami langkah kehidupan yang senantiasa menjadi berkahMU. Jangan melantur kepada kebengisan budi. Jangan kami dilumuri angin kencang beraroma kemunafikan. Jangan kami tidak disayang olehMU, ya Allah…. dan jauhi kami segera..segera..segera.. dari manusia-manusia dajal yang bisa mencelakakan kami, mencelakakan negeri ini…….dan jadikanlah kami memiliki tabungan  indah yang lebih dari cukup untuk menghadapMU,  bila waktunya tiba……

Categories: Renungan Hidup | Tags: , , , | 1 Comment

Inilah Ujar Orang yang Mengenal Susi

20141027_215439_susi-pudjiastuti-menteri-kelautanfoto : dari tribun news.

 

Susi, saya ingat ketika kamu masih SMA kelas dua sampai kelas tiga, kamu sudah mengangkut drum berisi ikan, kamu menyetir colt dan bekerja membantu ayahandamu menjual, memasarkan ikan-ikan. Kamu memang tidak ikut ujian karena sehari-hari bekerja meski ayahmu bukan orang tak punya. Kamu asyik bekerja. Kamu sejak dulu memang sudah menjadi perempuan jumpalitan. Kamu bagai kuli memang.  Tampak seperti pekerja kasar. Dan  kerjamu selalu total.

Ketika kamu membacakan kata sambutan dalam acara ‘peralihan kekuasaan’ di departemenmu yang menyediakan kursi menteri bagimu, sungguh bagus sekali isinya. Kamu terlihat sangat menguasai masalah di lapangan. Kamu paparkan semua rencana kerjamu, dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kamu menantang seluruh stafmu, sanggupkan bekerja keras bersamamu, lalu mereka menjerit dengan gempita : sanggguuuup..!!

Susi, saya tahu kamu kebingungan ketika pertama kali dipanggil oleh Jokowi dan ditawari untuk menjadi menteri. Kamu bilang kepada Jokowi, “Bapak nanti menyesal lho, saya ini apa adanya. Saya agak gila…. dan tidak punya ijazah SMA karena memang tidak ikut ujian. Masak mau jadi menteri, pak?”

Lalu Susi terperanjat ketika diundang minum teh dan disuruh memakai kemeja putih. Kamu  gemeteran. Tidak sangka sama sekali. Sepertinya Susi memang syok berat, bagaikan jarang menghadapi khalayak ramai. Padahal, selama ini  kamu  di  hadapan publik sering memberi kuliah sebagai dosen tamu atau entah apa itu namanya, di beberapa Universtas di Indonesia maupun di Singapura. Memang unik bukan? Yang hanya memiliki ijasah SMP tapi bisa melejit ke mana-mana.

Susi memang serampangan. Baju, gaya,  dan cara bicaramu. Bahkan sebelum pelantikan menjadi menteri, kamu bingung ketika berkaca, kebayamu  terlalu melorot sehingga terasa sexy dan kurang pantas dilihat. Lalu buru-buru bros besar menempel di dada.  Di kakimu  memang ada tatoo kupu-kupu. Juga suara yang berat sekali  menjadi bahan untuk diejek-ejek oleh sekelompok penyanyi kawakan Indonesia.  Kamu  pernah punya suami orang Jawa, Swiss dan Jerman. Kedua anakmu  yang keren itu sangat santun, Alfi yang duduk di SMP, dan Nadien yang kini sudah di Amerika. Suami terakhir, Christian, cukup ganteng dan sangat paham bisnis Susi serta turut mendukung penuh. Tetapi hubungan kalian  selesai tiga tahun terakhir ini.

Di perusahaanmu,  kamu membawahi 210 orang bule.  Kamu  sungguh gesit, jiwa kepemimpinanmu  luar biasa. Jangan dikira nasionalismemu  diragukan. Susi sangat cinta Indonesia.  Kamu mengirim obat-obatan, mengangkut para korban tsunami Aceh dengan sigap tanpa disuruh dan tanpa pamrih. Kamu lakukan sembari berurai air mata ketika itu.

Susi bercita-cita agar Indonesia menjadi kaya raya dari hasil laut. Jangan ada lagi ketololan dalam mengelola negara maritim yang super kaya ini.  Kamu  gemas sekali melihat kenyataan, bahwa sebagian besar dari Indonesia adalah lautan, tetapi mengapa Thailand dan Malaysia bisa mengekspor hasil laut lebih besar dari Indonesia.  Kamu  ingin kelautan dikomersialkan agar nelayan-nelayan tidak satu jiwapun lagi yang hidup miskin. Itu yang selalu dikatakan Susi jauh sebelum  melangkahkan kaki ke instansi yang akan dipimpin olehmu.

Susi memang gila, sesuai yang sudah  kamu katakan kepada Jokowi sebelumnya. Tapi apapun  kamu  harus belajar. Biarlah masyarakat mengkritikmu. Tidak apa-apa. Tatoomu caranya berpakaian maupun serampangan merokokmu. Biar kamu  belajar..hahahaaa.. rasain ! Sebab kalau saya yang nasihati,  kamu  sering bilang, “Habis bagaimana, sudah umur 50 kan susah lho ubah kebiasaan?” Tapi memang  kamu  harus menata lagi bahasa tubuhmu.  Apapun, cita-cita, kerja keras, tegas, disiplin hidup serta tajamnya intuisi dagangmu, semoga dan harus  tetap lancar mulus bersinar karena semua toh untuk kebaikan Indonesia. .. sesuai cita-citamu, Susi !!!

(seperti yang diceritakan  sahabatnya kepada saya)

Categories: sosok | Leave a comment

Puisi di Hambalang

 

Kupu-kupu melenggang senang

di dedaunan  indah Hambalang

embun merayap penuh sukma

di rerumputan luas

 

rombongan burung mengobrol senang

dengarlah apa kata mereka

si penghuni ini

memiliki hati yang luas

lebih luas dari rumahnya

 

semua cerca dianggap angin lewat

memaafkan adalah bagian dari jiwa…

si pemilik rumah ini

menjadi raja kesabaran

tatkala fitnah menjalar ke mana-mana

ia tetap punya segunung harta

yaitu pertemanan

yang tak lepas berdoa untuknya

 

dia tak jadi penghuni istana

namun banyak manusia

tak berpindah hati sekejappun darinya…

sebab bagi semua burung

kupu-kupu

embun

dan banyaknya manusia Indonesia

tetap menaruh hormat

tiada henti..

 

jadilah penghuni istana di sini…

di tempat cantik ini

bersama orang-orang yang dari kejauhan

tiada henti mengirim doa

kepada seseorang

yang sesungguhnya pantas memimpin Indonesia !!

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Leave a comment

Ngobrol Sambil Makan Siang di Hari Ulang Tahun Prabowo

ld2Waktu duduk bersebelahan Prabowo sembari makan mie godog Jawa di Pasar Raya Blok M, saya tanya sambil bisik-bisik,  “Gimana perasaanmu tadi waktu nerima Jokowi?”  Jawabnya, “Wah… gimana yaaa?’   Saya tanya lagi, “Ada rasa kesal, marah ?”   “Waduh, enggak tuh. Tidak sama sekali. Yang penting sekarang untuk kepentingan  yang  lebih besar, untuk  negara ini” – - – - “Kok tadi dalam pembicaraan di dalam ruangan , Jokowi nggak ada eye contac ya? Dia nggak natap biji matamu, mas?” – - – - “Ah, apa iya, saya nggak perhatiin tuh.. hahahahaa, apa iya begitu??? ‘” jawabnya  sambil mengaduk bakmie Jawa sedap dan tangannya  yang  satu lagi nyomot sate Khudori… Lalu katanya kepada Fadli Zon yang duduk di depannya, “Eh Fadli awas ya ambil sate kambing. Kamu nggak boleh !  Hahahaa..”

Saat saya beranjak sebentar dari kursi di sebelahnya, di meja seberang ada tamu Pasar Raya lain duduk sekeluarga. Mereka, keturunan Arab Betawi campur Solo  menyapa saya, “Mbak, bapak kami lumpuh, umur 80 lebih, dari dulu favorit sama pak Prabowo.  Beliau ingin sekali  foto  sama-sama. Boleh kami datang ke meja sana?”  Lalu jawab saya, “Sebentar ya  mbak, saya akan kasih tahu pak Prabowo,  biar nanti dia yang ke sini”.   “Ah, apa pak Prabowo mau?”, tanya salah satunya.  Lalu saya datangi lagi Prabowo, saya bisiki, “Lihat ke sebelah kanan, ada meja yang bapaknya lumpuh pakai kursi roda, ingin foto sama kamu, mas !  Mau kan datangi mereka?”   “Yang mana? O, mau..mau, saya ke situ sekarang”, jawab Prabowo segera, dan meninggalkan  hidangannya.

Keluarga keturunan Arab itu betul-betul terkejut waktu Prabowo menghampiri. Dan si bapak tua  dituntun berdiri oleh anaknya. “O, jangan pak. Tidak usah berdiri, saya saja yang duduk di sebelah bapak,” ujar Prabowo, sembari memeluk dan duduk akrab di sebelahnya. Ia menanyakan berasal dari mana, dan usia berapa.  Setelah  bersalaman hangat dengan seluruh keluarga, ia beranjak lagi ke mejanya. Tentu foto-foto tak ketinggalan. Prabowo meladeni dengan senang hati.  Salah satu dari keluarga itu memeluk saya, “Aduh mbak, Alhamdulillah kami berterima kasih sekali pada mbak…!”

ld-1

Tampak sekali di hari ulang tahunnya, 17 Oktober itu,  Prabowo  sungguh santai, tanpa beban, meskipun baru kedatangan Jokowi  di  rumah orang tuanya di jalan  Kertanegara  yang diserbu wartawan  untuk  meliput kejadian langka itu.

Kami cerita-cerita soal   lain sambil makan, bercanda soal orang Jawa, tanpa menyinggung peristiwa pertemuan antar dua tokoh itu.., seakan- akan tidak ada pertemuan maha penting  yang terjadi dua jam sebelum kami berkumpul makan siang itu. Saya, bersama tiga sahabat dekatnya (Ony, Yusuf, Maher),  ada Fadli Zon, juga seorang menteri, Djan Faridz ikut makan, plus pak Latief pemilik Pasar Raya dan Donna istrinya, juga ibu-ibu  P2K yang penuh semangat ,  bagai tak ingat yang berulang tahun ini adalah tokoh penting…., tokoh  yang  bikin heboh negeri ini.. Hahahaaa !

Oya,  Prabowo juga  usil datangi kursi Djan Faridz, katanya sambil memegang pundaknya, “Ini lho kenapa saya mau dia hadir di sini, dia ini teman saya. Orang kaya. Nggak jadi menteri lagi juga bisnisnya banyak. Saya minta kerjaan sama dia. Supaya saya dapat duit dari dia hahahahaaa..!”  Djan Farid pun tersipu-sipu.

ld7

ld-5

ld4

ld3

Sholat Jumat  dilakukan Prabowo di mesjid Pasar Raya lantai lima, dengan baju yang sama sejak pagi, baju putih-putih dan peci. Lalu turunlah ke lantai dasar usai sholat, masih dengan sandal, dan perut keroncongan. Buktinya, yang ulang tahun ini makan setengah piring besar  gado-gado, semangkok bakmie godog Jawa, sop kaki Dudung Roxy yang sodap buanget, dan empat tusuk sate Khudori. Wuaduh, laper berat  meeeeen… !!!  ( Oya, waktu disodori kue Ulang Tahun dengan lilin menyala, dia bilang, “Mbak Linda, saya nggak mau ah tipu lilin.., matiin aja ya lilinnya, kita gasak aja kuenya..hahahahaa…!”)

ld-6

Kami saat itu bagai menganggap sedang bersama seorang teman saja. Santai…. Rileks…. Tidak kaku sama sekali…., menikmati makanan sedap Pasar Raya, dan lagi-lagi  lupa baru saja terjadi sebuah peristiwa besar. – - – - dan  tidak membahasnya, kecuali pertanyaan saya yang  tadi saja .

Categories: Kepingan Kenangan | Tags: , , , , , , | Leave a comment