Renungan Lebaran (2)

kehangatan telapak tangan

saat bersalaman penuh pemaafan

diselimuti taburan senyum

dan serbuan awan putih

bening

menghajar gelapnya amarah

musnah sudah ribuan kesal

kembali kepada dasar kasih..

bisakah??

mampukah…?

yang tak bermasalah begitu mudah bermaafan

yang sempat bermasalah justru tak keluar ungkapan itu

tak secuilpun,,,

bagai tak ada tempat untuk memohon maaf

tak juga merasa telah berbuat khilaf….

lalu apa makna lebaran sesungguhnya…??

Categories: Puisi | Leave a comment

Renungan Lebaran

 

 

Alhamdulillah menikmati Lebaran bersama keluarga besar, keluarga inti, keluarga orang lain…. semua terasa indah….. kasih merebak di antara kami… makanan lezat tiada henti…. tertawa membicarakan perbedaan pilihan yang seru kemarin ini…, saling menghormati pilihan masing-masing meski tetap saja ada sindiran kocak..hahahahaaa…. lalu ngobrol cekikikan lagi, sembari memandang generasi muda kami.., anak cucu menantu…. dan kami baru merasakan betapa usia kami sudah jauuuuuh… kami  telah memperoleh bonus bermakna dari Tuhan Semesta sang Kekasih….  kami  semua berkumpul dalam dua hari yang padat dan melelahkan tapi  secara keseluruhan benar-benar sungguh menyenangkan….. Terima kasih Tuhan….. beribu terima kasih….

Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Marilah Menari….

 

marilah menari

hey ..hey..hey..hey..

hey kawan

akulah di sini

hey..hey..hey..hey..

hey kasih…

 

mari bergembira

di atas derita

dan tangis mereka…

yang penting kita juara …

 

siapa bilang dia menang

kotak suara banyak yang sudah ditendang

kalau menang nanti kita tak kebagian

padahal sudah rencana bagi-bagi kekuasaan

heeeeeeeyyyyy..

heeeeeeeeyyyy..

 

marilah kemari

hey.hey..hey..hey..

hey kawan..

gerakan menari

hey-hey..hey..hey

tanda kemenangan

jangan peduli  segala tangisan

suruh mereka pulang ke kandang

yang penting dalam kehidupan..

harus menang..

hey..hey..hey..

meski segala cara..

dihalalkan..

dihalalkan…

dihalalkan…..

Categories: Puisi | 2 Comments

Keputusan Saat Sahur

Bagas tampak kuyu.  Kerja tiada henti di media  terkenal Indonesia membuat tenaganya terkuras. Bulan puasa membuatnya harus bertahan pada haus lapar dan kesabaran. Kesabaran ?

Waktu sahur telah tiba. Bagas duduk termenung di meja makan. Ibunda sibuk menyendok nasi ke piringnya. Vitamin  dan madu di sebelah piring disediakan. Ayahnya, sembari menyeruput teh hangat, diam-diam mengamati wajah anaknya.

“Bapak lihat kamu capek sekali Bagas..”, ujarnya.  “Iya pak. Capek banget. Tapi yang bikin lebih capek adalah capek hati, dan capek menahan sabar”, jawabnya lirih.  Sang ayah terkesiap. Inilah yang ia takuti selama ini. Anaknya tak lagi bisa bekerja dengan hati ringan.  Keterpaksaan adalah hal yang mengerikan dalam menjalankan pekerjaan apapun. “Ayo ceritakan saja kepada kami, tidak usah malu nak,” kata sang ibu.

“Aku kerja lapangan, melihat semua kenyataan. Aku tahu hasilnya merah,  tapi sampai di kantor , laporan kerjaku diacak-acak oleh boss.  Merah harus diubah jadi kuning, hitam, hijau, pokoknya semau-maunya deh. Asal orang yang satu itu, yang jadi pusat berita,  namanya harus  jelek.  Kesan di masyarakat  pokoknya dia harus jelek. Di meja rapat, Bagas pernah migren berat karena mendengar instruksi atasan yang sangat kejam dan penuh rekayasa. Bagaimana bisa kerja terus-terusan di kantor itu kalau aku harus ikuti perintah jahat begitu pak?  Ibu juga pasti tidak bangga kan kalau anak ibu digaji bulanan dari hasil bohong?”

Sang ayah kembali terkesiap. Teh hangat terasa membara di mulut. Nasi berlauk sup kacang merah terasa hambar.  Hatinya berbicara, kasihan anakku. Tekanan batinnya sudah melampaui batas…

“Lalu kamu mau bagaimana?”, tanyanya. “Bagas minta izin ke bapak dan ibu,  untuk keluar saja dari dunia itu. Mending Bagas jualan syomai di pasar dekat rumah kita itu. Atau menjadi sopir mobil sewaan sementara ini sambil cari kerja yang lain,”  jawabnya.

Ibunda menahan butiran air matanya sekeras mungkin.  Duh anakku sarjana komunikasi. Pandai menulis, pintar berpidato, wawasannya cukup luas, bahasa asingnya lancar, ingin berjualan syomai atau menjadi sopir  mobil sewaan ?   Sahur malam itu terasa hening  kecuali darah di tubuh yang kencang berdesir.

“Lakukanlah nak. Bapak juga was-was, jangan sampai anakku lama-lama malah terbawa pada kegiatan tipu muslihat seperti itu. Sebetulnya Bapak sudah ingin bicara sejak lama soal ini, tapi kan rasanya kasihan melihat kamu begitu cemerlang melangkah karir di perusahaan hebat itu”.   Dan si Ibu pun nyeletuk , “Ibu tidak ada bangganya kalau anak ibu jadi makhluk penipu di kantor hebat itu.  Jualan syomai lah. Menyopir mobil orang lah sementara waktu. Tuhan tentu InsyaAllah akan kasih rejeki di lain waktu dan dalam waktu yang tidak lama…. kami rela ..sumpah .. kami rela.. meski tadi ibu cukup kaget dan sedih , kok anak ibu mau jualan syomai.  Tapi ketimbang mulut tangan kakimu penuh mudharat.  Harus ngibul tiap hari, harus menyerahkan pekerjaan palsu untuk kepentingan perusahaan, apalagi dengan tujuan untuk mencelakakan orang,  alangkah hinanya….”

Mita, adik Bagas segera  mengambil garpu. Langsung menusuk daging empal di meja. “Nih, gue tusuk boss elo , kak !  Gue tusuk juga kebohongan ! Itu bukan keluarga kita, lageeee… !  Lebaran nanti kita seada-adanya saja. Tapi bahagia. Kakak jualan syomai, nggak masalaaaaaaaah.. !”

Dan berempat tertawa lebar… berderai-derai. Hati lapang  menebar di meja makan. Riang menyerbu sahur mereka. Tentu malaikat pun tersenyum mengiringi kebahagiaan keluarga indah itu …….

Categories: Cerpen (Fiksi) | 1 Comment

Ketika Kami Sudah Kehabisan Kata

kami hanya tercenung

bungkam

terpana

pedih

terkesima

 

ketika kami sudah kehabisan kata..

maka hanya hati yang bersuara

telinga bagai tak tersusupi bunyi kebaikan

sebab jelaga tumpah di sekitar muka

kami kehabisan kata

tak mampu berbicara

 

kedajalan merajalela

lalu kami  bisa apa

bila yang salah dibenarkan

yang benar ditindas mampus

kami kembali menganga

tanpa sebutir kata muncul

terserah mereka..

terserah  mereka…

silakan bergembira

hingga bukti nyata di depan mata

lalu  seberat batu pun muncul kecewa

Categories: Puisi | Leave a comment

Fitnah

Sekejam apakah fitnah ? Pedang tajam pun belum apa-apa dan tak sebanding dengan lontaran fitnah. Jangan lupa, pernah ada seorang diplomat karir yang diserang fitnah habis-habisan lalu ia tak diberi jabatan apapun di instansinya. Keuangan menjadi morat-marit, berjualan ini itu dan menjadi sopir taksi gelap untuk menjemput penumpang dari stasiun Gambir. Tuhan seakan-akan membiarkan nestapa melanda laki-laki itu beserta seluruh keluarga besarnya.

 

Namun buah manis yang dipetik akhirnya bisa dinikmati dengan kebahagiaan tiada tara. Monas yang dulu hanya sekadar dilihat dari stasiun dan dari dalam taksi butut sewaan, kini menjulang berbalik memperhatikannya yang acapkali mondar-mandir menyambut tamu agung dari negeri luar. Ia menjadi orang terhormat kembali, dibutuhkan presiden dan menterinya. Derajatnya kembali naik dan cemerlang. Fitnah telah membuahkan hadiah indah luar biasa.

 

Itu baru salah satu contoh kejadian hidup anak manusia. Bagaimana dengan yang lain ? FITNAH memang kejam luar biasa. Dilontarkan oleh mulut-mulut keparat demi memuluskan ambisinya. Durna pengadu domba yang berbahaya menjalar ke mana-mana. Namun mereka lupa, sang korban suatu saat memperoleh hadiah luar biasa dahsyat cemerlangnya….. yang tiada pernah kita ketahui kapan waktuya…

Categories: Opini | Leave a comment

Putriku yang Cantik Tetap Tersenyum

menggeliat

menahan lara

sakit sekujur tubuh

luar biasa

namun wajah perihnya

selalu berhias senyum

seakan ia selalu berkata

kepada ayah bunda serta suaminya

juga putra ciliknya

aku tidak apa-apa..

semua bisa teratasi…

 

putriku yang cantik

bila boleh sakitmu pindah ke kami

agar derita tak terlalu berat

agar kau bisa berlama-lama

merasakan mahligai bahagianya rumah tangga

 

senyummu lama-lama tak banyak lagi..

kami tahu..

paham benar..

bahwa nyeri melanda di luar kesanggupanmu lagi..

ah.. tapi lihatlah

kau mulai tersenyum lagi…

sembari memandang si cilik yang akan tak punya bunda lagi…

memandang belahan jiwamu yang mengikat janji   di muka kadi,,

menatap kami, ayah bundamu yang lemas…

 

lalu senyum itu muncul lagi

putriku bagai bidadari

senyum di kulum merebak kembali

lalu malaikat datang..

dewa dewi menghampiri…

menjemput untuk pergi

jauuuuuh sekali..

tanpa derita lagi..

tanpa nyeri lagi…

menyusup ke gumpalan awan putih..

seputih hatimu..

tanpa air mata..

aku pun  menghapus air mata terakhir

karena meyakini seyakin-yakinnya

putriku kini sudah pada tempat terindahnya…

terpelihara dengan segenap cinta…

lagi-lagi dengan senyum..

tetap tersenyum…

Tuhan… kutitipkan anakku dengan ikhlas..

hingga kelak  suatu saat kami berjumpa kembali

dengan senyum yang sama….

*******************************************************

 

 

(terinspirasi dari perginya Almira)

 

Categories: Puisi | 1 Comment

Horeeee, Apakah Bonus Lebaran Itu Barokah?

Berbagai keluarga bergembira. Bonus diterima, gaji naik, hadiah lebaran, uang THR, plus bonus prestasi atas daya tembus sumber yang hebat, dan membuat skenario dahsyat apapun untuk kepentingan pemilik kantor. Baju baru, makanan enak, kue lebaran… semua sudah di depan mata. Darah dialiri uang prestasi semacam itu untuk penganan keluarga. Dinikmati anak, istri, suami, orang tua, mertua, cucu….

Setan menari-nari….. tertawa di selipan tumpukan lembaran uang. Katanya, ‘Silakan menikmati rizkimu,,, atas hasil mengarang bebas merekayasa berita.., atas kekejaman kalian kepada sang sumber yang sehari-hari kalian tulis dari kacamata negatif, atas keberhasilan kalian memutarbalikkan fakta dengan keji, mengacak-acak emosi dan pembentukan opini pembaca dan penonton, untuk tujuan pemenangan dan kepuasan kalian….hahahaaa…., aku adalah SETAN yang sukses…, berhasil menempatkan kalian sebagai manusia DAJAL serupa dengan kedajalan kami… horeeeeee… SELAMAT BERLEBARAN YAAAAA… !!! Nikmati rizki “berkah” kalian, senikmat-nikmatnya…!’

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Antara Riang Menang di Atas Kepedihan

Sebentar lagi keriangan akan merebak di mana-mana. Gembira karena perjuangan murni, riang karena pembalasan kebencian. Semua berbaur menjadi satu. Tak ada hidup yang selalu mulus dan tanpa cobaan. Tak ada pula hanya malaikat yang mengitari bumi. Sebab Tuhan pun menciptakan panjang dan pendek, besar kecil serta pahit manis dan gelap benderang.

Kemenangan atas segala upaya, adalah sah-sah saja. Tapi cara menuju kemenangan, tak akan mungkin tanpa pencermatan Ilahi…sebab hanya DIAlah Yang Mengetahui Segalanya. Ya, hanya DIA yang Maha Paham…, setiap langkah dan nawaitu, niat yang terkandung di dalam langkah perbuatan hambaNYA.Mashalat maupun mudharat, jangan dikira tak tercatat dalam ‘buku’ NYA…

Manusia disentuh oleh takdir Sang Rabb, dan rahasianya tetap dipegang pula oleh NYA… hikmahnya, jalan cerita ujungnya kelak, serta segala akibatnya.
Berpasrah diri, ikhlas, dan menutup hati dari segala kepedihan adalah ikhtiar orang-orang yang masih menganggap dirinya beriman. Bila kita meyerahkan sepenuhnya kepada Sang Kekasih, maka tubuh, pikiran, hati akan terasa ringan kembali. Dan kembali pula menjalankan kehidupan dengan selalu meminta ridho Allah…. dijauhkan dari niatan culas, jauh pula dari lingkungan ketidakjujuran, dibersihkan hati dari lumpur congkak, agar tak perlu menyimpan rasa takabur berbangga hati berkepanjangan…..

Terima kasih Tuhan, selama ini Engkau tak lepas membimbing kami….dan menguatkan kami senantiasa tatkala hina dina iri dengki secara tersembunyi serta fitnah keji dan penistaan bertubi-tubi menghampiri. Engkau masih dan tetap dan akan selalu menjadi Kekasih kami….

Categories: Opini | 3 Comments

Beterbangan !

tatkala rudal tepat sasaran

menuju sembarang langit tak berbatas

yang terbang beterbangan

hancur seketika berkepingan

tiada berbentuk rupa

besi berbentuk burung angkasa segera lebur

manusia entah sedang mengapa sebelumnya

yang asyik mengobrol

si cantik-cantik yang sibuk siapkan makanan troli,,,

pilot gagah yang menatap jalur indahnya awan

sembari mereka menyeruput kopi panas

mengemil biskuit berlapis coklat…

yang sibuk menonton film dari pesawat

yang tengah menikmati lelap…

yang tengah berzikir

menunaikan kewajiban sholatnya…

maupun kakak beradik  berpelukan sembari mata asyik terpejam

hingga oleh-oleh di bagasi untuk tanah air

telah siap dibagi kepada sanak saudara

di kampung halaman..

duh betapa perihnya…

semua  lenyap tak terlaksana

 

beterbangan !

seluruh tubuh manusia yang tak bersalah itu..

semua atribut kehidupan

segala harapan dan rencana liburan…

segenap cita-cita masa depan…

tinggal menjadi berita duka amat pedih

 

rudal tak tahu sopan

betapa kejam menghantam bagai kesurupan

manusia beterbangan

manusia beterbangan

itulah garis yang ditetapkan Tuhan…

menjadi pelajaran bagi seluruh penduduk bumi

cita-cita

khayalan

ambisi

rencana muluk

akal-akalan

kelicikan

hingga kejujuran sekalipun…

mampu dibuat Sang Kuasa  tak berbekas

secuilpun..

ya.. secuilpun

hingga berkeping-keping maksud tak sampai

beterbangan..

beterbangan….  !!!

Atas ketetapan Tuhan….

Categories: Puisi | Tags: , , | Leave a comment