Duh Ahok! Aku Kehabisan Kata!

namamu Ahok
tetap dipanggil Ahok
meski ada kata Purnama
yang punya makna indah
terang
sinar benderang
jelas

tak terhitung ucapanku
saat masih belum menjadi nomor satu
kamu sudah sering mendidih
darah naik ke otakmu segera
lalu meluncurlah tutur menohok
keras
menyerang
nyinyir

kuselalu bilang
jagalah mulut
jagalah sikap
sebab penilaian
bukan sekadar pemberantasan korupsi
atau bekerja gesit
melainkan bagaimana dapat mengendalikan diri
dari segala situasi

dalam pembicaraan
apapun
apalagi wawancara kepada publik
semakin rumit kata-katamu
ada omongan yang jauh lebih kasar lagi
dari hari ke hari
mengejutkan massa
para guru
pendidik di mana-mana
serta ahli agama

siapapun tampaknya menjadi musuhmu
padahal apakah demikian
belum tentu, bukan?
kamulah yang lama-lama berbumbu curiga
semakin berkepanjangan
hingga pembantu setiamu
yang bekerja ibarat kaki jadi kepala
kepala menjadi kaki
kau tumpahkan sasaran fitnah
atas urusan rapat yang melibatkan pasangan hidupmu…

Ahok..
oh Ahok..
berapa belas puluh kali kukatakan
kau selalu menjawab
siap..
terima kasih..
namun nyatanya
bagai tulisan di pinggir laut di atas pasir
yang terhempas buih ombak
lenyap…
semua kekasaran tutur kata itu
kau ulang hampir di tiap kesempatan
menjulang setinggi Monas
menggelembung bagai manusia gembrot
yang tiada habis-habisnya

Kini aku kehabisa kata
nasihat apa lagi yang bisa kusumbangsarankan
kepada lelaki yang usianya jauh di bawahku
yang sepantasnya memperoleh dukungan
namun kekasaran bisa menggemboskan segalanya
seluruh ambisi tak bertuan
atau cita-cita berkepanjangan
nafasku bagai tersendat
tak tahu lagi harus dengan cara apa
menumpahkan saran kepadamu
yang memang nampaknya tiada guna

kita tidak pernah tahu, Ahok..
sebab takdir adalah urusan Tuhan
apa kelak nasibmu ..??

Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

Kerak Telor

Makanan lezat berkelas
kelas yang mana
kelas pinggir jalan
atau kelas gedongan

Kerak telor campur baur kelapa kering
bumbu bertabur rawit garang
bagai tutur kata amarah orang
kasar
lantang

Duh kerak telor
muncul sesekali di bawah Monas
di tengah keramaian rakyat Betawi berpesta
yang kini tergusur
lebur
oleh segala suku bangsa dunia
kriuk..kriuk..
legit..perih di mulut

Seperih kampung Betawi yang punah
diterjang pusat belanja mewah
kerak telor menjadi kenangan
tak terlupakan

=====================

(dari Perempuan Langit II)

Categories: Puisi | Tags: , , | Leave a comment

Pasar Cikini

Tiada bekas
tiada berkesan
Pasar Cikini penuh makna
tersambit buldozer garang
terkungkung pengembang ganas

Encik telor menangis
gudeg berpanci tak cepat habis lagi
buah terbaik punah tak lagi merekah
toko minyak wangi bagai makam sunyi

Ke mana suasana Pasar Cikini yang dulu
kriuk-kriuk kerupuk kulit
suara mesin kopi memancarkan aroma
hingga babi panggang tergantung merah
pintu putar di los daging bagai hantu
tak seperti dulu
karena tak ada lagi yang dulu

Mujair menggelepar
suara kambing mengembik nyaring
gema protes ke mana-mana
dari makhluk yang tak lagi punya kuasa

Pasar Cikini tinggal kenangan
tergerus ambisi rakus berkepanjangan
senyap…

Sebab pengunjung setiapun pergi selamanya
tak lagi Rosihan Anwar menenteng tas belanjaan
Rahmi Hatta maupun Mien Sudarpo melangkah di sana
hingga peragawati zaman bintang film berjaya
luwes berbelanja
masa lalu yang indah

Kenangan perih tiada tara
senyum hanya mengembang secuil
tatkala memandang rumah dukun patah kondang
yang sudah memiliki ambulans mewah
ah…,
perjalanan panjang membuat gerah !!

===============

(dari buku Perempuan Langit)

Categories: Puisi | Leave a comment

Anak Nakal

Anak nakal memanjat tangga
mengintip teras belakang rumah tetangga
terdengar suara
howeeeeeek cuiiih…!
anak nakal meniru :
howeeek, cuiiiih…!
maka pantat disambar telapak tangan Ayahanda
tangga terjungkil
anak nakal malahan tertawa

Esoknya anak nakal kembali mengintip
teras belakang rumah tetangga
sembari ia menyanyi-nyanyi :
tanah airku tidak kulupakan..
Oei Kok Ping kupas kentang
Oei Hong How bantuin
Oei Kok Ping jatuh celentang
Oei Hong How ngeliatin
tanah aiiiiiiirku tidak kulupakaaaaaan….

Lalu gelak tawa dari rumah sebelah
sembari halus memanggil-manggil
datanglah ke sini nak
ada keju Belanda yang kau suka

Anak nakal menyerbu sebelah
tanpa alas kaki lari segera
nyonya Tionghoa menyapa halus
cuci tangan dulu baru dapat keju
tapi tak ada yang kupas kentang
tak ada yang jatuh celentang di sini..
anak nakal bagai tak terlekat dosa
ia malah tertawa seluas samudra

Anak nakal kini sudah separuh abad lebih usianya
menyimpan sejuta cerita
hingga mengandung
menunggu kelahiran putranya
betapa keluarga tetangga sebelah
si Tionghoa lekat dalam ingatan
halus tata cara bicaranya
ke mana mereka sekarang…

Mengapa tak semua bisa seperti kalian
bahkan penguasa acapkali berujar kasar
membahana bagai tak menyentuh sekolahan
bagai tak ada orang tua yang pernah mencontohkan
kata-kata pantas yang selayaknya dilontarkan

—————————————————————-

( dari buku puisi Perempuan Langit )

Categories: Puisi | Leave a comment

Keterlaluan !

apakah tidak keterlaluan
bila kamu muncul ke kota besar
karena sebuah permintaan
serta bantuan besar
tiada tara

kemudian kamu muncul lagi
didorong urusan perduitan
berkarung-karung
serta biaya iklan
yang amat sangat besar
lagi-lagi dari orang yang sama
memberi bantuan

kemudian kamu besar kepala
karena peluang di depan mata menganga
dan mulutmu mengeluarkan liur tiada henti
urusan keterlaluan kembali berlaga
tiada henti
dalam dadamu yang sesak
oleh kekuasaan

apakah tidak keterlaluan
bila kesempatan di depan muka
sesungguhnya bukan untukmu
namun untuk orang yang telah membiayaimu
tanpa berpikir soal etika
kamu merampas hak orang lain
meski kamu tahu sesungguhnya itu bukan hakmu

lempar citra sana sini
sembari berbohong pula sana sini
apakah itu tidak keterlaluan
bahkan di tempat pesantren nan indah
mulutmu juga berbisa dusta
sungguh keterlaluan

mobil rongsokan berbadan palsu
isi perut bukan buatan negeri sendiri
kamu lakukan pula promosi penipuan
tanpa rasa bersalah
seujung bibirpun
apa itu bukan keterlaluan…

dengan segala cara
kamu berpamer kerakyatan
mencintai lahir batin luar dalam
membuat orang tersihir
menggebu-gebu mengusung
tanpa berpikir panjang

lalu kamu masuk singgasana
tinggi sekali
meski tahu sesungguhnya tak mampu
namun kehebatan muslihat membuat jitu
hasil yang sumringah..

lalu banyak lagi soal keterlaluan
harga melambung
dalam segala hal
keributan sana sini
serta keputusan tak bertuan
menghantui ratusan juta orang
setiap hari…
sungguhkah ini tidak keterlaluan…

apalagi hari ini
berita besar membumbung lagi
kamu berkata segala tingginya harga
tak berpengaruh bagi negeri
sungguh..
sungguh amat sangat keterlaluan
ya..
sebab hatimu sudah beku oleh kesantunan
dan sampai kapan
keterlaluanmu melebar hingga usai ?

Categories: Puisi, Uncategorized | Leave a comment

Beras, Oh Beras !

Butiranmu bersih
putih bening menyala
menjadi kebutuhan Indonesia
sejak nenek moyang berjaya

Kini engkau menjadi langka
penyebab mafia yang tak diakui pejabat
yang tak sudi turun ke bumi
padahal mafia beras ada di mana-mana
meski semakin gila di saat sekarang

Beras..
oh beras..!
bolehlah harga yang lain naik
namun beras seharusnya dijaga
sebab tetap menjadi makanan utama
yang memang sulit tergantikan

Karungmu penuh butiran hebat
sehebat para mafia beras
yang kekayaannya tak dapat terhitung
dapatkah butiranmu di dalam karung dihitung?
tentu tidak..
sama ..
sama seperti para mafia itu
hidup penuh berlimpah harta
yang tak dapat dihitung lagi..
tanpa juga berpikir nestapa

Pejabat tetap menyangkal
tak ada mafia
padahal ia pun termasuk dalam gerombolan itu
keluarganya
sanak saudaranya…
dalam pengapalan
dalam pengarungan
dalam percatutan
bagai uang tak dapat lagi dicari
setelah garong sana sini

Beras..
oh beras…!
hingga kapan hargamu melambung
setiap hari..
tanpa tindakan rezim baru
tanpa berhitung perut lapar
rakyat yang menangis
dan semakin menangis….

Categories: Puisi | Leave a comment

Keras Sekali !!

keras sekali kamu menyangkal
ketidakbenaran perolehan rizki
bagai dianggap tumpahan dari langit
yang semestinya kau dapat

keras sekali kamu menganggap
dirimu bening suci sempurna
tiada menerima harta mudharat
hingga kamu memiliki kekayaan berlimpah

keras sekali kamu menipu
ratusan juta orang di mana-mana
hanya karena para kadal di meja hijau
tak mampu membuktikan keculasanmu

lalu,
kamu yang lain
yang berada di depan meja panjang itu..
juga keras sekali membela
mengarahkan
mewujudkan keputusan ketidakbenaran
demi yang kamu anggap kuasa
telah dengan keras sekali
memaksamu untuk berlaku serupa itu

bumi kalian memang keras
hati kalian pun keras
jauuuuuh lebih keras dari beton manapun
untuk menutupi segala pendustaan
yang sesungguhnya kalian tahu
kelak akan menjadi masalah besar
dalam kehidupan semu
dan hidup selanjutnya di tempat jauh…
yang tak ada lagi kami,
yang kalian tipu… !!

Categories: Puisi | Leave a comment

Oom Bob dan Celana Kuntungnya

sini cantik
belanja apa
kamu kok rapi
belanja apa

begitu selalu ujarmu,
berkali-kali
dengan kata-kata yang sama

Oom Bob Sadino
yang bercelana kuntung
yang selalu saya protes
yang sering saya ejek
sembari bergurau

punya uang banyak
punya supermarket besar
beli baju kok pelit Oom…
hehe..
itulah jawabannya
sembari kadang tangannya menjulur
berpura-pura ingin mencubit

tahun lalu
saya berujar cukup lumayan getir
masih ada Oom Bob ditemani tante
gara-gara roti kesayangan saya
jam sepuluh belum ada
jam tiga sudah habis
dan tak bisa dibeli
di supermarket lain

tentu saja kamu tidak bisa beli
di tempat yang lain lagi
itu kan Oom bikin hanya untuk di sini
spesial resep canggih
agar yang beli ketagihan
begitulah Oom Bob menjawab
sembari bergurau lagi
dan tante ikut terbahak-bahak
wajah cantiknya sumringah

hampir selalu bila berjumpa
dikau selalu berkata
ibu kamu dulu teman naik motor Oom
puluhan tahun lalu
motor gede BMW zaman baheula
seru sekali
ibumu sih hebat
tidak seperti kamu…

saya melotot
geram akan ejekannya
yang kadang nyelekit di dada
berhadapan dengan orang yang tak mau kalah
dalam diskusi apa saja
apalagi kalau sudah bicara isi koran
kadang Oom Bob sok tahu
dan tidak mau surut berkata

tatkala tante tiada
supermarket terasa hampa..
Oom terhenyak lesu di pemakaman
dipapah sejadi-jadinya
membuat orang tak tega memandangnya

kini Oom Bob dan celana kuntungnya
tak juga ada
pergi menyusul sang bidadari..
ke supermarket indah yang lain
yang penuh barang indah
kebutuhan yang indah
lebih hebat dari urusan duniawi

selamat jalan Oom Bob
si celana kuntung…
maka esok dan esoknya lagi
saya akan merasakan supermarketmu yang sepi
tanpa nyawa dan atmosfirmu lagi….
di setiap sudut bertepi
dingin…
ya,
rasanya dingin sekali…

ah, tapi mengapa harus begitu
gelora jiwamu tetap menyala
bagi pemuda pemudi
di negeri ini
kekuatan cobaan hidup yang terlawankan
kegigihan kerja hingga tua
membuat segala hasil bagi Indonesia
jangan cepat menyerah hai anak muda
jangan menyerah..
bekerjalah tekun,
riang..
optimis..
tanpa keluhan

ya..ya..
suara Oom Bob bagai masih terngiang
lagi-lagi..
untuk Indonesia !!

Categories: Puisi | Tags: , , | 2 Comments

Maroef Sjamsoeddin : “Tak Ada Militerisme di Freeport !”

Itulah janji Maroef Sjamsoeddin, sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia yang baru. “Tak ada militerisme di Freeport!,” katanya. Kalimat meluncur dengan tegas dari lelaki yang masa terakhir jabatannya adalah Marsekal Muda TNI Angkatan Udara Republik Indonesia, sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) periode 2011-2014.

Sang purnawirawan ini cukup paham setelah namanya dimunculkan oleh para pemegang saham Freeport,maka seketika banyak pegawai, buruh maupun kepala suku meributkannya. Masalahnya, belum pernah selama ini seorang Presiden Direktur Freeport dari kalangan tentara. Selebihnya, penembakan beberapa kali terhadap buruh dalam tahun-tahun terakhir ini juga meresahkan. Bahkan anggota Brimob Detasemen B Polda Papua, Briptu Ronald Sopamena pun menjadi korban tembak dengan kelompok bersenjata yang tak di kenal, di kawasan hutan Kali Kopi, Timika. Dalam kurun waktu 2009 hingga tiga tahun sebelum tahun 2015 ini saja tercatat 15 orang tewas, plus 50 an orang terluka karena penembakan di kawasan PT Freeport Indonesia di Mimika, Papua. Ditambah lagi, pembunuhan di Banti bulan lalu,yang menyebabkan dua orang Brimob tewas, dianggap sangat meresahkan.

Kekerasan yang dialami kaum pekerja di Freeport menimbulkan ketidaknyamanan bila seorang tentara, maupun pensiunan tentara menjadi pemimpin perusahaan besar dan bernilai itu. Banyak yang meragukan latar belakang Maroef dan kemiliterannya yang mungkin saja dikembangkan di tambang emas dan tembaga itu.

Belum lagi mereka tak akan lupa adanya kekerasan pada tahun 2011 silam, yang membuat perusahaan berhenti berproduksi selama tiga minggu. Bisa dibayangkan kerugian yang diterima saat itu. Tanpa produksi, sebesar tujuh juta dolar tiap hari lenyap. Lalu, siapa yang menengahinya pada waktu itu? Ternyata Maroef Sjamsoeddin.

Setelah berkoordinasi dan rapat terpadu dengan Menkopolhukam, Panglima TNI, dan Kapolri, Maroef yang saat itu menjadi Wakil Kepala BIN ditugaskan untuk menghampiri keributan dan berdialog secara baik-baik. Berita tak pernah keluar di media manapun dan masyarakat di luar Papua tak pernah tahu bahwa saat itu seorang Wakabin yang membereskannya. Caranya? “Komunikasi,” ujar Maroef, ayah dua anak itu dengan tegas. Saat kejadian 2011 Maroef menuju lokasi, ia berhari-hari tidak ingin makan di kantor. Ditemuinya para penduduk, pegawai, buruh lain yang mogok, di warung-warung pinggir jalan. Ia melakukan komunikasi yang jitu dengan pendekatan yang sangat jauh dari cara-cara militer. Padahal, Maroef saat itu adalah jenderal bintang dua,serta masih menjadi militer aktif. Urusan pekerjaan hingga katering, kesehatan, dan fasilitas lain menjadi bahan pokok pembicaraan yang hangat antar Maroef dan para pegawai.

Sebelum Maroef memperoleh kursi (meski sudah ditetapkan menjadi Presdir Freeport) pada 2015 ini, ia mengundang beberapa puluh orang pegawai, buruh, kaum adat ke Jakarta, hari Kamis dan Jumat minggu lalu. Kamis siang, Kamis malam, dan Jumat sore adalah pertemuan yang dilakukan oleh Maroef dengan orang-orang yang berbeda. Tamu golongan pertama sebanyak kurang lebih 35 orang adalah ‘garis keras’.

Semula Maroef yang bergelar Master of Business Administration dari Jakarta Institue Management Studies ini menerangkan bahwa kehadirannya kelak di tempat yang sangat jauh dan berjaya itu untuk mengoptimalkan hubungan baik. “Operasional Freeport harus memiliki manfaat. Sumber daya alam dieksplorasi kepada masyarakat setempat. Pembangunan Papua secara utuh, dari sisi kesejahteraan pendidikan, kesehatan. Nanti akan dikembangkan pengolahan operasional tambang, underground mining, yang terbesar di dunia. Dan semua harus menjadi nilai tambah bagi bangsa dan negara kita”.

Selebihnya, orang-orang yang mempertanyakan soal militerisme yang akan diterapkan Maroef,ia malah balik bertanya. “Bukankah dari bapak-bapak ini dulu tahun 2011 ada juga yang sudah pernah berkomunikasi dengan saya? Kita duduk bersama di warung-warung, Dan tahu bagaimana cara saya menangani kerusuhan pemogokan itu? Adakah cara militer yang saya lakukan? “. Mereka pun terdiam serta membuka memorinya kembali. Seorang Ibu sebagai Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua, asli Timika, termasuk yang sebelumnya cukup keras mempertanyakan sikap Maroef ke depan. Urusannya sama , meragukan kapasitas. Ada lagi yang menuntut janji. “Saya tidak berjanji yang lain sebab saya belum duduk di sana. Tetapi asal diingat, saya tidak pernah melamar ke Freeport tapi saya ditunjuk. Kepercayaan itulah yang akan saya manfaatkan betul untuk memberi nilai yang bermanfaat kepada pertambangan dan rakyat”, katanya lagi.

Tamu Maroef juga mempersoalkan soal kesehatan, pendidikan dan rasa aman. Mereka menyalahkan manajemen , soal cuti dan pesawat udara yang seharusnya bisa dipakai pula untuk mengangkut mereka. Maroef, tentu saja mencatat semua sebagai bahan kerja dia kelak. “Tidak mungkin pemerintah Indonesia menggelar kekuatannya, kalau tidak ada suatu potensi ancaman dan gangguan,” jawabnya kepada para tamu.

Ia juga mengingatkan bahwa masih banyak orang-orang yang memakai senjata secara liar dan ilegal. Maroef membujuk, “Cobalah kita ajak mereka, untuk apalagi bawa senjata? Mari kita bangun bersama, meski masih ada OPM secara politik dan militer di situ. Saya yakin bapak-bapak tokoh agama, pendeta, tokoh adat, kenal dengan saudara-saudara kita yang masih punya pemikiran seperti itu. Mari kita siap bertemu, dan saya akan senang kalau bapak-bapak nanti bisa antar saya kepada mereka”.
Tamu-tamu di antaranya adalah pimpinan Serikat Pekerja Kabupaten Mimika. Maroef menjawab pertanyaan yang sama dari tamu-tamu yang terdiri dari para tetua dan tokoh adat suku Amome dan Komoro.

Entah karena dibicarakan secara terbuka dan baik-baik di Jakarta, maka ketiga pertemuan berakhir dengan baik. Mereka memahami dan berjanji akan bekerjasama secara baik di Freeport. Maroef pun kembali mengingatkan, “Saya optimis sepanjang kita mau bersama-sama. Apa artinya seorang Presdir tanpa kalian, tapi apa artinya juga kalian tanpa saya. Maka itu kita harus sama-sama. Dan ingat, tidak ada pengelompokan, pengkotakan lagi. Tidak ada yang eksklusif. Yang namanya Presdir hingga karyawan terbawah, semua namanya adalah karyawan PT Freeport Indonesia,” ujar Maroef, yang tidak begitu dikenal kiprah dan sepak terjangnya selama ini, sebab dunia intelijen yang menghabiskan waktu 2/3 dari karirnya, sesungguhnya memang tak membutuhkan publikasi terbuka.

Categories: Berbagi Info | Leave a comment

Sido Muncul Ingin Rakyat Sehat, Tuduhan Pencemaran Lingkungan membuat Irwan Bingung

Manusia hidup berproses. Dari zero hingga hero. Dari titik nol hingga besar. Ada pula yang ambruk seketika maupun pelahan. Semua bergantung dari nasib, ikhtiar, kerja keras, dan niat baik. Banyak pengusaha mengalami hal seperti ini, di mana-mana.

Begitu pula dengan jamu Sido Muncul. Ibu Rakhmat Sulistyo pemilik pertama merk dagang Sido Muncul memunculkan usaha jamu ini di tahun 1951. Usaha yang pas-pasan puluhan tahun lalu sempat menanggung utang besar ketika Irwan Hidayat (kelahiran Jogjakarta tahun 1947) sang cucu ibu Rakhmat bersama empat orang adiknya sebagai generasi ketiga Sido Muncul memperoleh warisan perusahaan itu. Sebelumnya, Irwan memang menjadi cucu tercinta neneknya. Saat clash ke II tahun 1949, dekapan kasih sayang ibu Rakhmat tak lepas pada Irwan. Mereka hijrah dari Jogjakarta menuju Semarang. Maka dua tahun setelah itulah, foto sang cucu bersama neneknya menjadi logo perusahaan Sido Muncul.

Upaya memajukan perusahaan, setelah berganti generasi itu begitu keras. Irwan, pada tahun 1997 berhasil membuat Sido Muncul menciptakan pabrik jamu modern yang memiliki standar dengan laboratorium farmasi. Di atas tanah seluas 32 hektar ia membangun pabrik jamu sebesar tujuh hektar khusus memenuhi standar itu. “Saya hanya selalu berpikir dan memiliki tekad, industri jamu harus maju, harus membuat bangsa ini hebat karena jamu memberikan banyak manfaat,” ujarnya.

Dari zero menjadi hero dilalui Irwan dengan gigih.Ia memperoleh sertifikat yang biasa diterima oleh industri farmasi, yaitu CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) , yang biasanya untuk industri jamu hanya sebatas CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik).

Tantangan untuk maju berlanjut. Penghargaan diperoleh dan pabrik semakin giat memproduksi lebih dari 150 jenis produk yang bermerek dan generik seperti Tolak Angin yang laris sekali, Kuku Bima, Kunyit Asem, jamu instan dan yang terakhir akan diproduksi jamu khusus untuk sakit mag, ternyata tetap memiliki sandungan tersendiri. Kali ini dari urusan pembuangan limbah. Dan membuat Irwan, sebagai Direktur Utama plus pemilik PT Sido Muncul, bingung.

Masalahnya, minggu lalu datanglah Komisi C dari DPRD Kabupaten Semarang untuk meninjau pabrik. Bersama orang LSM, plus wartawan. Atas pengecekan, disimpulkan bahwa PT Sido Muncul tidak bagus dalam pengolahan limbahnya. Air limbah dibuang ke sungai Klampok serampangan sehingga tentu saja menimbulkan pencemaran. Juga kutipan dari Direktur Eksekutif WALHI (Wahana Lingungan Hidup Indonesia) Jawa Tengah Indrianingrum Fitri yang menyatakan bahwa jangan setelah menerima CSR (Corporate Social Responsibility) lalu menjadi diam. Lalu berita yang berkaitan ditulislah di berbagai media.

“Saya hampir tiap tahun adalan nominasi Kalpataru untuk urusan lingkungan. Kok malah dituduh serupa itu?,” ujar Irwan Hidayat, yang tengah berkumpul dengan beberapa anggota keluarganya di suatu tempat, hari Sabtu 17 Januari 2015 di Jakarta. Oleh sebab itu, atas dasar hasil pemeriksaan, ia mempersilakan limbah pabriknya diaudit lengkap oleh pihak berwenang. “Saya bersedia dicek oleh BLH (Badan Lingkungan Hidup) atau KLH (Kementrian Lingkungan Hidup),” katanya lagi. Lagipula, menurutnya, ada delapan perusahaan di seputar kawasan pabriknya. “Apakah mereka sudah dicek juga pengelolaan air limbahnya?”. Selebihnya, ia juga menyayangkan soal tuduhan CSR. “Hukum positif dan opini adalah persepsi yang harus diciptakan. Maka saya termasuk yang melakukan CSR, tapi sama sekali tidak ada niatan dari CSR saya untuk menutup mulut orang. CSR tidak ada hubungannya dengan aturan yang harus ditegakkan”.

Irwan, yang amat rajin berupaya tiap tahun menyediakan transportasi gratis bagi ribuan pembantu rumah tangga Ibukota mudik, mulai menceritakan secara runtun upaya pembersihan lingungan itu. “Saya adalah orang yang sangat mencintai lingkungan. Upaya apapun akan saya kerjakan demi hal itu,” katanya tegas. Ceritanya, tahun 2011 ada usulan bahwa PT Sido Muncul akan dinilai. Tentu saja Irwan senang. Tetapi ternyata penilaian yang dikenakan adalah hitam, sebagai tanda pencemaran lingkungan pada suatu pabrik tertentu. Usut punya usut, ternyata kesalahan memang terletak pada dapurnya sendiri. Ada beberapa manajer lingkungan perusahaan yang tidak bekerja sebagaimana mestinya tanpa sepengetahuannya. “Hal-hal yang seharusnya dikerjakan, tidak dikerjakan,” ujar Irwan.

Lalu, dengan segera Irwan pada tahun 2011 membuat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang cukup besar. Tahun 2012 selesai, dengan biaya sebesar Rp 35 Milyar yang dikerjakan sepanjang hari. Kapasitas terbangun adalah tiga kali dari produksi, yang menurut Irwan memang disengaja agar bila produksi makin berkembang, IPAL masih bisa menampung secara baik. Akibatnya, tahun 2012 itulah perusahaan memperoleh penilaian biru. “Itu adalah prestasi besar, karena biasanya dari hitam harus merah dulu baru menjadi warna biru,” katanya.

Dengan kejadian berulang soal tuduhan pencemaran lingkungan, Irwan tampaknya sudah tak sabar lagi. IPAL baru sesungguhnya tak membuat pencemaran, sebab Irwan setelah mengalami sabotase pipanya dipecah tahun 2013 oleh orang-orang tertentu, maka ia mulai memasang kamera tersembunyi di segala sisi. Pipa limbah diekspos, dibuat khusus di atas agar mudah terlihat, dan dicat warna coklat. “Dengan demikian bisa terlihat bila ada yang melakukan sabotase,” kata Irwan. Biasanya, untuk jamu tolak angin saja misalnya, pembersihan limbah mulai setelah tujuh jam kerja , setiap hari. Sekarang, ia mengaturnya seminggu sekalidibersihkan agar IPAL bekerja lebih enteng. “Ingat ya, saya belum pernah buang limbah padat ke luar pabrik,” katanya tegas.

Dengan kesimpulan komisi C DPRD, BLH (Badan Lingkungan Hidup), orang LSM serta wartawan dengan pemberitaannya, Irwan nampaknya sungguh kecewa. “Mana mungkin sih pemeriksaan limbah di pabrik saya sehari bisa selesai, dan langsung beropini? Lagipula, dilakukan pemeriksaan truk tangki dan dicurigai kotor. Lha itu memang untuk pembuangan kok, tangki disiapkan kalau pompa tidak memadai, dengan tangki dituang ke IPAL.”

Ada pula dugaan bahwa karena pabrik adanya di tengah sungai dan yang melewati jalan ditutup dengan berbagai gorong-gorong agar jembatan tidak terganggu, air limbah pun dicurigai dibuang ke tempat itu. “Bagaimana mungkin saya lakukan itu? Saya pecinta lingkungan, dan menghargai konsumen saya dan empat ribu karyawan saya sendiri,” katanyaa. Ia juga menyangkal tegas ada keinginan berkongkalikong dengan karyawannya. “Bangun IPAL Rp 35 Milyar kok kongkalikong dengan karyawan? Mereka malah prihatin dengan kejadian yang saya alami ini. Mereka rata-rata sudah bekerja 20 tahun, dan saya bilang, kita harus lolos dari ujian ini”.

Irwan ingin sekali perusahaannya diaudit tiap bulan oleh BLH atau pun KLH dengan biaya dari perusahaan. “Tapi itu kan tidak mungkin karena tidak ada aturan itu. Setor uang harus ke bendahara negara kan?,” katanya. Dan idenya adalah, pemerintah menunjuk pengawas atau konsultan yang bisa mengaudit perusahaan dan melapor kepada pemerintah tiap dua atau tiga bulan sekali. Apapun, ia berharap kerjasama dengan pemerintah tidak hilang begitu saja. Kalau ada kesalahan terjadi di tempatnya, bisa langsung diketahui. “Kami ingin diperiksa baik-baik, lalu penjelasan kami juga didengar secara baik-baik.”

Irwan, yang produksinya sudah tembus ke luar negeri, dan selalu turun ke lapangan di pabriknya maupun terjun langsung ke pasar, ke agen serta pemilik kios dan mbok bakul jamu gendong itu menganggap yang terpenting urusannya kini pada pemerintah. Lagi-lagi, berkali-kali ia berkata agar bisa diaudit tiap dua atau tiga bulan sekali dilakukan oleh konsultan ahli. “Agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dan agar saya tidak dibuat bingung..,” ujar Irwan Hidayat, yang mengaku meproduksi jamu untuk kesehatan bukan sama sekali untuk membuat orang menjadi tak sehat dari pencemaran lingkungan hasil produksinya.

Categories: Berbagi Info | Leave a comment