Untuk Kamu,di Hari Putusan MK

jangan kamu pikir riwayatmu sudah tamat.
ada 60 juta rakyat lebih yang telah memilihmu tanpa paksaan tanpa bayaran dan tanpa basa basi.
berjuang selalu untuk negeri ini adalah suatu kemuliaan. dalam bentuk apapun.
buktikan kepada dunia bahwa kamu memang bukan seorang psikopat maupun gila seperti yang dituduhkan ‘orang-orang gila sungguhan’ itu.
kamu tetap teman saya, teman untuk seluruh teman-teman saya yang mendukungmu dan akan terus mendukungmu. juga teman rakyat pendukungmu yang suka rela selalu.
biarkan gosip melintas semau-maunya, sebab Tuhan Maha Cermat memperhitungkan segalanya, terutama penzoliman yang dilontar semau-maunya.
kamu punya semangat yang menggebu-gebu, kobarkanlah terus.
jaga silaturahmi kepada para pendukungmu selalu.
memohon kepada Tuhan agar tetap diberi kekuatan lahir batin.
dan yakini yang loyang akan terungkap, yang emas akan muncul bersinar.
yakini pula selalu hikmah DIA di balik segala peristiwa dunia…..
tentu ada yang istimewa yang sebelumnya menjadi ‘rahasia’ NYA…..
untuk diberikan secara istimewa bagi orang yang tabah, legowo dan tawakal …..
Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Tulisan Mariska Lubis

Ini bukan  hasil tulisan saya. Mariska Lubis, seorang pengamat sosial, penulis yang giat telah mengungkapkan pernyataannya dengan ‘mengena’  di hati.

Saya menyalinnya kembali karena saya amat terkesan dengan tulisan ini  ;

 

*******************************&&&&&&*************************

 

Menantang Nyali MK →
Jagoan Ngomong, Mengerti Politik Pun Tidak!
Posted on August 19, 2014 by bilikml

Banyak cakap menjelek-jelekkan orang lain, bahkan menghina orang yang benar-benar turun berjuang mempertaruhkan jiwa dan raganya. Seolah benar berani berjuang, padahal hanya memperjuangkan nafsu dan kepentingannya belaka. Mana ada pejuang yang tak bernyali dan hanya banyak omongnya saja?! Mana ada pejuang yang tak berpikir panjang dan hanya memikirkan saat ini tanpa juga mau belajar lebih dalam?! Berlagak jagoan bak pejuang sejati, iya!!!

Saat ini seharusnya sudah tidak ada lagi yang berlagak seperti jagoan dalam film-film, kecuali bagi yang memang senang mendramatisir dan hiperbola ala sinetron. Sebaliknya, sekarang justru makin nampak jelas pecundang yang berlagak seperti jagoan seolah benar punya nyali untuk berjuang dan menegakkan kebenaran serta keadilan untuk kepentingan semua. Paham politik, pemerintahan, dan negara pun tidak, berkoarnya sudah lebih-lebih dari pejuang ’45 saat merebut kemerdekaan. Untuk mengakui perbuatan buruk dan ketidaktahuannya saja tidak bernyali, mengakui salah apalagi, tapi aduh, mak!!! Hebat, deh, pokoknya!

Beginilah nasib bangsa yang dikuasai oleh orang-orang yang penuh dengki dan dendam atas masa lalu terutama masa Orde Baru. Apa yang baik dan buruk di masa itu tidak bisa dilihat dengan kacamata objektif, pokoknya semua yang berhubungan dengan masa Orde Baru adalah buruk. Anehnya, apa yang baik di era Orba justru dibuang, giliran semua yang buruknya ditiru bahkan dibuat lebih buruk lagi. Lihat saja Pemilu di era reformasi! Apanya yang demokrasi?! Peraturan dan penyelenggaraannya saja kalau balau, teramat sangat!!!

Ini juga nasib bangsa yang rakyatnya memang masih bodoh dan senang banget dibodohi. Seperti yang sudah saya sering uraikan, bahwa Indonesia ini dikuasai oleh manusia penonton alias audience people yang merupakan bukti tingkat kebodohan. Manusia penonton bisa dengan begitu mudahnya yakin dengan apa yang ditontonnya, tanpa berpikir panjang dan belajar lebih mendalam. Itulah sebabnya, mudah sekali digiring oleh media massa. Diperparah lagi dengan kemampuan baca dan bahasa yang juga rendah, sehingga tulisan itu hanya dibaca aksaranya saja, itu pun banyak yang tidak paham arti dan maknanya. Paling kacaunya, manusia penonton ini juga senang banget jadi tontonan dan ditonton, berhubung jejaring sosial sekarang mendukung, maka hebohlah di sana.

Lucunya, tidak sedikit yang berdalih bahwa ini merupakan hak di era demokrasi, tapi giliran orang lain berbeda pendapat tidak terima dan dianggap tidak memiliki hak yang sama. Memangnya siapa, sih, sampai segitu beraninya mencabut hak orang lain? Malah perilaku seperti itu menunjukkan ketidakmampuan menjalankan kewajiban, yaitu memberikan hak yang sama kepada semua orang. Menjalankan kewajiban saja tak mampu, teriak-teriak pula soal hak dan kewajiban orang lain?! Duh!!!

Urusan penyelenggaraan Pemilu Presiden yang digugat saja hanya dipahami sebatas menang dan kalah, dan Pak Prabowo terus juga dijadikan bulan-bulanan. Mengertikah bahwa Indonesia ini punya masalah dengan penyelenggara Pemilu sejak lama?! Kalau tak bermasalah, tak mungkin ada banyak gugatan di Mahkamah Konstitusi. Jangankan pelaksanaan Pemilu yang krusial di tingkat nasional, seperti Pilpres, pemilu Legislatif April lalu pun sangat buruk dan bahkan merupakan Pemilu Legislatif terburuk dalam sejarah Indonesia. Konyolnya, kesalahan mereka bisa tertutup dengan mudahnya oleh para jagoan yang berkubu. Merasa pejuang dan pahlawan, ya, kalau sudah menjatuhkan kubu lawan? Esensi penting dari kenapa gugatan ini harus dilakukan pun tak paham. Yang dibahas hanya seputar tampilan saja, persis seperti sinteron dan acara gosip!!!

Malu sebetulnya menyaksikan semua ini, sedih dan miris. Marah sudah lebih dari marah hingga timbal rasa iba dan kasihan. Efek buruk dari rasa tidak percaya diri dan tidak memiliki keyakinan itu begitu terasa, sehingga sangat mudah sekali untuk menyerang. Semua kelakuan berlebihan yang muncul lewat perilaku dan kata-kata yang tidak sopan, tidak memiliki empati, asal ngomong saja, dan tidak tahu waktu tempat dan posisi, menjadi bukti yang kuat betapa lemah dan kosongnya pikiran dan hati. Benar-benar menjadi cermin kebodohan yang sudah di tingkat mencemaskan!

Banyak pula alasan dan pembenaran dengan segala rasionalisasinya, seperti benar saja rasional dan bisa membuktikan kepintaran. Padahal terbalik! Justru ketika semua itu makin terurai maka semakin menjadi bukti ketidakmampuan berpikir rasional. Menuduh semua alasan dan bukti yang diajukan tanpa mau mencermati lebih teliti, tanpa mau mempelajari sebab akibatnya, sejarahnya, juga menunjukkan ketidakrasionalan pemikiran. Memangnya salah jika menang pun melaporkan kecurangan dan kesalahan?! Memang umumnya orang kalau menang di satu daerah lebih banyak diam meski tahu Ada kesalahan dan kecurangan, namun bukan berarti itu adalah perilaku ksatria yang hebat! Seorang pejuang dan ksatria mana mau menang karena kecurangan dan kesalahan?! Kenapa sudut pandang ini dianggap tidak rasional sementara teriak-teriak ala preman tanpa bukti dielu-elukan dan diacungi jempol?!

Sudahlah! Tak usah menjadi jagoan bak pejuang sejati! Makin keras teriak makin nampak bualan kosongnya! Malu lihatnya!!! Tak usah terus tunjuk jari, ingat ada empat jari yang menunjuk pada diri sendiri! Daripada berjuang untuk diri sendiri dan kelompok, kenapa tak membantu berjuang untuk bisa mendapatkan kehidupan lebih baik di negeri ini? Meski menang, KPU bukan berarti lembaga yang tidak pernah salah dan tidak melakukan kesalahan! Semua kesalahan dan kekurangan mereka harus terungkap agar ada perbaikan ke depan. Kalau memang pejuang sejati, berjuanglah untuk kebenaran dan keadilan serta untuk semua, dong!!!

Nggak usah banyak teriak, deh! Diam dan berpikir akan lebih membantu! Lepaskan soal kubu-kubu dan jernihkan pikiran dan hati! Gugatan Prabowo di MK terhadap penyelenggaraan Pemilu ini penting banget bagi kita semua, kok!!! Mau terus-terusan Pemilu buruk dan amburadul?!

Semoga dipahami!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
18 Agustus 2014

Categories: Opini | Leave a comment

Renungan Lagi…..

Bila Anda terlibat sengketa tanah, yang sepatutnya Anda dimenangkan tapi dicurangi, bila Anda dilibas dalam bisnis sehingga merugikan, ditabrak mobil di jalanan oleh orang yang tak bertanggungjawab padahal kejadian itu bukan salah Anda, apapun yang Anda anggap adalah hak Anda tapi diinjak oleh orang yang Anda anggap tak berhak, apakah Anda akan diam saja, atau protes lewat berbagai jalur termasuk jalur hukum ??

Lalu, adakah yang salah bila seorang capres dan cawapres memiliki prinsip haknya diinjak-injak, juga para puluhan juta orang juga merasa pilihannya diinjak-injak, kemudian protes lewat jalur hukum ? Adakah yang salah? Adakah? Memang, bila Anda tidak merasakan hal pahit menimpa diri sendiri, Anda akan mudah mencemooh orang-orang yang menuntut haknya, yang protes dan tak bisa menerima. Tapi cobalah bila itu terjadi pada diri sendiri, pada keluarga Anda sendiri…, bagaimana ?? Apalagi tuntutan Anda dikecam tanpa alasan, dicibir, dihina…? Apa perasaan Anda ?? Mulailah mencoba mencubit diri sendiri lebih dahulu…., baru menghajar orang lain…..

 

Categories: Opini | Leave a comment

Renungan Sesaat….

 

Borok begitu terlihat jelas, kesalahan di depan ujung mata, kinerja amburadul dan penuh strategi culas, tetap saja masih merasa dirinya DEWA tiada salah secuil pun…. hallooooo.. KPU…. kalian bagai orang buta yang tak sama sekali menangkap siluet apapun dari isi dunia….. dan kelambu gulita menutupi hati serapat-rapatnya……, plus tak kenal malu…. >> yang seperti inikah yang dibanggakan pendukung capres sebelah ?? percayakah kalian pemenangan semu itu atas hasil HALAL ??? L:alu, kalian diamkan saja? Apa bedanya dengan memperoleh hadiah atau tenang-tenang saja memakan makanan dari hasil haram ??

Ini hanya sekadar renungan pribadi.  Bila dicamkanpun tak sudi..,  juga adalah hak dikau pribadi….

Categories: Opini | Leave a comment

Puisi Untukmu, Hai “MK” …

 

Awan gelap menyelimuti gedung megah itu

bersiap menangis

menumpahkan hujan batu

kepada makhluk di dalamnya

yang berjubah hitam

manakala keadilan tak juga ditegakkan…

 

Apa gunanya mereka belajar tinggi

meraih gelar berlama-lama

bila kedajalan tak menjadi bahan

untuk dimusnahkan?

 

Keputusan yang digiring malaikat

apakah akan diputar kembali

oleh  hantu culas…

agar yang salah dibenarkan

yang benar disalahkan??

 

Tuhan menyaksikan segala langkah ucapan kalian

tiada henti…

tiada tidur sekejappun

dan bersiap dengan balasan setimpal…

Categories: Puisi | Leave a comment

Renungan Lebaran (2)

kehangatan telapak tangan

saat bersalaman penuh pemaafan

diselimuti taburan senyum

dan serbuan awan putih

bening

menghajar gelapnya amarah

musnah sudah ribuan kesal

kembali kepada dasar kasih..

bisakah??

mampukah…?

yang tak bermasalah begitu mudah bermaafan

yang sempat bermasalah justru tak keluar ungkapan itu

tak secuilpun,,,

bagai tak ada tempat untuk memohon maaf

tak juga merasa telah berbuat khilaf….

lalu apa makna lebaran sesungguhnya…??

Categories: Puisi | Leave a comment

Renungan Lebaran

 

 

Alhamdulillah menikmati Lebaran bersama keluarga besar, keluarga inti, keluarga orang lain…. semua terasa indah….. kasih merebak di antara kami… makanan lezat tiada henti…. tertawa membicarakan perbedaan pilihan yang seru kemarin ini…, saling menghormati pilihan masing-masing meski tetap saja ada sindiran kocak..hahahahaaa…. lalu ngobrol cekikikan lagi, sembari memandang generasi muda kami.., anak cucu menantu…. dan kami baru merasakan betapa usia kami sudah jauuuuuh… kami  telah memperoleh bonus bermakna dari Tuhan Semesta sang Kekasih….  kami  semua berkumpul dalam dua hari yang padat dan melelahkan tapi  secara keseluruhan benar-benar sungguh menyenangkan….. Terima kasih Tuhan….. beribu terima kasih….

Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Marilah Menari….

 

marilah menari

hey ..hey..hey..hey..

hey kawan

akulah di sini

hey..hey..hey..hey..

hey kasih…

 

mari bergembira

di atas derita

dan tangis mereka…

yang penting kita juara …

 

siapa bilang dia menang

kotak suara banyak yang sudah ditendang

kalau menang nanti kita tak kebagian

padahal sudah rencana bagi-bagi kekuasaan

heeeeeeeyyyyy..

heeeeeeeeyyyy..

 

marilah kemari

hey.hey..hey..hey..

hey kawan..

gerakan menari

hey-hey..hey..hey

tanda kemenangan

jangan peduli  segala tangisan

suruh mereka pulang ke kandang

yang penting dalam kehidupan..

harus menang..

hey..hey..hey..

meski segala cara..

dihalalkan..

dihalalkan…

dihalalkan…..

Categories: Puisi | 2 Comments

Keputusan Saat Sahur

Bagas tampak kuyu.  Kerja tiada henti di media  terkenal Indonesia membuat tenaganya terkuras. Bulan puasa membuatnya harus bertahan pada haus lapar dan kesabaran. Kesabaran ?

Waktu sahur telah tiba. Bagas duduk termenung di meja makan. Ibunda sibuk menyendok nasi ke piringnya. Vitamin  dan madu di sebelah piring disediakan. Ayahnya, sembari menyeruput teh hangat, diam-diam mengamati wajah anaknya.

“Bapak lihat kamu capek sekali Bagas..”, ujarnya.  “Iya pak. Capek banget. Tapi yang bikin lebih capek adalah capek hati, dan capek menahan sabar”, jawabnya lirih.  Sang ayah terkesiap. Inilah yang ia takuti selama ini. Anaknya tak lagi bisa bekerja dengan hati ringan.  Keterpaksaan adalah hal yang mengerikan dalam menjalankan pekerjaan apapun. “Ayo ceritakan saja kepada kami, tidak usah malu nak,” kata sang ibu.

“Aku kerja lapangan, melihat semua kenyataan. Aku tahu hasilnya merah,  tapi sampai di kantor , laporan kerjaku diacak-acak oleh boss.  Merah harus diubah jadi kuning, hitam, hijau, pokoknya semau-maunya deh. Asal orang yang satu itu, yang jadi pusat berita,  namanya harus  jelek.  Kesan di masyarakat  pokoknya dia harus jelek. Di meja rapat, Bagas pernah migren berat karena mendengar instruksi atasan yang sangat kejam dan penuh rekayasa. Bagaimana bisa kerja terus-terusan di kantor itu kalau aku harus ikuti perintah jahat begitu pak?  Ibu juga pasti tidak bangga kan kalau anak ibu digaji bulanan dari hasil bohong?”

Sang ayah kembali terkesiap. Teh hangat terasa membara di mulut. Nasi berlauk sup kacang merah terasa hambar.  Hatinya berbicara, kasihan anakku. Tekanan batinnya sudah melampaui batas…

“Lalu kamu mau bagaimana?”, tanyanya. “Bagas minta izin ke bapak dan ibu,  untuk keluar saja dari dunia itu. Mending Bagas jualan syomai di pasar dekat rumah kita itu. Atau menjadi sopir mobil sewaan sementara ini sambil cari kerja yang lain,”  jawabnya.

Ibunda menahan butiran air matanya sekeras mungkin.  Duh anakku sarjana komunikasi. Pandai menulis, pintar berpidato, wawasannya cukup luas, bahasa asingnya lancar, ingin berjualan syomai atau menjadi sopir  mobil sewaan ?   Sahur malam itu terasa hening  kecuali darah di tubuh yang kencang berdesir.

“Lakukanlah nak. Bapak juga was-was, jangan sampai anakku lama-lama malah terbawa pada kegiatan tipu muslihat seperti itu. Sebetulnya Bapak sudah ingin bicara sejak lama soal ini, tapi kan rasanya kasihan melihat kamu begitu cemerlang melangkah karir di perusahaan hebat itu”.   Dan si Ibu pun nyeletuk , “Ibu tidak ada bangganya kalau anak ibu jadi makhluk penipu di kantor hebat itu.  Jualan syomai lah. Menyopir mobil orang lah sementara waktu. Tuhan tentu InsyaAllah akan kasih rejeki di lain waktu dan dalam waktu yang tidak lama…. kami rela ..sumpah .. kami rela.. meski tadi ibu cukup kaget dan sedih , kok anak ibu mau jualan syomai.  Tapi ketimbang mulut tangan kakimu penuh mudharat.  Harus ngibul tiap hari, harus menyerahkan pekerjaan palsu untuk kepentingan perusahaan, apalagi dengan tujuan untuk mencelakakan orang,  alangkah hinanya….”

Mita, adik Bagas segera  mengambil garpu. Langsung menusuk daging empal di meja. “Nih, gue tusuk boss elo , kak !  Gue tusuk juga kebohongan ! Itu bukan keluarga kita, lageeee… !  Lebaran nanti kita seada-adanya saja. Tapi bahagia. Kakak jualan syomai, nggak masalaaaaaaaah.. !”

Dan berempat tertawa lebar… berderai-derai. Hati lapang  menebar di meja makan. Riang menyerbu sahur mereka. Tentu malaikat pun tersenyum mengiringi kebahagiaan keluarga indah itu …….

Categories: Cerpen (Fiksi) | 1 Comment

Ketika Kami Sudah Kehabisan Kata

kami hanya tercenung

bungkam

terpana

pedih

terkesima

 

ketika kami sudah kehabisan kata..

maka hanya hati yang bersuara

telinga bagai tak tersusupi bunyi kebaikan

sebab jelaga tumpah di sekitar muka

kami kehabisan kata

tak mampu berbicara

 

kedajalan merajalela

lalu kami  bisa apa

bila yang salah dibenarkan

yang benar ditindas mampus

kami kembali menganga

tanpa sebutir kata muncul

terserah mereka..

terserah  mereka…

silakan bergembira

hingga bukti nyata di depan mata

lalu  seberat batu pun muncul kecewa

Categories: Puisi | Leave a comment