browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Senior ….

Posted by on December 12, 2011

Beberapa malam lalu saya berjumpa Adnan Buyung Nasution. Siapa yang tak kenal pria ini. Si rambut putih, pengacara kondang, mantan pimpinan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) dan aktifis sepanjang zaman.  Bicaranya keras, entah orang suka atau tak suka. Memaki Suharto seenaknya. Menyerukan agar Suharto turun, pernah pula ia lontarkan.  Saat Majalah TEMPO dibredel, ia datang ke ruang kerja kami malam-malam. Ia naik meja. Marah. Ikut berduka.

Saya peluk dia dengan hangat. Anaknya, Moully, adalah pemuda cilik yang satu sekolah dengan saya. Keponakan-keponakannya juga teman dekat saya. “Hallo senior!  Harus sehat selalu yaa!”, ujar saya malam itu.  Mengapa dia saya sebut senior?  Orang yang saya tuakan,  yang saya segani, apa pun, meski kadang saya adakalanya tak sependapat dengan sepak terjangnya, tetap saya anggap ia adalah senior saya.  Banyak pelajaran yang saya petik dari orang ini. Kegigihannya, ketabahannnya saat  hibah ke negeri orang lain, dan perjuangannya melawan sakit yang dideritanya yang membuat ia harus bolak balik masuk Rumah Sakit.

Di Istana, beberapa bulan lalu saat ada acara KOWANI,  saya disapa oleh Martha Tilaar, seorang ahli kecantikan yang sukses luar biasa setelah merayap puluhan tahun silam menekuni dunia salon. Saya begitu mengaguminya hingga kini. Saya mengikuti perkembangannya sejak awal, saat salon kecilnya di jalan Tosari Jakarta Pusat mulai berkiprah. Di sanalah saya bersama-sama Ibu Umar Wirahadikusumah, Ibu Harmoko, Ibu Emmy Subronto Laras, Ibu Awaludin Djamin, Ibu Emil Salim,  bersama-sama cuci rambut, merawat rambut dengan segala krim ataupun hanya sekedar  makan gado-gado sepiring, dengan beberapa sendok, lalu kami makan  lahap dalam satu piring yang sama.  “Tante senior…, salon saya banyak sekali lho yang saya tiru cara tante dulu, you are my senior” ujar saya.  Marta Tilaar menepuk pipi saya berkali-kali dengan gemas. “Si Linda kecil sekarang sudah tua ya, dan saya  lebih tua lagi sudah jadi nenek..hahahhaa!” , kata Marta sambil tertawa berderai.

Wiyogo Atmodarminto, seorang mantan Gubernur DKI yang hingga kini saya hormati, juga saya anggap senior saya. Banyak sekali saya belajar hidup darinya.  Orang itu begitu kesatria, tidak berpikir pangkat jabatan menjadi beban baginya. Ia tenang-tenang saja saat harus menunggu satu jam di ruang tamu Gubernur Surjadi Soedirja, tanpa sakit hati. Wajahnya selalu sumringah, dan apa yang dikerjakannya acapkali dengan ikhlas. Moerdiono almarhum, sebagai Menteri Sekretaris Negara juga saya anggap senior saya dalam belajar dunia politik dan tata negara.

Beberapa minggu lalu saya juga bersama-sama dengan Emil Salim. Bapak tua berusia lanjut ini sungguh memiliki enerji yang melambung ke angkasaa.  Pikirannya masih cemerlang. Nuraninya bersih.  Setelah nyaris 20 tahun menjadi menteri, ia pun masih melangkahkan kakinya diundang ke mana-mana bersama sang istri, yang setia mendampinginya. “Hallo Oom senior !!”, ujar saya memeluknya di tangan kanan, dan tangan kiri saya memeluk istrinya. “Lho kok senior.” tanya pendampingnya. “Lha iya tante…, Oom Emil adalah senior saya dong… dalam pemikirannya, sikapnya yang terukur, sudut pandangnya selama ini. Saya banyak sekali belajar dari Oom…”, jawab saya.

Senior saya yang lain, yang beberapa waktu lalu kami berkumpul dengan penuh cinta dan suasana kasih, adalah Goenawan Mohammad, Fikri Jufri, Lukman Setiawan, Dahlan Iskan, Toeti Kakialatu. Mereka adalah wartawan jadul yang betul-betul cemerlang di mata saya.  Tak kurang-kurang, betapa saya digembleng mereka dengan keras, bahkan boleh dibilang kasar.  Itulah senior dalam bidang saya, dunia jurnalistik.  Tulisan saya  dalam kertas selembar pernah diremas-remas dan langsung dibuang ke tempat sampah di dekat kaki saya, oleh seorang wartawan bawahan Goenawan Mohammad, bernama Yusril Djalinus. “Tulisan apaan nih?! Tulisan sampah!”  Nah… senior saya yang satu itu, kini sudah almarhum.  Apakah saya dendam diperlakukan sekasar itu? Ow… sama sekali tidak!  Saya justru berterimakasih ‘dihajar’ serupa itu.  Usia saya saat itu baru 19 tahun.  Mau marah bagaimana? Blagu amat kalau berani marah? Lha memang saya belum tahu apa-apa kok?  Harus banyak belajar, menerima kekasaran apa pun, karena dunia di luar rumah kita memang kasar, rimba raya, dan menyeramkan.  Apalagi bekerja pada  media di luar dunia kecantikan serupa itu. Berita yang seram, kerja yang kejar-kejaran dengan waktu, dan mulut dusta segala pejabat saat itu yang juga harus dihadapi.

Maka,  siapa sih yang selalu kita anggap senior?  Hanya yang melingkupi bidang kita?  Bidang kewartawanan saya, misalnya? Ooo, sama sekali bukan!  Seorang ustad atau Pak Quraish Shihab pun, tentu saya anggap senior saya. Senior kehidupan. Senior pembelajaran saya. Mereka adalah orang-orang yang dari segi usia jauh di atas saya, dan secara langsung atau tidak langsung, memberikan ajaran kepada saya.  Baik itu pelajaran dari buku, maupun etika kehidupan.  Terima kasih para senior saya….. terima kasih…!  Saran, kritik, teguran apa pun, yang tertuju pada saya, tentu berkaitan dengan kerja dan sepak terjang profesi yang saya lakukan.  Bukan soal muka saya yang jelek, badan saya yang makin melebar, atau baju saya yang belel dan sepatu saya  jarang berhak tinggi dan modelnya sering depannya bermoncong itu…..

In addition to offering workshops, the berkeley wl project seeks to https://nerdymates.com/ support colleagues, nearby and farther homework help afield, through social media.
Bagikan Posting ini di:

One Response to Senior ….

  1. Logan Khalil

    terimakasih, gue baru baca artikel nya…!!