browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Tidak Ada Lagi Rosihan Anwar Berbelanja di Pasar Cikini

Posted by on December 5, 2011
1303283684745865619Rosihan Anwar/Admin (KOMPAS)

 

Pasar Cikini di kawasan Menteng tengah berbenah. Kesannya amburadul.  Tapi jangan ditanya isinya. Buah-buahan terbaik masih berada di sana. Tape singkong yang menggiurkan kuning jreng dan lezat masih berada di pikulan bertumpuk daun pisang. Belum  lagi bakso sedap dan tahu mentah halus yang langsung dari pabriknya.  Ikan asin dari Medan, ikan danau Maninjau  sampai cumi isi telor,  jajanan pasar, kue pancong dan rujak bebeg menyebar dengan serunya. Pasar sejak zaman tahun ‘60 an itu akan menjelma menjadi pasar yang lebih keren dari semula.

Tukang jambu klutuk dan jeruk Bali serta tukang telor asin yang sering melihat Rosihan Anwar mondar-mandir berbelanja, kini serasa kehilangan.  Tak ada lagi bapak jangkung wartawan tiga zaman  itu berbelanja. Suatu ketika saya sedang duduk di warung gudeg Bu Harjo yang super lezat di depan toko kue basah Pasar Cikini.  Kursi panjang yang hanya sepotong di balik gerobak gudegnya tak mengurangi kenikmatan rasa gudegnya.  Lalu seseorang berdiri di muka saya sembari menenteng tas kresek alias kantong plastik. “Orang Sumatra doyan juga ya makan gudeg?” tanyanya. Saya, yang sedang memegang piring berisi gudeg krecek campur telor pindang yang lezat, terpana.  Rosihan Anwar berdiri menenteng tas plastik, usai berbelanja.  “Lha, Oom juga ngapain laki-laki ke pasar? Hahahaa”, kata saya. ( saya memanggilnya ‘Oom’ karena dia kenalan ayah saya dan masa kecil saya bertetangga dengannya).  Ketika ditanya apa yang dibelanjakannya,  dia hanya tersipu-sipu. “Nggak boleh tahu!”, katanya.  Menurut para pedagang di Pasar Cikini,  bapak yang satu ini memang rajin ke lokasi.  Saya ingat, tentu saja karena rumahnya hanya tinggal menyeberang rel kereta api dari pasar ini.  Peristiwa berbelanja ke Pasar Cikini ini acapkali menjadi bulan-bulanan kami apabila bertemu di suatu acara lain.  Seringkali saya tanyakan sambil bergurau, “Kapan ke Pasar Cikini lagi? Yuk kita jajan-jajan di sana”, begitu goda saya selalu.

Di awal Februari baru-baru ini, saya masih berjumpa dengannya di Wisma Elang jalan Diponegoro.  Dewi Rais Abin wartawati senior zaman baheula yang juga  pernah menjadi istri Duta Besar meluncurkan bukunya. Saya diberi kesempatan untuk membahas buku itu dengan singkat pada acara itu.  Peristiwa di Wisma Elang untuk saya sangat berkesan karena tempat ini dulu hanya impian saja rasanya pada masa kanak-kanak saya. Dulu ketika KSAL masih Martadinata,  kami anak-anak di kawasan Menteng selalu menanti-nanti ia naik atau turun dari helikopternya di atap rumah dinas indahnya itu, Wisma Elang. Dari seberang jalan, penghuni lain berkerumun menyaksikan pemandangan yang mencengangkan dan dianggap hebat itu. Peristiwa puluhan tahun lalu saya ceritakan kepada Rosihan Anwar saat acara baru saja usai. “Jadi kamu punya banyak kenangan ya terhadap rumah ini?”, tanyanya.  “Iya, dan hanya dari luarnya saja. Tahu-tahu saya sekarang bisa menginjak tempat ini,” jawab saya.

Pembicaraan agak terhenti karena tiba-tiba ia menunjuk kepada tangannya yang kiri. “Ini pegal sekali. Bisa pijat sebentar Lin?”, tanyanya.  Saya langsung mengiyakan, sembari  ia mengobrol bercerita tentang anaknya, Ella, teman saya yang kini  menjadi dokter mata terkenal itu.  Ia juga bercerita kesendiriannya setelah istrinya, Ida tiada. “Tapi saya tetap menulis dan mengamati macam-macam,” ceritanya lagi.  Rosihan Anwar masih sempat pula mengeluhkan pendalaman berita yang semakin berkurang, anak-anak muda yang menjadi wartawan sekarang malas membaca dan mendalami masalah.  Bekerja  berburu berita di atas nurani tertinggi juga rasanya tidak begitu kental lagi.

Ketika saya menawarkan untuk lehernya yang agak pegal direiki, Rosihan setuju. “Wah, kok bisa terasa panas ya?”,  katanya. Di meja makan itu beberapa menit saya kembali memijat tangannya dan reiki sesuai yang pernah saya pelajari sejak lama.  Para tamu lain ikut mengobrol di meja kami. “Sudah..sudah…, kamu sekarang menyanyi saja di depan. Ada musik,” katanya.  Sambil berdiri, saya kembali bergurau, ” Setelah acara ini,  apa kita perlu ke Pasar Cikini, Oom? Sudah dekat nih dari sini….hahahaaa…!”.  Dan iapun ikut tertawa lebar dan matanya menyipit sedikit di balik kacamatanya yang khas itu. Ah… Pasar Cikini kehilangan salah satu pelanggan setianya sekarang….!!

Bagikan Posting ini di:

2 Responses to Tidak Ada Lagi Rosihan Anwar Berbelanja di Pasar Cikini

  1. Bude Binda

    Mbak Linda…
    Tulisannya selalu bikin saya senang, terharu dan sangat manusiawi. Humanis, saya jadi tahu pribadi Pak Rosihan dari orang yang mengenalnya secara dekat. Sukse untuk blognya Mbak, amin. Salam manis.

    • admin

      Bude Binda, senang sekali saya dikunjungi ! Memperoleh teman-teman yang membuat hati nyaman dan memiliki nilai hidup serta kemistri yang sama (paling tidak, mirip-mirip..hehe…), adalah rizki yang tak ternilai. Kita menulis terus yuuuk…??