browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Tanah Coklat

Posted by on January 8, 2012

 

 

bergumul gulungan tanah coklat

dengan ujung pacul dari tangan penjaga kuburan
menimbun kehidupan yang baru saja usai
sosok tak bernyawa di lubang segi panjang yang sepi

bergumul gulungan tanah coklat

seakan berkata kepada para pelayat
kami siap menunggu kalian
diramu menjadi satu dengan tanah coklat
sampai habis tak bersisa

di depan gundukan tanah coklat
segala mata tertuju dengan hati melayang
tinggal menunggu nomor penerbangan
yang ketentuannya tak bisa dimajumundurkan

di depan bauran pacul terserok-serok
suara tanah coklat kembali berdesir
seakan hatipun ikut berdesir
karena tahu pasti
kami akan berangkat pula ke arah yang sama

di depan tanah coklat

ada tangis duka yang begitu memelas
karena penyesalan selalu datang setelah layar ditutup
namun ada pula dendam yang masih menyala-nyala
karena kata maaf memang sulit tercetus dari hati

di depan tanah coklat

kami terpekur dan merasa seluruh tubuh terasa sakit
karena mungkin kami belum siap….
atau belum berani berbaur menjadi satu
karena masih banyak utang yang belum terselesaikan
kepada Tuhan…..

Bagikan Posting ini di:

3 Responses to Tanah Coklat

  1. Joseph Edwards

    Mungkinkah kita akan salah melangkah atau memang penyesalan selalu titik akhir yang setiap orang pasti akan berfikir berikutnya.

  2. haryatiyetti30

    salam kenal bu linda…..apa kabar?….suka sekali tulisannya..:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>