browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Resensi Buku “Celotehan Linda” Oleh Mariska Lubis

Posted by on October 15, 2012

Pengantar

Sahabat dekat saya, Mariska Lubis telah menuliskan resensi buku saya di Kompas.com tanggal 16 Juli 2012 lalu.  Berikut saya posting ulang disini. Terimakasih ya Mariska! (foto Mariska disamping dijepret oleh Om Jay-Kompasiana)

Tergelitik Celotehan Linda

Serunya diundang acara peluncuran sekaligus bedah buku “Celotehan Linda” karya Linda Djalil pada hari Sabtu tanggal 14 Juli 2012 lalu di daerah Ampera, Jakarta Selatan. Banyak sekali tokoh-tokoh dari berbagai kalangan yang hadir seperti Emil Salim, Quraish Shihab, Fadli Zon, Sabam Siagian, Bachtiar Ali,  Fuad Bawazir, Dewi Motik, GM. Sudartha, Herawati Diah,  Idris Sardi, Bondan “Maknyus” Prakoso, dan terlalu banyak lagi untuk cukup ditulis satu per satu.   Linda Djalil memang seorang wartawan senior yang memiliki prestasi segudang dan sangat supel dalam bergaul. Tulisannya pun banyak yang menyukai karena tajam tetapi sangat mudah untuk dicerna, faktual, dan menggelitik.

Bukan sesuatu yang aneh bila seorang wartawan bisa juga menjadi seorang penulis dengan ciri khasnya sendiri. Menurut saya, kemampuan menulis yang terus diasah dan digali, disertai berbagai pengalaman dan pelatihan, sudah seharusnya membuat wartawan mampu menjadi penulis sekaligus. Meskipun tidak semua wartawan mampu menjadi penulis ataupun sebaliknya, tetapi keduanya sama-sama menggunakan kata untuk mendeskripsikan dan menguraikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dipikirkan. Bedanya, kalau wartawan, kan, tidak boleh menulis yang fiktif atau berdasarkan khayalan diri sendiri semata. Meski ada yang “membayar” sekalipun, tetap saja tanggung jawab moral dan etika harus bisa membatasi.

Keunikan dari tulisan Mbak Linda,  panggilan sayang saya untuk Linda Djalil, adalah justru pada kombinasi keduanya. Dia tetap menjadi seorang wartawan namun gaya penulisannya, berbeda dengan tulisan yang digunakan di media massa. Gaya menulisnya seperti seorang penulis fiksi cerpen atau novel, tetapi isinya faktual dan sebenarnya merupakan reportase. Bahkan, dia mampu membuat puisi yang sangat jurnalistik, seperti yang ada di buku “Kripik Balado”-nya. Mungkin dialah satu-satunya yang saya anggap berhasil menuliskan itu semua, dan itu yang membuat saya menyukai tulisan-tulisannya. Siapa lagi yang bisa buat saat ini?!

Yang kerennya lagi, dia sangat lugas, tegas, dan berani. Jika dia merasa yakin akan kebenaran sesuatu, maka dia tidak segan untuk bertahan dan membeberkan semuanya meski memiliki risiko yang tinggi. Sudah biasalah bagi seorang seperti Mbak Linda ini dimaki dan dicela habis. Kebanyakan orang hanya mau melihat dan mendengar apa yang mau dilihat dan didengarnya, kalau berbeda, pasti dianggap salah padahal belum tahu juga dengan pasti mana yang benar atau salah. Pelaku yang langsung wawancara, terlibat pada peristiwa, berteman baik, dan bersosialisasi dengan orang-orang yang sering muncul di televisi itu, berapa banyak, sih?! Jika pun termasuk, berapa banyak yang tidak berpihak saat ini?!

Contohnya saja tulisannya yang berjudul “Tiga Pernyataan Angelina Sondakh” yang mengundang tanya. Saya pikir, dia hebat sekali mampu menuliskan itu semua mengingat dia adalah kakak dari Adjie Massaid. Membuka aib Angelina Sondakh bisa dianggap sama artinya dengan membuat malu keluarga besar dan resikonya tentu bukan hanya di masyarakat tetapi dia harus berhadapan langsung dengan keluarganya sendiri. Bisa saja orang lain menulis yang sama atau yang lain, tetapi sebagai seorang kakak, dia tahu banyak. Seorang wartawan senior yang acap melakukan investigasi, nalurinya selalu berjalan dan itu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, tetapi belum tentu berani mengungkapkan fakta dan kenyataan yang sebenarnya apalagi bila sudah menyangkut nama keluarga besar sendiri.

Belum lagi tulisannya yang berbentuk satir namun membuat perut menjadi tergelak karena yang menjadi subjek-nya adalah tokoh-tokoh terkenal seperti Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, dan Bob Hasan. Jika diperhatikan, tidak semua orang memiliki nyali besar sekaligus mampu membuat sebuah tulisan “kemarahan” menjadi gelak tawa. bukan berarti tidak serius, ya! Justru tulisan-tulisan Mbak Linda sangat serius karena dibutuhkan “kematangan” di dalam menuliskannya. Biarpun barangkali bagi dia semua ini mudah, tapi alah bisa karena biasa, kan?!

Hal ini tidak kemudian berarti bahwa dia orang yang cuek dan tidak peduli. Justru dia sangat peduli bahkan sangat detail sekali. Sisi-sisi lain yang sering tidak dianggap penting oleh kebanyakan orang, itulah yang banyak diangkatnya. Siapa yang masih ingat dengan drama di TVRI yang berjuul “Losmen” dengan “Bu Broto”-nya?! Di satu sisi, tulisan itu merupakan sebuah satir tentang eksistensi dan janji, tetapi bagi saya, itu juga mengingatkan saya pribadi betapa rindunya kita dengan acara televisi yang berkualitas.

Satu lagi yang menarik dari buku ini adalah, sama seperti ragam tamu yang datang ke acara, tulisan Mbak Linda terdiri dari beragam topik yang berbeda sehingga tidak monoton. Seorang wartawan dan penulis memiliki kecenderungan handal di dalam sebuah bidang atau topik tertentu, sulit untuk menulis bidang dan topik yang lain. Bagi dia, sepertinya semua topik itu mudah saja ditulisnya. Bila bukan karena pengalaman dan kemahirannya, tidak mungkinlah bisa seperti itu.

Buku ini  dan buku sebelumnya, bagi saya adalah buku yang menarik dan sangat penting untuk dipelajari bagi siapa pun yang benar ingin menjadi seorang penulis. Sebagai seorang junior, saya merasa malu sekali bila tidak mampu mencerna setiap kata, kalimat, susunan, dan struktur tulisannya. Terlebih lagi jika saya merasa bahwa saya lebih baik dan hebat darinya, saya benar-benar tidak tahu malu jika demikian adanya. Waktu tidak pernah salah di dalam memberikan kesempatan untuk belajar dan menempuh proses  menjadi yang lebih baik dan terus lebih baik lagi. Saat ini, belum ada wartawan sekaligus penulis yang mampu mengkombinasikan ilmu jurnalistik dan sastra sebaik Mbak Linda.

Celotehan Linda, saya benar-benar tergelitik!!!

Bagikan Posting ini di:

3 Responses to Resensi Buku “Celotehan Linda” Oleh Mariska Lubis

  1. Wijaya kusumah

    Saya merasa rindu dengan tulsan mbak linda. Lama juga tak menyimak blog yg sangat inspiratif ini. Buku celotehan linda begitu sangat menarik, sehingga penulis sekaliber mariska lubis mampu membuat resensinya dengan baik.

    Semoga bisa bertemu mbak linda lagi, dan saya kangen dengan celotehannya. Kapan ya?

    Salam
    Omjay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>