browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Orang Baik Itu Bernama Soedarmanto Kadarisman

Posted by on January 2, 2013

 

 

foto oleh Linda Djalil

 

Saya tahu persis, usia sepenuhnya adalah urusan Tuhan.  Tak mungkin dimajumundurkan oleh hambaNYA.  Tapi toh tetap saja saya tidak siap saat memperoleh berita, bahwa bapak Soedarmanto Kadarisman wafat.  Ada rasa perih menjalar di sekujur tubuh. Yang Kuasa menetapkan usianya sampai tanggal 10 Desember 2012, dinihari pukul 1.30 di RS MMC   Kuningan Jakarta. Ia pergi meninggalkan empat anak yang sangat mencintainya,  para menantu,  cucu, para sahabat dan kerabat yang selalu hormat dan kasih kepadanya.

Siapa Soedarmanto Kadarisman?  Sebagian masyarakat Indonesia,  khususnya kalangan Departemen Luar Negeri dan masyarakat Indonesia di luar negeri ( terutama di Argentina dan Belanda ), tentu tahu orang ini. Juga lingkungan Istana zaman Soeharto menjadi Presiden RI, jajaran  wartawan yang sehari-hari meliput di  Deplu Pejambon maupun di Istana Negara/ Merdeka.

Perawakannya tak terlalu tinggi. Raut wajah Jawa terasa, untuk lelaki kelahiran  Ambarawa, 8 Mei 1930 itu.  Nama lengkapnya yang diukir oleh kedua orang tuanya (RM Emmanuel Kadarisman Poesposoedibyo dan RA Alphonsa Srijati), adalah Johannes Berchmans Soedarmanto Kadarisman.  Kerabat dekat acapkali memanggilnya ‘Manto’.  Rekan kerja banyak yang menyebutnya  Kadarisman.

 

Pada usianya yang  82 tahun itu, tentu sudah segala ‘kekayaan’ yang diraihnya. Kaya pengalaman, kaya ilmu, kaya batin, bahkan kaya derita yang dilaluinya dengan gigih, gagah, dan pasrah. Betapa tidak. Kadarisman meniti karirnya lewat Akademi Dinas Luar Negeri angkatan  51.  Ia lulus dari Fakultas Sosial Politik Jurusan Hubungan Internasional UNTAG (Universitas Tujuhbelas Agustus). Malang melintang sebagai diplomat membuatnya menjadi matang, bekerja secara serius dengan segala ketelitiannya.  Penempatan pertama  sebagai sekretaris tiga adalah Pakistan. Dan pada tahun 1962-1965 ia ditempatkan di negara besar ternama, Uni Soviet . Bidangnya adalah politik di tempat itu, sekaligus  sebagai pejabat sementara  yang menangani urusan mahasiswa Indonesia di tempat itu.  Keakrabannya kepada para mahasiswa perantauan itu sudah dikenal. Ramah, dan selalu berada di dekat mereka.  Pada kurun waktu itu hubungan Indonesia dengan Uni Soviet begitu baik,  sehingga banyak pelajar yang menuntut ilmu di sana.

Kadarisman sempat pula menjadi Kepala Seksi Luar Negeri Biro Kepegawaian Departemen Luar Negeri  setelah usai menjalankan tugasnya di Uni Soviet. Namun perjalanan tak selalu mulus. Batu kerikil bahkan batu besar muncul di hadapannya. Karir  diplomat lelaki Semarang ini nyaris terhenti selamanya. Kesalahpahaman dan informasi yang tidak akurat bisa berakibat fatal bagi titian karir siapapun. Dan itu dialami oleh Kadarisman. Ia dinonaktifkan bersama seratusan koleganya yang lain. Tanpa alasan yang jelas bahkan tanpa proses hukum, selama 11 tahun ia bagai tak diizinkan menapak leluasa di departemennya yang sudah ia rintis dari awal.

Siapa yang tak kalut mengarungi hidup tanpa penghasilan yang layak. Jabatan tak punya, karir melayang entah ke mana. Statusnya sebagai pegawai  Deplu saat itu bagai semu tak bersinar. Kadarisman tidak dikeluarkan, tetapi juga tidak diberi pekerjaan.  Tabah ternyata tak sekedar modalnya. Ia berikhtiar menambah kocek yang semakin menipis, dengan tanpa malu-malu menjadi sopir taksi sewaan.  Kadarisman sang diplomat karir itu dengan ikhlas menunggu penumpang di stasiun Gambir,  yang tak jauh dari kantor utamanya.  Lalu, apa yang Roeri sang istri lakukan? Perempuan super tabah bernama lengkap Maria Joan d’Arc Haroeri Srie Soewarni itu dengan segera mencari akal. Ia berdagang peralatan rumah tangga kecil-kecilan.  Sampai akhirnya mencari peluang untuk menjadi perantara sewa menyewa rumah untuk orang asing.  Yang penting bagi mereka, anak-anak tidak boleh terlantar pendidikannya.

Kadarisman dan Roeri adalah pasangan suka duka yang mencengangkan banyak orang. Bayangkan, selama ‘dihukum’ oleh instansinya, mereka begitu kompak untuk tetap bersikap bagai tak ada  hal buruk yang telah terjadi. Pemukiman Deplu di Wisma Iskandarsyah tetap menjadi rumah tinggal mereka. Mereka tetap menghadiri resepsi apapun apabila diundang. Komunitas Deplu tetap dihampiri. Kadarisman ringan-ringan saja, karena ia tak pernah merasa sudah berbuat curang untuk negaranya, khususnya instansinya. Pesta dansa pun dihadirinya dengan gembira bersama Roeri. Keduanya memiliki kekuatan kembar yang telah terpatri tanpa ada rasa marah, putus asa, maupun rendah diri.

Saat tangan  Tuhan bergerak meninggikan derajat hambaNYA, di situlah nasib seseorang menjadi berubah. Kadarisman mulai benderang kembali. Karirnya, semangat menyala-nyalanya, dan keadaan ekonomi rumah tangganya.  Rendah hati, tetap dianutnya oleh sang diplomat ini dengan genggaman Roeri yang tak pernah lepas dan anak-anak yang sangat paham akan keprihatinan kedua orang tuanya masa lalu.

Sang sopir taksi yang menunggu di stasiun Gambir itupun mana pernah menyangka suatu saat hinggap pada dirinya penghargaan yang belum pernah didapat oleh para diplomat karir di luar menteri : Bintang Mahaputera Utama, tahun 1993.  Kadarisman sempat berkata  di depan  jajaran Deplu maupun para wartawan, bahwa penghargaan ini  semata-mata bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk semua korps Deplu yang sudah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk Indonesia.  Betapa ia tetap bersahaja dan tidak menjadi besar kepala.  Menurut Kadarisman saat itu, ayahandanyalah yang selalu mengingatkannya untuk menapak bumi, tidak menjadi angkuh dalam situasi hebat apapun.

Pada tahun 1987, ia dilantik untuk menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Argentina merangkap Chile dan Paraguay selama setahun.  Tanggungjawabnya semakin besar saat ia menjadi Dirjenprotkons (Direktur Jendral Protokol dan Konsuler)/ Kepala Protokol Negara dari tahun 1988 sampai 1993. Urusannya menjadi lebih banyak, mondar-mandirnya antara kantor Deplu Pejambon dan kantornya di Istana dilalui dengan gesit dan tertib.  Saat itu, Presiden Soeharto sering melanglangbuana ke berbagai mancanegara. Kadarismanlah yang utama mengatur jadwal, sampai melacak seluruh keadaan tempat yang akan dikunjungi, berkoordinasi dengan jajaran kepresidenan lain,  seperti Sesmil ( Sekretaris Militer), Danpaspampres (Komandan Pasukan Pengamanan Presiden), sampai pengaturan dokter kepresidenan.  Semua tercatat dalam arsip di atas meja kerjanya yang necis.  Ia pulalah yang berdiri  paling depan dalam penyambutan tamu-tamu negara, presiden dari negara manapun yang bertamu ke Istana. Urusan penginapan tamu, serta jadwal acara, semua tersusun rapi, cekatan, dan persis.  Menteri Sekretaris Negara Moerdiono saat itu pernah berkata, “Ada pak Kadarisman, rasanya kerja saya dan yang lain-lain aman. Semua dimudahkan olehnya,”.  Pak Harto juga acapkali ramah, respek kepada Kadarisman. Usulan-usulan didengar, dicermati, dan diikuti. Kadarisman juga memberikan solusi bila ada  jadwal acara atau substansi kunjungan yang kurang pas.

Bintang cemerlang tak hanya sampai di situ. Tahun 1994 ia dilantik di Istana oleh  Presiden Soeharto untuk menjadi duta besar di  Belanda. Bersama Roeri kembali Kadarisman bergandengan tangan. Anak-anak sudah usai sekolah dengan gelar masing-masing. Keringatnya bagai tak sia-sia.  Masyarakat Indonesia di Belanda tak mungkin lupa akan keramahan suami istri ini. Mereka bagai memiliki bapak ibu ‘sementara’  yang sangat akrab  dari Indonesia.  Para staf kedutaan juga tak begitu saja bisa melupakan kelembutan suara dan sikap pak Dubes mereka. Sekembalinya  bertugas dari Belanda,  ia sempat menjadi  Anggota Dewan Pertimbangan Pusat Legiun Veteran RI  dari tahun 2007 sampai 2012.

Menghadapi masa pensiun, persoalan  baru berada di hadapannya pula. Roeri terkasih sakit serius cukup lama. Ia tak pernah lepas mendampingi sang istri. Pengobatan yang paling jitu semua diupayakan untuk  Ibunda empat anak yang sungguh berbakti itu.  Namun Tuhan berkata lain. Panglima  rumah tangga saat Kadarisman menganggur dulu, dijemput Yang Kuasa untuk hidup dalam dunia yang lain.Roeri pergi setelah mereka sempat menikmati pesta meriah ulang tahun pernikahan ke 50, yang dirayakan oleh semua anak cucu menantunya dengan mengundang ratusan tamu. Sang Ambasador sungguh sangat terpukul sejadi-jadinya. Roeri adalah mataharinya.  Enerji yang tersembur dari sang istri selalu menyertai semangat langkah kakinya meniti karir.  Separo jiwa Kadarisman bagaikan hilang terbawa Roeri pergi.

Kadarisman sendiri.  Upaya anak-anak menyenangkan hatinya, meramaikan batinnya, sungguh menjadi harta tak ternilai baginya. Namun tetap saja hatinya sepi. Rumah besar Kemang Utara itu memiliki banyak kenangan. Kadarisman tak pernah mau mengubah tata letak dekorasi apapun yang sudah disusun oleh Roeri di rumah itu. Koleksi patung ayam bertubuh biru,  kamar mandi  dengan segala pernak pernik Delft blue – serba biru, maupun bunga mawar kaca berwarna, semua adalah buah tangan mereka dari berbagai mancanegara, hasil pilihan Roeri.

Anak-anak senantiasa berupaya meramaikan suasana. Dua tahun yang sepi tanpa Roeri membuat anak-anak juga khawatir dengan kondisi sang ayah. Maka saat  anak pertamanya yang  juga seorang diplomat karir mendapat penempatan di Oslo- Norwegia,  Sebastianus Sayoga Chandra Angkasa ( Angky Kadarisman ), tak lama adik-adik Angky  ‘memboyong’ Kadarisman ke tempat itu. Tinggal bersama ramai-ramai di rumah Angky selama dua bulan, lalu sempat pula mereka berziarah ke Lourdes. Paris dikunjungi, naik cruise menuju Kiel Jerman, dan tak lupa mereka mampir ke ‘rumah cinta kami’  di Wassenaar, Belanda.  Kadarisman sangat berbahagia, meski terselip  betapa kenangan indah keliling dunia sebelumnya hampir selalu didampingi Roeri.

Sepanjang hari di rumah Angky  di Oslo mereka umpel-umpelan di satu kamar yang sama dengan sang ayah. Cucu-cucu minta didongengkan, dan tak lupa doa bersama sebelum tidur malam.  Sesekali, di pagi  hari Kadarisman mengantar jemput sekolah para cucu  itu dengan penuh semangat. Sang cucu  Bayu,sungguh sangat menikmati pengalaman pertamanya mengenal dan dekat-dekat selalu dengan  eyangnya.  Pelukan hangat tak pernah lepas antar keduanya.

Sepulangnya dari luar negeri, Kadarisman masih belum puas berkeliling. Sekeluarga besar mereka berlibur ke muasal ‘tanah kelahirannya’ di Semarang Jawa Tengah, ke Jogja menghampiri sanak keluarga  kakak beradik dan keponakan keluarga besar Kadarsiman, dan tak lupa pula pergi ke makam keluarga di Bergas Lor – Ungaran, yang terletak antara Semarang dan Jogja.

Kadarisman sangat antusias betul untuk membenahi rumah Kemang Utara menjelang tanggal 26 Desember. Ia ingin anak-anak memperingati dua tahun kepergian Roeri.  Teras depan rumah dirapihkan, jalan setapak harus bagus kembali. Kolam renangpun ditata kembali.

Sehari-hari rutinitasnya adalah membaca koran Kompas di teras belakang. Sarapan sendiri, mulai dipelajarinya pelan-pelan. Ia tetap datang ke berbagai seminar, undangan pernikahan, maupun bedah buku. Besannya, Nugroho mantan Sekjen Depdagri adalah salah satu penawar sepinya. Mereka bagai kakak beradik yang selalu kompak. Berbicara soal anak-anak, cucu-cucu sampai  isi koran yang penuh berita politik dan ekonomi.  Semua dibahas dengan riang. Cerita pergi jalan-jalan dengan anak cucu menantu ke luar negeri maupun Jawa Tengah, tak luput juga dari obrolan mereka.

Lalu Kadarisman sakit. Kondisinya menurun setelah diketahui ada  gangguan empedu pada dirinya. Tak berlama-lama, empedu sudah dibereskan, sesak nafas melanda. Lalu ia pergi dengan tenang. Selamanya. Ia membawa cintanya yang besar kepada semua anak cucu menantu dan sanak saudara dan kerabatnya. Ia pergi menghampiri cintanya yang sungguh besar kepada Roeri yang sepanjang hari dirinduinya. Ia siap dipeluk Tuhan dengan segala kasih.

Air mata pun merebak deras dari mana-mana. Tak ada yang tak berkata ; “Ia orang baik”.  Para anak buahnya di Deplu yang habis-habisan ditatar menjadi orang sukses, koleganya yang sungguh mengaguminya.  Namanya tiada cacat. Kenangan bertumpuk yang sungguh manis dan bermakna, tersimpan pada  banyak orang.  Ketiga putri dan satu putranya terpekur pedih sangat kehilangan. Tak ada lagi sang ayah di rumah Kemang Utara. Orang baik itu telah pergi…….

 

** Catatan nama-nama anak/ menantu/  :

Sebastianus Sayoga Chandra Angkasa  / Niken Padmorini

Jacinta Dwiyoga Chandra Kirana

Lucia Triyoga Chandra Kartika

Elizabeth Chatur Diahyoga Chandra Purnama / Aryamir Husein Sulasmoro.

 

serta cucu-cucu :

Michael Abimanyu Wicaksono

Bianca Pinastika Putri

Alhons Bayu Wicaksono

Maria Joan d’Arc Kaira Ashannala

Jacinta Andrea Ashakirana

Nathaniel Pasha Aryaputra.

 

 

Dan inilah kata cucu-cucu tentang eyangnya yang sangat mereka kasihi ;

Abimanyu (17 tahun) :  Eyang Kakung was a person I admired. Spending the last year with him was a blessing for me. During my exam days he always supported me. Through his prayers and support, I got accepted to ‘my dream University‘ UI . He was and he will always be the best grandpa in the whole world. I love you Eyang Kakung, may you rest in peace.. and say, “Hi’ to Eyang Putri for me ! enjoy your eternal life with Eyang Putri – till we meet again someday…”

 

Putri ( 14 tahun ) : Eyang Kakung bukan cuma eyang bagi kita tapi juga seperti teman, sahabat,pokoknya semuanya deh ! Kita nggak malu cerita ke eyang kakung karena eyang kakung bikin kita nyaman setiap kali kita di dekatnya. Eyang Kakung pengertian banget dan selalu mau dengar cerita kita, enggak pernah nge-judge. Pokoknya Eyang Kakung semuanya deh…!”

 

Denny ( 17 tahun ) :  Eyang Kakung adalah sosok eyang yang terbaik yang pernah aku dapat. Eyang  mencintai cucunya secara tulus.  Eyang Kakung sebagai pembimbing yang bijaksana, dan setiap kata-kata yang Eyang ucapkan sangat berarti bagi kami untuk melanjutkan di setiap perjalanan kami”

Denya (15 tahun)  :  Eyang Kakung berusaha menyemangati aku untuk selalu berusaha dalam sekolah, ujian, tidak gampang menyerah dan selalu mau mendengarkan cerita cucu-cucunya. Eyang selalu mementingkan kebersamaan, mau liburan ke Puncak, atau hanya jalan-jalan di hari libur..”

Kaira ( 10 tahun) :  Eyang Kakung adalah eyang yang paling terbaik. Selalu berusaha menghadiri pentas-pentas yang aku laksanakan. Eyang selalu mendukungku supaya aku dapat melaksanakan pentas dengan lancar dan sukses. Eyang selalu mendoakanku. Aku sangat bahagia karena mempunyai Eyang Kakung yang selalu mendukungku”.

 

Andrea ( 6 tahun)  :  Eyang selalu menjaga kita. Eyang selalu nonton acara-acara pertunjukkan kita…”

 

*********************************************************************

 

FOTO-FOTO YANG DITAMPILKAN ADALAH FOTO-FOTO DOKUMENTASI PRIBADI KELUARGA / FOTO ISTIMEWA/ DAN FOTO YANG PERNAH JUGA SAYA ABADIKAN SAAT PAK KADARISMAN BERTUGAS DI ISTANA….

 

SEMOGA ORANG BAIK INI MEMPEROLEH CINTANYA KEMBALI DI ALAM SANA…. BERTEMU SANG ISTRI TERCINTA, DAN DIPELUK TUHAN YANG MAHA PENGASIH BAGI KEDUANYA…..

 

TINGGAL KINI SEMUA ANAK CUCU MENANTU DAN SANAK KELUARGANYA MENGENANG SEGALA KEBAIKAN ALMARHUM,  MENJAGA NAMA BAIKNYA…, MENGIKUTI SEGALA AJARAN-AJARANNYA DAN ILMU YANG SELALU IA BAGI KEPADA SESAMA.

 

(DI TULISAN YANG SELANJUTNYA  MENDATANG ADALAH BERBAGAI CERITA DARI PARA KOLEGA, REKAN KERJA, TENTANG SOEDARMANTO KADARISMAN.)

 

dua sejoli yang tak terpisahkan

 

 

Ulang Tahun Pernikahan ke 50 bersama anak-anak

Lukisan karya Basuki Abdullah

Bersama Angky putra pertama — foto dokumentasi keluarga

 

 

 Buku  “Apa Kata Mereka” tentang Kadarisman -Roeri saat Ulang Tahun Pernikahan ke 50 yang dibuat oleh Linda Djalil

 

foto dokumentasi keluarga

 

 

foto dokumentasi keluarga

 

 

 

foto : dokumentasi keluarga

 

 

Saya bersama pak Kadarisman, pak Nugroho, Angky Kadarisman  dan keluarga

 

 

                   Saya bersama pak Kadarisman dan besannya, pak Nugroho.

 

Selamat jalan si lembut tutur kata, pak Kadarisman .. (foto oleh Linda Djalil)

 

 

Saya dan anak-anak Pak Kadarisman mencoba tersenyum dalam hari-hari duka kepergian almarhum…..

 

 

 

Selamat jalan pahlawan bangsa… pahlawan keluarga….

Bagikan Posting ini di:

23 Responses to Orang Baik Itu Bernama Soedarmanto Kadarisman

  1. Jesenia

    Rasa pening tgk kekacauan dunia kat fb ngan blog2 sekarang…
    mujur jumpa blog nie.. dapat berehat seketika
    ngan artikel yg ringan… terima kasih…

  2. Mattheus Suitela

    Saya pun teringat akan kedua orangtua beserta keluarga yang ramah terhadap semua orang. Mereka telah dalam lindungan TUHAN. Kiranya keluarga yang ditinggalkan senantiasa berada dalam berkat dan lindungan TUHAN.
    St Gallen, 14 Juli, 2013

  3. climaray

    Untuk Keluarga Pak kadarisman yang mampir di sini :) , saya ingin menyampaikan bahwa Anda memiliki Ayah , eyang kakung yang berjiwa besar . Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Pak kadarisman pernah mangkal di gambir , sebuah nilai kerendahan hati …………….

  4. Ans Gregory da Iry

    Ceritera yang mengesankan yang ditulis Bu Lindah tentang Bapak Kadarisman. Ketika bekerja sebagai wartawan Suara Karya dan ditugaskan meliput di Deplu dan Istana/Sekneg antara tahun 1977-1982, saya mengenal Pak Kadarisman. Seorang pejabat Sekneg dan Protokol Istana yang selalu tampil dalam acara-acara kepresidenan. Ramah kepada wartawan-wartawan Istana, tetapi tidak pernah menjadi sumber berita bagi wartawan dan wartawan pun tidak berupaya untuk mendapatkan bocoran berita daripadanya. Karena, masing-masing tahu tugasnya.

    Selamat jalan Pak Kadarisman. Terima kasih bu Linda untuk tulisan ini.
    Ans Gregory da Iry – Bogor.

  5. wahyu widayat

    Thanks Mbak.
    Saya belum kenal Mbak Linda maupun Pak Kadarisman.
    Tetapi tulisan Mbak Linda mampu mendekatkan saya pada beliau. Seperti sinar x-ray yang berpendar dan serasa mengakrabkan. Proficiat Mbak Linda…

  6. Henrica W.

    Dear Linda,
    terima kasih banyak tulisannya ttg Pak Kadarisman… Saya baru pulang gereja, cek2 email dan FB saya, wow saya lihat tulisan ini, saya baca sampai surat2 anak2 cucu2…
    Lindaaaa, terima kasih ya… luar biasa sosok Pak Kadarisman, dan cara Linda menyajikan sangat clear dan jujur, menyentuh… saya jadi merasa mengenal sosok Alm lengkap dgn riak2 kehidupannya… Saya menangis terharu, luar biasa ya kehidupan mereka…sosok rendah hati yg mungkin akan jarang / sulit kita temui dalam hingar bingar hidup pejabat publik / orang besar terutama dekade dewasa ini.

    Kepada kelg besar Bapak Kadarisman & Ibu Roeri, terima kasih ya memiliki orang tua yg luar biasa dan menjadi panutan hidup aka2 menantu cucu dan banyak orang. JMLU…. Salam-koyao-amolongo-Lauk-Waawaaa

  7. Jullie

    Terharu Mba bacanya,sampe mau makan saya ndak jadi….saya mengenal beliau tdk terlalu lama tapi sosoknya sungguh luar biasa,setiap kali saya bertemu beliau pelukan dan senyuman hangat selalu saya terima dari beliaus,sungguh saya merasa kehilangan sekali,beliau sudah saya anggap seperti Papa saya sendiri…saya berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mengenal Orang yang sungguh luar biasa baik,rendah hati dan bersahaja.

    • Linda Djalil

      Jullie ; terima kasih sudah mampir di blog saya. saya menulis tentang almarhum sedemikian dengan hati, karena memang begitulah apa adanya beliau – baik, lembut, pekerja keras, dan panutan bagi banyak orang.

  8. sri maryanti

    Hi mba Linda apa kabar?maaf ya so akrab nih,mba nama aku sri,aku baru saja jumat pagi dapat bacaan artikel ini,sontak aku meneteskan air mata mba..aku dapat artikel ini dari sahabat aku mba Jashinta..aku biasa panggil mba intha..aku mau share sedikit tentang sosok almarhumah bapak mba intha..beliau sangat baik sekali dan ramah..maaf ya mba aku jadi sedih lagi kalau ingat..keluarga khadarisman baiknya luar biasa mba..aku waktu itu sempat di beri kepercayaan untuk jadi penerima tamu perkawinan emas beliau dan moement itu tidak pernah aku lupakan..semua keluarga besarnya baik-baik dan ramah..sampai kadang aku seperti mimpi karena di kasih kepercayaan itu.dan bangga pula mba karena acara seorang diplomat petinggi negara yang baik dan ramah sekali..ada satu cerita satu lagi yang sekarang kadang membuat aku nangis kalau mengingatny pada waktu itu sepulang dari kantor aku di ajak mba intha keacara selamatan kematian saudaranya kalau ga salah di daerah panglima polim.aku pikir mba intha sendiri tetapi ternyata ada om dan mas angky..aku senang sekali waktu itu bisa ngobrol dan bareng bersama-sama om.beliau baik sekali seperti figur ayah aku..dan moment itu tidak pernah aku lupakan.selamat Jalan buat om Khadarisman semoga selalu damai dan tenang di surga!amien

    • Linda Djalil

      Terima kasih sudah membaca tulisan ini mbak Sri Maryanti. Kebaikan almarhum sungguh menjadi pelajaran berharga untuk kita. Dan kita yakini semua anaknya akan selalu menjaga nama baik ayahandanya. Mereka anak-anak baik, yang sudah asam garam dididik oleh kedua orang tuanya dalam berbagai hal. Kita doakan mereka agar tabah selalu, dan yang pergi juga sudah berbahagia di alam yang baru.
      Salam dari saya,

  9. Eddy Herwanto

    Cerita mengharukan. Linda rupanya kenal baik keluarga Pak Kadarisman. Terus menulis ya, Lin.

    • Linda Djalil

      @Eddy Herwanto : Terima kasih ya. Kenal saat bertugas, lama-lama menjadi kenal lebih akrab dengan seluruh keluarganya, apalagi setelah saya tidak jadi wartawan dan beliau juga sudah pensiun. Salam selalu,

  10. Judho Wibowo

    Hi mbak Linda,

    Saya keponakan dari om Manto. Akhirnya saya bisa membuka link ini di kantor pada saat lembur setelah seharian sibuk…dan merinding membacanya mbak, sepertinya om menemani saya lembur di sini..
    Semoga prinsip untuk selalu rendah hati dalam dalam situasi hebat apapun dapat menurun tidak hanya ke saya tapi ke semua orang.
    Terima kasih mbak Linda atas tulisannya mengenai Beliau…Semoga cerita mengenai Beliau selalu mewangi dan hidup di hati semua orang.

    Terima kasih sekali lagi mbak Linda,

    Judho

    • Linda Djalil

      Terima kasih sudah mampir di sini ya. Kita memang kehilangan beliau amat sangat….. , juga tante Roeri sebelumnya. Tapi mereka tentu sudah dalam pelukan Sang Kekasih yang abadi. Tinggal kita yang masih harus meneruskan segala kebaikan budinya. Salam untuk mas Judho dari saya.

  11. Yvonne Tirtoprojo

    Saya mengenal pak Kadarisman 2th yang lalu melalui Rm Rochadi yang cukup dekat dengan beliau. 2 tahun perkenalan ini terasa seperti sudah bertahun-tahun mengenal beliau yang begitu ramah dan rendah hati dan sangat perhatian kepada saya yang sudah tak memiliki orangtua. Akhirnya saya pun dekat dengan anak-anak beliau juga.

    Pada Sabtu malam, kami berjumpa di MMC karena beliau ingin didoakan oleh Rm Rochadi sebelum operasi dilakukan pada Minggu, 9 Desember 2012 jam 08:00 pagi. Malam itu kami misa singkat & komuni dilakukan dengan pak Kadarisman bersama putri-putrinya dan kami mengobrol hingga kerap kali saya mengingatkan beliau kalau sayapun anak beliau juga sekarang sehingga jangan sampai ketika beliau sakit saya tidak diberitahu dan beliau menjawab, “iya ya, kamu anakku juga”. Pada malam itu juga beliau meminta Rm Rochadi untuk memimpin misa untuk Ibu Roeri sebagai peringatan ultah pernikahan dengan beliau yang sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 26 Desember 2012 seperti biasa. Puji Tuhan saat itu Rm Rochadi langsung mengiyakan.

    Operasi berjalan baik tetapi Senin, 10 Desember 2012 saya menerima kabar dari putrinya Lucia & Intha kalau beliau kritis mendadak dan akhirnya beliau kembali ke rumah Bapa dengan tenang. Saya terkulai sedih karena tidak menyangka kepergian beliau secepat itu. Ketika saya kabarkan kepada Rm Rochadi, beliau pun terkaget dan sedih. Kami semua sangat sedih sekaligus bahagia karena beliau sudah bersatu dengan Bapanya di surga dan bersatu dengan jantung hatinya, ibu Roeri.

    Hinggal 26 Desember 2012, Misa Ulang Tahun Pernikahan beliau tetap dilaksanakan sesuai dengan permintaan beliau sendiri bersama dengan Rm Rochadi dan hari itu menjadi Ultah Pernikahan terindah beliau saya rasa, karena mereka merayakan di surga yang indah bersama Bapa sang Pencipta.

    Semoga keluarga dapat turut merasakan kebahagian Bapak & Ibu Kadarisman dan meneruskan karya mereka agar tetap hidup dan diwariskan kepada penerusnya dan selalu kuat dan tabah.

    Pak Kadarisman seorang sosok yang sangat ramah, baik hati dan perhatian yang tidak mungkin dapat dilupakan hingga dua tahun mengenal beliau sudah seperti mengenal beliau puluhan tahun.

    God Bless You, papa Kadarisman…

    • Linda Djalil

      @Yvonne Tirtoprojo : Kita adalah orang-orang yang telah merasakan kelembutan hatinya, kebaikannya, serta bijak dalam banyak hal. Mari kita sama-sama mendoakan almarhum bersama pasangan tercintanya….

  12. Aryamir

    Terima kasih atas persahabatan ini mba…
    Terima kasih atas nasihat mba Linda…
    Dan terima kasih sekali lagi atas tulisan diatas mengenai Ayah & Ibunda tercinta kami…suatu penghargaan untuk seluruh keluarga kami…

    Adikmu
    Amir

  13. Aryamir

    Dear Mba Linda yan baik,

    Baru membaca setengah dari tulisan ini membuat saya harus berhenti untuk menghapuskan air mata dan berhenti sejenak untuk mengenang Papa. Setelah tenang saya meneruskan kembali membaca setengah bagian berikutnya… Sangat Indah…
    Saya sedang di kantor dan harus menahan tangis…betapa sulitnya…
    Terima kasih banyak mba…

    Hormat saya
    Aryamir

    • Linda Djalil

      Dear Amir adikku,

      Hanya inilah rasanya yang bisa saya lakukan, untuk membalas budi baik pak Kadarisman selama ini. Beliau begitu amat membantu mempermudah pekerjaan saya saat dulu saya masih bertugas di Istana. Memberikan informasi untuk penulisan saya, juga dalam berbagai acara ketika ada rombongan tamu negara (berbagai presiden) datang ke Indonesia. Juga tante Roeri turut mempermulus pengejaran berita saya apabila saya harus mengikuti rombongan first lady dari negeri lain yang bertamu.

      Kalau boleh saya jujur, menulis cerita inipun berkali-kali saya mengusap air mata. Sempat menulis terhenti karena saya ‘tidak kuat’. Pak Kadarisman begitu baik – bahkan setelah masa pensiunnya beliau masih mau menyempatkan diri datang dua kali pada acara peluncuran dua buku karya saya. Dua tahun lalu di TIM, tahun lalu di Kemang. Benar-benar merupakan kehormatan bagi saya. Beliau jugalah yang pertama kali menyampaikan SMS malam-malam tentang wafatnya pak Wiyogo beberapa bulan lalu. Sebegitu menghargakan orang sekali pak Kadarisman !

      Amir, saya juga amat kagum melihat hubungan persaudaraan kalian yang sungguh rekat selama ini sampai sekarang. Tentu semua adalah hasil didikan pak Kadarisman dan ‘bidadarinya’ sepanjang waktu. Mereka sudah berbahagia di alam yang indah. Cinta mereka menebar ke mana-mana. Contohlah kesetiaan pasangan ini. Serta ulet hidup mereka, dan ibadah yang tiada putus yang selalu mereka lakukan.

      Salam cinta saya untukmu, untuk adik-adik semua di Kemang Utara, dan keluarga di Oslo. Saling doa selalu ya, Mir… !!

  14. Angky Kadarisman

    terima kasih mba linda

    • Linda Djalil

      Terima kasih kembali, adikku Angky. Kita saling doa untuk ketabahan dan kekuatan hidup kita selanjutnya…., serta untuk kebahagiaan papa mama Kadarisman yang kini sudah berdua kembali…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>