browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Pianis Sepanjang Masa Itu Bernama Latifah

Posted by on January 11, 2013

 

foto oleh Linda Djalil

 

Latifah Kodijat  yang  mencintai profesinya sebagai pianis

 

foto oleh Linda Djalil

 

 

Auditorium Yamaha Music Center  Jakarta lantai lima Minggu malam tanggal 6 Januari  itu terasa hening. Ratusan penonton  dilanda takjub melihat dua anak manusia berlaga di panggung. Jemari bagai mengejar nafas, meraih riang dan dinamika hidup.  Ananda Sukarlan pianis Indonesia kelas dunia ( 44 tahun ),  bermain berdampingan dengan pianis Latifah Kodijat  Marzoeki ( 84 tahun). Inilah sisi lain kebanggaan negeri ini.  Kecintaan pada seni musik, ketekunan, kerja keras, berkarya dengan penuh nurani, bagai tumpah pada pertalian  nada Slavonic Dance no 10.

Seperti yang dikatakan oleh Ananda sebelumnya,  Latifah Kodijat adalah pianis Indonesia handal yang sungguh dihormati musisi klasik Indonesia.  Kesetiaannya pada dunia piano sungguh berarti bagi Indonesia. Muridnya sudah tak terhitung lagi tersebar di mana-mana.  Salah satunya adalah Meutia Hatta, anak pertama tokoh proklamasi Indonesia Mohamad Hatta, yang sempat menduduki posisi menteri.  Halida Hatta, adik Meutia, juga masuk dalam riwayat yang pernah  berguru kepadanya. Tak ayal, toko-toko buku tak pernah absen memiliki berbagai buku karya Latifah tentang pelajaran bermusik, khususnya piano. Buku “Tangga Nada dan Trinada” misalnya, hampir seluruh murid dari kelas dasar tak ada yang tidak menggunakannya. Ketrampilan  teknis berpiano ada pada buku itu.  Juga “Penuntun  Mengajar Piano”  sangat berguna bagi para guru, dan “Kamus Istilah-Istilah Musik”  yang sampai kini bermanfaat bagi para musisi. Para  pianis pemula juga bahkan tak asing lagi dengan buku “Piano Kawanku”  yang diciptakannya pada masa lalu.

Di ruang konser pertunjukan Jakarta New Year’s Concert 2013 pekan silam, Latifah terbungkuk-bungkuk, memakai satu tongkat, bersahaja, tersenyum bahagia di samping piano. Luar biasa nenek  dari seorang putra dan tiga putri yang jelita ini,  bagai usia tak menjadi beban baginya. Kecepatan jari, teknik yang tinggi, jiwa yang dalam pada lagu yang muncul dari sentuhan jemarinya, tetap melekat pada kehebatan pianis handal ini. Beberapa penonton mengusap air mata. Haru pasti !  Ia berjuang pada penghalusan budi yang tertebar pada tubuhnya secara indah. Ilham Habibie, Pia Alisjahbana, Dedi Panigoro adalah salah satu penikmat pertunjukan  Latifah pada malam itu.

Masa mudanya memang penuh gelora. Si cantik ini lahir di Indragiri 12 November 1928.  Hatinya melekat pada piano sejak ia menapak remaja, dan Hennie Geist berkebangsaan Belanda di Sukabumi membimbingnya dalam awal sentuhan pertama pianonya. Latifah juga belajar dari Tine Drop yang juga guru piano. Ia adalah salah satu pendiri sekolah musik YPM (Yayasan Pendidikan Musik)  – institusi yang masih eksis sampai kini, selama 60 tahun menghimpun, menciptakan  guru dan murid ratusan ribu orang.

Keinginan berpiano Latifah tak dapat dibendung berlama-lama di Indonesia. Maka ia khusus ke Belanda, memperdalam musik pada pamannya, Jaap Spaanderman.  Guru ini sempat menjadi konduktor  A.O.V (Orkes Symphonie Arnhem ) yang juga seorang guru besar piano di negara itu.  Selama tiga  tahun belajar, tahun 1952 Latifah meraih “Grande Distinction”  setelah lulus ujian ”Degree Superieur” dari College Musical Belge di Antwerpen. Ia selalu berupaya menempa musik dengan hati. Memandang danau menghirup alam berbagai musim di negeri itu, meraih keindahan, semua menjadi bekalnya untuk penghayatan suara piano yang disentuhnya. Ijazah Konservatorium dari Muziek Lyceum Amsterdam digenggam dengan senang. Dan kembali ke tanah airnya….

Latifah tak berhenti sampai disitu. Ilmu yang diperoleh bukanlah untuk ditelan sendiri.  Latifah- Latifah muda dibentuk, ditata, dipeluk dengan penuh cinta. Ya, ia mulai mengajar menjadi guru piano di  Indonesia dengan dedikasi melambung. Harapannya yang terbesar adalah, orang-orang Indonesia harus pandai bermusik secara benar.  Selain mengajar privat,  sampai pula ia berada pada jajaran guru di YPM dan Yayasan Musik Jakarta.  Bekal itulah yang menjadikannya  sebagai juri untuk berbagai  lomba piano se Indonesia. Dan konser di mana-mana.

Pada perkembangannya, bagi kalangan pemusik klasik maupun penikmatnya,  sudah tak asing lagi menonton pertunjukan konser piano Latifah berdampingan dengan Charlotte  Panggabean.  Duo Pianis ternama ini benar-benar acapkali membuat penonton berdecak, pada keindahan bermusik empat tangan mereka, dan kecantikan paras Indo jelita keduanya. Tahun-tahunan mereka senantiasa bersama, yang bermuasal  hanya dari sekedar latihan bersama dan akhirnya menjadi dua sejoli pianis indah sepanjang masa. Persahabatan yang  lekat hingga kini, menjadikan mereka pianis ‘nenek-nenek’  yang tetap tak tertandingkan di Indonesia.

Gemuruh tepukan tangan kembali menggema di Auditorium Yamaha. Latifah tersenyum lebar sembari menerima pelukan kiri kanan. Kali ini memang Latifah tak berduet dengan Charlotte Panggabean.   Usai berpiano duet dengan Ananda, semua anaknya serta Ananda Sukarlan memberikan ‘kejutan’. Perjalanan hidup Latifah beserta foto-foto masa mudanya tiba-tiba terpampang di layar lebar.  Lengkap dengan segala data yang dipertontonkan kepada publik.  Latifah tercengang.  “Itulah tante, kami kemarin ini datang ke tempat tante, pura-pura bertamu padahal kami bergerilya mencari dokumentasi foto,”  ujar Ananda di atas panggung, sembari tertawa lebar. Latifah menutup mukanya dan kembali tercengang!  Lalu, setelah para tamu pulang, di luar ruangan dia berkata kepada saya dengan  setengah berbisik, “Saya akan tetap berpiano. Inilah kebahagiaan saya.  Dari piano saya punya banyak  sekali anak…., yaitu murid-murid saya yang sudah ke mana-mana dengan sukses. Yang juga terpenting,  saya bahagia sekali memilik anak-anak  kandung yang hebat,  menantu dan  cucu-cucu yang juga hebat dan mencintai saya sepenuh hati sampai saya sudah umur segini…”

Saya peluk Latifah… yang saya panggil dengan ‘Tante Latifah’.  Seketika hati saya agak perih,  sebab  mau tak mau saya ingat ayah. Tante yang satu ini adalah  salah satu teman baik ayah saya  (kini sudah almarhum),  saat di negeri Belanda, dan suaminya pun adalah kenalan baik ayah saya setelah  ayah kembali ke Indonesia.  Berbagai foto beliau saat muda yang sangat cantik adalah hasil jepretan foto hitam putih ayah saya.  Bernuansa pohon, danau, dan keindahan Eropa……..

Tante Latifah yang indah… optimis selalu, manis hati,  berjiwa penuh cinta, hidupnya penuh irama bijak… dan dialah pianis Indonesia  sepanjang masa…..

 

 

anak cucu menantu Latifah Kodijat/ foto oleh Linda Djalil

saya dan tante Latifah Kodijat sebelum ia manggung

Bagikan Posting ini di:

3 Responses to Pianis Sepanjang Masa Itu Bernama Latifah

  1. Poer Satriohadi

    Touchy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>