browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Marilah Kita Belajar dari Wiryanto

Posted by on August 16, 2013

Seusai berbuka puasa dengan makanan rebus-rebusan di restoran shabu-shabu yang seru di salah satu mal ibukota,  saya pergi ke sebuah kantor besar yang sudah tutup. Di lobi kantor yang luas itu ada beberapa ATM. Saya lebih cenderung memilih tempat ini selalu, karena selain di luar jam kantor tidak banyak orang antri, juga banyak sekali satpamnya yang berjaga-jaga di setiap sudut.

Setelah ‘menguras’ uang untuk persiapan THR para pembantu, sopir  dan pegawai saya, seorang satpam bertubuh tegap berkulit sawo matang menegur saya dengan sopan,  “Sudah selesai, Ibu?  Hati-hati di jalan ya. Maaf tadi lampu tidak semua menyala karena jam segini langsung otomatis sebagian dimatikan”.  Saya baca namanya di dada, Wiryanto.  Entah mengapa akhirnya saya hampir setengah jam mengobrol dengannya.  Sengaja tidak saya sebut kejadian ini di kantor mana. Juga ada bagian-bagian yang saya samarkan karena perhitungan etika. Cukup saya transkrip saja perkataannya selama dalam pembicaraan. Yang penting, dari hasil silaturahmi perkenalan ini, saya bagaikan pulang membawa ’sesuatu’  ke rumah. Ada rasa haru, malu pada diri sendiri, kagum kepada anak muda ini (usianya 29 tahun),  dan bangga.  Mungkin pembicaraan kami adalah hal biasa bagi orang lain.  Tapi tentu tidak bagi saya.  Semoga bermanfaat untuk yang ikut membacanya. Inilah cerita Wiryanto :

 

**   Usia saya 29 tahun. Wiryanto nama saya, asal Indramayu. Saya kerja di kantor gede ini sudah  beberapa tahun. Melalui yayasan, dengan pelatihan yang keras, saya dididik menjadi penjaga keamanan.  Lumayan berat waktu menjalankan kursus satpam itu.  Sering disuruh makan dengan porsi yang besar, kalau sudah kenyang tetap harus dihabiskan. Kalau muntah, harus telan muntah itu. Pokoknya kejam memang. Tapi hidup ini kan memang kejam.  Sekarang pintar-pintar kita saja melakoninya mau bagaimana.  Toh dari kecil saya juga sudah menderita.  Umur  dua tahun bapak ibu bercerai. Saya ikut bapak,  adik masih menyusui jadi ikut ibu. Kecil-kecil saya ikutan dagang.  Sambil sekolah di pesantren juga saya ikut dagang apa saja.

Bapak saya bukan orang berada. Hanya punya sawah sepetak. Dia habis dihina-hina terus oleh keluarga ibu yang kaya raya untuk ukuran kampung.  Tidak betah dihina, langsung bapak berpisah dari ibu.  Ibu nikah lagi punya anak dua, bapak nikah lagi tidak punya anak. 

Saya sekolah sampai tamat SMA. Kerja campur aduk di kampung, lalu saya terbang ke Yaman. Di situ saya jadi kuli bangunan selama dua tahun, yang ada hubungannya dengan  Pertamina.  Uang dikumpulkan, saya bisa beli rumah kecil di kampung.  Selama itu saya kenalan dengan perempuan, yang betul-betul jadi sahabat, bukan pacar. Dia juga begitu, anggap saya teman saja meskipun kami dekat.  Ibunya sangat sayang kepada saya.  Dan ingin segera saya kawinkan anaknya.  Saya semula tidak mau, lha cuma teman kok!  Dia juga begitu, sama saja. Tapi ibunya ngotot banget ingin anaknya nikah sama saya.  Keluarga dari pihak perempuan menentang apalagi bapaknya.

Alasannya, saya dari keluarga miskin dan hanya kuli,ngapain punya menantu hanya beginian saja.  Dari bapak saya juga sama saja.  Rupanya bapak trauma ingat peristiwa pernikahannya dulu yang dihina dina oleh pihak keluarga istri sampai akhirnya dia tidak kuat dan bubar jalan.  Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi di anaknya.  Tapi apa boleh buat, ibu pihak perempuan tetap ngoyo ingin agar anaknya segera dilamar.  Bapak saya gemes sampai bilang, apa kamu sudah hamili anak gadis itu?  –  saya sampai bersumpah bahwa itu tidak benar.  Pacaran juga enggak kok! Akhirnya  keluarga saya datang melamar ke rumah orang tuanya.  Besoknya, sang ibu yang ngoyo itu wafat!  Jadi,  baru melamar dia meninggal sebelum melihat perkawinan anaknya beberapa minggu setelah itu.  Apa ini memang permintaan seorang perempuan yang sudah tahu ajalnya akan datang?

Oya, sebelum nikah saya  juga sempat lari  ke Jakarta karena di kampung tidak bisa kerja yang layak. Di situlah saya mulai  ikut pendidikan sekuriti.  Saya pernah kerja di salah satu perusahaan milik Pertamina.  Jadi satpam di sana enak, gaji besar bisa sampai hampir tiga juta rupiah.  Tiap hari jajan, foya-foya, traktir teman-teman, dan belum akhir bulan uang rasanya tidak pernah cukup.  Heran betul saya !  Tapi setelah nikah, saya kan pindah kerja. Eh gaji hanya Rp 1,5 juta sebulan. Bersih, tidak ada tambahan apa-apa lagi. Tapi semua berkah Tuhan…, ya cukup saja tuh untuk biayai istri di kampung dan anak satu. Bahkan kadang masih ada sisa. 

Uang segitu saya kirim hampir semua. Paling-paling saya hanya ngantongi Rp 300 ribu saja untuk hidup di Jakarta. Untuk bayar kost seratus ribu, di sebelah mushola ada tempat murah. Saya bertiga teman biaya dibagi tiga.  Makan hanya dua kali saja sehari biar irit.  Sekali makan Rp 6 ribu,  pakai sayur dan telor. Dulu masih boleh Rp 4 ribu sekarang tidak ada yang harga segitu.Sampai sekarang saya tidak mau pindah kost, karena selain murah, enak sekali tinggal di sebelah mushola. Paling tidak saya dengar suara azan berkali-kali dan itu menyenangkan sekali.  Sholat kita kan jadi rajin tidak bolong-bolong. Rumah saya hanya lima menit dari kantor ini, jadi saya cuma jalan kaki tidak berat diongkos.

Motor saya gadai di kampung untuk simpanan istri.  Pokoknya hidup di kota besar ini ya  berjuang tiap hari,  harus hemat,  namanya juga kan  cari makan untuk anak istri.

Kalau dipikir-pikir, di keluarga besar saya tidak ada yang jadi kuli kecuali bapak. Selebihnya kerja yang pakai tulisan semua. Di balik meja keren-keren.  Kemarin ini saya ditelefon saudara sepupu. Saya terharu sekali sampai mau nangis rasanya.  Dia hanya lulusan SMP tapi sejak dulu biarpun anak kampung selalu baca buku apa saja. Dia juga belajar bahasa Inggris sendiri, cari buku-bukunya sendiri. Dia kursus komputer. Pokoknya rajin. Tau-tau sekarang dia kerja di fakultas apa gitu saya tidak tau namanya, di Jogja.  Pegang HRD, dan yang dites, diuji sama dia ya orang-orang yang S1.. padahal yang nguji ya sepupu saya yang cuma S..MP !

Saya tidak tahu sampai kapan saya kerja begini. Tanggungjawabnya besar sekali. Nyawa juga pertaruhannya. Kadang saya dibekali senjata.  Apa saja, tergantung keinginan boss di yayasan.  Untungnya sampai sekarang tidak ada kejadian aneh-aneh.  

Untuk kembali ke Yaman, saya mikir seribu kali, padahal sudah ada tawaran lagi.  Bagaiman kalau saya sudah terikat kontrak lalu kangen setengah mati sama anak dan  istri? Tidak bisa pulang, kan? Kalau kerja di Jakarta, biar gaji kecil kalau kangen bisa ngabur sehari mudik.  Saya nikmati saja selama Tuhan kasih rejeki dengan caranya. Lha wong cari kerja di Jakarta juga setengah mati kok.  Untung saya masih dapat seperti ini.  Sekali-kali dapat persen, dapat kue dari penghuni kantor, kan lumayan untuk nambah-nambah.

Yang penting kita harus selalu sopan sama pegawai di sini atau tamu-tamu yang datang.  Ini kantor besar, ulah orang macam-macam, ada boss yang baik hati suka bagi-bagi, ada juga yang pelitnya setengah mati…. hahahahaa…!!  Sudah malam ya bu.  Silakan ibu kembali ke mobil, sini saya antar. Sampai bertemu lagi bu, selamat berpuasa kembali… **

 

Saya tercenung, terkesima, bengong, kagum, terpana, semua campur aduk jadi satu.  Inilah gambaran pria Indonesia asal desa yang menyambung hidup di kota besar Jakarta.  Saya harus banyak belajar dari Wiryanto. Kita semua..! Saya bayangkan uang satu setengah juta rupiah….,  yang masih pula bisa bersisa.  Di mal tadi saya melirik sepatu Salvatore Ferragamo berpita, yang harganya Rp 8 juta sepasangnya. Ada juga yang Rp 4,7 juta.  Belum lagi blus kaos Lacoste warna warni seharga Rp 1,1 juta.  Teringat juga bagaimana  nyonya-nyonya Jakarta berlomba membeli tas Hermes yang harganya ‘hanya’  sekitar Rp 174  juta itu.. belum lagi gaun-gaun masa kini yang mereka gunakan secara seragam di tempat-tempat pengajian dari kain kaftan  warna kinclong dengan asesori yang menempel terjahit di leher  baju seharga ( asesorinya yang emas -emas itu ) ”hanya” Rp  500 ribu ke atas…Dan…, shabu-shabu saya tadi berdua teman seharga hampir Rp 250 ribu….. duh…duh.. Gustiiiiiiiii….!!! Tolonglah Wiryanto ya? Tolong dia Tuhan, dengan caraMU yang selalu khas itu….., karena aku tahu pasti kuasa dahsyatMU sungguh luar biasa…..

Bagikan Posting ini di:

5 Responses to Marilah Kita Belajar dari Wiryanto

  1. shinta

    salam kenal ya mba linda….
    tulisannya enak dibaca, dan isinya mengagumkan, menyentuh, inspiratif sekali….
    saatnya kita berkaca pada orang2 dibawah kita ya…
    yang hidupnya penuh dengan perjuangan dan rasa syukur…

  2. satria

    kok rasanya saya kenal dengan pak wir ini. dulu di kantor saya yang lama di jaksel, ada juga petugas keamanan bernama sama dengan logat yang khas. bertubuh tinggi besar dan berkumis. jangan-jangan orangnya sama bu?

    kalau iya, ga salah deh tulisan ini. beliau yang saya kenal memang ramah pada semua orang. meski saya jarang ngantor karena seringan berada di lapangan, tapi setiap ketemu beliau pasti nyapa sambil nyalamin saya dan nanyain kabar saya. dan beliau pasti inget nama saya, walaupun saya jaraang banget nongol di kantor..

  3. Anisashop

    Hidup dalam kesederhanaan dan penuh kesyukuran itu lebih indah ya mba?

  4. abu kemal

    mangagumkan,
    tulisan yang menyentuh, enak dibaca, inspriatif

    aku rasanya pernah membaca tulisan “ini” di kompasiana (kalau tak salah),
    di tulis oleh penulis yang sama, ibu Linda Djalil.

    saya suka tulisan ini,
    tak apa2 kubaca ber kali2,
    terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>