browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Hidup di Jakarta yang Saya Ingat pada Zaman Baheula

Posted by on November 18, 2013

Hari ini Ulang Tahun Jakarta. Sembari sarapan, pikiran saya melayang jauh. Apa saja ya yang saya ingat tentang kota ini sedari saya mengawali kehidupan? Orang tua saya berasal dari Sumatra, tetapi saya lahir di sini, besar di sini, sekolah, bekerja, menikah, punya anak, dan menikmati masa-masa bertambahnya usia saya juga di kota ini..

Sejelimet apa pun Jakarta sekarang, toh ini adalah kota saya. Puluhan tahun saya menikmati dan menghirup udara berbau metropolitan ini. Banyak perubahan telah terjadi. Banyak perilaku penghuninya pun yang juga berubah. Tentunya semua harus diterima dengan lapang hati. Mungkin tulisan iseng-iseng ini menjadi hiburan untuk kita yang berada di kota yang semakin sumpek ini.

JATINEGARA : Setelah lahir di RS St Carolus dengan berbagai bunga dan kartu ucapan selamat dari keluarga Bung Hatta, dan banyak kerabat dan teman-teman kedua orang tua , saya diboyong ke kawasan Jatinegara. Di lantai dua yang bawahnya adalah Apotik yang dikelola oleh ayah ibu, kami bermukim. Saat balita rasanya masih terekam sampai kini dari tempat itu. Dari balkon, saya senang sekali melihat mondar-mandirnya kereta listrik di depan rumah. Namanya trem. Bunyinya teng-teng-teng.. berulang-ulang tetapi untuk saya ini selalu menjadi peristiwa menarik dalam kehidupan saya. Ada becak, delman dengan kudanya, bisa hampir bersamaan berjalan beriringan dengan trem itu. Mobil belum begitu banyak. Serombongan orang bersepeda selalu membunyikan belnya dengan nyaring.

Di belakang Apotik ada perkampungan yang banyak dihuni oleh orang-orang Cina keturunan. Sering terjadi kebakaran di malam hari. Suasana mencekam. Saya dibawa ke balkon oleh ayah untuk melihat api yang berkobar-kobar. Saya peluk ayah kuat-kuat. Ada suara teriakan, dan mobil pemadam kebakaran. Suasana mencekam seperti itu rasanya beberapa kali saya lihat.

Tidak jauh dari pasar Mester Jatinegara, ayah punya langganan restoran Padang yang tidak kelewat luas. Namanya restoran Surya. Saya masih ingat mangkok-mangkok kaleng putih atau belang-belang hijau putih untuk kobokan pembasuh tangan. Harumnya bau masakan di Surya masih saya rasakan… khas banget!Yang punya, wajahnya masih saya ingat sampai sekarang. Ia selalu menggendong saya dan mencubit-cubit pipi. Tamu yang sering datang ke rumah saat itu adalah Awaloedin Djamin. Ia memang teman ayah sejak lama. Bahkan ia masih ingat ketika ibu saya ngidam saat saya masih di perut, Awaloedin lah yang ‘dikerjain’ ibu, untuk mencari kepala orang Arab botak, harus dipegang di depan ibu. Sampai kini, kalau mantan Kapolri dan mantan dubes di Jerman itu bertemu saya, langsung ia memeluk dan mencubit sambil berkata, “Waduh, dendam Oom sama kamu nggak hilang2 nih.. gara-gara kamu , dulu saya harus cari kepala orang Arab yang botak, di pasar Jatinegara..!”

JALAN PASURUAN MENTENG : Pindah ke rumah ini alangkah nikmatnya. Saya punya banyak tetangga yang sebaya. Karena rumah di Jatinegara berada di tepi jalan besar dan termasuk kawasan bisnis, tentu tidak ada tetangga rumahan di sana. Jalan Pasuruan yang dekat pasar loak jalan Surabaya itu sejak dulu memang sudah ramai. Ada Broery Marantika di sana, ada polisi terkenal, ada bankir, ada dokter. Saya bermain sepuas hati dengan anak-anak mereka.

Jalanan yang lengang memungkinkan anak-anak bisa bersepeda sore-sore , ke taman Situlembang atau ke taman Kodok dekat jalan Besuki. Tukang jualan beraneka ragam dari subuh sampai tengah malam. Dulu sore-sore sering lewat tukang sate babi dengan pikulan. Lewat di depan rumah pak haji, dan tetangga yang beragama non Islam membeli, tak pernah menimbulkan masalah. Juga tukang jual sup Sekba bersepeda, yang isinya jeroan babi. Laku keras sepanjang hari. Tukang jual bakpaw dulu juga masih mengisi jualannya dengan daging babi. Yang bertanda titik merah, adalah yang mengandung babi. Siapa pun yang membelinya, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Sekali lagi, rasanya tidak ada tetangga yang rusuh, ngedumel terhadap berbagai tukang jualan semacam ini.

Tukang martabak, sejak dulu memang sudah bergerobak besar. Dulu mereka berkeliling mendorong gerobak itu sambil mengetukkan wajannya keras-keras. Rasanya sekarang mereka mangkal saja di jalan, dan tidak ingin berpayah lagi mendorong ke sana-sini. Belum lagi sore-sore kami menanti-nanti kereta kencana yang lewat di seputar kawasan Menteng. Kalau suara ‘kleneng..kleneng..’ merebak, berhamburanlah kami ke luar pagar. “Es kudaaaaa…!” , begitulah si kusir berteriak dari kereta kencananya. Es krim yang dijual di dalam kereta berkuda itu memang sungguh unik dan lezat.

Tukang jualan mainan dari tanah liat, hampir setiap hari lewat. Semua miniatur panci, penggorengan, cangkir dan piring, botol kendi, pokoknya alat masak-masakan komplit. Kami masih jarang menemukan mainan dari plastik. Tukang mainan ini cukup cerdik, dia membolehkan anak-anak membeli dagangannya tidak hanya dengan uang, tetapi dari botol-botol bekas. Kalau uang jajan sudah tak punya, maka kami oprek segala botol bekas yang ada di dapur ibu. Zaman dulu, ada botol beling berisi karbol, berwarna hijau. Nilainya sangat murah untuk menukar mainan tanah liat itu. Yang paling laku adalah botol-botol bekas stroop ( sirop ), apalagi kalau bekas stroop Sarang Sari yang pabriknya di kawasan Cikini Raya itu.

Belum lagi tukang jualan gulali, towet..towet… suaranya seru. Si pedagang dengan sigap memelintir dengan tangannya, gula merah yang selesai dibakar dari tungku itu menjadi bentuk tusukan konde, gebukan kasur, atau burung yang bisa berbunyi. Setelah ia coba tiup dengan mulutnya, maka dijuallah ke anak-anak untuk dimakan…. hahahaaaa…!! Tukang rujak bebeg yang memalu buah-buahan, dengan campuran buah buni, menteng, pisang batu…, waaaah…apakah buah buni dan sebagainya masih bisa ditemui dengan mudah sekarang..?

Di setiap rumah masing-masing kami masih menanam beberapa pohon pisang, pohon tebu, sawo, jambu klutuk. Kalau sedang musim, siap-siaplah anak-anak beraksi ‘nyolong’ buah tetangga tanpa permisi. Kami menenteng galah yang ujungnya sudah dibelah dua. Kadang orang tua kami masing-masing sudah pasrah saja sembari senyum-senyum melihat ulah anak-anaknya.

Di pinggir jalan anak-anak masih bisa main engklek. Batunya bisa dibuat dari bahan eternit yang setengah dihancurkan, atau anak-anak perempuan sengaja mencari kain bekas, dibuat sebesar bantal mini, diisi pasir. Saya ingat ibu berteriak ketika memeriksa mesin jahitnya penuh dengan butiran pasir karena anak nakalnya ini menjahit bantalan pasir. Kami masih juga bermain layangan di lapangan, bahkan membuat benang gelasan sendiri dari pecahan beling yang diramu dengan zat warna-warni.

Bulan puasa adalah bulan yang menyenangkan. Setelah sahur jalanan begitu ramai. Anak-anak main petak umpet, main rampok-rampokan dengan membungkus hampir seluruh badan dengan sarung bapaknya. Yang tersembul tinggal biji mata yang selalu melotot ke sana ke mari bagai penjahat betulan. Hahaha…! Saat usai berbuka kami ’si pengacau’ beramai-ramai berjalan kaki ke seksi lima dekat jalan Madura ( sekarang jalan Prof Yamin ). Bersama warga dan para polisi kami sholat taraweh. Giliran menyebut kata “Amin”, tentulah ini yang ditunggu-tunggu ‘para pengacau’…, karena kata ini sengaja dipanjangkan menjadi ‘amiiiiiiiin..’ tiada henti sehingga imam harus menunggu memulai lagi membaca surat berikutnya. Hoegeng, mantan Kapolri yang bersahaja itu sempat geleng-geleng kepala melihat kelakuan kami. Kadang Hoegeng datang bersepeda ke rumah, mengobrol santai dengan ayah saya. Ia pernah berkata kepada ayah, “Pasti yang teriak amin panjang-panjang dan keras sekali di mesjid itu anak kamu si Linda! Suara anak perempuan, jejeritan. Pasti deh dia!”

Transportasi mobil, bis, masih bisa dihitung dengan jari. Kami ke mana-mana naik becak. Di kawasan Guntur lah pusat juragan becak berada. Biasanya gambar di becak juga indah-indah, ada lukisan pemandangan, juga kepala semar, bagong, cepot. Yang saya ingat, dulu ada becak merk Sindoro. Langganan saya, si bapak becak itulah yang mengantar jemput saya ke sekolah di kawasan Taman Sunda Kelapa yang indah dan halamannya luas sekali sebelum terbangunnya mesjid. Anak-anak dari SD Besuki biasanya nebeng olah raga ke halamam sekolah kami. Mungkin saja Obama juga dulu sempat mengecap halaman Taman Sunda Kelapa.

Dulu di dekat Rumah Sakit Cjipto Mangunkusumo sering ada wanita ’setengah tak waras’, namanya Mariam. Ia mangkal di seputar sekolah PSKD dan menjadi bulan-bulanan anak-anak. Hobinya nyolek lelaki, dan minta dibelikan rokok. Kalau tak salah, kepala sekolah PSKD, Oom Piet namanya, paling ditakuti oleh Mariam. Ada lagi sepasang suami istri yang senantiasa memakai ‘baju jenderal’ ke mana-mana. Gembel ini mengganduli segepok ransel berisi romel. Di pundak masing-masing dilekatkan belasan tutup botol yang mereka akui sebagai bintang tanda jasa. Saya ingat dulu Broery Marantika/ Pesolima sering mengganggu ‘pasangan jenderal’ ini dengan pura-pura latihan baris berbaris.

Ketika Pasar Cikin mulai dibuka, berkumpulah kaum elit Menteng di sana. Bahkan orang-orang dari kawasan Kebayoran juga berbelanja ke tempat itu. Ada toko Willy yang menjual kue-kue basah dan sangat enak. Ada toko B18 yang menjual barang-barang impor tentengan para pramugari dan pilot, ada toko Sari menjual tekstil yang bagus-bagus… kedua yang saya sebut tadi masih berjualan hingga kini..

Kami anak-anak jalan Pasuruan dan sekitarnya sesekali disuruh berbelanja sayur mayur oleh ibu masing-masing. Kami pergi beramai-ramai sembari menenteng keranjang belanjaan ( dari rotan , belum plastik ), dengan catatan belanjaan masing-masing yang sudah ditulis ibu. Dasar akal-akalan, kami tidak pergi ke Pasar Cikini di depan, tetapi jauh ‘nyungsep’ ke belakang. Namanya dikenal dengan ‘pasar kampung’. Harganya bisa separonya dari Pasar Cikini depan. Sebelum pulang kami jajan es kelapa dan gado-gado yang enak sekali di sebelah tukang urut terkenal di Pasar Cikini.

Kami punya hiburan menarik di hari Minggu. Pak Kasur dan Bu Kasur kerapkali manggung di taman Situlembang. Kami boleh menyanyi sesukanya sambil menari-nari. Selain itu, dulu di jalan Diponegoro yang masih lengang itu, ada rumah dinas untuk KSAL. Saat itu Martadinata yang menduduki posisi KSAL, sering naik helikopter dan mendarat di atap rumah. Hampir sewarga Menteng sengaja berkumpul dari seberang rumahnya, menanti-nanti sang pejabat mendarat. Kami melihatnya dengan takjub….

Untuk ke bioskop Megaria, anak-anak sering berjalan kaki saja sembari melintasi rel kereta api. Kadangkala kami main-main dulu di tengah rel. Kalau kereta akan datang, di menit terakhir baru kami ngabur. Gila kan?! Di Megaria dulu ada film yang ditonton berulang-ulang oleh anak-anak. Namanya Jenderal Kancil. Ahmad Albar amat kocak dan cerdas sekali berakting di situ. Ada lagi film bernama Bintang Kecil, bikinan Wiem Umboh. Yang main saya ingat namanya Susie Mambo dan Maria Mambo. Ke mana ya mereka sekarang? Susie yang berambut keriting itu sempat sekelas dengan saya. Lagu di film itu amat terkenal.. Es. Mir.. Ran… ( seorang anak berjualan es, semir dan koran ). Pulang nonton kami naik becak, atap becak sengaja dibuka agar bisa lima sampai enam anak masuk dan sepanjang jalan kami berteriak-teriak sambil nyanyi, “Es.. Mir .. Ran…! Eeeeessss, semiiiiiir….koraaaaaan..!”

Tetangga sebelah rumah, seorang dokter Tionghoa kaya, bernama dokter Oei Kok Ping. Anaknya cantik sekali, bernama Lani, dan satu lagi lelaki gendut, Hawtje. Mereka sering memutar film di rumah. Kami dipersilakan datang, duduk di lantai. Filmnya rata-rata cowboy atau… drakula ! Pulang-pulang kami selalu terbayang wajah si drakula yang jiper bau bawang putih itu…, yang selalu bersembunyi di dalam peti mati. Maka bila ada peti pengisi barang romel di rumah milik ayah ibu, anak-anak sering membayangkannya bahwa di dalam peti itu ada drakula… hahaha..!!

Sore-sore, para tetangga sering ke luar halaman masing-masing. Semua saling bertegus sapa. Orang tua kami rasanya dekat sekali satu sama lain. Rata-rata pukul 5 sore sudah usai mandi setelah pulang kerja, dan siap dengan singkong goreng dan kopi. Omar Abdalla (sempat menjadi dirut bank) lalu lalang sore-sore dengan mobil Mercy nya, pulang main golf. Kami melambaikan tangan dari pinggir jalan. Bahkan saya dan ayah ibu sering nenamu juga ke rumah Sujatmoko di jalan Tanjung, Rustam Munaf ayahnya Fariz RM di jalan Maluku, Hoegeng, Mt Haryono, Mister Besar di jalan Agus Salim, dan seputar Menteng lainnya. Rasanya jarak dulu begitu dekatnya, jalanan lengang, tak pernah ada macet membuat orang mudah saling berkunjung. Silaturahmi antara sesama tetap dilakukan dengan kontak fisik sehingga rasanya kontak batin pun terbina dengan sendirinya. Pergaulan lewat facebook, email, sms, rasanya zaman baheula tak pernah terbayangkan. Jalan Sudirman dan Thamrin, Imam Bonjol dan Diponegoro, apalagi Senen, Salemba , rasanya dulu luaaaaassss sekali…

Taman Ismail Marzuki juga dulu nyaman sekali dan tak ada warung-warung di pinggirnya seperti sekarang ini. Saya masih sempat menikmati gajah, onta, monyet bergelantungan di Kebun Binatang Cikini, sebelum dibongkar menjadi Taman Ismail Marzuki. Persahabatan antar tetangga juga sering berlanjut di tempat ini saat kami nonton pertunjukan kesenian. Obrolan di Pasar Cikini, berjumpa di tangga bioskop, maupun merayakan HUT Jakarta yang pestanya begitu meriah penuh kembang api dan lampu warna-warni di seputar jalan Thamrin yang dibuat oleh Ali Sadikin zaman baheula… rasanya menjadi kenangan tersendiri yang sungguh nikmat dan sampai kini masih saya simpan di hati…

Selamat Ulang Tahun, Jakarta……

(22 Juni 2009)

Bagikan Posting ini di:

5 Responses to Hidup di Jakarta yang Saya Ingat pada Zaman Baheula

  1. eka

    Terima kasih telah membawa saya kembali ke Jakarta di awal tahun 80-an ketika saya masih kecil dan saya masih mengalaminya sebagian.

  2. alex sudjudi

    memori yang indah

    s/d detik ini ‘budaya’ orangtua yang masih suka kami (saya & istri) lakukan adalah mengirim sedikit ketupat plus lauknya ke beberapa tetangga

    krn almarhum ibu selalu melakukannya disaat hari raya lebaran

  3. Gerhat Daniel

    terkesima :) “terimakasih sudah membawa saya ke Jakarta Zaman Baheula… terus berkarya!”

  4. yayang neville

    Betul betul terkesima membaca cerita ini. Terima kasih Sudah berbagi, salaam.

  5. widya

    Wow…dari tutur ceritanya, terbayang jelas situasi & suasana masa itu. Kayaknya itu tahun 60 – 70 an ya? Itu tahun2 masa remaja & mudanya mama dan papa saya. Tapi sebagian suasananya masih saya rasakan waktu kanak2 di tahun 70 – 80 an. Awal 90 an juga masih lumayan.. Sangat terasa kekeluargaannya, tanpa diskriminasi atau merasa superior sebagai suku dan agama tertentu. Semua bersaudara.
    Jakarta juga masih sangat bersih. Waktu itu kaum perantau (dari desa) yang kost or kontrak masih sedikit, mereka mengikuti kebiasaan penduduk setempat, menjaga kebersihan, toleransi, dll. Tapi sekarang, orang kost & kontrak rumah petak lebih banyak dari penduduk aslinya. Mereka seenaknya buang sampah, ngebut, langgar aturan lalu lintas dll. Ada juga yg seenaknya bangun rumah kardus, patok lahan sesukanya.buat dagang, tinggal.
    Kumuh, Semrawut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>