browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Monthly Archives: January 2014

Akal-akalanmu, Dik !

kamu menginjak bawang kamu menginjak beras kamu menginjak makanan dalam keterbatasan ilmu keterbatasan nurani keterbatasan diksi kata karena kamu hidup di awang-awang injak pasar becek urusan pencitraan dulunya kamu berada di mana… karena tutur katamu yang lancang sembari senyum mengembang bensin naik tak membuat harga ikut terbang ibu-ibu pedih hati alang kepalang nyatanya tak sanggup … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Gara-gara putusan yang Salah ; Kalian Seram ‘kan?

gubernur bupati walikota sejenak saja selonjoran kaki menikmati dunia menjadi juragan dihormati sekeliling menghamba… gubernur bupati walikota menghirup ruang dingin mobil keren semua minggir menjadi raja kecil di wilayahnya… apakah kenimatan serupa itu hanya sekejab lalu punah gara-gara putusan yang salah muasal bapak ketua yang salah salah didik salah iman salah nurani apa kabar kalian … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment

Guntur, Hujan dan Ayah

tatkala gelegar guntur menghantam bumi kisi jendela bergetar kaca musnah seketika hujan menimpa pohon bambu ambruk pohon tebu lesu tertampar VW kodok mandi terguyur dahsyat ayaaaaaaaaaah….. takuuuuuuuut.. jerit seorang anak dari balik kelambu pelukan hangat pun tiba was-was lenyap tangan kekar seorang pria yang penuh kasih mendunia mampu mengusir guntur mampu mengusir hujan badai mampu … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Ndut, Aku Kangen Dimarahi Kamu!

kualitas hidup apa itu kalau tidak separuh waktu hidupmu diisi dengan belajar mengamati suasana baca buku pendalaman apapun kualitas hidup apa itu kalau omongan orang tak diingat ilmu tak diserap dengan seksama huh ! segala hal kamu marahi aku karena kerjaku tidak rinci kurang teliti tampilan kurang gesit apapun aku gebleg di matamu lalu kamu … Continue reading »

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Di Warung Pojok Kamu Mojok

sudut remang benderang oleh es cincau berlumur sirop merah jambon menghadap wajahmu jreng jreng jreng ada kamu di warung pojok kamu mojok raut muka hitam kelam ditantang es cincau berlumur sirop merah jambon jreng jreng jreng… mulutmu bungkam biasanya anyir nyerocos ngawur norak tiada mutu matamu mengapa kini redup bagai lampu tak bernyawa biasanya mendelik … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Hari Ini Ulang Tahunmu, Ndut !

bertahun-tahun tak ada lagi sinar telefon genggam atas nomormu gemerlap karena ceritamu senantiasa gemerlap kejadian seru pedih was-was semua muncul bertahun-tahun rasanya sepi seorang sahabat pergi air mata pun tak sanggup muncul lagi ke mana kamu Ndut ke mana… persahabatan yang indah penuh tawa hingga amarah saat kamu hebat berposisi aku melipir jauh saat kamu … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Sampai Berapa Lama Lagi

terkulai lesu pegal linu tiada habis rasa jemu di mana dunia yang dulu penuh tawa kebebasan penuh gerak gempa semaunya meratap lunglai tatkala lampu tak bersinar surut pula semangat hidup bagai seonggok tubuh tiada daya merana… sampai berapa lama lagi derita muncul bertubi-tubi perih tubuh tak terlukiskan terjembab kesal tak berkeputusan tangan pun berbicara kaki … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Condong

mengintip dedaunan condong ke segala arah dibawa kehendak angin menderu dahsyat hati terasa kuncup itulah negeriku kini tak jelas akan seperti apa condong ke mana-mana bila selalu saja yang salah dibenarkan yang benar disalahkan….

Categories: Puisi | Leave a comment

Somasi

seorang ibu bertanya-tanya sembari menggendong bayinya ke empat dengan selendang batik Pekalongan merah bercampur hijau ungu motif pesisiran kinclong sumringah namun hatinya tak sebenderang sang selendang kusam.. bingung.. gamang… sebab kepalanya penuh wasangka mengapa belakangan ini sering ada kata somasi yang tak pernah ia mengerti seorang ibu penasaran sebab empat anak tak membuatnya pandai waktu … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Saya Nyolong dan Khilaf

separuh dari sejuta dolar saya terima dengan seksama riang gembira tanpa bertanya sudah tahu maknanya rejeki nomplok meski dari hasil jorok tak diambil tentu goblog urusan kelak diancam golok masa bodoh sampai mabok saya nyolong saya khilaf karena terlacak oleh penyidik sialan… lalu kuda-kuda saya pasang kalau perlu butiran air mata meleleh hingga samping telinga … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: | Leave a comment