browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Monthly Archives: April 2014

Ndak Mikir Sebab Janji Bukan Utang

ndak mikir.. ndak mikir.. sebab janji bukan utang tak perlu dilunasi karena tak berupa uang yang bisa  menjadi alat untuk pembayaran atau membeli  segala barang membeli kepala orang membeli harga diri membeli derajat   ndak mikir ndak mikir sebab tulisan di pasir saja mudah hilang bila terusap oleh busa ombak di seluruh dunia apalagi janji … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment

Suara Biola Emas Idris Sardi Kini Senyap…

mengudara menuju pinggir laut hingga dasar danau memenuhi sanubari cakrawala kelembutan itula suara biolamu Idris Sardi pujaanku pujaan Indonesia   raut wajah tegasmu garis tegas dalam tuturan segala kemantapan prinsip ada padamu, Idris Sardi pemilik rasa malu pemilik harga diri pemilik martabat tinggi..   genggaman  jemarimu kepada para sahabat tatapan matamu kepada negeri ini seakan … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Pemandangan Pagi

    Loper koran sudah berkeliling subuh ini. Tukang sayurpun menggenjot gerobak sembari bersenandung. Mbok jamu memanggul botol di punggungnya dengan gincu jreng di senyum bibirnya. Pemandangan pagi yang indah…..ya Tuhan, mohon berkahilah…, rakyat yang  bekerja sungguh-sungguh ini, mereka  bukan si penidur di ruang sidang nan sejuk, jauh dari urusan KPK dan sifat kemaruk….

Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Cara Tuhan…..

  Tuhan punya berbagai cara membuka asli-aslinya orang dengan kejadian tertentu. Seseorang yang mencapai karir hebat berpangkat tinggi belum tentu dijamin  kejujurannya semulia jabatannya. Buktinya, untuk urusan jam tangan saja ia dengan mudah berdusta.  Malunya pun ditanggung sendiri di depan khalayak ramai.

Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Surat Itu…

surat itu datangnya terlambat saat asmara sudah dibuang lewat pintu asrama jauh menuju samudra terbang ke  negara tetangga   surat itu isinya banci menyatakan maaf karena instruksi bagaimana bisa mengandalkan cinta sejati bila segala keputusan  harus lewat ibu suri   surat itu terhempas dalam genggaman tangan diremas bagai mengunyah tulang belulang sebegitu keras tiada akhir … Continue reading »

Categories: Puisi | 3 Comments

Sang Caleg Melamun…

    Seorang pria menatap jalanan dari dalam rumahnya tukang sayur sudah menggenjot gerobaknya sembari bersiul riang mbok jamu senyum pagi-pagi dari beban botol kaca di punggungnya.. burung menari-nari melompat dari ujung pagar ke ujung pagar yang lain ujar hatinya, “duh enaknya jadi mereka mampu tertawa lebar leluasa tanpa was-was seperti aku yang ludes harta … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Comments Off

Takut !

takut ! kalau kamu yang maju berada di singgasana tikus tak lagi berpesta gergoti keju  hingga tulang berbagai sikap curang   takut ! kalau kamu di sana geram akan membahana melihat pelabuhan berjaya mengangkut barang berbagai negara dari beras garam kopi coklat tapioka  dan gula   takut ! kalau kau unjuk gigi tak dapat lagi … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Nyoblos Besok !

    tangan kita esok hari adalah sebuah tanggung jawab besar untuk kemudian hari memilih yang salah akan menjadikan negeri ini terulang salah dari garong hingga pengintip video porno di kala rapat, biang bolos kerja sampai urusan memeras kiri kanan, akankah terulang dari para makhluk yang memperoleh upah besar bulanannya dari keringat kita, yang  akan  … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Percakapan Suami Istri di Pagi Hari….

  Pagi-pagi, seorang istri duduk di teras belakang rumah dinas sang suami yang luas. Bangunan kuno bersejarah, menyimpan sejuta cerita. Berdiri di tengah kawasan elit terpandang, megah. Berwibawa. Mulia. Di situlah kini kehidupan keluarganya membahana hingga ujung dunia bermula. Angin semilir membawa sisa embun. Pipinya dingin, tersentuh air mata dari kelopak yyang hangat. Ketakutan dan … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment