browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Cerpen (Fiksi)

Keputusan Saat Sahur

Bagas tampak kuyu.  Kerja tiada henti di media  terkenal Indonesia membuat tenaganya terkuras. Bulan puasa membuatnya harus bertahan pada haus lapar dan kesabaran. Kesabaran ? Waktu sahur telah tiba. Bagas duduk termenung di meja makan. Ibunda sibuk menyendok nasi ke piringnya. Vitamin  dan madu di sebelah piring disediakan. Ayahnya, sembari menyeruput teh hangat, diam-diam mengamati … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | 1 Comment

Horeeee, Apakah Bonus Lebaran Itu Barokah?

Berbagai keluarga bergembira. Bonus diterima, gaji naik, hadiah lebaran, uang THR, plus bonus prestasi atas daya tembus sumber yang hebat, dan membuat skenario dahsyat apapun untuk kepentingan pemilik kantor. Baju baru, makanan enak, kue lebaran… semua sudah di depan mata. Darah dialiri uang prestasi semacam itu untuk penganan keluarga. Dinikmati anak, istri, suami, orang tua, … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Uang Bukan Segalanya

Empat direktur bank klenger di ruang rapat.  Butiran keringat satu persatu meleleh ke ujung rambut hingga leher mereka yang gendut.  Padahal ruang kerja mewah mereka begitu sejuk oleh pendingin yang tiada henti. “Jadi bagaimana nih? Kita harus kompak lho, satu bahasa yang sama. Untuk hantam si menteri, kita harus bilang memang dia yang paksa kita … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Percakapan Suami Istri di Pagi Hari….

  Pagi-pagi, seorang istri duduk di teras belakang rumah dinas sang suami yang luas. Bangunan kuno bersejarah, menyimpan sejuta cerita. Berdiri di tengah kawasan elit terpandang, megah. Berwibawa. Mulia. Di situlah kini kehidupan keluarganya membahana hingga ujung dunia bermula. Angin semilir membawa sisa embun. Pipinya dingin, tersentuh air mata dari kelopak yyang hangat. Ketakutan dan … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Suatu Hari di Ruang Operasi

Dita berada di kursi roda. Masuk pintu pertama, kedua, ketiga. Suster berderet di ruang dingin itu. Tempat tidur besi keren berselimut putih wangi menjadi tempat rebahan. Ia dipindahkan ke tempat itu. Lagi-lagi ia memandang para petugas di ruangan itu. Kalau lelaki, namanya apa ya?- ujar Dita dalam hati. Masa’ suster juga? Hihihihii..!! Perawat lelaki? Mereka … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | 2 Comments

Tidak Enak Kan Dibohongi?

Seseorang terbiasa berdusta. Kepada siapapun. Keluarga, rakyat, barangkali juga Tuhan. Sebab kitab suci atas nama Tuhan di atas kepala sebagai alat bersumpah, juga diperalatnya. Untuk menutupi segala aib, segala jurus dipakainya. Mulai dari berbicara ‘gaya medok’ aksen Jawa meski ia orang seberang, menampilkan wajah sumringah sembari menenteng tas super mahal di lengan, bergincu kinclong dan … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | Tags: , , , , , , | 1 Comment

“Tamu Si Dul Tukang Sop Kaki”

 “Kuping dua, babat jarit dua, kaki tiga, pelor satu, lidah satu, tulang muda tiga. Nggak pakai vetsin seperti biasa, tomat yang banyak, minyak samin segepok. Buruan, gue laper!”, ujar seorang laki-laki  sembari tolak pinggang. Dul, tanpa melihat lagi yang memesan di depan hidungnya, langsung nyosor mengambil garpu ompong, menusuk segala jeroan kambing yang siap dibelek … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | 3 Comments

Aku Monas, Izinkan Aku Berkata…

Sedihku alang kepalang kini.  Aku dipandang dari segala sudut kota. Aku menjulang cemerlang. Daya tarik tubuhku  yang berlapis emas, semakin sumringah di kala malam.  Gema  kekuningan  memancar setiap helaian rumput di bawah sana. Aku muncul dengan derajat mulia. Lambangku  ada di lidah api, sebagai lambang perjuangan menyala-nyala jiwa merdeka bangsa Indonesia.  Merdeka dari urusan pencitraan … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | 1 Comment

Ngobrol Sama Banjir

Jir,  hari ini kamu muncul lagi.  Sejalanan macet.  Segala lebaran panjangan  jalanan macet. Ribuan kendaraan macet. Duh,  Jir … banjir… teganya kamu datang lagi.  Hari ini bukankah cukup seru dengan demo buruh di Bunderan Hotel Indonesia?  Saya sengaja tidak lewat sana, karena takut buruh menghadang. Tahu-tahu pulangnya saya lewat situ, demo sudah surut, banjir malah … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | 3 Comments

Aceng Sang Provokator

Aceng terdiam. Ia melihat kedua cucunya di pojok dapur sedang ngudut alias menghisap rokok. Mata mereka merem melek. Dua pak rokok tergeletak di dekat dengkul mereka, di lantai marmer mewah.  Aceng mencoba menahan emosinya. Kedua kakak beradik itu, Abeng dan Adung, sudah tiga tahun ditinggal kedua orang tuanya. Mobil  mewah tersungkur di tengah rel kereta … Continue reading »

Categories: Cerpen (Fiksi) | Tags: , , , , | 2 Comments