browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Puisi

Ketika Kami Sudah Kehabisan Kata

kami hanya tercenung bungkam terpana pedih terkesima   ketika kami sudah kehabisan kata.. maka hanya hati yang bersuara telinga bagai tak tersusupi bunyi kebaikan sebab jelaga tumpah di sekitar muka kami kehabisan kata tak mampu berbicara   kedajalan merajalela lalu kami  bisa apa bila yang salah dibenarkan yang benar ditindas mampus kami kembali menganga tanpa … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Putriku yang Cantik Tetap Tersenyum

menggeliat menahan lara sakit sekujur tubuh luar biasa namun wajah perihnya selalu berhias senyum seakan ia selalu berkata kepada ayah bunda serta suaminya juga putra ciliknya aku tidak apa-apa.. semua bisa teratasi…   putriku yang cantik bila boleh sakitmu pindah ke kami agar derita tak terlalu berat agar kau bisa berlama-lama merasakan mahligai bahagianya rumah … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Beterbangan !

tatkala rudal tepat sasaran menuju sembarang langit tak berbatas yang terbang beterbangan hancur seketika berkepingan tiada berbentuk rupa besi berbentuk burung angkasa segera lebur manusia entah sedang mengapa sebelumnya yang asyik mengobrol si cantik-cantik yang sibuk siapkan makanan troli,,, pilot gagah yang menatap jalur indahnya awan sembari mereka menyeruput kopi panas mengemil biskuit berlapis coklat… … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , | Leave a comment

Kami Kalah Karena Dicurangi, Kami Menang Kalian Akan Kudeta

kata-kata berujung pedang tajam bagai sembilu nyeri kasar tak bermoral   kata-kata terlontar cepat dari ungkapan mulut menganga muncul karena otak bereaksi atas hati yang dengki penuh curiga tiada kasih stetespun terhadap sesama   kata  busuk muncul karena  legam gelegar jiwa jauh dari sifat kesatria menang diraih dengan rendah hati kalah diterima dengan dada ringan … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment

Namamu Prabowo

  namamu Prabowo, hidupmu penuh duri meski sejuta buku menjadi santapanmu makan di meja penuh aturan sendok perak di mulut sekalipun kamu alami aneka susah senang yang belum tentu enak dipandang namamu Prabowo, gulita selalu dilempar orang niat baik dianggap garang membantu pekerja perempuan lepas dari tiang gantungan tetap saja kamu ditusuk parang oleh hati … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Inilah Pedih

bila ada silet tajam mampir ke pelipis mengiris kulit luar pelahan namun perihnya kilat berjalan itulah rasa hati manusia yang selalu mengalami bantingan   bila ada air mata tumpah sejagat raya itulah air mata kepedihan dari ibu pertiwi nan cantik kepada bumi yang dipandangnya beserta isi manusianya.. yang kian hari kian pandai mengarang cerita malam … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Itu Adalah Utang Kamu

tatkala kamu berjanji untuk berada di sini pada kurun waktu yang tertetapkan itu adalah utang kamu   saat kamu menyebut sungguh tak berpikir soal lain kecuali mumet dengan banjir yang harus dibenahi itu adalah utang kamu   waktu penggemarmu membuka berita lawanmu  tak pantas berlaga karena aib sudah begitu terbuka punya utang di mana-mana setelah … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment

Si Bleki

Si Bleki menyalak guk..guk..guk.. nyaring sekali membelah langit menggusur tembok tebal   semua karena amarah tulang tak dapat makanan kurang minum air hujan harus menunggu   Si Bleki meraung kesal dan kejam pelurunya salah sasaran mungkin karena senjatanya tak kenal arah menembak di sana yang kena di sini pada tubuh sendiri hingga malu bermunculan akibat … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Selamat Jalan Mama Yani…

suaranya lembut jalannya tangkas otot tangan melebar menggenggam adukan panci pada tungku besar serta wajan raksasa pembuat penganan sempurna lezat….   mama Yani.. begitulah putraku sejak balita memanggilnya saat bayi diam-dia dijejali kerupuk kampung manakala aku sang ibunda meleng sejenak ah.. mama Yani nakal sekali anakku diberi penganan hasil buatannya dengan seenaknya sembari tertawa-tawa…   … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Balai Sarbini

gedung bulat dulu tempatku menari tatkala masih bernama lain.. menjadi nenek sihir putri salju meloncat sana sini menggenggam apel merah beracun lalu aktingku  semakin penuh gelora… tepuk tangan riuh di akhir cerita… ah… indahnya masa SMA.   gedung bulat.. berubah busana kian megah sejuk  di tempat yang masih bulat penuh pesona.. meliuk suara biola denting … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment