browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Puisi

Surat Itu…

surat itu datangnya terlambat saat asmara sudah dibuang lewat pintu asrama jauh menuju samudra terbang ke  negara tetangga   surat itu isinya banci menyatakan maaf karena instruksi bagaimana bisa mengandalkan cinta sejati bila segala keputusan  harus lewat ibu suri   surat itu terhempas dalam genggaman tangan diremas bagai mengunyah tulang belulang sebegitu keras tiada akhir … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment

Sang Caleg Melamun…

    Seorang pria menatap jalanan dari dalam rumahnya tukang sayur sudah menggenjot gerobaknya sembari bersiul riang mbok jamu senyum pagi-pagi dari beban botol kaca di punggungnya.. burung menari-nari melompat dari ujung pagar ke ujung pagar yang lain ujar hatinya, “duh enaknya jadi mereka mampu tertawa lebar leluasa tanpa was-was seperti aku yang ludes harta … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Comments Off

Takut !

takut ! kalau kamu yang maju berada di singgasana tikus tak lagi berpesta gergoti keju  hingga tulang berbagai sikap curang   takut ! kalau kamu di sana geram akan membahana melihat pelabuhan berjaya mengangkut barang berbagai negara dari beras garam kopi coklat tapioka  dan gula   takut ! kalau kau unjuk gigi tak dapat lagi … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Nyoblos Besok !

    tangan kita esok hari adalah sebuah tanggung jawab besar untuk kemudian hari memilih yang salah akan menjadikan negeri ini terulang salah dari garong hingga pengintip video porno di kala rapat, biang bolos kerja sampai urusan memeras kiri kanan, akankah terulang dari para makhluk yang memperoleh upah besar bulanannya dari keringat kita, yang  akan  … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Ada Bunda Putri…

ada bunda putri cantik sekali indah senyumnya legam rambutnya langsing lekuk tubuhnya bunda putri tertawa menahan kepahitan ia harus tetap berbinar demi nama yang terlanjur tenar dari suami yang nakal benar.. bunda putri berakting menjelma menjadi bunda mulia surga ikut neraka turut falsafah turun menurun tatkala perjanjian nikah terwujud bunda putri mengibaskan kebaya mahalnya tenun … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment

Oh, Beruang!!

beruang montok kupeluk dikau bagai tubuh berada di tengah selimut hangat… beruang gendut kucubit dikau karena kamu menggemaskan bisa melirik bibir membasah mata merona semua muncul pada aliran goda beruang cinta pucuk dicinta ulam tiba ada anggukan melayang di tengah awan membelah angkasa dari moncong burung besi membuat orang lain iri… oh beruang tahukah kamu … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Kamu dan Piano

tadi jemarimu di sana luwes memunculkan suara dari piano lebar di depan mata dari cinta lebar zaman baheula… tadi matamu menimpa gamangku musik itu masih menyala lewat sekujur tubuh pria penuh talenta menuju cinta yang tak lagi menyala tertutup cerita masa lalu bagian dari kehidupan menapak ritme lagi-lagi lewat jemarimu… yang heboh lirih bersuara tiada … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Leave a comment

“Nggak Akan Milih Dia”

Siti dan Ijah Parto dan Mamat Reni dan Usa lalu rombongan lain berkipas menderu nafas pulang ngantor melepas lelah duduk di luar rumah petak tirai kain bolong sebelah di sela gerobak dagangan asongan dan koleksi gunting peralatan salon semua tergelak melihat koran acak berita pak RT muncul berkaos oblong keringat sore masih menjalar telingaku panjang … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Antara Was-was dan Senang, Takut dan Penasaran

antara was-was dan senang, takut dan penasaran…. aku pusing tujuh kepalang bila dia jadi orang nomor satu , akankah rendah hatinya tetap terpelihara seperti awalnya dia menang, akankah kebijakannya melegakan hati banyak orang akankah pula ia tidak merasa berutang budi kelewatan kepada pihak-pihak tertentu yang memajukannya? akankah ia menjadi seorang negarawan… akankah pula ia dikelilingi … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment

Kadal Buncit di Balai Kota

kadal buncit nan licik otaknya hanya urusan duit tak peduli dari ujung dunia mana yang penting korupsi sudah terbiasa urusan komisi mutlak dilahap lewat mulut rakusnya kadal buncit di Balai Kota kini banyak garuk-garuk kepala karena pimpinan sekarang adalah sepasang gorila haram jadah ikut-ikutan nyolong harta yang sangat jauh dari haknya… amarah menggelegar luar biasa … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment