browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Puisi

Puisi di Hambalang

  Kupu-kupu melenggang senang di dedaunan  indah Hambalang embun merayap penuh sukma di rerumputan luas   rombongan burung mengobrol senang dengarlah apa kata mereka si penghuni ini memiliki hati yang luas lebih luas dari rumahnya   semua cerca dianggap angin lewat memaafkan adalah bagian dari jiwa… si pemilik rumah ini menjadi raja kesabaran tatkala fitnah … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Leave a comment

Ceu Popong

duh si eceu… merah  jambon menyala busananya menohok keriuhan malam penuh manusia tiada punya adab menerjang menuding serampangan   duh si eceu.. jelita penuh tanda tanya jauh dalam hati nan mulia siapa yang sedang berhadapan dengannya ciptaan Tuhan jenis apa.. yang  tindak tanduk penuh kejam belantara   ceu Popong terlatih dalam darah dagingnya dihadang hewan … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Bermimpi BersamaMU di Depan Ka’bah

bila kuperoleh lagi rizki muncul di depan rumahMU menjadi tamu yang menyemut merasakan kecilnya diri karena Engkau melebihi segalanya   bilakah datang kembali saat itu telapak kakiku menyentuh lantai indah di hadapan ribuan lautan manusia menatap kiswah terjurai aku di depan Ka’bah menyebut namaMU hingga sanubari terdalam… berserah serendah-rendahnya memohon sesujud mungkin…. menuju putaran tawaf … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , , | Leave a comment

Renungan 30 September

  Dulu ada otak berceceran keluar dari batok kepala. Disaksikan anak-anak kandung malang yang terguyur kepedihan dalam isak tangis dan jeritan berkepanjangan. Kekejaman politik dari ambisi partai yg mengerikan menjadi fakta tak terhapuskan. Sekarang ada otak utuh di dalam kepala kalian semua, yang  tak kalian pakai sebagaimana mestinya. Nanti tatkala kekuasaan kejam berulang pada kisah … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Puisi 30 September…

      Seorang lelaki mengusap air matanya desiran angin dingin Eropa melanda hati.. bagaimana mungkin ia melempar  jauh kenangan pahit akhir September…, tatkala lengking jeritan pilu menggema di keluarga para keparat merenggut nyawa sang ayah seenaknya bagai membantai ayam tiada berharga angin Eropa kembali menerpa kepedihan peristiwa puluhan tahun silam  jauh di negerinya… yang  … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Puisi Untukmu, Hai “MK” …

  Awan gelap menyelimuti gedung megah itu bersiap menangis menumpahkan hujan batu kepada makhluk di dalamnya yang berjubah hitam manakala keadilan tak juga ditegakkan…   Apa gunanya mereka belajar tinggi meraih gelar berlama-lama bila kedajalan tak menjadi bahan untuk dimusnahkan?   Keputusan yang digiring malaikat apakah akan diputar kembali oleh  hantu culas… agar yang salah … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Renungan Lebaran (2)

kehangatan telapak tangan saat bersalaman penuh pemaafan diselimuti taburan senyum dan serbuan awan putih bening menghajar gelapnya amarah musnah sudah ribuan kesal kembali kepada dasar kasih.. bisakah?? mampukah…? yang tak bermasalah begitu mudah bermaafan yang sempat bermasalah justru tak keluar ungkapan itu tak secuilpun,,, bagai tak ada tempat untuk memohon maaf tak juga merasa telah … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Marilah Menari….

  marilah menari hey ..hey..hey..hey.. hey kawan akulah di sini hey..hey..hey..hey.. hey kasih…   mari bergembira di atas derita dan tangis mereka… yang penting kita juara …   siapa bilang dia menang kotak suara banyak yang sudah ditendang kalau menang nanti kita tak kebagian padahal sudah rencana bagi-bagi kekuasaan heeeeeeeyyyyy.. heeeeeeeeyyyy..   marilah kemari hey.hey..hey..hey.. … Continue reading »

Categories: Puisi | 2 Comments

Ketika Kami Sudah Kehabisan Kata

kami hanya tercenung bungkam terpana pedih terkesima   ketika kami sudah kehabisan kata.. maka hanya hati yang bersuara telinga bagai tak tersusupi bunyi kebaikan sebab jelaga tumpah di sekitar muka kami kehabisan kata tak mampu berbicara   kedajalan merajalela lalu kami  bisa apa bila yang salah dibenarkan yang benar ditindas mampus kami kembali menganga tanpa … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Putriku yang Cantik Tetap Tersenyum

menggeliat menahan lara sakit sekujur tubuh luar biasa namun wajah perihnya selalu berhias senyum seakan ia selalu berkata kepada ayah bunda serta suaminya juga putra ciliknya aku tidak apa-apa.. semua bisa teratasi…   putriku yang cantik bila boleh sakitmu pindah ke kami agar derita tak terlalu berat agar kau bisa berlama-lama merasakan mahligai bahagianya rumah … Continue reading »

Categories: Puisi | 1 Comment