browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Puisi

Oom Bob dan Celana Kuntungnya

sini cantik belanja apa kamu kok rapi belanja apa begitu selalu ujarmu, berkali-kali dengan kata-kata yang sama Oom Bob Sadino yang bercelana kuntung yang selalu saya protes yang sering saya ejek sembari bergurau punya uang banyak punya supermarket besar beli baju kok pelit Oom… hehe.. itulah jawabannya sembari kadang tangannya menjulur berpura-pura ingin mencubit tahun … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , | 2 Comments

Ajal

Ajal – – - tatkala awan cerah menjadi gulita, kecamuk jiwa tak lagi teredam, ledakan kiat selamat dicari sekilat-kilatnya, meraih udara jernih penuh leluasa, namun apabila latak bumi bergerak retak, ajal ditetapkan oleh Sang Empunya, maka manusia hanya berhimpun penuh doa, simpuh kelam tersebar merata.. Akal sehat tak mampu sempurna.. Ajal..ajal…sudah direngkuh ketentuan dari Nya…., … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Pesawatku

jauh menuju angkasa luas menerpa angin udara indah maupun mencekam menjadi tantangan sepanjang nafas pesawatku adalah pesawatmu juga… lepas berkibar membawa jiwa ke tujuan utama yang duduk manis melamun ke berbagai penjuru dunia gegap gempita malas tertidur pulas bahkan sedari mengudara menunggu makanan datang saja pesawatku yang juga pesawatmu menjelma menjadi penyelamat bersama sang sopir … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

(Video) Membaca Sastra, Membaca Bangsa

Categories: Media, Puisi | Leave a comment

Kisah Reporter Muda

  inilah kisah reporter  muda yang terbelah kepalanya terbelah hatinya terbelah akal sehatnya tatkala ia mendapat perintah dari majikan di media megah   Reporter muda kusut masai tampilannya sebagaimana suasana hidupnya.. repot bingung kusut… mobil hitam di lapangan harus diberitakan sebagai mobil putih.. si sumber  jelas-jelas  berkata tidak harus ditulis ‘dengan tegas  si sumber berkata … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Suara yang Selalu Lantang

  suaraku lantang suaramu lantang.. suara kami lantang suara kita lantang menggema menembus awan melintang di jalanan membelah ladang dan lautan menyembur hingga pelosok hutan   tapi mengapa suara itu bukan milik kalian..? kalian yang dibutakan oleh pencitraan.. kalian yang tak tersentuh oleh kemiskinan oleh ngawurnya kebijakan oleh seringnya kedangkalan berpikir..   apakah karena kalian … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Ceu Popong

duh si eceu… merah  jambon menyala busananya menohok keriuhan malam penuh manusia tiada punya adab menerjang menuding serampangan   duh si eceu.. jelita penuh tanda tanya jauh dalam hati nan mulia siapa yang sedang berhadapan dengannya ciptaan Tuhan jenis apa.. yang  tindak tanduk penuh kejam belantara   ceu Popong terlatih dalam darah dagingnya dihadang hewan … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Bermimpi BersamaMU di Depan Ka’bah

bila kuperoleh lagi rizki muncul di depan rumahMU menjadi tamu yang menyemut merasakan kecilnya diri karena Engkau melebihi segalanya   bilakah datang kembali saat itu telapak kakiku menyentuh lantai indah di hadapan ribuan lautan manusia menatap kiswah terjurai aku di depan Ka’bah menyebut namaMU hingga sanubari terdalam… berserah serendah-rendahnya memohon sesujud mungkin…. menuju putaran tawaf … Continue reading »

Categories: Puisi | Tags: , , , | Leave a comment

Puisi 30 September…

      Seorang lelaki mengusap air matanya desiran angin dingin Eropa melanda hati.. bagaimana mungkin ia melempar  jauh kenangan pahit akhir September…, tatkala lengking jeritan pilu menggema di keluarga para keparat merenggut nyawa sang ayah seenaknya bagai membantai ayam tiada berharga angin Eropa kembali menerpa kepedihan peristiwa puluhan tahun silam  jauh di negerinya… yang  … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment

Renungan Lebaran (2)

kehangatan telapak tangan saat bersalaman penuh pemaafan diselimuti taburan senyum dan serbuan awan putih bening menghajar gelapnya amarah musnah sudah ribuan kesal kembali kepada dasar kasih.. bisakah?? mampukah…? yang tak bermasalah begitu mudah bermaafan yang sempat bermasalah justru tak keluar ungkapan itu tak secuilpun,,, bagai tak ada tempat untuk memohon maaf tak juga merasa telah … Continue reading »

Categories: Puisi | Leave a comment