Fitnah

Sekejam apakah fitnah ? Pedang tajam pun belum apa-apa dan tak sebanding dengan lontaran fitnah. Jangan lupa, pernah ada seorang diplomat karir yang diserang fitnah habis-habisan lalu ia tak diberi jabatan apapun di instansinya. Keuangan menjadi morat-marit, berjualan ini itu dan menjadi sopir taksi gelap untuk menjemput penumpang dari stasiun Gambir. Tuhan seakan-akan membiarkan nestapa melanda laki-laki itu beserta seluruh keluarga besarnya.

 

Namun buah manis yang dipetik akhirnya bisa dinikmati dengan kebahagiaan tiada tara. Monas yang dulu hanya sekadar dilihat dari stasiun dan dari dalam taksi butut sewaan, kini menjulang berbalik memperhatikannya yang acapkali mondar-mandir menyambut tamu agung dari negeri luar. Ia menjadi orang terhormat kembali, dibutuhkan presiden dan menterinya. Derajatnya kembali naik dan cemerlang. Fitnah telah membuahkan hadiah indah luar biasa.

 

Itu baru salah satu contoh kejadian hidup anak manusia. Bagaimana dengan yang lain ? FITNAH memang kejam luar biasa. Dilontarkan oleh mulut-mulut keparat demi memuluskan ambisinya. Durna pengadu domba yang berbahaya menjalar ke mana-mana. Namun mereka lupa, sang korban suatu saat memperoleh hadiah luar biasa dahsyat cemerlangnya….. yang tiada pernah kita ketahui kapan waktuya…

Categories: Opini | Leave a comment

Putriku yang Cantik Tetap Tersenyum

menggeliat

menahan lara

sakit sekujur tubuh

luar biasa

namun wajah perihnya

selalu berhias senyum

seakan ia selalu berkata

kepada ayah bunda serta suaminya

juga putra ciliknya

aku tidak apa-apa..

semua bisa teratasi…

 

putriku yang cantik

bila boleh sakitmu pindah ke kami

agar derita tak terlalu berat

agar kau bisa berlama-lama

merasakan mahligai bahagianya rumah tangga

 

senyummu lama-lama tak banyak lagi..

kami tahu..

paham benar..

bahwa nyeri melanda di luar kesanggupanmu lagi..

ah.. tapi lihatlah

kau mulai tersenyum lagi…

sembari memandang si cilik yang akan tak punya bunda lagi…

memandang belahan jiwamu yang mengikat janji   di muka kadi,,

menatap kami, ayah bundamu yang lemas…

 

lalu senyum itu muncul lagi

putriku bagai bidadari

senyum di kulum merebak kembali

lalu malaikat datang..

dewa dewi menghampiri…

menjemput untuk pergi

jauuuuuh sekali..

tanpa derita lagi..

tanpa nyeri lagi…

menyusup ke gumpalan awan putih..

seputih hatimu..

tanpa air mata..

aku pun  menghapus air mata terakhir

karena meyakini seyakin-yakinnya

putriku kini sudah pada tempat terindahnya…

terpelihara dengan segenap cinta…

lagi-lagi dengan senyum..

tetap tersenyum…

Tuhan… kutitipkan anakku dengan ikhlas..

hingga kelak  suatu saat kami berjumpa kembali

dengan senyum yang sama….

*******************************************************

 

 

(terinspirasi dari perginya Almira)

 

Categories: Puisi | 1 Comment

Horeeee, Apakah Bonus Lebaran Itu Barokah?

Berbagai keluarga bergembira. Bonus diterima, gaji naik, hadiah lebaran, uang THR, plus bonus prestasi atas daya tembus sumber yang hebat, dan membuat skenario dahsyat apapun untuk kepentingan pemilik kantor. Baju baru, makanan enak, kue lebaran… semua sudah di depan mata. Darah dialiri uang prestasi semacam itu untuk penganan keluarga. Dinikmati anak, istri, suami, orang tua, mertua, cucu….

Setan menari-nari….. tertawa di selipan tumpukan lembaran uang. Katanya, ‘Silakan menikmati rizkimu,,, atas hasil mengarang bebas merekayasa berita.., atas kekejaman kalian kepada sang sumber yang sehari-hari kalian tulis dari kacamata negatif, atas keberhasilan kalian memutarbalikkan fakta dengan keji, mengacak-acak emosi dan pembentukan opini pembaca dan penonton, untuk tujuan pemenangan dan kepuasan kalian….hahahaaa…., aku adalah SETAN yang sukses…, berhasil menempatkan kalian sebagai manusia DAJAL serupa dengan kedajalan kami… horeeeeee… SELAMAT BERLEBARAN YAAAAA… !!! Nikmati rizki “berkah” kalian, senikmat-nikmatnya…!’

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Antara Riang Menang di Atas Kepedihan

Sebentar lagi keriangan akan merebak di mana-mana. Gembira karena perjuangan murni, riang karena pembalasan kebencian. Semua berbaur menjadi satu. Tak ada hidup yang selalu mulus dan tanpa cobaan. Tak ada pula hanya malaikat yang mengitari bumi. Sebab Tuhan pun menciptakan panjang dan pendek, besar kecil serta pahit manis dan gelap benderang.

Kemenangan atas segala upaya, adalah sah-sah saja. Tapi cara menuju kemenangan, tak akan mungkin tanpa pencermatan Ilahi…sebab hanya DIAlah Yang Mengetahui Segalanya. Ya, hanya DIA yang Maha Paham…, setiap langkah dan nawaitu, niat yang terkandung di dalam langkah perbuatan hambaNYA.Mashalat maupun mudharat, jangan dikira tak tercatat dalam ‘buku’ NYA…

Manusia disentuh oleh takdir Sang Rabb, dan rahasianya tetap dipegang pula oleh NYA… hikmahnya, jalan cerita ujungnya kelak, serta segala akibatnya.
Berpasrah diri, ikhlas, dan menutup hati dari segala kepedihan adalah ikhtiar orang-orang yang masih menganggap dirinya beriman. Bila kita meyerahkan sepenuhnya kepada Sang Kekasih, maka tubuh, pikiran, hati akan terasa ringan kembali. Dan kembali pula menjalankan kehidupan dengan selalu meminta ridho Allah…. dijauhkan dari niatan culas, jauh pula dari lingkungan ketidakjujuran, dibersihkan hati dari lumpur congkak, agar tak perlu menyimpan rasa takabur berbangga hati berkepanjangan…..

Terima kasih Tuhan, selama ini Engkau tak lepas membimbing kami….dan menguatkan kami senantiasa tatkala hina dina iri dengki secara tersembunyi serta fitnah keji dan penistaan bertubi-tubi menghampiri. Engkau masih dan tetap dan akan selalu menjadi Kekasih kami….

Categories: Opini | 3 Comments

Beterbangan !

tatkala rudal tepat sasaran

menuju sembarang langit tak berbatas

yang terbang beterbangan

hancur seketika berkepingan

tiada berbentuk rupa

besi berbentuk burung angkasa segera lebur

manusia entah sedang mengapa sebelumnya

yang asyik mengobrol

si cantik-cantik yang sibuk siapkan makanan troli,,,

pilot gagah yang menatap jalur indahnya awan

sembari mereka menyeruput kopi panas

mengemil biskuit berlapis coklat…

yang sibuk menonton film dari pesawat

yang tengah menikmati lelap…

yang tengah berzikir

menunaikan kewajiban sholatnya…

maupun kakak beradik  berpelukan sembari mata asyik terpejam

hingga oleh-oleh di bagasi untuk tanah air

telah siap dibagi kepada sanak saudara

di kampung halaman..

duh betapa perihnya…

semua  lenyap tak terlaksana

 

beterbangan !

seluruh tubuh manusia yang tak bersalah itu..

semua atribut kehidupan

segala harapan dan rencana liburan…

segenap cita-cita masa depan…

tinggal menjadi berita duka amat pedih

 

rudal tak tahu sopan

betapa kejam menghantam bagai kesurupan

manusia beterbangan

manusia beterbangan

itulah garis yang ditetapkan Tuhan…

menjadi pelajaran bagi seluruh penduduk bumi

cita-cita

khayalan

ambisi

rencana muluk

akal-akalan

kelicikan

hingga kejujuran sekalipun…

mampu dibuat Sang Kuasa  tak berbekas

secuilpun..

ya.. secuilpun

hingga berkeping-keping maksud tak sampai

beterbangan..

beterbangan….  !!!

Atas ketetapan Tuhan….

Categories: Puisi | Tags: , , | Leave a comment

Saya Ingin Prabowo Presiden RI, Tapi Kalau Tidak Jadi??

 

Bagi saya, Prabowo tidak jadi presiden pun tidak masalah. Yang penting dia sudah berikhtiar sangat maksimal dan banyak sekali rakyat yang respek, jatuh sayang, hormat, melihat dengan mata kepala langsung soal kecerdasannya saat ia tampil di mana-mana, terutama selama debat berlangsung. Caranya berbicara yang elegan dan sangat terpelajar, terukur, gigih, dan masih banyak ternyata orang yang ikhlas tanpa diminta sepanjang waktu tetap mendoakannya -  lelaki Indonesia yang sejak remaja baru sekarang  kita ketahui ia sudah memikirkan dan berbuat sesuatu untuk pembuatan irigasi di Indonesia. Dan tak heran bila ia akan terus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi negerinya dengan segunung idenya. Ribuan anak yang sudah disantuni sekolah sejak sebelum urusan copras capres tetap dilakukannya.  Organisasi olah raga yang tetap ditekuni dan lagi-lagi, diurusnya  tanpa pamrih. Dan banyak lagi rencana yang sudah tersimpan di kepalanya. Semua demi negeri ini.
Prabowo telah memperoleh tempat di hati rakyat – kalau saja ternyata pada akhirnya tanpa memiliki predikat menjadi presiden sekalipun. Itu menjadi hal yang sangat berharga. Satu lagi yang maha penting, rakyat mulai banyak sekali belajar darinya, bagaimana ‘nrimonya’  dia,  dengan sabar sekali bersikap tatkala sepanjang menit  dihina difitnah keji diplintir ucapannya,  hingga dihajar gosip urusan internal privasinya, dan dianggap sebagai warga negara Indonesia yang bagai belum pernah berjuang bertaruh nyawa membela NKRI di tengah hutan seram dan daerah2 berbahaya lainnya, dan dianggap pula manusia tiada pernah berguna  seakan-akan ia  bukanlah  bangsa Indonesia yang memiliki kualitas dan kelebihan dalam karir demi bangsa ini yang sudah sempat dia raih selama ini.
Tuhan Maha Pembuka Tabir dan Penguasa Rahasia Kehidupan…., terutama pilihanNYA bagi orang-orang yang kejam.Maka, sebenarnya sah-sah saja bila tetap kita doakan kalau  memang itu adalah saatnya yang dikehendaki Tuhan, Prabowolah yang memimpin negeri ini.
Kita boleh berharap, namun kita juga bisa sekaligus menjadi penonton yang harus sadar penuh : tak ada keputusan Tuhan yang bisa dimajumundurkan…. dan, lagi-lagi, tak ada yang pernah tahu hikmah dari segala peristiwa, selain DIA yang membukanya kelak….
Categories: Opini | 4 Comments

Sabar

Tukang bangunanku namanya si Sabar. Sudah hampir tiga minggu ia berada di rumahku. Membetulkan kamar yang bocor amburadul, memoles teras belakang yang sudah seperti monster butut, hingga lemari piring yang pintu-pintunya sudah mulai ngadat.
Sabar bekerja bersama anaknya. Dia boss, anaknya jadi kenek. Selama bulan puasa berjalan, Sabar dan anaknya tetap berpuasa. Mengerok tembok berjam-jam, memakai topi agar tak kepanasan ketika mulai bekerja di halaman belakang, dan keringat peluhnya ke mana-mana. “Kamu tetap puasa Bar?’, tanyaku. “Iya bu… sayang dong kalau nggak puasa. Berat sih berat nih sembari kerja begini, tapi kok ya bisa aja bu.., tau-tau sudah hampir bedug maghrib,” jawabnya sembari nyengar-nyengir. Aku bertambah kagum padanya. Rakyat kecil yang tabah, gigih, dan memang sesuai dengan namanya : Sabar.

Lalu aku mengulang-ulang kata itu, sabar…sabar.. sabar…
Duh, betapa kita sering tidak sabar menghadapi sesuatu. Jalanan super macet dan kita terjebak di mobil berAC masih juga mengomel panjang pendek. Tak ada kesabaran untuk menunggu barang sejenak. Padahal, di kiri-kanan kita juga mengalami hal yang sama, terutama orang-orang yang duduk di kopaja, di bis dengan berdiri bergelantungan. Sabar pula mereka yang menanti tak kunjung datang bis-bis yang datang ke halte di pinggir jalan. Kita sering tak sabar melihat pembantu rumah tangga kita bekerja lamban ataupun melihat presiden kita yang sering juga lamban dalam mengambil keputusan. Kita tak sabar menunggu bedug maghrib untuk berbuka puasa berbunyi. Kita tak sabar melihat anak kita yang bandel, ataupun untuk antre masuk pintu lift sekalipun — yang di dalam belum keluar, kita sudah ingin nyondol masuk ke dalam lift. Kita juga gregetan menunggu antrian salaman di pesta kawin dan rasanya ingin nyerobot saja ke depan sebagaimana yang selalu dilakukan secara istimewa terhadap tamu-tamu terhormat lainnya.

Banyak sekali ketidaksabaran yang kita lakukan tanpa kita mencubit diri sendiri. Tanpa malu dan tanpa kesadaran bahwa hidup kita masih jauh lebih beruntung ketimbang orang lain. Kita ingin yang serba instan, tanpa proses, menduduki posisi jabatan sesegera mungkin menjulang tinggi.

Diam-diam kuamati tangan si Sabar, si tukang cat. Dengan busana kaos belepotan cat, ia memoles tembok dengan rapi dan cermat sekali. Ia pun menjalankan pekerjaanya melalui sebuah proses panjang. Tak mungkin tembok langsung ditimpa cat baru. Harus ada pengerokan lebih dahulu, dibersihkan satu persatu, dan pemilihan bidang tembok yang tidak rata dibetulkan pula lebih dahulu. Semua dengan proses. Duh, andaikan pak Gubernur kita menyadari penuh tanggungjawab janjinya serta menikmati posisi tingginya sebagai gubernur, menjadi orang yang sabar untuk menunggu saatnya tiba untuk meraih kedudukan yang jauh lebih tinggi lagi dengan gemilang…, suasana di negeri ini tak akan gemuruh seperti sekarang ini. Ramadhan kali ini sungguh penuh dengan embun gelap sejak dini hari hingga bulan yang bersinar redup mengawali malam. Kalau cerita awal dimulai berbeda dan penuh cinta kasih, tentu tak ada pertikaian antara suami istri, ibu dan anak, tetangga, persahabatan kiri kanan, hingga hubungan kekeluargaan yang indah, hanya gara-gara cinta buta dalam menentukan jagoannya. Betapa sabar itu memang indah, sesungguhnya……

 

 

Categories: Opini | Leave a comment

Uang Bukan Segalanya

Empat direktur bank klenger di ruang rapat.  Butiran keringat satu persatu meleleh ke ujung rambut hingga leher mereka yang gendut.  Padahal ruang kerja mewah mereka begitu sejuk oleh pendingin yang tiada henti.

“Jadi bagaimana nih? Kita harus kompak lho, satu bahasa yang sama. Untuk hantam si menteri, kita harus bilang memang dia yang paksa kita untuk keluarkan kredit. Jangan ada yang bilang berbeda, nanti ketahuan  bohongnya kita!”, ujar salah satu di antara empat babe itu.

Dasi mewah mereka terasa kuyu menggantung di dada. Tak ada lagi nyawa rasanya.  Koran sudah meributkan uang yang digelontorkan seenaknya bagi si engkoh yang katanya akan bangun pabrik, bikin  perumahan mentereng, menghidupkan petani dan nelayan, padahal semua itu ngibul bin dusta. Duit sudah lenyap. Plus komisi juga sudah dimakan anak istri di rumah.

Yang satu lagi berkata, “Kita harus juga bungkam si pilot, yang sudah bawa pak menteri ke luar kota pada tanggal segitu. Dia harus ngaku bawa pak menteri bukan tanggal itu tapi tanggal yang beda, bulan yang beda. Sialan banget sudah ada yang kejar-kejar pilot untuk diwawancara. Bisa bubar nih rekayasa kita”. Ujar yang satunya lagi, “Iya , segera harus diskenariokan cerita seperti itu. Kita kan mau ngarang bahwa pada tanggal sekian itu, yang sebetulnya dia sedang di pesawat udara, ceritakan saja dia memanggil kita di ruang kerja, ngomel-ngomel, gebrak meja, marah-marah, memaksa kita untuk mengubah aturan dan keluarkan uang. Kalau kita punya cerita yang sama, dia pasti tidak bisa berkutik!”

Beberapa hari kemudian.  Pak pilot didatangi oleh salah satu di antara bapak direktur. Bawa tas kresek berisi dolar segepok. Menggiurkan memang. “Captain, tolong  jangan bongkar tanggal kepergian bawa pak menteri tanggal yang asli ya. Bilang saja hari apa tanggal apa dan bulan apa, ngarang-ngarang saja,” bujuk sang koruptor itu.  “Ini imbalan yang cukup wajar, Anda bisa beli 5 rumah sekaligus, 5 mobil sekaligus, dan sekolahkan anak ke luar negeri”, ujarnya lagi.

 

Pak pilot melongo. Matanya menyapu sudut-sudut rumahnya. Bersahaja. Tembok mengelupas di mana-mana. Bukannya gaji tak cukup, namun biaya sekolah ketiga anaknya lumayan  besar karena disekolahkan di tempat yang terbaik. Mobil dua sudah tahun jadul. Tabungan ada, namun lagi-lagi untuk persiapan sekolah anak di masa mendatang.  Tapi untuk urusan harus memanipulasi data?  Ada daftar log,  saat ia menerbangkan pesawat dengan catatan lengkapnya. Siapa penumpangnya, hari dan tanggal begitu jelas, serta  jam keberangkatan menuju  lokasi.

Hatinya kecut. “Sebentar pak, saya  ke dalam dulu,” ujar sang pilot.  Istrinya, yang sudah nguping sejak awal, dihampirinya di kamar. Ia menatap wajah sang istri. “Ma, kamu mau kan kita hidup selamat  hingga akhirat? Sedangkan nyawa papa saja selalu di ujung tanduk bila sudah mengudara  di tengah awan. Selalu kita harus siap bawa tabungan ‘kan?  Tabungan untuk akhirat. Bukan tabungan duniawi, apalagi yang seperti di tas kresek besar banget itu ma…”, ujarnya lirih. Telapak tangannya terasa dingin saat digenggam oleh istrinya. “Mama bangga pada papa. Itulah harta kita pa,  kejujuran. Tidak ada yang lain. Kembalikan uang itu. Sebab belum tentu nyawa serta kesehatan anak kita aman-aman saja kalau kita telan uang itu…”

Pak pilot kembali ke ruang tamu.  “Pak direktur, maaf, silakan kembali pulang dan bawa dolar itu lagi. Kami memang butuh uang pak, tapi bukan begitu caranya…., saya takut uang haram itu suatu hari akan menghajar kami pak. Anak yang kurangajar, tidak sehat, tidak happy hidupnya, sekolah tidak beres, dan lain-lain pak. Sebab tiap sendok butiran nasi yang saya berikan kepada anak-anak saya, adalah  hasil rizki yang semestinya pak. Saya bertahun-tahun kerja begini, meninggalkan anak istri berminggu-minggu bahkan, tanpa rasa takut, karena kami tahu persis ada yang selalu menjaga kami… yaitu keimanan yang kental…. maaf pak, uang bukan segalanya bagi kami….”

Direktur sialan itu ngeloyor pergi. “Dasar orang nggak tau diri. Miskin tapi sombong banget”,  begitu gerutunya di dalam mobil, sembari sopirnya mendengar kata-kata ejekan itu dengan jelas. Sembari menyetir, sopir bergumam, “Ya ampun tuan… bentar lagi tuan deh yang masuk bui. Soalnya tuan miskin juga, tapi miskin moral. Miskin hati…. Duh tuan… uang bukan segalanya…”

Ya, uang bukan segalanya. Sebegitu banyak godaan di seputar kehidupan manusia. Sogok menyogok,  berupaya memanipulasi data mendongkrak angka dalam hal apapun agar menjadi juara, diimbangi dengan dana yang super raksasa.., tampaknya betul-betul rejeki yang luber ke mana-mana…. dan membuat mata berwarna warni sepanjang hari….  tapi benarkah akan begitu selamanya?  Uang bukan segalanya bagi pak pilot… tidak juga bagi si sopir , yang majikannya akhirnya mendekam di hotel bui selama enam tahun sazaaaaaaa…, bersama direksi bangkotan yang lainnya. Emang enaaaak..??!

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Pemilu Oh Pemilu…

 

Semula kupikir, kemarin adalah hari mencengangkan yang indah. Presiden terpilih sudah nampak jelas. Indonesia menerimanya. Salah satu yang tak terpilih pun menerimanya.

Namun ternyata keadaan tak semudah itu. Aku lupa, dalam pencapaian sesuatu ada jalan berliku, bergerigi, dan berhantu. Ada cara yang tak dihalalkan. Ada jalan pintas. Ada kelicikan yang bisa saja terjadi. Aku begitu naif sudah amat bergembira untuk menyambut hasil tanggal 9 kemarin. Begitu naif memang.

Usai sahur aku merenung. Indahnya hidup terasa terganggu dengan peristiwa kemarin- sebab kemarin ternyata bukanlah pesta. Ya, bukan pesta demokrasi yang didengang-dengungkan, yang keluar dari bibir dengan santainya. Aku mencoba kembali mengurut kejadian. TPS (Tempat Pemungutan Suara) mulai ditutup pukul 13.00 siang. Di seluruh Indonesia. Saat itu orang mulai sibuk menghitung, mencatat, dan mencermati hasil pungutan suara. Alangkah fantastisnya sekitar pukul 14.30-an Megawati sudah mengeluarkan air mata haru, tatkala dari mulutnya sendiri keluar pernyataan bahwa Jokowi telah menang. Aku terpana sejadi-jadinya. Bagai mimpi. Bagai tak percaya ada televisi sedang berbunyi di hadapanku. Kulihat Jokowi, Wiranto, berwajah tegang. Ada apa ini?

Ow, ternyata pemenangan perhitungan cepat, quick count, sebuah istilah yang kini sedang populer dan terasa sakti. Orang-orang di seputarnya menari tertawa dan luapan emosi gembira terus menerus. Bagaimana mungkin atas dasar perhitungan cepat mereka bisa menyatakan dirinya menang? Suasana kemenangan diciptakan sedemikian rupa, sehingga orang pandai pun bagai disihir menjadi bodoh. Apalagi orang awam yang tak paham apa-apa, tentu akan menganggap itulah detik-detik kemenangan mutlak mereka. Mana mengerti mereka tahap-tahap pencapaian suara, mana mengerti pula mereka pada istilah ‘quick count’ itu? Angka di tengah menunjukkan prosentase, angka yang mengagumkan bagi yang merasa dirinya menang, sementara jelas-jelas angka yang tertera di tengah dalam ukuran yang lebih kecil menyatakan perhitungan suara masih belum bulat 100 %.

Aku bertambah bingung. Teman-teman panik. Ibu-ibu petinggi negara pun saling berteleponan. Tetangga demikian juga. Aku menghubungi Nina Akbar Tanjung. Ia bersuara lantang, “Lha di dekat rumahku ini ngitung juga durung rampung Lin ! Piye to’ wes ngaku-ngaku menang?”. Aku tertegun. Betul juga.

Kembali otak warasku bekerja. TPS ditutup jam satu siang. Tak sampai dua jam apakah pemenang sudah diketahui mutlak? Lalu, survey itu, perhitungan cepat itu, dilakukan oleh siapa? Lembaga resmikah? Atau bayarankah ? Maka atmosfir kemenangan makin bergulir. Media elektronik leluasa menyiarkannya dengan segera, ya tentu saja media yang dimiliki oleh grup yang mengaku sebagai pemenang dadakan itu. Media on line sama saja. Bagai raja diraja menguasai negara, mereka bisa sekehendaknya saja menuai berita. Itulah hebatnya pemilik media ! Lalu muncul massa di seputar bundaran Hotel Indonesia. Menari-nari serta meluapkan emosi bahagia. Seakan -akan keputusan itu memang sudah final. Atau mereka memang malah tidak tahu secuil pun bahwa pengumuman menang itu adalah bukan pengumuman resmi. Yang diingat hanyalah: “Sudah menang !” .

Penciptaan suasana yang berbahaya pun bergulir. Rekayasa urutan kejadian sudah terbaca. Mengumumkan sebelum final, manusia bergembira, massa berkumpul untuk menunjukkan kepada dunia di jalanan Jakarta bahwa pemenang sudah tercipta. Sorotan kamera televisi dimainkan, untuk disiarkan ke mana-mana di pelosok negeri. Kalau kata remaja masa lalu : ‘cucok’ ! ‘keyeeeeen’…., ‘cantiiiik’ .. ! Apakah kita lupa, di sana, di tempat-tempat manusia Indonesia yang hidup tenteram, menjadi terkocok-kocok suasana hatinya. Emosi tak terjaga lagi. Bingung dan tak tahu lagi mana berita yang sesungguhnya bisa dipegang secara benar. Permainan cantik yang menciptakan manusia bergembira belum pada waktunya, kemudian apabila kelak pengharapan tidak dicapai, pengumuman resmi digelar, akan menganggap bahwa pemenangan semu itu adalah asli dan harus dilawan untuk diperjuangkan tetap menang? Astaqfirullah….

Ada yang bergembira ria. Ada yang melongo merasa terzolimi dan memperoleh perlakukan yang sangat tidak adil, dari skenario yang tersistem dan ‘cerdik’ sekali. Lalu, aku mau apa? Aku hanya rakyat biasa. Sehari-hari di depan tungku dapur. Memasak dan menjual makanan, menulis membuahkan karya seada-adanya. Aku tidak berkantor, tidak pula hidup dalam berkelimpahan sehingga bisa tiap hari hanya ongkang-ongkang ikut arisan, syoping maupun les dansa. Aku hanya ingin perubahan bagi negeri ini. Perubahan yang cemerlang . Penuh kejujuran. Bagaimana kita bisa menikmati semua itu bila jalan yang ditempuh sejak awal sudah dengan gumpalan jelaga yang memang sudah dipersiapkan ??

Ini bulan suci. Aku percaya pada kehebatan MU ya Allah. Yang benar jadikan benar. Yang mudharat dibukakan tabir sejelas-jelasnya. Aku sudah lelah. Begitu pula orang lain. Kucoba mengingat kembali kesulitan dunia. Kucoba mengingat-ingat kalimat pada ayat yang begitu bermakna ; ‘Fa inna ma’al usri yusraa, Inna ma’al usri yusraa — maka sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan.., sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan……

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Kami Kalah Karena Dicurangi, Kami Menang Kalian Akan Kudeta

kata-kata berujung pedang

tajam

bagai sembilu nyeri

kasar

tak bermoral

 

kata-kata terlontar cepat

dari ungkapan mulut menganga

muncul karena otak bereaksi

atas hati yang dengki

penuh curiga

tiada kasih

stetespun

terhadap sesama

 

kata  busuk muncul karena  legam gelegar jiwa

jauh dari sifat kesatria

menang diraih dengan rendah hati

kalah diterima dengan dada ringan

semua tak muncul dalam ungkapan

tak ada dalam diri  serta pemikiran mereka..,

dari orang-orang yang melontarkan kata kejam ini :

Kami Kalah Karena Dicurangi,

Kami Menang Kalian Akan Kudeta ………

 

Categories: Puisi | 1 Comment