Uang Bukan Segalanya

Empat direktur bank klenger di ruang rapat.  Butiran keringat satu persatu meleleh ke ujung rambut hingga leher mereka yang gendut.  Padahal ruang kerja mewah mereka begitu sejuk oleh pendingin yang tiada henti.

“Jadi bagaimana nih? Kita harus kompak lho, satu bahasa yang sama. Untuk hantam si menteri, kita harus bilang memang dia yang paksa kita untuk keluarkan kredit. Jangan ada yang bilang berbeda, nanti ketahuan  bohongnya kita!”, ujar salah satu di antara empat babe itu.

Dasi mewah mereka terasa kuyu menggantung di dada. Tak ada lagi nyawa rasanya.  Koran sudah meributkan uang yang digelontorkan seenaknya bagi si engkoh yang katanya akan bangun pabrik, bikin  perumahan mentereng, menghidupkan petani dan nelayan, padahal semua itu ngibul bin dusta. Duit sudah lenyap. Plus komisi juga sudah dimakan anak istri di rumah.

Yang satu lagi berkata, “Kita harus juga bungkam si pilot, yang sudah bawa pak menteri ke luar kota pada tanggal segitu. Dia harus ngaku bawa pak menteri bukan tanggal itu tapi tanggal yang beda, bulan yang beda. Sialan banget sudah ada yang kejar-kejar pilot untuk diwawancara. Bisa bubar nih rekayasa kita”. Ujar yang satunya lagi, “Iya , segera harus diskenariokan cerita seperti itu. Kita kan mau ngarang bahwa pada tanggal sekian itu, yang sebetulnya dia sedang di pesawat udara, ceritakan saja dia memanggil kita di ruang kerja, ngomel-ngomel, gebrak meja, marah-marah, memaksa kita untuk mengubah aturan dan keluarkan uang. Kalau kita punya cerita yang sama, dia pasti tidak bisa berkutik!”

Beberapa hari kemudian.  Pak pilot didatangi oleh salah satu di antara bapak direktur. Bawa tas kresek berisi dolar segepok. Menggiurkan memang. “Captain, tolong  jangan bongkar tanggal kepergian bawa pak menteri tanggal yang asli ya. Bilang saja hari apa tanggal apa dan bulan apa, ngarang-ngarang saja,” bujuk sang koruptor itu.  “Ini imbalan yang cukup wajar, Anda bisa beli 5 rumah sekaligus, 5 mobil sekaligus, dan sekolahkan anak ke luar negeri”, ujarnya lagi.

 

Pak pilot melongo. Matanya menyapu sudut-sudut rumahnya. Bersahaja. Tembok mengelupas di mana-mana. Bukannya gaji tak cukup, namun biaya sekolah ketiga anaknya lumayan  besar karena disekolahkan di tempat yang terbaik. Mobil dua sudah tahun jadul. Tabungan ada, namun lagi-lagi untuk persiapan sekolah anak di masa mendatang.  Tapi untuk urusan harus memanipulasi data?  Ada daftar log,  saat ia menerbangkan pesawat dengan catatan lengkapnya. Siapa penumpangnya, hari dan tanggal begitu jelas, serta  jam keberangkatan menuju  lokasi.

Hatinya kecut. “Sebentar pak, saya  ke dalam dulu,” ujar sang pilot.  Istrinya, yang sudah nguping sejak awal, dihampirinya di kamar. Ia menatap wajah sang istri. “Ma, kamu mau kan kita hidup selamat  hingga akhirat? Sedangkan nyawa papa saja selalu di ujung tanduk bila sudah mengudara  di tengah awan. Selalu kita harus siap bawa tabungan ‘kan?  Tabungan untuk akhirat. Bukan tabungan duniawi, apalagi yang seperti di tas kresek besar banget itu ma…”, ujarnya lirih. Telapak tangannya terasa dingin saat digenggam oleh istrinya. “Mama bangga pada papa. Itulah harta kita pa,  kejujuran. Tidak ada yang lain. Kembalikan uang itu. Sebab belum tentu nyawa serta kesehatan anak kita aman-aman saja kalau kita telan uang itu…”

Pak pilot kembali ke ruang tamu.  “Pak direktur, maaf, silakan kembali pulang dan bawa dolar itu lagi. Kami memang butuh uang pak, tapi bukan begitu caranya…., saya takut uang haram itu suatu hari akan menghajar kami pak. Anak yang kurangajar, tidak sehat, tidak happy hidupnya, sekolah tidak beres, dan lain-lain pak. Sebab tiap sendok butiran nasi yang saya berikan kepada anak-anak saya, adalah  hasil rizki yang semestinya pak. Saya bertahun-tahun kerja begini, meninggalkan anak istri berminggu-minggu bahkan, tanpa rasa takut, karena kami tahu persis ada yang selalu menjaga kami… yaitu keimanan yang kental…. maaf pak, uang bukan segalanya bagi kami….”

Direktur sialan itu ngeloyor pergi. “Dasar orang nggak tau diri. Miskin tapi sombong banget”,  begitu gerutunya di dalam mobil, sembari sopirnya mendengar kata-kata ejekan itu dengan jelas. Sembari menyetir, sopir bergumam, “Ya ampun tuan… bentar lagi tuan deh yang masuk bui. Soalnya tuan miskin juga, tapi miskin moral. Miskin hati…. Duh tuan… uang bukan segalanya…”

Ya, uang bukan segalanya. Sebegitu banyak godaan di seputar kehidupan manusia. Sogok menyogok,  berupaya memanipulasi data mendongkrak angka dalam hal apapun agar menjadi juara, diimbangi dengan dana yang super raksasa.., tampaknya betul-betul rejeki yang luber ke mana-mana…. dan membuat mata berwarna warni sepanjang hari….  tapi benarkah akan begitu selamanya?  Uang bukan segalanya bagi pak pilot… tidak juga bagi si sopir , yang majikannya akhirnya mendekam di hotel bui selama enam tahun sazaaaaaaa…, bersama direksi bangkotan yang lainnya. Emang enaaaak..??!

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Pemilu Oh Pemilu…

 

Semula kupikir, kemarin adalah hari mencengangkan yang indah. Presiden terpilih sudah nampak jelas. Indonesia menerimanya. Salah satu yang tak terpilih pun menerimanya.

Namun ternyata keadaan tak semudah itu. Aku lupa, dalam pencapaian sesuatu ada jalan berliku, bergerigi, dan berhantu. Ada cara yang tak dihalalkan. Ada jalan pintas. Ada kelicikan yang bisa saja terjadi. Aku begitu naif sudah amat bergembira untuk menyambut hasil tanggal 9 kemarin. Begitu naif memang.

Usai sahur aku merenung. Indahnya hidup terasa terganggu dengan peristiwa kemarin- sebab kemarin ternyata bukanlah pesta. Ya, bukan pesta demokrasi yang didengang-dengungkan, yang keluar dari bibir dengan santainya. Aku mencoba kembali mengurut kejadian. TPS (Tempat Pemungutan Suara) mulai ditutup pukul 13.00 siang. Di seluruh Indonesia. Saat itu orang mulai sibuk menghitung, mencatat, dan mencermati hasil pungutan suara. Alangkah fantastisnya sekitar pukul 14.30-an Megawati sudah mengeluarkan air mata haru, tatkala dari mulutnya sendiri keluar pernyataan bahwa Jokowi telah menang. Aku terpana sejadi-jadinya. Bagai mimpi. Bagai tak percaya ada televisi sedang berbunyi di hadapanku. Kulihat Jokowi, Wiranto, berwajah tegang. Ada apa ini?

Ow, ternyata pemenangan perhitungan cepat, quick count, sebuah istilah yang kini sedang populer dan terasa sakti. Orang-orang di seputarnya menari tertawa dan luapan emosi gembira terus menerus. Bagaimana mungkin atas dasar perhitungan cepat mereka bisa menyatakan dirinya menang? Suasana kemenangan diciptakan sedemikian rupa, sehingga orang pandai pun bagai disihir menjadi bodoh. Apalagi orang awam yang tak paham apa-apa, tentu akan menganggap itulah detik-detik kemenangan mutlak mereka. Mana mengerti mereka tahap-tahap pencapaian suara, mana mengerti pula mereka pada istilah ‘quick count’ itu? Angka di tengah menunjukkan prosentase, angka yang mengagumkan bagi yang merasa dirinya menang, sementara jelas-jelas angka yang tertera di tengah dalam ukuran yang lebih kecil menyatakan perhitungan suara masih belum bulat 100 %.

Aku bertambah bingung. Teman-teman panik. Ibu-ibu petinggi negara pun saling berteleponan. Tetangga demikian juga. Aku menghubungi Nina Akbar Tanjung. Ia bersuara lantang, “Lha di dekat rumahku ini ngitung juga durung rampung Lin ! Piye to’ wes ngaku-ngaku menang?”. Aku tertegun. Betul juga.

Kembali otak warasku bekerja. TPS ditutup jam satu siang. Tak sampai dua jam apakah pemenang sudah diketahui mutlak? Lalu, survey itu, perhitungan cepat itu, dilakukan oleh siapa? Lembaga resmikah? Atau bayarankah ? Maka atmosfir kemenangan makin bergulir. Media elektronik leluasa menyiarkannya dengan segera, ya tentu saja media yang dimiliki oleh grup yang mengaku sebagai pemenang dadakan itu. Media on line sama saja. Bagai raja diraja menguasai negara, mereka bisa sekehendaknya saja menuai berita. Itulah hebatnya pemilik media ! Lalu muncul massa di seputar bundaran Hotel Indonesia. Menari-nari serta meluapkan emosi bahagia. Seakan -akan keputusan itu memang sudah final. Atau mereka memang malah tidak tahu secuil pun bahwa pengumuman menang itu adalah bukan pengumuman resmi. Yang diingat hanyalah: “Sudah menang !” .

Penciptaan suasana yang berbahaya pun bergulir. Rekayasa urutan kejadian sudah terbaca. Mengumumkan sebelum final, manusia bergembira, massa berkumpul untuk menunjukkan kepada dunia di jalanan Jakarta bahwa pemenang sudah tercipta. Sorotan kamera televisi dimainkan, untuk disiarkan ke mana-mana di pelosok negeri. Kalau kata remaja masa lalu : ‘cucok’ ! ‘keyeeeeen’…., ‘cantiiiik’ .. ! Apakah kita lupa, di sana, di tempat-tempat manusia Indonesia yang hidup tenteram, menjadi terkocok-kocok suasana hatinya. Emosi tak terjaga lagi. Bingung dan tak tahu lagi mana berita yang sesungguhnya bisa dipegang secara benar. Permainan cantik yang menciptakan manusia bergembira belum pada waktunya, kemudian apabila kelak pengharapan tidak dicapai, pengumuman resmi digelar, akan menganggap bahwa pemenangan semu itu adalah asli dan harus dilawan untuk diperjuangkan tetap menang? Astaqfirullah….

Ada yang bergembira ria. Ada yang melongo merasa terzolimi dan memperoleh perlakukan yang sangat tidak adil, dari skenario yang tersistem dan ‘cerdik’ sekali. Lalu, aku mau apa? Aku hanya rakyat biasa. Sehari-hari di depan tungku dapur. Memasak dan menjual makanan, menulis membuahkan karya seada-adanya. Aku tidak berkantor, tidak pula hidup dalam berkelimpahan sehingga bisa tiap hari hanya ongkang-ongkang ikut arisan, syoping maupun les dansa. Aku hanya ingin perubahan bagi negeri ini. Perubahan yang cemerlang . Penuh kejujuran. Bagaimana kita bisa menikmati semua itu bila jalan yang ditempuh sejak awal sudah dengan gumpalan jelaga yang memang sudah dipersiapkan ??

Ini bulan suci. Aku percaya pada kehebatan MU ya Allah. Yang benar jadikan benar. Yang mudharat dibukakan tabir sejelas-jelasnya. Aku sudah lelah. Begitu pula orang lain. Kucoba mengingat kembali kesulitan dunia. Kucoba mengingat-ingat kalimat pada ayat yang begitu bermakna ; ‘Fa inna ma’al usri yusraa, Inna ma’al usri yusraa — maka sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan.., sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan……

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Kami Kalah Karena Dicurangi, Kami Menang Kalian Akan Kudeta

kata-kata berujung pedang

tajam

bagai sembilu nyeri

kasar

tak bermoral

 

kata-kata terlontar cepat

dari ungkapan mulut menganga

muncul karena otak bereaksi

atas hati yang dengki

penuh curiga

tiada kasih

stetespun

terhadap sesama

 

kata  busuk muncul karena  legam gelegar jiwa

jauh dari sifat kesatria

menang diraih dengan rendah hati

kalah diterima dengan dada ringan

semua tak muncul dalam ungkapan

tak ada dalam diri  serta pemikiran mereka..,

dari orang-orang yang melontarkan kata kejam ini :

Kami Kalah Karena Dicurangi,

Kami Menang Kalian Akan Kudeta ………

 

Categories: Puisi | 1 Comment

Soal Garis Sisiran Rambut

 

Tatkala saya sekolah di West Berlin Jerman tahun ’80 an, di jalanan saya disapa seorang perempuan Indonesia yang tidak saya kenal sebelumnya. ‘Ini Linda kan?” , tanyanya dengan penuh semangat. Saya mengiyakan sembari merasa kehangatan sikapnya. Ternyata dia adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Munchen,
sedang berlibur ke Berlin. Saya lupa, pernah kenal orang ini di mana. Lalu katanya, “Kita kan pernah di sekolah musik yang sama di Jakarta. Kamu masih kelas 6 SD di Kepodang Taman Sunda Kelapa, saya kelas 6 SD di St Ursula. Tapi kita sekelas di sekolah musik YPM”, katanya lagi. “Tapi, bagaimana kamu bisa kenali saya setelah sekian puluh tahun berlalu?”, tanya saya penasaran. “Aduuuuh Liiiiin, pertama muka kamu nggak berubah. Kedua, sisiran rambut kamu juga nggak berubah. Belahannya dari dulu arahnya dari kiri ke kanan..hahahahahaaa… !!!” Saya melongo. Benar juga ya. Saya sendiri tidak pernah terpikir sampai sebegitunya. Belahan rambut saya yang ‘itu-itu saja letaknya dan arah dari kiri kanan’ ternyata menjadi ciri khas seseorang untuk mudah dikenali.

Tiba-tiba terlintas pikiran saya kepada satu hal yang baru saja ramai dibicarakan banyak orang. Seorang capres berangkat umroh. Di lokasi memakai busana ihram yang dianggap salah letak. Bahu kiri terbuka, seharusnya bahu kanan. Orang pun ribut. Menjadi permasalah besar. Bagaimana mungkin beribadah salah aturan pemakaian baju yang diwajibkan, sementara orang-orang kiri kanannya yang memakai ihram secara benar seakan-akan membiarkan, atau barangkali mereka pun tak menyadari kekeliruan itu? Lalu, muncul lagi foto yang sama dengan tampilan beda. Baju ihram sudah benar letak sisinya. Bahu kanan yang terbuka, kiri tertutup. Lalu marahlah yang merasa difitnah, direkayasa. Saya pun , lagi-lagi berkata, tidak setuju dengan rekayasa semacam itu apabila memang benar direkayasa telah memakai dengan cara yang salah. Apalagi ini adalah urusan ibadah di tanah suci, yang tidak semua orang mampu berangkat ke sana dengan mudahnya.

Dua foto ditampilkan berbeda. Foto dengan baju ihram yang salah, dan foto dengan pemakaian secara benar. Lalu..lalu, lalu,.. di tengah kegeraman saya yang juga tak suka pelecehan semacam itu meski saya memang bukan orang yang akan memilih dia sebagai presiden, dihubungi oleh teman. “Coba lihat sisiran rambutnya yang asli, yang sehari-hari modelnya bagaimana? Garis pinggir kiri atau kanan?” Setelah saya amati, MasyaAllah… ternyata garis rambut pun berubah tempat !! Jadi, apabila garis rambut belahannya sudah seperti yang biasa menjadi modelnya ada di sebelah kiri, setelah muncul foto ralat ihram di kanan, garis rambut pun berubah tempat…

Menelusuri pikiran jernih, apakah benar bisa dikatakan bahwa foto pertama dengan ihram yang salah, adalah yang asli …? Wallahualam…… — sembari saya teringat teman piano saya dulu, yang menyapa saya di Kudamm Strasse West Berlin puluhan tahun silam……, yang tahu persis soal  garis sisiran rambut saya … hahahahaaa !!!

 

Categories: Opini | 1 Comment

Selamat Datang Presiden Baru Kita

 

 

Meski  saya TIDAK memilih dia, tetapi untuk urusan ibadah yang dipermainkan, yang menampilkan foto busana ihram yang terbalik (apabila benar direkayasa dengan usil) dalam kunjungan ke tanah suci,  saya juga sangat tidak setuju. Hal ini bisa saja dilakukan oleh orang usil dari kelompok manapun. Dari kandang orang lain, maupun dari kandang sendiri. Apa salahnya kita berhati lapang saja, sebab hanya hak Allah yang kelak membalasnya., , dan yang sungguh mengetahuinya dari kelompok mana sesungguhnya yang berbuat hal ini.

Sekadar saya teringat, bagaimana pula riuh serunya suasana di Monas yang fotonya juga hasil rekayasa… bahkan dipajang pula di halaman satu koran terkemuka… padahal itu adalah palsu belaka. Mengapa itu tidak diprotes? Bila menguntungkan, meski tindakan itu sangat salah, akan diam, bila merugikan, akan sewot?? Lagi-lagi, kita serahkan pada Yang Maha Tahu Segalanya….

Dan kita masih punya waktu sehari untuk mempersiapkan kedewasaan kita untuk MENERIMA apapun kehendak DIA, pahit atau manis. Tidak perlu kita harus bertutur bahwa ‘kalau kalah karena dicurangi, kalau menang akan dikudeta’ —- ucapan yang sangat picik, dangkal dan berunsur provokasi keji. Apakah kita semua bukan bersaudara di negeri ini?

Kita makan dengan beras yang nikmat dari bumi Indonesia, kita minum dari kandungan air yang sama, kita menikmati udara yang sama, kita mendapat jatah rizki yang telah diatur olehNYA…, kita diberi kesempatan untuk bergaul secara baik dengan orang-orang di sekeliling kita, si kaya si miskin apakah ada bedanya? tidak perlu sewot pada orang kaya dan menyindir-nyindir orang berpunya dengan sinis. Tak perlu juga si kaya berpamer diri. Akal sehat kita sudah dipersembahkan Tuhan secara dahsyat sekali.. mengapa tidak kita gunakan dengan indah?

Hari Rabu 9 Juli 2014 ini adalah hari yang mencengangkan bagi semua. Kita akan memiliki presiden baru. Menentang sang calon dengan gigih adalah sah-sah saja. Tidak ingin pujaan kita dikalahkan juga hal yang wajar dalam perjuangan politik pemilihan pemimpin negeri. Namun bila sudah final, mengapa kita tidak saling berangkulan? Mengapa harus memelihara dendam, benci, iri, dengki, serta tetap membuat rekayasa macam-macam untuk mencelakakan maupun membuat upaya sang pemimpin sia-sia dalam memimpin negerinya?

Kita, apalagi sebagai orang terpelajar, sewajarnya tahu bahwa dukungan rakyat terhadap presidennya adalah maha penting — siapapun yang terpilih nantinya. Dan sang Presiden pun sepatutnya tahu diri, bahwa amanah yang diemban demikian besar, berat dan mulia– sehingga tidak patut sama sekali baginya untuk menjadi manusia congkak, serampangan, membatalkan seluruh janji baiknya kepada rakyat, apalagi akhirnya jadi seorang penipu ulung yang bengis bagi rakyat dan negerinya. Semua kita hadapi dengan doa… agar Indonesia kita menjadi jaya dan mulia. Aamiin

 

Categories: Opini | Leave a comment

Namamu Prabowo

 

namamu Prabowo,
hidupmu penuh duri
meski sejuta buku menjadi santapanmu
makan di meja penuh aturan
sendok perak di mulut sekalipun
kamu alami aneka susah senang
yang belum tentu enak dipandang

namamu Prabowo,
gulita selalu dilempar orang
niat baik dianggap garang
membantu pekerja perempuan lepas dari tiang gantungan
tetap saja kamu ditusuk parang
oleh hati dengki sebagian orang

namamu Prabowo,
memeluk teman bagai tiada artinya
menyerahkan kado tiga mobil sebagai tanda kasih
kepada teman dekat seperjuangan
namun begitu hebat segala balasan
ungkapan gila diluncurkan yang dibantu dengan berang
mendorong atasan menjadi ajudan
olehnya tetap saja kamu dianggap seorang pecundang

namamu Prabowo,
mengapa semangatmu selalu menyala
padahal hujatan kejam berulang-ulang
kekuatan apa yang mendekam
pada dirimu yang tersiram cerita rekayasa kelam

namamu Prabowo,
berlaga di dunia politik seram
kini tinggal muzizat yang ditunggu dari Tuhan
sebab apapun kamu melangkah
selalu ditaburi sejuta ganjalan
lihatlah kata-kata sebagai godam
lagi-lagi tertuju kepadamu yang tak gentar lebam
hingga ada kata berbunyi kejam ;
kalau kamu menang, kamu telah berbuat curang
kalau kamu kalah, kamu akan berkudeta untuk menendang

duuuh, Prabowo..
betapa kamu begitu malang..
bagai yang kamu lakukan semua serba salah malang melintang
tapi lagi-lagi,
serahkan semua kepada Tuhan
seluruh aliran nafas jiwa raga dan kepercayaan
karena DIAlah  penjaga lahir batin luar dalam..
dalam seluruh langkah kehidupan

 

 

 

Categories: Puisi | Leave a comment

Inilah Pedih

bila ada silet tajam

mampir ke pelipis

mengiris kulit luar pelahan

namun perihnya kilat berjalan

itulah rasa hati manusia

yang selalu mengalami bantingan

 

bila ada air mata

tumpah sejagat raya

itulah air mata kepedihan

dari ibu pertiwi nan cantik

kepada bumi yang dipandangnya

beserta isi manusianya..

yang kian hari kian pandai

mengarang cerita

malam dikatakan siang

penjahat disebut malaikat

serta pembenaran atas sgala kesalahan

 

pohon kelapa menangis

daun sirih merembet dengan  kuyu

ombak  laut bagai tak bertenaga..

mengiringi tangisan ibu pertiwi

di bulan ramadhan nan indah

masih mampu merekayasa tindakan dajal

lalu apa arti ibadah mereka..

apa makna pelajaran dari ayah bunda

serta guru-guru mereka

serta para ahli  agama mereka…

serta ayat-ayat suci dari kitab bermakna mereka…

 

hidup hanya sementara

tak pernah diingat..

pertanggunganjawab di akhirat

lebih-lebih lagi mana diingat

gumpalan kehebatan duniawi

penghormatan semu

ambisi hingga menembus langit

hanya itu…

hanya itu tujuan akhir

meski berselimut agama

berselimut khotbah

berselimut zakat

tetap saya ibunda pertiwi merasa luka..

pedih berkepanjangan

melihat kabut buram

memandang bulan tak bersinar

melirik tawa yang masam

dan hati yang acapkali was-was

kesucian telah sirna..

entah sampai kapan

Categories: Puisi | Leave a comment

Ingat Zaman PKI di Jakarta

Adakah yang masih ingat saat zaman PKI melanda di negeri kita? Saya masih kelas 2 SD di Taman Sunda Kelapa dengan taman di sekolah yang sangat luas. Saya masih ingat tiba-tiba sedang bermain-main di rerumputan bersama guru (saya ingat namanya beberapa ; bu Marla, ibu Kus), kami harus tiarap. Entah apa yang lewat ketika itu. Lalu ada kapal terbang menyebar selebaran dengan kertas-kertas putih.

Saya ingat ayah saya menangis sambil terjengkang di lantai ketika ia mendengar teman dekatnya, MT Haryono tewas. Lalu ada jam malam. Ada suara sirene. Tukang becak dicurigai, bahkan becak langganan kami juga ayah tak lagi membolehkan datang sementara…, saya ingat namaya becak Sindoro. Takutnya si tukang becak juga ternyata seorang penyusup, meski ia selalu baik kepada kami.

Lalu ada lagu Genjer-genjer yang seram sekali rasanya terkesan pada kami yang masih kecil saat itu. Saya membayangkan Gerwani itu adalah kelompok perempuan yang menyeramkan. Di sekolah beredar cerita bagaimana jenderal-jenderal disiksa sebelum dicemplungkan ke lubang buaya. Saya juga masih sempat melihat betapa berdukanya keluarga di SMA Srikandi yang berada persis di sebelah SD Kepodang kami. Di situ ada Yanti Nasution yang cantik, yang adiknya tertembak dengan sia-sia, Ade Irma Suryani. Lalu ada lagunya yang seketika dikumandangkan ; akan kuingat selalu… ade irma suryani… waktu dipeluk…dipangku ibu…. dan seterusnya. Lagu yang sungguh membuat perih semua orang saat itu.

Suasana sangat mencekam. Ke mana-mana rasanya takut sekali. Jam enam sore semua sudah mengunci pintu rumah masing-masing. Tak ada kongkow-kongkow antar tetangga seperti biasanya. Lalu banyak yang tertangkap. Nama Untung, Aidit, adalah nama-nama yang menggema diceritakan guru kepada murid-muridnya.

Ketika presiden berganti, Sukarno sudah tidak lagi diagung-agungkan sebagaimana biasa. Saya sempat menengok ke kiri selalu, bila lewat jalan Haji Agus Salim, rumah Suharto yang ditempati sebelum mereka pindah ke jalan Cendana. Rumah itu berteralis bentuk bunga, bercat putih. Di pojokkan jalan.

Lalu ada sidang mahmilub. Seram sekali rasanya, karena sekolah saya di Taman Sunda Kelapa itu letaknya persis di belakang tembok gedung Bappenas tempat sidang berlangsung. Tentara di mana-mana. Kami harus ke mana-mana membawa surat keterangan domisili dari RT setempat. Tak boleh ada kendaraan lewat mulai dari ujung jalan Taman Surapati. Kami harus berjalan kaki menyeberangi taman dan patung Ibu Kartini di depan gereja. Suara sidang kadang jelas terdengar dari kelas. Subandrio dinyanyikan lagu oleh orang-orang , ada kata-kada ‘durna’ pada liriknya.

Puluhan tahun telah berlalu. Siapa bilang bahaya komunis itu laten? Komunis sudah lenyap — begitu kata segolongan orang dengan begitu yakinnya. Semoga saja begitu…. dan semoga negeri ini tak lagi mengalami suasana super seram seperti dulu lagi.., saat saya masih sebagai kanak-kanak…. dan kita dulu masih kanak-kanak.., masing-masing menyimpan memori atas suasana itu…dulu…dulu sekali……

Categories: Kepingan Kenangan | 1 Comment

Saat Fitnah untuk Prabowo Saya Cermati

Saya juga termasuk orang yang merasa ‘takut’ untuk memilih dia saat yang lalu.

Tentu ini gara-gara cerita seram “ham hem hom” . Pembunuh, kejam, penculik dan sebagainya. Lalu saya merenung. Mengapa saya, yang sempat menikmati profesi jurnalis begitu mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu kebenarannya? Saya pelan-pelan melacak,menelusuri, membaca banyak dokumen, termasuk pula saya menyelidiki sumber-sumber/ macam orang seperti apa yang memberikan cerita seram tentang Prabowo. Dapatkah kredibilitas mereka dipercaya? Mereka itu siapa saja,dan dulunya bagaimana? Maaf saya tidak ingin riya, tetapi dalam penelusuran saya, tak pernah sekejap pun saya berhenti doa…, saya minta kepada Sang Rabb untuk diberi jalan terang, tidak termakan cerita buram. Bila Prabowo bajingan perlihatkanlah di depan mata saya, segala buktinya. Dan segala perasaan saya untuk jauh-jauh dari mendukung dia. Tapi apabila dalam hal ini ia hanya tersiram tuduhan keji, semoga Tuhan memperlihatkan kebenarannya bagi saya pribadi. Saya kenal orang itu karena ayah ibu saya dulu sempat kenal dengan Oom Cum/ Pak Sumitro. Tante Dora, ibunda Prabowo juga bukannya ibu saya tidak mengenalnya. Adik-adik Prabowo saya kenal sambil lalu dan mereka cukup ramah, dan secara kebetulan pula ia menikah dengan Titiek Soeharto, teman remaja saya. Tapi tak pernah sekalipun dalam kedekatan saya yang hanya sambil lalu itu mempengaruhi saya untuk mati-matian membela dia bila memang ia bersalah. Tidak akan !!

Staf saya di kantor bahkan pernah menyampaikan cerita ngeri. Dia bilang bahwa dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Fadli Zon digampari oleh Prabowo di suatu acara. Saya kaget setengah mati, sehingga saya makin yakin saat itu bahwa tidak akan pernah maulah saya memilih dia. Saya sempat geram termakan cerita itu. Lama-lama, saya berpikir ulang kembali. Kok gampang banget saya percaya cerita semacam itu? Lalu saya memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Fadli Zon, sebagai adik kelas saya di UI dan orang yang selalu sangat berperhatian kepada seni budaya Indonesia dan sangat ikhlas bila merangkul para seniman Indonesia, juga kepada Idris Sardi hingga tutup usia. Fadli sangat kaget luar biasa. Ia berani bersumpah di atas Al Qur’an bahwa hal itu sama sekail tidap pernah terjadi. “Mbak Linda, berani-beraninya Prabowo gampar saya? Dia tidak pernah sekalipun melakukan hal itu kepada saya. Tentu akan saya gampar balik…hahahhaaa!,” begitu kata Fadli. Saya agak kecewa dengan staf saya, yang sudah dengan seenaknya mengarang cerita. Ketika saya bilang bahwa saya sudah cek ke ybs, ia panik. Tampaknya ia memang mengarang cerita…
Lalu, saya dengar lagi cerita dari anak saya bahwa temannya yang bekerja di PH juga melihat ia menggampar ajudannya di depan pekerja PH yang akan membuat filmnya. Cerita hampir senada dengan cerita staf saya. Ajudan Prabowo saya kenal. Tak satupun yang tidak heran mendengar cerita itu. Ya, semua heran dan ‘kagum’, karena betapa dahsyatnya karangan-karangan semacam itu. Ya, karangan yang sudah terstruktur.

Sejak awal kampanye kemarin ini, berbagai pihak menyerang lagi dengan ‘isu musiman pemilu’ soal ham hem hom itu… dan yang membuat saya terpana, saat ia berada terus menerus di samping Megawati, tuduhan tidak gencar-gencar amat. Begitu Megawati menjelaskan duduk perkaranya, isu menjadi sepi. Terlebih para pengikutnya di partainya. Tak seperti sekarang yang tampak sorak sorai tuduhan maut itu bertubi-tubi. Muncul nama Hendropriyono. Dia teman saya. Dia tetangga ibu saya dan teman jalan pagi ayah Adjie Masaid alm. Saya juga sering bergurau dengannya di tempat bertugas. Istrinya yang cantik juga sering saya sapa. Tapi saya bingung ketika Hendro berkoar soal Prabowo gila lah, kejam, psikopat … lha, bukankah peristiwa Talangsari Lampung di bawah tanggung jawabnya? Kejadian yang super kejam semua atas pengetahuan dia bukan? Kok bisa-bisanya ia berkata kalau Jokowi menang, persoalan pelanggaran HAM akan dituntaskan. Duh mas Hendro ini bagaimana ya? Bagai tak bercermin pada diri sendiri. Sudomo pun jelas-jelas berkata kasus Talangsari adalah tanggungjawab Hendro. Cerita kekejaman itu seperti apa? Bacalah sendiri di berita-berita masa lalu. Ngeri !!

Lalu ada Agum Gumelar. Bila saya duduk bersamanya makan siang di beberapa restoran di Jakarta, ia selalu mencibir soal Prabowo. Tapi kalau saya tanya rincinya apa kekurangan orang itu, mas Agum berkelit. Aneh ! Dan yang lebih aneh, tidak saya sangka lelaki yang sudah pernah jadi menteri tapi antusias mencalonkan diri jadi presiden hingga gubernur ini, melontarkan ketidaksenangannya terhadap Prabowo terang-terangan di muka publik. Bagai bukan pengemban Sapta Marga. Bagai bukan seorang prajurit saja yang saling kasih terhadap koleganya sesama prajurit. Belum lagi mencermati Luhut Panjaitan berbicara…, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Saya hanya sekadar membandingkan, bila ada kejadian di dunia kedokteran, sang dokter melakukan mal praktek, salah diagnosa, diprotes keras oleh pasien dan diberitakan ke mana-mana, pernahkah kita mendengar sesama dokter lain yang ikut menabuh gong, menista, membuka segala kekurangan koleganya, apalagi kalau itu hanya karena fitnah rekayasa dan berunsur dengki? Pernah tidak? Para dokter akan sangat santun menutup mulut mereka rapat-rapat. Biarlah ditangani oleh yang berwajib. Bukan ditambahi dengan cerita apapun antar sesama kolega. Mengapa tentara Indonesia yang namanya saya sebut tadi tidak mampu berperilaku serupa dokter-dokter itu? Saya belum lama ini mengobrol dengan bapak Azwar Anas yang sudah mendekati renta. Air matanya berlinang saat mengucapkan kata Agum, Hendro, Luhut..”Mereka mungkin lupa pada Sapta Marga”, katanya lirih. Juga Menkopolhukam Djoko, saya tanya mengapa rekan-rekanmu seperti itu kelakuannya? “Saya sudah
menegur Hendro”, jawabnya.

Belum lagi Wiranto. Makin hari makin banyak berita yang menceritakan kebenaran yang sesungguhnya. Sampai-sampai, Elza Syarief dan Fuad Bawazir sesama Hanura akhirnya mengungkap di publik tentang Wiranto terhadap kejadian Prabowo. Orang ini saat jadi ajudan presiden Suharto, saya berada di dekatnya pada tempat bekerja yang sama. Wiranto tak pernah murah senyum. Ia kaku, terkesan angkuh, tak banyak bicara. Tetapi ada beberapa menteri berkata kepada saya kala itu, Wiranto memang cerdas dan cepat tanggap dalam bekerja, menghubungkan antara urusan menteri ke presiden. Apapun, saya hanya bisa geleng-geleng kepala bila cerita tentang Wiranto cuci tangan terhadap urusan Prabowo yang dihinadina dan dituduh segala kekejamannya, juga cerita bahwa dialah sebenarnya salah satu penyebab Titiek dan Prabowo bercerai ( yang sudah saya, kita, baca di media on line ), dia jugalah yang melempar fitnah bahwa Prabowo akan melakukan kudeta…, ya, sekali lagi, apabila ini memang benar dia pelaku penyerang fitnah, alangkah super kejamnya….

Prabowo pernah berkata dalam menghadapi berbagai problem yang menimpa dirinya, “Sudah tidak gila saja saya sudah bagus..”, menjadi kata-kata yang terngiang di telinga saya. Dengan amat sadar, saya bayangkan bila kita memiliki anak, cucu, atau menantu, yang dituduh keji, fitnah yang terpelihara tahun-tahunan tanpa pengadilan tanpa bukti dan didiamkan hingga kekuasaan 5 presiden, bisakah kita hidup bergembira? Oya, juga pesan bagi keluarga kita bila salah satu anggota keluarga kita ingin menciptakan kesejahteraan bangsa ini, yang kenyang nyaris ‘mampus’ di medan laga, manakala teman-teman atau adik-adik kelasnya orang-orang sipil yang masih bisa menikmati kopi hangat di kafe sejuk, menikmati mal hingga musik metal, sementara ia sudah mengalami didorong ke lautan lepas atau dari ketinggian langit, hingga hampir dibakar hidup-hidup di dalam hutan demi membela negara, tapi senantiasa dihina, dikecam, disebar gosip bengis jahat dan dianggap monster, lagi-lagi, riang hatikah hidup kita menghadapi hal semacam ini??

Semoga saya, keluarga besar saya, tidak didera fitnah keji serta pembunuhan karakter yang kejam. Tak ingin dicubit, maka janganlah mencubit……

 

 

 

Categories: Opini | Tags: , , , , , , | 123 Comments

Itu Adalah Utang Kamu

tatkala kamu berjanji

untuk berada di sini

pada kurun waktu yang tertetapkan

itu adalah utang kamu

 

saat kamu menyebut

sungguh tak berpikir soal lain

kecuali mumet dengan banjir

yang harus dibenahi

itu adalah utang kamu

 

waktu penggemarmu membuka berita

lawanmu  tak pantas berlaga

karena aib sudah begitu terbuka

punya utang di mana-mana

setelah terbukti ternyata tak sesuai fakta

justru kamu yang punya utang

itu juga adalah utang kamu…

 

andai siapapun berjaya

menduduki kursi yang paling nikmat

lalu mendadak lupa

pada segala janji yang sempat menggelegar di mana-mana

maka itu adalah utang kamu

yaaa..

utang kamu

dan kamu

utang salah satu dari  kalian berdua

yang akan ditagih tak hanya di dunia

namun kelak  di alam baqa….

Categories: Puisi | 1 Comment