Maroef Sjamsoeddin : “Tak Ada Militerisme di Freeport !”

Itulah janji Maroef Sjamsoeddin, sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia yang baru. “Tak ada militerisme di Freeport!,” katanya. Kalimat meluncur dengan tegas dari lelaki yang masa terakhir jabatannya adalah Marsekal Muda TNI Angkatan Udara Republik Indonesia, sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) periode 2011-2014.

Sang purnawirawan ini cukup paham setelah namanya dimunculkan oleh para pemegang saham Freeport,maka seketika banyak pegawai, buruh maupun kepala suku meributkannya. Masalahnya, belum pernah selama ini seorang Presiden Direktur Freeport dari kalangan tentara. Selebihnya, penembakan beberapa kali terhadap buruh dalam tahun-tahun terakhir ini juga meresahkan. Bahkan anggota Brimob Detasemen B Polda Papua, Briptu Ronald Sopamena pun menjadi korban tembak dengan kelompok bersenjata yang tak di kenal, di kawasan hutan Kali Kopi, Timika. Dalam kurun waktu 2009 hingga tiga tahun sebelum tahun 2015 ini saja tercatat 15 orang tewas, plus 50 an orang terluka karena penembakan di kawasan PT Freeport Indonesia di Mimika, Papua. Ditambah lagi, pembunuhan di Banti bulan lalu,yang menyebabkan dua orang Brimob tewas, dianggap sangat meresahkan.

Kekerasan yang dialami kaum pekerja di Freeport menimbulkan ketidaknyamanan bila seorang tentara, maupun pensiunan tentara menjadi pemimpin perusahaan besar dan bernilai itu. Banyak yang meragukan latar belakang Maroef dan kemiliterannya yang mungkin saja dikembangkan di tambang emas dan tembaga itu.

Belum lagi mereka tak akan lupa adanya kekerasan pada tahun 2011 silam, yang membuat perusahaan berhenti berproduksi selama tiga minggu. Bisa dibayangkan kerugian yang diterima saat itu. Tanpa produksi, sebesar tujuh juta dolar tiap hari lenyap. Lalu, siapa yang menengahinya pada waktu itu? Ternyata Maroef Sjamsoeddin.

Setelah berkoordinasi dan rapat terpadu dengan Menkopolhukam, Panglima TNI, dan Kapolri, Maroef yang saat itu menjadi Wakil Kepala BIN ditugaskan untuk menghampiri keributan dan berdialog secara baik-baik. Berita tak pernah keluar di media manapun dan masyarakat di luar Papua tak pernah tahu bahwa saat itu seorang Wakabin yang membereskannya. Caranya? “Komunikasi,” ujar Maroef, ayah dua anak itu dengan tegas. Saat kejadian 2011 Maroef menuju lokasi, ia berhari-hari tidak ingin makan di kantor. Ditemuinya para penduduk, pegawai, buruh lain yang mogok, di warung-warung pinggir jalan. Ia melakukan komunikasi yang jitu dengan pendekatan yang sangat jauh dari cara-cara militer. Padahal, Maroef saat itu adalah jenderal bintang dua,serta masih menjadi militer aktif. Urusan pekerjaan hingga katering, kesehatan, dan fasilitas lain menjadi bahan pokok pembicaraan yang hangat antar Maroef dan para pegawai.

Sebelum Maroef memperoleh kursi (meski sudah ditetapkan menjadi Presdir Freeport) pada 2015 ini, ia mengundang beberapa puluh orang pegawai, buruh, kaum adat ke Jakarta, hari Kamis dan Jumat minggu lalu. Kamis siang, Kamis malam, dan Jumat sore adalah pertemuan yang dilakukan oleh Maroef dengan orang-orang yang berbeda. Tamu golongan pertama sebanyak kurang lebih 35 orang adalah ‘garis keras’.

Semula Maroef yang bergelar Master of Business Administration dari Jakarta Institue Management Studies ini menerangkan bahwa kehadirannya kelak di tempat yang sangat jauh dan berjaya itu untuk mengoptimalkan hubungan baik. “Operasional Freeport harus memiliki manfaat. Sumber daya alam dieksplorasi kepada masyarakat setempat. Pembangunan Papua secara utuh, dari sisi kesejahteraan pendidikan, kesehatan. Nanti akan dikembangkan pengolahan operasional tambang, underground mining, yang terbesar di dunia. Dan semua harus menjadi nilai tambah bagi bangsa dan negara kita”.

Selebihnya, orang-orang yang mempertanyakan soal militerisme yang akan diterapkan Maroef,ia malah balik bertanya. “Bukankah dari bapak-bapak ini dulu tahun 2011 ada juga yang sudah pernah berkomunikasi dengan saya? Kita duduk bersama di warung-warung, Dan tahu bagaimana cara saya menangani kerusuhan pemogokan itu? Adakah cara militer yang saya lakukan? “. Mereka pun terdiam serta membuka memorinya kembali. Seorang Ibu sebagai Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua, asli Timika, termasuk yang sebelumnya cukup keras mempertanyakan sikap Maroef ke depan. Urusannya sama , meragukan kapasitas. Ada lagi yang menuntut janji. “Saya tidak berjanji yang lain sebab saya belum duduk di sana. Tetapi asal diingat, saya tidak pernah melamar ke Freeport tapi saya ditunjuk. Kepercayaan itulah yang akan saya manfaatkan betul untuk memberi nilai yang bermanfaat kepada pertambangan dan rakyat”, katanya lagi.

Tamu Maroef juga mempersoalkan soal kesehatan, pendidikan dan rasa aman. Mereka menyalahkan manajemen , soal cuti dan pesawat udara yang seharusnya bisa dipakai pula untuk mengangkut mereka. Maroef, tentu saja mencatat semua sebagai bahan kerja dia kelak. “Tidak mungkin pemerintah Indonesia menggelar kekuatannya, kalau tidak ada suatu potensi ancaman dan gangguan,” jawabnya kepada para tamu.

Ia juga mengingatkan bahwa masih banyak orang-orang yang memakai senjata secara liar dan ilegal. Maroef membujuk, “Cobalah kita ajak mereka, untuk apalagi bawa senjata? Mari kita bangun bersama, meski masih ada OPM secara politik dan militer di situ. Saya yakin bapak-bapak tokoh agama, pendeta, tokoh adat, kenal dengan saudara-saudara kita yang masih punya pemikiran seperti itu. Mari kita siap bertemu, dan saya akan senang kalau bapak-bapak nanti bisa antar saya kepada mereka”.
Tamu-tamu di antaranya adalah pimpinan Serikat Pekerja Kabupaten Mimika. Maroef menjawab pertanyaan yang sama dari tamu-tamu yang terdiri dari para tetua dan tokoh adat suku Amome dan Komoro.

Entah karena dibicarakan secara terbuka dan baik-baik di Jakarta, maka ketiga pertemuan berakhir dengan baik. Mereka memahami dan berjanji akan bekerjasama secara baik di Freeport. Maroef pun kembali mengingatkan, “Saya optimis sepanjang kita mau bersama-sama. Apa artinya seorang Presdir tanpa kalian, tapi apa artinya juga kalian tanpa saya. Maka itu kita harus sama-sama. Dan ingat, tidak ada pengelompokan, pengkotakan lagi. Tidak ada yang eksklusif. Yang namanya Presdir hingga karyawan terbawah, semua namanya adalah karyawan PT Freeport Indonesia,” ujar Maroef, yang tidak begitu dikenal kiprah dan sepak terjangnya selama ini, sebab dunia intelijen yang menghabiskan waktu 2/3 dari karirnya, sesungguhnya memang tak membutuhkan publikasi terbuka.

Categories: Berbagi Info | Leave a comment

Sido Muncul Ingin Rakyat Sehat, Tuduhan Pencemaran Lingkungan membuat Irwan Bingung

Manusia hidup berproses. Dari zero hingga hero. Dari titik nol hingga besar. Ada pula yang ambruk seketika maupun pelahan. Semua bergantung dari nasib, ikhtiar, kerja keras, dan niat baik. Banyak pengusaha mengalami hal seperti ini, di mana-mana.

Begitu pula dengan jamu Sido Muncul. Ibu Rakhmat Sulistyo pemilik pertama merk dagang Sido Muncul memunculkan usaha jamu ini di tahun 1951. Usaha yang pas-pasan puluhan tahun lalu sempat menanggung utang besar ketika Irwan Hidayat (kelahiran Jogjakarta tahun 1947) sang cucu ibu Rakhmat bersama empat orang adiknya sebagai generasi ketiga Sido Muncul memperoleh warisan perusahaan itu. Sebelumnya, Irwan memang menjadi cucu tercinta neneknya. Saat clash ke II tahun 1949, dekapan kasih sayang ibu Rakhmat tak lepas pada Irwan. Mereka hijrah dari Jogjakarta menuju Semarang. Maka dua tahun setelah itulah, foto sang cucu bersama neneknya menjadi logo perusahaan Sido Muncul.

Upaya memajukan perusahaan, setelah berganti generasi itu begitu keras. Irwan, pada tahun 1997 berhasil membuat Sido Muncul menciptakan pabrik jamu modern yang memiliki standar dengan laboratorium farmasi. Di atas tanah seluas 32 hektar ia membangun pabrik jamu sebesar tujuh hektar khusus memenuhi standar itu. “Saya hanya selalu berpikir dan memiliki tekad, industri jamu harus maju, harus membuat bangsa ini hebat karena jamu memberikan banyak manfaat,” ujarnya.

Dari zero menjadi hero dilalui Irwan dengan gigih.Ia memperoleh sertifikat yang biasa diterima oleh industri farmasi, yaitu CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) , yang biasanya untuk industri jamu hanya sebatas CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik).

Tantangan untuk maju berlanjut. Penghargaan diperoleh dan pabrik semakin giat memproduksi lebih dari 150 jenis produk yang bermerek dan generik seperti Tolak Angin yang laris sekali, Kuku Bima, Kunyit Asem, jamu instan dan yang terakhir akan diproduksi jamu khusus untuk sakit mag, ternyata tetap memiliki sandungan tersendiri. Kali ini dari urusan pembuangan limbah. Dan membuat Irwan, sebagai Direktur Utama plus pemilik PT Sido Muncul, bingung.

Masalahnya, minggu lalu datanglah Komisi C dari DPRD Kabupaten Semarang untuk meninjau pabrik. Bersama orang LSM, plus wartawan. Atas pengecekan, disimpulkan bahwa PT Sido Muncul tidak bagus dalam pengolahan limbahnya. Air limbah dibuang ke sungai Klampok serampangan sehingga tentu saja menimbulkan pencemaran. Juga kutipan dari Direktur Eksekutif WALHI (Wahana Lingungan Hidup Indonesia) Jawa Tengah Indrianingrum Fitri yang menyatakan bahwa jangan setelah menerima CSR (Corporate Social Responsibility) lalu menjadi diam. Lalu berita yang berkaitan ditulislah di berbagai media.

“Saya hampir tiap tahun adalan nominasi Kalpataru untuk urusan lingkungan. Kok malah dituduh serupa itu?,” ujar Irwan Hidayat, yang tengah berkumpul dengan beberapa anggota keluarganya di suatu tempat, hari Sabtu 17 Januari 2015 di Jakarta. Oleh sebab itu, atas dasar hasil pemeriksaan, ia mempersilakan limbah pabriknya diaudit lengkap oleh pihak berwenang. “Saya bersedia dicek oleh BLH (Badan Lingkungan Hidup) atau KLH (Kementrian Lingkungan Hidup),” katanya lagi. Lagipula, menurutnya, ada delapan perusahaan di seputar kawasan pabriknya. “Apakah mereka sudah dicek juga pengelolaan air limbahnya?”. Selebihnya, ia juga menyayangkan soal tuduhan CSR. “Hukum positif dan opini adalah persepsi yang harus diciptakan. Maka saya termasuk yang melakukan CSR, tapi sama sekali tidak ada niatan dari CSR saya untuk menutup mulut orang. CSR tidak ada hubungannya dengan aturan yang harus ditegakkan”.

Irwan, yang amat rajin berupaya tiap tahun menyediakan transportasi gratis bagi ribuan pembantu rumah tangga Ibukota mudik, mulai menceritakan secara runtun upaya pembersihan lingungan itu. “Saya adalah orang yang sangat mencintai lingkungan. Upaya apapun akan saya kerjakan demi hal itu,” katanya tegas. Ceritanya, tahun 2011 ada usulan bahwa PT Sido Muncul akan dinilai. Tentu saja Irwan senang. Tetapi ternyata penilaian yang dikenakan adalah hitam, sebagai tanda pencemaran lingkungan pada suatu pabrik tertentu. Usut punya usut, ternyata kesalahan memang terletak pada dapurnya sendiri. Ada beberapa manajer lingkungan perusahaan yang tidak bekerja sebagaimana mestinya tanpa sepengetahuannya. “Hal-hal yang seharusnya dikerjakan, tidak dikerjakan,” ujar Irwan.

Lalu, dengan segera Irwan pada tahun 2011 membuat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang cukup besar. Tahun 2012 selesai, dengan biaya sebesar Rp 35 Milyar yang dikerjakan sepanjang hari. Kapasitas terbangun adalah tiga kali dari produksi, yang menurut Irwan memang disengaja agar bila produksi makin berkembang, IPAL masih bisa menampung secara baik. Akibatnya, tahun 2012 itulah perusahaan memperoleh penilaian biru. “Itu adalah prestasi besar, karena biasanya dari hitam harus merah dulu baru menjadi warna biru,” katanya.

Dengan kejadian berulang soal tuduhan pencemaran lingkungan, Irwan tampaknya sudah tak sabar lagi. IPAL baru sesungguhnya tak membuat pencemaran, sebab Irwan setelah mengalami sabotase pipanya dipecah tahun 2013 oleh orang-orang tertentu, maka ia mulai memasang kamera tersembunyi di segala sisi. Pipa limbah diekspos, dibuat khusus di atas agar mudah terlihat, dan dicat warna coklat. “Dengan demikian bisa terlihat bila ada yang melakukan sabotase,” kata Irwan. Biasanya, untuk jamu tolak angin saja misalnya, pembersihan limbah mulai setelah tujuh jam kerja , setiap hari. Sekarang, ia mengaturnya seminggu sekalidibersihkan agar IPAL bekerja lebih enteng. “Ingat ya, saya belum pernah buang limbah padat ke luar pabrik,” katanya tegas.

Dengan kesimpulan komisi C DPRD, BLH (Badan Lingkungan Hidup), orang LSM serta wartawan dengan pemberitaannya, Irwan nampaknya sungguh kecewa. “Mana mungkin sih pemeriksaan limbah di pabrik saya sehari bisa selesai, dan langsung beropini? Lagipula, dilakukan pemeriksaan truk tangki dan dicurigai kotor. Lha itu memang untuk pembuangan kok, tangki disiapkan kalau pompa tidak memadai, dengan tangki dituang ke IPAL.”

Ada pula dugaan bahwa karena pabrik adanya di tengah sungai dan yang melewati jalan ditutup dengan berbagai gorong-gorong agar jembatan tidak terganggu, air limbah pun dicurigai dibuang ke tempat itu. “Bagaimana mungkin saya lakukan itu? Saya pecinta lingkungan, dan menghargai konsumen saya dan empat ribu karyawan saya sendiri,” katanyaa. Ia juga menyangkal tegas ada keinginan berkongkalikong dengan karyawannya. “Bangun IPAL Rp 35 Milyar kok kongkalikong dengan karyawan? Mereka malah prihatin dengan kejadian yang saya alami ini. Mereka rata-rata sudah bekerja 20 tahun, dan saya bilang, kita harus lolos dari ujian ini”.

Irwan ingin sekali perusahaannya diaudit tiap bulan oleh BLH atau pun KLH dengan biaya dari perusahaan. “Tapi itu kan tidak mungkin karena tidak ada aturan itu. Setor uang harus ke bendahara negara kan?,” katanya. Dan idenya adalah, pemerintah menunjuk pengawas atau konsultan yang bisa mengaudit perusahaan dan melapor kepada pemerintah tiap dua atau tiga bulan sekali. Apapun, ia berharap kerjasama dengan pemerintah tidak hilang begitu saja. Kalau ada kesalahan terjadi di tempatnya, bisa langsung diketahui. “Kami ingin diperiksa baik-baik, lalu penjelasan kami juga didengar secara baik-baik.”

Irwan, yang produksinya sudah tembus ke luar negeri, dan selalu turun ke lapangan di pabriknya maupun terjun langsung ke pasar, ke agen serta pemilik kios dan mbok bakul jamu gendong itu menganggap yang terpenting urusannya kini pada pemerintah. Lagi-lagi, berkali-kali ia berkata agar bisa diaudit tiap dua atau tiga bulan sekali dilakukan oleh konsultan ahli. “Agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dan agar saya tidak dibuat bingung..,” ujar Irwan Hidayat, yang mengaku meproduksi jamu untuk kesehatan bukan sama sekali untuk membuat orang menjadi tak sehat dari pencemaran lingkungan hasil produksinya.

Categories: Berbagi Info | Leave a comment

PERTUNI dan Sido Muncul Saling Membantu

Suatu siang di kawasan Senayan, Kamis 8 Januari 2015. Mohamad Bob Hasan sebagai pembina PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia), Dirut PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Irwan Hidayat, Direktur Venancia Sri Indrijati dan Ketua Umum PERTUNI Aria Indrawati melakukan tandantangan kerjasama. “Bukan urusan pijat memijat,” ujar Bob Hasan. “Saya menginginkan PERTUNI bisa berkiprah ke mana-mana, termasuk menjadi pedagang tanaman obat”.

Ya, itulah Bob Hasan. Sejak menjadi pembina organisasi orang buta selama 40 tahun, akalnya ada saja untuk memajukan PERTUNI. Para tunanetra yang tinggal di pedesaan memiliki lahan , dan untuk membantu mengentaskan kemiskinan, PT Sido Muncul atas usulan Bob Hasan mengadakan pelatihan budi daya dan pengembangan bahan baku jamu. Mulai dari kencur, kayu manis, sereh, jahe, kunyit, akan ditumbuhkan oleh para anggota PERTUNI. Dan pelatihan dilaksanakan di pabrik Sido Muncul di Klepu Semarang.

Apakah kebutuhan kelak mencukupi dari para tunanetra itu? Menurut Irwan sang dirut, yang dicapai saat ini dari kelompok petani baru sekitar 30 persen dari total kebutuhan. Selebihnya dicari lewat pasar. “Lumayan kan kalau para tunanetra ikut memenuhi kebutuhan itu,” kata Bob Hasan.

Sido Muncul setiap bulan menargetkan 60 ton kunyit segar, 10 ton kunyit kering, 40 ton jahe segar dan 10 ton jahe kering. Lahan yang dibutuhkanpun tak perlu luas karena bisa dibudidayakan di dalam pot. Ketua Umum PERTUNI Aria Indrawati sungguh bergembira kelak anggotanya diberi kesempatan dan didampingi oleh para ahli, mulai dari pemilihan bibit tanaman hingga panen.

Maka obsesi Bob Hasan, yang tak ingin melihat para tunanetra hanya dianggap sebagai tukang pijat saja, lambat laun akan terwujud.

Categories: Berbagi Info | Leave a comment

Ajal

Ajal – - -

tatkala awan cerah menjadi gulita, kecamuk jiwa tak lagi teredam, ledakan kiat selamat dicari sekilat-kilatnya, meraih udara jernih penuh leluasa, namun apabila latak bumi bergerak retak, ajal ditetapkan oleh Sang Empunya, maka manusia hanya berhimpun penuh doa, simpuh kelam tersebar merata.. Akal sehat tak mampu sempurna.. Ajal..ajal…sudah direngkuh ketentuan dari Nya…., penguasa alam semesta….

Categories: Puisi | Leave a comment

Pesawatku

jauh menuju angkasa
luas menerpa angin
udara indah maupun mencekam
menjadi tantangan sepanjang nafas

pesawatku
adalah pesawatmu juga…
lepas berkibar membawa jiwa
ke tujuan utama yang duduk manis
melamun ke berbagai penjuru dunia
gegap gempita
malas tertidur pulas
bahkan sedari mengudara
menunggu makanan datang saja

pesawatku
yang juga pesawatmu
menjelma menjadi penyelamat
bersama sang sopir di ujung kepala
yang bertanding melangkah prima
berlama-lama

terbanglah gagah di alam raya
selamatlah..
tegar pada gelapnya dunia di atas
untuk kembali mendarat dengan sentosa
selamanya seperti itu..
selamanya seperti itu..
hingga sang sopir di ujung kepala
usai pula masa tugasnya

Categories: Puisi | Leave a comment

(Video) Membaca Sastra, Membaca Bangsa

Categories: Media, Puisi | Leave a comment

Kisah Reporter Muda

 

inilah kisah reporter  muda

yang terbelah kepalanya

terbelah hatinya

terbelah akal sehatnya

tatkala ia mendapat perintah

dari majikan di media megah

 

Reporter muda kusut masai tampilannya

sebagaimana suasana hidupnya..

repot

bingung

kusut…

mobil hitam di lapangan

harus diberitakan sebagai mobil putih..

si sumber  jelas-jelas  berkata tidak

harus ditulis ‘dengan tegas  si sumber berkata iya ‘ …

 

sang reporter kembali tak waras

matanya mendadak juling ke kiri ke kanan

saat  majikan memerintahkan kembali

untuk tak perlu menebar fakta….

bila peserta demo ada seribu

kabari saja hanya seratus

bila hasil foto  bercerita selempang di kiri

buru-buru ganti  arah  menjadi di kanan

bila ingin memperoleh bonus prestasi

ikuti saja maunya kami..

begitulah ujar sang ndoro di kantor yang berbau basi

 

terbayang skripsinya dulu

mata sang reporter berkaca-kaca…

dalam pencapaian sukses sarjana

tak boleh menyontek

harus karya asli

tak boleh menjadi plagiat

harus murni buah pikir sendiri

 

lalu, mengapa kenyataan dalam bekerja

sungguh berbeda..??

tipu daya

berita manipulatif

agar si sumber terjengkang mampus

menjadi tujuan utama..

yang salah dibenarkan

yang benar disalahkan…?

 

reporter muda  bersiap menenggak pil kopo

sebab dengkulnya tak kuat

telinganya memerah

rasa nurani terdalamnya juga robek

ia bingung sebingung-bingungnya

 

lalu muncul bisikan..

betulkan segera  matamu yang juling

benarkan  kembali kepalamu yang terbelah dua..

ingat selalu jerih payah kedua orang tua..

merawatmu siang malam berlumur kejujuran

dan rizki barokah..

 

jadi…

sangat tak ada salahnya,

kamu kabur dari neraka itu..

neraka kebohongan

hantu berita palsu yang masuk ke ronggamu

masih bisa disucikan…

baliklah kau menjadi reporter muda..

yang tangguh..

jujur dalam liputan berita..

jujur dalam kata..

agar gaji yang tiap bulan kau terima..

menjadi rizki indah dalam kehidupanmu selanjutnya…..

Categories: Puisi | Leave a comment

Suara yang Selalu Lantang

 

suaraku lantang

suaramu lantang..

suara kami lantang

suara kita lantang

menggema menembus awan

melintang di jalanan

membelah ladang dan lautan

menyembur hingga pelosok hutan

 

tapi mengapa suara itu bukan milik kalian..?

kalian yang dibutakan oleh pencitraan..

kalian yang tak tersentuh oleh kemiskinan

oleh ngawurnya kebijakan

oleh seringnya kedangkalan berpikir..

 

apakah karena kalian belum  jatuh terpeleset

oleh licinnya minyak

kelamnya penjajah dari negeri seberang..

atau karena selama ini

kalian terlena hingga ujung pohon kelapa

tak ada suara…

ya ,  tak ada suara karena bodoh,

atau karena ego yang menjulang..

karena berniat untuk senantiasa menutup mata..?

tatkala negeri ini di ambang kehancuran..,

senyap..

hanya ada air mata penyesalan

 

bangkiiiiiit…

bangkitlah kalian bersama kami..

minta tolong

memohon

sembahlah Tuhan..

agar negeri ini merasakan keindahan

damai..

jauh dari kejamnya cengkeraman

 

Categories: Puisi | Leave a comment

Ada Kartu Sakti, Ada Pula Kebo Bule Sakti

Kartu sakti diluncurkan oleh penguasa baru. Ibarat ada secercah matahari kinclong bagi rakyat. Sakit disembuhkan dengan pengobatan gratis. Sekolah juga meriah gratis. Betapa mulianya pemerintah masa kini.  Ya, namanya juga sakti. Jadi tentu akan membuat kemashlahatan bagi pihak-pihak tertentu bagi yang merasa diuntungkan maupun yang sudah merasakan manfaat kebaikan dari yang serba sakti itu.

Lalu, ada sakti yang lain lagi. Kebo Bule di kawasan Jawa Tengah tepatnya di Solo, juga dianggap keramat, sakti, dan bisa mendatangkan memashlahatan. Buktinya, orang berebut menyentuh tubuh sang Kebo Bule. Bahkan ketika tewas pun, pemberitaan media ada yang berjudul , “Kebo Bule meninggal”.  Ada pula yang mengulas bagaimana sang kebo dimakamkan layaknya manusia.  Banyak air mata, menangis meratapi kepergiannya. Terlebih orang-orang yang sudah pernah menyentuhnya. Berebutan.

Siapakah si Kebo Bule itu?   Kebo, atau  binantang berjenis kerbau itu memang berkulit putih agak  kemerahan.  Konon  kerbau itu adalah hadiah dari bupati Ponorogo yang dipersembahkan untuk Sri Susuhunan Pakubuwono II, plus pusaka bernama Kyai Slamet.  Sang kerbau dianggap  sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet.  Kebo Bule pun mendapat julukan Kyai Slamet.

Binatang kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwono  ini memperoleh tempat istimewa, bisa leluasa bebas di luar istana. Tak ada yang berani mengganggu, dan pengawal masa lalu, para abdi dalam turut menjaganya.  Tempat sang kerbau itu berkeliaran akhirnya ditetapkan sebagai lokasi untuk dibangunnya kraton Kasunan Surakarata Hadiningrat.   Tak heran dalam tiap upacara Satu Suro atau Tahun Baru Islam, kelompok Kebo Bule menjadi pusat perhatian saat keluar kandang. Dianggap keramat, disaksikan banyak orang, dan Kebo Bule menjadi pemimpin arak-arakan barisan manusia. Pusaka Kyai Slamet  keluar  dari tempatnya, menuju dunia luar dan dijaga oleh para abdi dalem.

Lalu terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Bagong, salah satu Kebo Bule yang kini tinggal selusin itu tewas. Diduga ada unsur kesengajaan dari orang tak dikenal yang menusuk dengan tombak.   Rakyat berduka.  Ada cibiran dari banyak pihak ketika diberitakan sang kerbau diberikan kain kafan, ditaburi bunga sampai diiringi doa saat penguburannya.  Apalagi, ‘sang mayat’ diposisikan menghadap arah barat, sebagaimana  manusia yang masuk ke dalam lubang kubur.  Unik. Tak bisa direndahkan begitu saja, sebab kesakralan sejak 250 tahun lalu itu tetap dianggap memiliki makna khusus.  Dianggap dulunya sudah dilumuri kesaktian karena tak mempan dengan  kobaran api yang membakar perkampungan di zaman Sultan Agung Hanyakrakusumo. Kebo Bule dianggap bisa mendatangkan rejeki, membawa berkah, menghindari bencana, dan berbagai peristiwa yang dianggap sakti lainnya.

Kebo Bule, riwayatnya tak kunjung punah. Ada yang mempercayainya sebagai media keselamatan kehidupan manusia. Ada yang tak ingin menggubrisnya dan menganggap sebagai kepercayaan konyol.  Semua berpulang pada keyakinan masing-masing……barangkali sama pula dengan rakyat Indonesia sekarang yang sedang terkagum-kagum dengan Kartu Sakti yang beredar, berobat gratis, sekolah gratis…., yang semoga saja juntrungannya betul-betul sakti, bukan sekadar pencitraan semu ,  dan lagi-lagi, moga-moga memang  memberikan banyak mashalat bagi kehidupan manusia Indonesia. Tapi, apa iya..?? Lho, iya dong.. asalkan teknisnya jelas untuk pelaksanaannya di lapangan. Kartu sakti kan bukan cerita masa lalu yang bermuasal dari  cerita tradisi 250 tahun silam seperti Kebo Bule Sakti ?? Jadi pertanggunganjawabnya harus benderang. Bukan ngasal percaya begitu saja….

 

 

Categories: sos/bud | Leave a comment

Sutradara Hebat Malaysia Itu Berdarah Minang

 

IMG-20141105-WA0001

 

U-Wei,  begitulah  orang memanggilnya. Nama panjangnya adalah U-Wei Hj Saari. Berbadan tegap, rambut memutih, dan tatapan optimis ada pada sinar matanya. Di kalangan perfileman Malaysia, namanya sudah tak asing lagi. Ia adalah sutradara kawakan untuk berbagai film bermutu yang telah dihasilkan melalui kreatifitasnya. Antara lain, Perempuan, Istri dan…, juga Kaki Bakar, Jogho, Buai Laju-Laju dan beberapa film televisi. U-Wei  sempat dinobatkan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Film Malaysia. Filmnya tak hanya beredar di negerinya, tetapi juga menyebar ke berbagai negara lain; Belgia,  Thailand, Amerika, dan lain-lain.

Lelaki kelahiran  Bentong yang dikelilingi sungai indah di mana-mana itu ternyata berdarah Minang. “Ya. ayah ibu saya dari Minang, Indonesia, tapi  mereka sudah tinggal di Malaysia sejak dulu, ” ujarnya sembari senyum. Ditemui di  sebuah ruangan sejuk di kawasan Kuningan Jakarta, U-Wei  kelahiran 1954 itu  berkata kedatangannya ke  Jakarta memang khusus  untuk pemutaran film Gunung Emas Almayer yang disutradarainya. Film ini akan diikutsertakan dalam festival film. Selain  di Malaysia tentunya,  dan di Indonesia,   Gunung Emas Almayer akan  beredar   pula di Kanada dan Amerika.

Membaca novel karya Joseph Conrad pada tahun 1996 yang berjudul Almayer’s Folly,  U-Wei  memiliki obsesi untuk mengangkatnya pada layar lebar.  Berbagai rencana matang bertahap dilaluinya. Menurutnya, untuk menuju sempurna, biaya film begitu mahal bila memang akan menciptakan suasana cerita abad ke 19  seperti yang dikisahkan sang novelis.

Impiannya terwujud pada tahun 2010. Film bermakna itu dibuat selama  berbulan-bulan dengan kegairahan bakat U-Wei yang menggelora. Ia berhasil menggambarkan perpaduan antara Barat dan Timur, gejolak perdebatan antar berbagai ambisi dari dua kulit berlainan. Perdagangan senjata masa lalu yang unik dan berbelit-belit penuh misteri, serta suasana mencekam dalam segala keterbatasan kesanggupan manusia. Semula, film itu berjudul Hanyut –  yang setelah beredar di Indonesia menjadi Gunung Emas Almayer. Baginya, perubahan nama itu tak menjadi masalah.

U-Wei  pun memoles para pemain dengan watak dan karakter penokohan secara luar biasa. Suasana pedesaan di Malaka pada tahun 1830 an itu dikombinasikan dengan  kekayaan dialek Melayu kuno para tokoh dengan sempurna. Peter O’Brien sebagai Almayer bermain total. Sofia Jane bintang film Malaysia berdarah Eropa yang cantik itu pun diarahkan U-Wei sangat nyata sebagai perempuan yang penuh gejolak depresi. Sebagai Mem, Sofia muncul amat baik. U-Wei pun tak luput mengasah Diana Danielle yang berperan sebagai Nina, anak Almayer. Dain Maroola si ganteng Adi Putra juga dibuat oleh U-Wei  meletup-letup  sebagai pedagang galak yang lumer oleh urusan jatuh hati. El Manik sebagai Raja Ibrahim mengeluarkan keahlian beraktingnya luar biasa. “Cakap” Melayu muncul dari El Manik dengan baik. Demikian pula Alex Komang yang menjadi Abdulah. Bagaimana dengan si penjaja kue, budak di desa yang selalu berada di berbagai situasi, gadis  Taminah yang dimainkan oleh Rahayu Saraswati (Sara)?  Untuk yang satu ini U-Wei berkata, “Urusan saya dengan Sara belum selesai!”  Lho?  “Ya, Sara sangat berbakat dan ia pemain watak yang baik. Saya ingin sekali  pakai lagi untuk film lain ,”  jawab  U-Wei dengan lantang dan tertawa lebar.

Ternyata, U-Wei sangat puas dengan permainan Sara, yang ia temui melalui iklan. Pada proses pencarian bintang, U-Wei menebar iklan ke segala penjuru. Dan Sara yang diterimanya. “Saya tidak pernah tahu dia siapa, anak siapa. Yang saya tahu dia cocok untuk film saya!”, katanya tegas.

Itulah U-Wei.  Bersahaja. Tegas. Pekerja keras. Ia tetap menjalankan obsesinya untuk berbagai film lain yang membawa Malaysia ke penjuru dunia. U-Wei mengalir bagai  sungai di Bentong tanah kelahirannya.  Ia memberikan pendalaman budi kepada para pemainnya. Ia adalah guru bagi para aktor dan aktrisnya.  Dengan  seksama, sebagaimana  kejeliannya memilih orang-orang yang ia anggap layak dalam memerankan film-film hebatnya.

IMG-20141105-WA0000

Ngobrol dengan U-Wei ….

 

emas 1

Gunung Emas Almayer  —- film U-Wei yang dahsyat  !!

 

 

Categories: Media | Tags: , , , , , | Leave a comment