Ceu Popong

duh si eceu…

merah  jambon menyala busananya

menohok keriuhan malam

penuh manusia tiada punya adab

menerjang

menuding

serampangan

 

duh si eceu..

jelita penuh tanda tanya

jauh dalam hati nan mulia

siapa yang sedang berhadapan dengannya

ciptaan Tuhan jenis apa..

yang  tindak tanduk penuh kejam belantara

 

ceu Popong terlatih

dalam darah dagingnya

dihadang hewan berkedok manusia

tatapan mata berkejap

karena merasa semua bukan lawannya

bukan kelasnya

bukan derajatnya

 

ceu Popong bersinar

di tengah kusamnya karang nestapa

yang berceloteh dengan garang

hingga tangan menggenggam parang

siap-siap berperang

namun ia tak peduli

senyum mengembang jauh di lubuk terdalam

inilah kaum bengal yang baru melek mata

belum lagi pantat  seminggu  menyentuh  kursi kuasa

sudah besar kepala…

 

ceu Popong merdeka hatinya

merah jambon busana membantu memuliakan sinar wajahnya

hanya kesabaran semata-mata

yang tumpah melumuri tubuhnya

atas anugerah Tuhan yang selalu ia minta di sampingnya….

Categories: Puisi | Leave a comment

Bermimpi BersamaMU di Depan Ka’bah

bila kuperoleh lagi rizki

muncul di depan rumahMU

menjadi tamu yang menyemut

merasakan kecilnya diri

karena Engkau melebihi segalanya

 

bilakah datang kembali saat itu

telapak kakiku menyentuh lantai indah

di hadapan ribuan lautan manusia

menatap kiswah terjurai

aku di depan Ka’bah

menyebut namaMU hingga sanubari terdalam…

berserah serendah-rendahnya

memohon sesujud mungkin….

menuju putaran tawaf menggelegar

penuh gelora cinta

tertuju kepadaMU

sang kekasih hati

kubermimpi

dari kejauhan…

kembali bersamaMU di depan Ka’bah

bila hidayah mampir kembali

suatu saat nanti

atas aturan yang kutaati….

Categories: Puisi | Tags: , , , | Leave a comment

Ngopi Lezat di Manggar, Kota 1001 Warung Kopi

IMG-20141001-WA0000

 

Begitu masuk ke kota Manggar Belitung Timur sebagai kota kedua terbesar dan teramai di Pulau Belitung, monumen di tengah kota  menjadi pemandangan yang menarik. Teko kopi dan cangkir raksasa yang terpampang  menandakan ciri khas  kota yang menjadi kecamatan dan Ibukota Kabupaten Belitung Timur propinsi kepulauan Bangka Belitung.

“Manggar, Kota 1001 Warung Kopi”  adalah julukan khas yang mencerminkan keunikan kota ini. Di mana-mana warung kopi bertebaran. Suasana begitu hidup, hangat, dan masing-masing sudah dengan pelanggannya yang tiada henti berkunjung.

Warung Kopi Atet, di jalan Sudirman  no 187 kawasan Lipat Kajang Manggar termasuk warung yang menjadi pilihan warga maupun turis yang datang.  Suasana santai maupun serius berbaur, bersamaan dengan segala lapisan masyarakat duduk bersebelahan.  Yang berbusana seadanya, sedikit lebih rapi hingga seorang dokter maupun  deretan pak polisi berseragam yang  menikmati jam istirahatnya. Gelak tawa, obrolan warung kopi  dan kepulan asap rokok menjadi pemandangan sepanjang hari. Sesekali Basuri Tjahaya Purnama, adik Ahok wakil Gubernur Jakarta yang menjadi Bupati di Belitung Timur, turut pula duduk ngopi bersama rakyat. Yusril Isha Mahendra sang pakar hukum mantan Mensesneg  bila mudik juga mampir ke tempat itu. Suasana warung kopi Manggar sudah tercipta sejak puluhan tahun lalu. Para penambang timah berkumpul pagi sore, maupun pegawai pemerintahan serta yang bekerja di perkebunan.

Atet ( nama panjangnya  Antonius Abidin Suherman) yang berusia 64 tahun ini  mulai meneruskan usaha warung kopi kakeknya, Afu, sejak tahun 1992.  Warung itu dirintis sejak tahun 1949 di lokasi yang sama. Atet remaja, saat usia 15 tahun sudah  berbaur dengan aroma kopi karena sering membantu melayani tamu. “Harga secangkir kopi dulu masih Rp 300,- Sekarang sudah Rp 5000,-”, ujarnya sambil mengenang masa lalu. Untuk kopi O ( artinya kopi ‘kosong’  tanpa susu), segelas kecil Rp4000,-.  Untuk  penderita diabetis, Atet menyediakan gula jagung sebagai pengganti susu.  “Dulu  engkong pakai cangkir, sekarang saya pakai gelas saja supaya cucinya  gampang”, katanya.

 

IMG_20141001_160839

 

Sembari nyeruput segelas kopi susu, saya sesungguhnya was-was karena sudah hampir setahun tidak pernah menyentuh kopi  gara-gara  lambung saya bermasalah. Tiap meneguk kopi, perut terasa ngilu. Karena penasaran dengan kopi Atet, saya nyeruput pelan-pelan, dan…. waaaah, betul-betul memang lezaaaat !  Heran dan sekali lagi heran, mengapa perut saya sama sekali tidak ngambek?  Tak ada rasa senat-senut sedikitpun setelah menikmati kopi hasil olahan Belitung itu.

Menurut Atet, penggilingan kopi di Belitung punya cara tersendiri yang membuat kopi di kawasan itu ‘top’  rasanya. Tak ada campuran jagung sedikitpun, dan teknik penggilingan biji kopi juga beda dengan tempat lain. Perkebunan kopi memang tak ada di Belitung. Kiriman kopi dari Lampung berhasil diolah di daerah ini dengan cara khas yang menciptakan kelezatan tersendiri. Cara penyajian kopi di Manggarpun punya cara khas yang membuat kopi di sana terasa sangat istimewa.  Atet, yang berputri satu dan  baru lulus dari salah satu Universitas di Jakarta menjelaskan, bahwa bubuk kopi  pertama masuk ke dalam saringan kain dari bahan katun paris yang ia jahit sendiri. Lalu diseduh dengan air mendidih ke dalam saringan, baru setelah itu kopi ditumpahkan ke panci yang sudah dengan air mendidih yang lain.  Dituangkan ke  gelas, ditambahkan susu kental manis.

IMG_20141001_161008

 

 

IMG_20141001_160946

 

 

IMG_20141001_160912

 

 

 

IMG_20141001_160901

 

 

IMG_20141001_160923

 

Atet membuka warung kopinya mulai menjelang subuh hari. Biasanya ia menutup warung  sore  hari sebelum maghrib.  Warung-warung kopi lainnya, yang juga penuh pelanggan masing-masing, memiliki jam buka yang berbeda-beda. Ada yang buka agak siang dan tutup tengah malam. Hampir semua bergantian, bagai tercipta toleransi kesepakatan dagang kopi tak tertulis antara satu sama lain.

Tampilan warung kopi juga berbeda-beda. Atet belum lama merenovasi warungnya, yang semula hanya berupa dinding papan gaya tradisional. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan dua kilogram bubuk kopi untuk sekitar 500 gelas.  Ia hanya tersenyum ketika ditanya penghasilan sehari. Sebagai gambarannya, dalam sebulan keuntungan bersih bisa mencapai lebih dari Rp 10 juta.  Atet merasa tetap berbahagia dengan usaha turun menurun ini. Dari delapan bersaudara hanya dia sendirilah yang mewariskan minat nenek kakeknya. Generasi ketiga berada di tangannya. Asiu, istrinya yang setia menemani berjualan kopi , wafat tiga tahun lalu. “Dulu saya kerja di PN Timah, bagian distribusi peralatan kapal keruk sambil buka warung kopi ini, dan istri yang jaga,” cerita Atet.  Ia sempat sekolah ikatan dinas di perusahaan besar itu selama tiga tahun. Ketika muncul pemindahan pegawai ke Bangka dan pemberhentian tenaga kerja, Atet tak berminat pindah ke Bangka. “Warung ini adalah kebahagiaan saya,” ujarnya sambil tertawa lebar.

Atet juga menyediakan penganan kecil pendamping ngopi. Roti goreng maupun lemper yang dibungkus daun Simpor khas Belitung, dijual  seharga Rp 1000,- sepotong.  Murah dan enak. Rata-rata tamu sebanyak 200 an orang sehari itu nyeruput kopi dengan jajanan kue.

 

IMG_20141001_161227

 

 

IMG_20141001_161213

 

 

IMG_20141001_162905

 

 

IMG_20141001_161029

 

 

IMG_20141001_161017

 

Setelah puas ngopi, ngobrol dan bertanya segala rupa kepada Atet, saya pamit. Di jalan saya tercenung berlama-lama. Belitung jauh dari Jakarta, meski naik pesawat udara hanya membutuhkan waktu 45 menit. Tapi tempat ini tak memiliki kafe mewah, apalagi berAC dengan  alunan musik.  Kopinya?  Tiada tara lezatnya. Tak membuat sakit mag kambuh,  tidak juga menguras kocek dengan harga selangit. Saya bayangkan penganan kue seharga Rp 1000,- sepotong. Betapa ngilu rasa hati saya, apalagi membandingkan, lagi-lagi,selangitnya  harga secangkir kopi, sepotong cheese cake serta  suasana kafe di kota-kota besar, yang kopinya sangat jauuuuuh rasa bedanya dibanding  kopi Atet   maupun warung kopi lain di Manggar yang enak sekali. Tak heran pejabat asal Belitung bila datang pulang kampung tetap akan mampir ke warung-warung kopi nyaman itu. Tak berAC namun tubuh tak terasa panas, hatipun tak panas. Semua berbaur, pegawai rendahan, orang kantoran, pejabat, aparat keamanan, penuh keakraban.

Saya ingin sekali kembali ke Manggar, “Kota 1001 Warung Kopi”  yang menyenangkan.  Betul-betul saya ingin kembali lagi ke sana… Belitung Timur yang asri, dilewati desir angin laut dan jalan menuju ke sana begitu mulus, bersih, sembari menikmati kiri kanan kebun kelapa sawit maupun tanaman lada yang disebut sahang.  Seruput..seruput… seruput kopi yang lezaaaat…., rasanya semua masih di depan mata.

 

Categories: Catatan Perjalanan | Tags: , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Puisi 30 September…

 

 

 

Seorang lelaki mengusap air matanya

desiran angin dingin Eropa melanda hati..

bagaimana mungkin ia melempar  jauh kenangan pahit akhir September…,

tatkala lengking jeritan pilu menggema di keluarga

para keparat merenggut nyawa sang ayah seenaknya

bagai membantai ayam tiada berharga

angin Eropa kembali menerpa kepedihan

peristiwa puluhan tahun silam  jauh di negerinya…

yang  tetap dicinta  sampai akhir hayat

hingga kini memberikan rasa was was…

apakah kejadian mengerikan itu akan terulang,

karena MEREKA kini diberi lagi peluang….?

Categories: Puisi | Leave a comment

Moerdiono, Kalau Masih Hidup……

Moerdiono pernah menjadi Sekretaris Negara. Ia seringkali dianggap o’on, membuat mual pemirsa televisi yang mendengarkan caranya berbicara. Terbata-bata, bagai orang bego’ yang duduk sebagai jubir Presiden Suharto kala itu. Tapi kami, para wartawan Istana yang tahu persis siapa Pak Moer, tentu tak menganggap demikian.

Pak Moer memang alergi kamera televisi. Ia akan terlihat gagap bila lampu kamera sudah terpasang di depannya. Atau, ia memang sering pura-pura gagap. Kalau alat perekam dimatikan, televisi tidak menyorot, Pak Moer akan lancar berbicara, selancar-lancarnya. Ia sangat cerdas, taktis, hati-hati, tidak serampangan melontarkan kata, dan kedekatannya dengan para wartawan Istana luar biasa.

Ia menjelaskan banyak informasi yang hanya sebagai latar belakang penulisan, dalam waktu yang panjang. Termasuk apa kata Pak Harto yang sesungguhnya, yang hanya untuk sikap penulisan. Semua diceritakan kepada kami, para wartawan yang bisa dipercaya untuk tidak memiliki hobi buruk untuk mlintir berita.

Apapun, kami selalu bertanya juga padanya, “Gimana sih pak Moer, bicara gagap begitu hanya pura-pura.., nanti dikira rakyat memang pak Moer bego’ beneran lhoooo”. Lalu ia hanya tertawa lebar. Katanya, “MENDING TERLIHAT BEGO’ PADAHAL TIDAK, DARIPADA SOK PINTAR BICARA INI ITU CEPLAS CEPLOS PADAHAL GOBLOG. MENDING BERPIKIR DULU BARU BERBICARA, DARIPADA BACOT GEDE KE MANA-MANA, MIKIRNYA BELAKANGAN !!”

Andai Moerdiono masih hidup dan melihat cara Ahok berbicara ….. waaaaah, tak terbayangkan apa komentarnya !!

Categories: sosok | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Tulisan Mariska Lubis

Ini bukan  hasil tulisan saya. Mariska Lubis, seorang pengamat sosial, penulis yang giat telah mengungkapkan pernyataannya dengan ‘mengena’  di hati.

Saya menyalinnya kembali karena saya amat terkesan dengan tulisan ini  ;

 

*******************************&&&&&&*************************

 

Menantang Nyali MK →
Jagoan Ngomong, Mengerti Politik Pun Tidak!
Posted on August 19, 2014 by bilikml

Banyak cakap menjelek-jelekkan orang lain, bahkan menghina orang yang benar-benar turun berjuang mempertaruhkan jiwa dan raganya. Seolah benar berani berjuang, padahal hanya memperjuangkan nafsu dan kepentingannya belaka. Mana ada pejuang yang tak bernyali dan hanya banyak omongnya saja?! Mana ada pejuang yang tak berpikir panjang dan hanya memikirkan saat ini tanpa juga mau belajar lebih dalam?! Berlagak jagoan bak pejuang sejati, iya!!!

Saat ini seharusnya sudah tidak ada lagi yang berlagak seperti jagoan dalam film-film, kecuali bagi yang memang senang mendramatisir dan hiperbola ala sinetron. Sebaliknya, sekarang justru makin nampak jelas pecundang yang berlagak seperti jagoan seolah benar punya nyali untuk berjuang dan menegakkan kebenaran serta keadilan untuk kepentingan semua. Paham politik, pemerintahan, dan negara pun tidak, berkoarnya sudah lebih-lebih dari pejuang ’45 saat merebut kemerdekaan. Untuk mengakui perbuatan buruk dan ketidaktahuannya saja tidak bernyali, mengakui salah apalagi, tapi aduh, mak!!! Hebat, deh, pokoknya!

Beginilah nasib bangsa yang dikuasai oleh orang-orang yang penuh dengki dan dendam atas masa lalu terutama masa Orde Baru. Apa yang baik dan buruk di masa itu tidak bisa dilihat dengan kacamata objektif, pokoknya semua yang berhubungan dengan masa Orde Baru adalah buruk. Anehnya, apa yang baik di era Orba justru dibuang, giliran semua yang buruknya ditiru bahkan dibuat lebih buruk lagi. Lihat saja Pemilu di era reformasi! Apanya yang demokrasi?! Peraturan dan penyelenggaraannya saja kalau balau, teramat sangat!!!

Ini juga nasib bangsa yang rakyatnya memang masih bodoh dan senang banget dibodohi. Seperti yang sudah saya sering uraikan, bahwa Indonesia ini dikuasai oleh manusia penonton alias audience people yang merupakan bukti tingkat kebodohan. Manusia penonton bisa dengan begitu mudahnya yakin dengan apa yang ditontonnya, tanpa berpikir panjang dan belajar lebih mendalam. Itulah sebabnya, mudah sekali digiring oleh media massa. Diperparah lagi dengan kemampuan baca dan bahasa yang juga rendah, sehingga tulisan itu hanya dibaca aksaranya saja, itu pun banyak yang tidak paham arti dan maknanya. Paling kacaunya, manusia penonton ini juga senang banget jadi tontonan dan ditonton, berhubung jejaring sosial sekarang mendukung, maka hebohlah di sana.

Lucunya, tidak sedikit yang berdalih bahwa ini merupakan hak di era demokrasi, tapi giliran orang lain berbeda pendapat tidak terima dan dianggap tidak memiliki hak yang sama. Memangnya siapa, sih, sampai segitu beraninya mencabut hak orang lain? Malah perilaku seperti itu menunjukkan ketidakmampuan menjalankan kewajiban, yaitu memberikan hak yang sama kepada semua orang. Menjalankan kewajiban saja tak mampu, teriak-teriak pula soal hak dan kewajiban orang lain?! Duh!!!

Urusan penyelenggaraan Pemilu Presiden yang digugat saja hanya dipahami sebatas menang dan kalah, dan Pak Prabowo terus juga dijadikan bulan-bulanan. Mengertikah bahwa Indonesia ini punya masalah dengan penyelenggara Pemilu sejak lama?! Kalau tak bermasalah, tak mungkin ada banyak gugatan di Mahkamah Konstitusi. Jangankan pelaksanaan Pemilu yang krusial di tingkat nasional, seperti Pilpres, pemilu Legislatif April lalu pun sangat buruk dan bahkan merupakan Pemilu Legislatif terburuk dalam sejarah Indonesia. Konyolnya, kesalahan mereka bisa tertutup dengan mudahnya oleh para jagoan yang berkubu. Merasa pejuang dan pahlawan, ya, kalau sudah menjatuhkan kubu lawan? Esensi penting dari kenapa gugatan ini harus dilakukan pun tak paham. Yang dibahas hanya seputar tampilan saja, persis seperti sinteron dan acara gosip!!!

Malu sebetulnya menyaksikan semua ini, sedih dan miris. Marah sudah lebih dari marah hingga timbal rasa iba dan kasihan. Efek buruk dari rasa tidak percaya diri dan tidak memiliki keyakinan itu begitu terasa, sehingga sangat mudah sekali untuk menyerang. Semua kelakuan berlebihan yang muncul lewat perilaku dan kata-kata yang tidak sopan, tidak memiliki empati, asal ngomong saja, dan tidak tahu waktu tempat dan posisi, menjadi bukti yang kuat betapa lemah dan kosongnya pikiran dan hati. Benar-benar menjadi cermin kebodohan yang sudah di tingkat mencemaskan!

Banyak pula alasan dan pembenaran dengan segala rasionalisasinya, seperti benar saja rasional dan bisa membuktikan kepintaran. Padahal terbalik! Justru ketika semua itu makin terurai maka semakin menjadi bukti ketidakmampuan berpikir rasional. Menuduh semua alasan dan bukti yang diajukan tanpa mau mencermati lebih teliti, tanpa mau mempelajari sebab akibatnya, sejarahnya, juga menunjukkan ketidakrasionalan pemikiran. Memangnya salah jika menang pun melaporkan kecurangan dan kesalahan?! Memang umumnya orang kalau menang di satu daerah lebih banyak diam meski tahu Ada kesalahan dan kecurangan, namun bukan berarti itu adalah perilaku ksatria yang hebat! Seorang pejuang dan ksatria mana mau menang karena kecurangan dan kesalahan?! Kenapa sudut pandang ini dianggap tidak rasional sementara teriak-teriak ala preman tanpa bukti dielu-elukan dan diacungi jempol?!

Sudahlah! Tak usah menjadi jagoan bak pejuang sejati! Makin keras teriak makin nampak bualan kosongnya! Malu lihatnya!!! Tak usah terus tunjuk jari, ingat ada empat jari yang menunjuk pada diri sendiri! Daripada berjuang untuk diri sendiri dan kelompok, kenapa tak membantu berjuang untuk bisa mendapatkan kehidupan lebih baik di negeri ini? Meski menang, KPU bukan berarti lembaga yang tidak pernah salah dan tidak melakukan kesalahan! Semua kesalahan dan kekurangan mereka harus terungkap agar ada perbaikan ke depan. Kalau memang pejuang sejati, berjuanglah untuk kebenaran dan keadilan serta untuk semua, dong!!!

Nggak usah banyak teriak, deh! Diam dan berpikir akan lebih membantu! Lepaskan soal kubu-kubu dan jernihkan pikiran dan hati! Gugatan Prabowo di MK terhadap penyelenggaraan Pemilu ini penting banget bagi kita semua, kok!!! Mau terus-terusan Pemilu buruk dan amburadul?!

Semoga dipahami!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
18 Agustus 2014

Categories: Opini | Leave a comment

Renungan Lebaran (2)

kehangatan telapak tangan

saat bersalaman penuh pemaafan

diselimuti taburan senyum

dan serbuan awan putih

bening

menghajar gelapnya amarah

musnah sudah ribuan kesal

kembali kepada dasar kasih..

bisakah??

mampukah…?

yang tak bermasalah begitu mudah bermaafan

yang sempat bermasalah justru tak keluar ungkapan itu

tak secuilpun,,,

bagai tak ada tempat untuk memohon maaf

tak juga merasa telah berbuat khilaf….

lalu apa makna lebaran sesungguhnya…??

Categories: Puisi | Leave a comment

Renungan Lebaran

 

 

Alhamdulillah menikmati Lebaran bersama keluarga besar, keluarga inti, keluarga orang lain…. semua terasa indah….. kasih merebak di antara kami… makanan lezat tiada henti…. tertawa membicarakan perbedaan pilihan yang seru kemarin ini…, saling menghormati pilihan masing-masing meski tetap saja ada sindiran kocak..hahahahaaa…. lalu ngobrol cekikikan lagi, sembari memandang generasi muda kami.., anak cucu menantu…. dan kami baru merasakan betapa usia kami sudah jauuuuuh… kami  telah memperoleh bonus bermakna dari Tuhan Semesta sang Kekasih….  kami  semua berkumpul dalam dua hari yang padat dan melelahkan tapi  secara keseluruhan benar-benar sungguh menyenangkan….. Terima kasih Tuhan….. beribu terima kasih….

Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Keputusan Saat Sahur

Bagas tampak kuyu.  Kerja tiada henti di media  terkenal Indonesia membuat tenaganya terkuras. Bulan puasa membuatnya harus bertahan pada haus lapar dan kesabaran. Kesabaran ?

Waktu sahur telah tiba. Bagas duduk termenung di meja makan. Ibunda sibuk menyendok nasi ke piringnya. Vitamin  dan madu di sebelah piring disediakan. Ayahnya, sembari menyeruput teh hangat, diam-diam mengamati wajah anaknya.

“Bapak lihat kamu capek sekali Bagas..”, ujarnya.  “Iya pak. Capek banget. Tapi yang bikin lebih capek adalah capek hati, dan capek menahan sabar”, jawabnya lirih.  Sang ayah terkesiap. Inilah yang ia takuti selama ini. Anaknya tak lagi bisa bekerja dengan hati ringan.  Keterpaksaan adalah hal yang mengerikan dalam menjalankan pekerjaan apapun. “Ayo ceritakan saja kepada kami, tidak usah malu nak,” kata sang ibu.

“Aku kerja lapangan, melihat semua kenyataan. Aku tahu hasilnya merah,  tapi sampai di kantor , laporan kerjaku diacak-acak oleh boss.  Merah harus diubah jadi kuning, hitam, hijau, pokoknya semau-maunya deh. Asal orang yang satu itu, yang jadi pusat berita,  namanya harus  jelek.  Kesan di masyarakat  pokoknya dia harus jelek. Di meja rapat, Bagas pernah migren berat karena mendengar instruksi atasan yang sangat kejam dan penuh rekayasa. Bagaimana bisa kerja terus-terusan di kantor itu kalau aku harus ikuti perintah jahat begitu pak?  Ibu juga pasti tidak bangga kan kalau anak ibu digaji bulanan dari hasil bohong?”

Sang ayah kembali terkesiap. Teh hangat terasa membara di mulut. Nasi berlauk sup kacang merah terasa hambar.  Hatinya berbicara, kasihan anakku. Tekanan batinnya sudah melampaui batas…

“Lalu kamu mau bagaimana?”, tanyanya. “Bagas minta izin ke bapak dan ibu,  untuk keluar saja dari dunia itu. Mending Bagas jualan syomai di pasar dekat rumah kita itu. Atau menjadi sopir mobil sewaan sementara ini sambil cari kerja yang lain,”  jawabnya.

Ibunda menahan butiran air matanya sekeras mungkin.  Duh anakku sarjana komunikasi. Pandai menulis, pintar berpidato, wawasannya cukup luas, bahasa asingnya lancar, ingin berjualan syomai atau menjadi sopir  mobil sewaan ?   Sahur malam itu terasa hening  kecuali darah di tubuh yang kencang berdesir.

“Lakukanlah nak. Bapak juga was-was, jangan sampai anakku lama-lama malah terbawa pada kegiatan tipu muslihat seperti itu. Sebetulnya Bapak sudah ingin bicara sejak lama soal ini, tapi kan rasanya kasihan melihat kamu begitu cemerlang melangkah karir di perusahaan hebat itu”.   Dan si Ibu pun nyeletuk , “Ibu tidak ada bangganya kalau anak ibu jadi makhluk penipu di kantor hebat itu.  Jualan syomai lah. Menyopir mobil orang lah sementara waktu. Tuhan tentu InsyaAllah akan kasih rejeki di lain waktu dan dalam waktu yang tidak lama…. kami rela ..sumpah .. kami rela.. meski tadi ibu cukup kaget dan sedih , kok anak ibu mau jualan syomai.  Tapi ketimbang mulut tangan kakimu penuh mudharat.  Harus ngibul tiap hari, harus menyerahkan pekerjaan palsu untuk kepentingan perusahaan, apalagi dengan tujuan untuk mencelakakan orang,  alangkah hinanya….”

Mita, adik Bagas segera  mengambil garpu. Langsung menusuk daging empal di meja. “Nih, gue tusuk boss elo , kak !  Gue tusuk juga kebohongan ! Itu bukan keluarga kita, lageeee… !  Lebaran nanti kita seada-adanya saja. Tapi bahagia. Kakak jualan syomai, nggak masalaaaaaaaah.. !”

Dan berempat tertawa lebar… berderai-derai. Hati lapang  menebar di meja makan. Riang menyerbu sahur mereka. Tentu malaikat pun tersenyum mengiringi kebahagiaan keluarga indah itu …….

Categories: Cerpen (Fiksi) | 1 Comment

Ketika Kami Sudah Kehabisan Kata

kami hanya tercenung

bungkam

terpana

pedih

terkesima

 

ketika kami sudah kehabisan kata..

maka hanya hati yang bersuara

telinga bagai tak tersusupi bunyi kebaikan

sebab jelaga tumpah di sekitar muka

kami kehabisan kata

tak mampu berbicara

 

kedajalan merajalela

lalu kami  bisa apa

bila yang salah dibenarkan

yang benar ditindas mampus

kami kembali menganga

tanpa sebutir kata muncul

terserah mereka..

terserah  mereka…

silakan bergembira

hingga bukti nyata di depan mata

lalu  seberat batu pun muncul kecewa

Categories: Puisi | Leave a comment