Cinta Lama

perempuan bersanggul itu
muncul di layar lebar
begitu kencang meniupkan bara cinta
tiada lagi raga untuk yang lain
tak bersisa setitikpun
semua untuk pria berkumis
tatapan mata yang tajam
hidung bangir bertubuh kekar
di situlah panah dituju
melejit dahsyat
bagai kelenjar menyebar lewat puting payudara
hingga lapisan kelopak mata
kekasih hati tak mampu tertangkap berlama-lama
menusuk perih melampaui ledakan amarah
kecewa batin tiada terkira…
karena cinta telah salah arah..
sangat salah arah
hingga maut menyapa seketika..
musnah !!

Categories: Puisi | Leave a comment

Sam Ratulangi Tentu Kecewa….

Pahlawan Nasional asal Minahasa Sam Ratulangi berkata, “Manusia baru bisa dikatakan manusia bila sudah bisa memanusiakan manusia”

Maka alangkah pedihnya ia bila kini masih hidup. Betapa kekalutan, tindakan barbar dari para generasi muda yang berpredikat MAHASISWA di Universitas Sam Ratulangi berlangsung dengan gempita dan menyeramkan, tentu tak sepadan dengan nama Sam Ratulangi yang diemban dan dikenakan di tempat menimba ilmu itu.

Di mana letak memanusiakan manusia di tempat terhormat itu? Bagai tak berbekas….

Categories: Renungan Hidup | 1 Comment

Tuan Kanada Kini Sendiri

pepohonan rimbun
rambutan menggelantung
ranum
merah terang
ikuti ayunan angin
semilir sejuk

rerumputan terhampar
bersiram sisa embun
daun kering merayap pelan
sepi…

tuan Kanada termangu
tiada lagi belahan jiwa
menemani di rumah asri
tiada lagi suara lantunan
rentetan ayat suci mulia mengawang

tuan Kanada termangu
perempuan Brebes muslimah telah pergi
membawa derita sakitnya
meninggalkan tiga anak tercinta
dan dirinya…

tuan Kanada kini sendiri
tangannya bagai tiada daya
kaki menapak bumi penuh kelu
buku nikah di depan mata
bagai jarum menusuk ulu hati
maka buku terbelah dua
terbelah empat
terbelah enam..
lewat gunting tanaman
dari tangan lelaki bule kekar pedih…

tuan Kanada memanggil tukang kebunnya
asal kamu tahu
bagi saya pernikahan hanya sekali
Brebes cinta saya hanya satu
tak ada Brebes lain
dan daerah lain…
yang mampu merasuk dalam raga
dalam batin kosong seperti ini…
tukang kebun pun termangu
iya mister..
iya mister..
saya paham..
tapi mister kenapa tidak pindah rumah saja
daripada tiap hari lihat nyonya di mana-mana
sholat bersama mister di ruang tengah
di sudut rumah atau di kamar pakaian
padahal ia sudah tiada

tuan Kanada termangu lagi
air matanya muncul dari mata birunya
sepi melanda..
tak ada lagi Indonesia..
baginya sudah tamat…
benang merah putus kusut masai sudah
anak-anak di negeri seberang
bersiap menerimanya..
seorang lelaki yang patah hati
patah semangat..
pupus cinta..
pulang ke kandang

Categories: Puisi | 1 Comment

Antasari

menelusuri Antasari
jalanan panjang membelah Cipete Kemang
kini ruwet dulu lapang
jembatan kokoh seram
tiang sangga raksasa tiada ramah
bagai jalan bukan dari nama pangeran…
menjadikan diri aku seringkali teringat seseorang

Antasari
tak kukenal setengah meterpun
hanya kumis tebal yang terpajang di layar kaca
wajah sendu bagai jiwa melayang
tanah tempat berpijak retak terbelah rentang
kasihan…

Antasari yang malang
mendapat penobatan dusta selangit penuh
dari mulai sang asli pembunuh
hingga perempuan centil pencari mangsa
berdalih bola gelinding di rerumputan luas terbuka

Antasari termangu di balik jeruji
nasibnya sama lelahnya dengan luka hatinya
awan pun tak mampu melawan arus untuk membela
hingga lompatan katak di kali bertimbun lumpur
semakin banyak dari hari ke hari
semakin tolol bagai orang sakit jiwa tak tertolong
semua gelap
semu
tanpa harapan

apalah artinya skenario manusia
bila sudah terlindas oleh Sang Sutradara kehidupan
sejak kapan Sang Rabb bisa tertandingkan?
bila telapak tangan tinggal disentuh sedikit tiupan
apa yang akan terjadi.. terjadilah

Antasari berada di ruang persidangan
tubuhnya kembali melayang hingga ujung lautan
air mata menyembul dari sudut mata tuanya
anak istri tak tahan bersembunyi dari tangis ledakan
inilah hebatnya sebuah kesempatan
atas aturan Tuhan..
atas aturan Tuhan…
saat permohonan peninjauan dikabulkan

bila kelak Antasari mencapai kemenangan
maka tamatlah riwayat para kerbau dungu berangasan
kini mulai tiada tenang tidur sepanjang jam blingsatan
dari si pembuat cerita
si tukang kibul
si tukang ketok palu
sampai perempuan misterius nan dahsyat mata duitan
satu lagi…
raja diraja yang menyimpan kesumat dendam…
sebaiknya bertukar tempat di kubangan….
hingga Antasari menikmati dunia kebebasan..
sepenuhnya atas kehendak Tuhan…

Categories: Puisi | Leave a comment

Malam Jumat

malam Jumat di rumah yang dulu
ada sumur berisik
di ujung lampu
bergerak pelan
suara air
tanpa moncong terbuka
gelas gosok gigi berwarna kuning
berbunyi dengan sendirinya

malam Jumat di rumah yang dulu
pohon bambu berisik
ada suara perempuan menahan tangis
di sela-sela pohon tebu
muncul nyanyian perjuangan zaman dulu

mengapa aku bergidig baru sekarang
bukan saat kualami empat puluh tahun lalu..
dulu rasanya yang aneh tak pernah menjadi aneh
meski lubang sumur menderu-deru
malam Jumat dianggap tak secuilpun keramat
membedah baling-baling pesawat
lalu jatuh berserakan
persis di lubang sumur keramat…

Categories: Puisi | Leave a comment

Namamu Rosita

ya, namamu Rosita
bukan sekadar mirip judul buku
yang dibuat begitu keren oleh temanku
tapi namamu benar-benar Rosita
yang terpatri hingga aku tua

Rosita tukang main gila
banyak lelaki didekati semau-maunya
tak peduli suami orang maupun perjaka
seakan tiada batasan usia
kurang apa kamu Rosita..
punya suami pengusaha kaya
kediaman di kawasan super elit Jakarta
jemarimu tak lepas penuh berlian bertahta
bertabur kemewahan luar biasa…

namamu Rosita
membuat banyak perempuan merana
beberapa mahligai rumah tangga
hancur lebur porak poranda
lantara suami mereka terpesona
oleh goyangan pinggul kobaran nafsu cinta

namamu Rosita
tak mudah begitu saja dilupa
oleh para ibu rumah tangga
sepanjang waktu berlinang air mata
karena tak pernah menyangka
Rosita menggaet dahsyat suami mereka…

namamu Rosita
selalu membuat gara-gara
seorang istri masuk rumah sakit jiwa
karena amat sangat terguncang hatinya
sang suami yang dikiranya senantiasa setia
jatuh bangun mengikuti segala kemauan lirikan neraka

namamu Rosita
ada yang memaafkanmu
ada pula yang menyumpahimu
tatkala kamu tergelatak tubuh membiru
racun gerogoti payudara serta kemaluanmu
segala obat terasa begitu semu
tak manjur sedikitpun meski diminum hingga jemu

namamu Rosita…
terukir pada banyak wanita..
yang tersakiti batinnya…
musik bertalu goyangan tari dataran seberang sana…
mengiringi sumpah serapah tiada habisnya
sementara Rosita mengaduh mengerang menahan sakitnya
bagai menanggung dosa tiada tara…
Rosita…
Rosita…..
aku sendiri pun tak mudah lupa
pada dirimu yang membuat hati ini sengsara
hingga bertahan pada pernikahan langgeng sejuta upaya
lalu menyerah bubar tanpa daya…

Categories: Puisi | Leave a comment

Paspampres Juga Manusia

bila ada yang masih belum tahu
singkatan dari apa Paspampres itu
makah belajarlah dahulu
banyak membaca
dan membuka buku

Paspampres terlihat garang
kadang lengkap dengan kumis menantang
seragam hijau yang benderang
menjelmakan sebagai penjaga yang siap menyerang

Paspampres adalah kawan
sebab rakyat adalah teman
senyumnya dalam tugas tetap penuh persahabatan
permen manis bahkan kroket yang sengaja di kantong tersimpan
menjadi bekal yang tengah tugas berpanas-panasan

Paspampres juga manusia
mereka juga bisa diam-diam tertawa
melihat kelakuan aneh para majikannya
yang marah-marah sepanjang perjalanan kuasa
atau yang berhati lembut bagai benang sutra
tiba-tiba mobil dinas berhenti begitu saja
karena ingin tukang soto mie ia sapa
lalu yang sudah was-was belum apa-apa
kini siap masa penganggurannya minta dijaga
bagai penguasa yang masih resmi menjalankan tugas negara
kelak menjadi bagian dari tugas mulia….

Paspampres juga manusia
kadang gemas melihat majikan sok kuasa
mereka adalah para saksi mata
urusan sebesar bola dunia
hingga darah tinggi meluntap dengan leluasa
gara-gara tusuk gigi tidak ada di meja
atau keset kaki miring sebelah di kawasan istana

Paspampres juga manusia
kadang bingung menghafal berbagai nama
bila sang majikan punya pendamping hidup beda-beda
bagaimana cara mengatur waktunya
apalagi kalau yang satu marah karena disabot gilirannya
belum lagi deretan anak cucu yang punya beda nama
serta beda pula alamat rumahnya….

Paspampres juga manusia
kadang tergiur melihat raut cantik kaum hawa
artis jelita yang sungguh punya nama
akhirnya disunting dengan segenap binar mata
serta merta seragam dinas dilupakannya…
inilah pengorbanan sebuah cinta

Paspampres juga manusia
di balik wajah seram kekar tanpa terlihat gembira
tersimpan lembut hati serta gurauan kocaknya
serta segala rahasia negara
jangan dikira mereka tuli telinga
jangan dikira pula mereka buta mata….
semua tersimpan rapi hingga usai masa tugasnya

Categories: Puisi | 1 Comment

Bapak Raja Ketakutan?

kalau hati merasa tidak nyaman,
karena bertumpuk segala kesalahan,
maka di akhir masa tahta jabatan..,
meski sudah jadi orang pensiunan…
buru-buru ciptakan peraturan
untuk sebuah mutlaknya kewajiban
datanglah kalian berjaga grup pengamanan..,
biar gagah sangat perlu pakaian lengkap seragaman
agar yang dijaga aman dari unsur serbuan…,
bukankah begitu hai bapak raja yang ketakutan..??

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Korbi Kepala Kobra Merasa Dirinya Sampah?

korbi bule
bukan saudara si kebo bule
ia cantik
rambut tergerai
bergiwang berlian
hidung bangir
bulatan mata coklat kebiruan
kinclong kalau sadar
sayup kalau teler

korbi bule
penuh sensasi
punya kepala kobra
karena berisi siasat
busuk berbau ke mana-mana
licik penuh obat haram
serbuk setan bertebaran

korbi kepala kobra
kini mendongak congkak
dikiranya bebas karena istimewa
hasil kuasa si dungunya penguasa
menghidupkannya di dunia merdeka
tanpa berpikir ada lagi bahaya
mengintai mencaplok kenyamanan negara

korbi kepala kobra
bila ditekan ia merajuk
merasa dirinya sampah
tanpa ingat sesungguhnya ia siapa
sekedar makhluk berbusana
berkeringat lumuran parfum buatan seberang sana
tapi isinya memang sampah
darah tetelan daging sisa
ikan busuk pembuangan
kertas koran melompong remuk
kaleng kosong karatan
bukankah isi sampah memang demikian..
dan itulah dia,sang korbi
si kepala kobra
merasa dirinya sampah
yang memang nyampah
jelas-jelas nyampah
nyampah di bangsa tetangga
bebas leluasa pula
lagi-lagi karena nyampahnya keputusan sang raja!!

Categories: Puisi | 2 Comments

Mucikari

apakah kamu tak pernah tahu
untuk urusan lelaki sibuk
dan kepala ngebul karena jenuh
maka muncul para penghubung
letak titelnya hanya di sana
di ujung dunia maksiat
dialah mucikari

bagaimana seorang ibu baik-baik
didekati calo dipelajari melancongnya
pergaulannya
madatan uangnya..
tak pernah kenyang dari suaminya
tugas mucikarilah mengiming jutaan gaun
uang berlimpah yang jarang didapat
dari istri yang kadang menunggu dengan lelah…

tak akan ada yang percaya..
orang baik-baik itu dibela habis
tanpa cacat
tanpa dosa
seorang tertuduh penuh kepadatan cerita…

si biang kerok adalah asli biang kerok
menghadang mengumpulkan segala dana dan biaya
perempuan lemah iman menjadi kesuksesannya
lemari serta kamar mandi
bagai istana sehari…
lupakan rumah reyot
lupakan motor bapak kandung berada di ruang keluarga
sangking rumah begitu sempitnya

mucikar berguna
mucikari berjasa
calo
perantara
brooker
penghubung si pejabat buat yang berdada padat
kejarlah daku kau kusiram…
yang telah bercampur cuka,
lada putih dan air panas

Categories: Puisi | 1 Comment