Kadal Buncit di Balai Kota

kadal buncit nan licik
otaknya hanya urusan duit
tak peduli dari ujung dunia mana
yang penting korupsi sudah terbiasa
urusan komisi mutlak dilahap lewat mulut rakusnya

kadal buncit di Balai Kota
kini banyak garuk-garuk kepala
karena pimpinan sekarang adalah sepasang gorila
haram jadah ikut-ikutan nyolong harta
yang sangat jauh dari haknya…
amarah menggelegar luar biasa
kadal buncit siap-siap ditelannya

kadal buncit dihajar gorila
buru-buru sembunyi pada urusan agama
berlindung dari kejahatan dajalnya
menghina gorila paka ayat suci mulia
padahal gorila punya harta di dada
merah putih yang sungguh benderang luar biasa…
itulah gorila seasli-aslinya !!!!

Categories: Puisi | 1 Comment

Anak Kecil di Pasar

matanya tajam
bibir melekuk indah
hidungnya bangir
ada bahagia pada dirinya

anak kecil di pasar
penuh lalat dan aroma tak sedap
bukan penghalang bagi asyiknya
jemari mengelus mobil-mobilan butut
gompal sana-sini tak berwarna cerah lagi

tomat bawang cabe sayuran
bertumpuk di dekat badan
peti besar bekar tumpukan tahu tempe
menjadi singgasananya
indah…

anak kecil di pasar
tiada pernah dalam hidupnya yang baru muncul itu
merasakan gedung sejuk di dalam mal
mainan mahal serta sekolah luks…
pesta ulang tahun bersama oom badut…
semua hanya dilihat dari televisi
dalam sinetron edan masa kini…
ia juga hanya bisa bermimpi
apa itu taman ria di luar negeri
penuh tokoh kartun televisi

anak kecil di pasar
tetap cantik
sumringah
becek tanah adalah istananya
bau anyir menjadi teman..
bagai kuman adalah sahabat dekat
malah membalur tubuh cilik penuh perlindungan…
kekuatan datangnya dari Tuhan..
kesehatan tercipta bagi anak pasar luar biasa
ia masih tetap bermain pada jemari ciliknya
mengelus mobil-mobilan butut
dengan segala keterbatasannya
toh ia amat bahagia
sebahagia-bahagianya…

Categories: Puisi | 1 Comment

Doa Berbagai Agama…

Doa bersama di Malaysia atas musibah jatuhnya pesawat yang belum ditemukan berhari-hari, dilakukan berbagai masyarakat dan berbagai tokoh agama, dalam berbagai agama, kepercayaan masing-masing. Seharusnya orang-orang yang sering mengecam agama lain di luar agamanya, MALU !

Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Nestapa…

lelakiku pergi
meminang anak diplomat ranum
bugar berhiasan senyuman
cerdas gemilang menatap kapas putih di langit

aku terhenyak pedih
tanpa daya
tiada lagi waktu bergulir di alam semesta
semua lantak tak bersisa
tak lagi kujamah tajamnya pinggir kumismu
serta dalamnya dua cinta berbaur penuh gelegar

lelakiku senyap terbata-bata
gontai..
tanpa berani melirik ke arahku lagi…
perempuan dengan anak dua
serta suami pendiam berseragam baju negara…

Categories: Puisi | Leave a comment

Cinta Lama

perempuan bersanggul itu
muncul di layar lebar
begitu kencang meniupkan bara cinta
tiada lagi raga untuk yang lain
tak bersisa setitikpun
semua untuk pria berkumis
tatapan mata yang tajam
hidung bangir bertubuh kekar
di situlah panah dituju
melejit dahsyat
bagai kelenjar menyebar lewat puting payudara
hingga lapisan kelopak mata
kekasih hati tak mampu tertangkap berlama-lama
menusuk perih melampaui ledakan amarah
kecewa batin tiada terkira…
karena cinta telah salah arah..
sangat salah arah
hingga maut menyapa seketika..
musnah !!

Categories: Puisi | Leave a comment

Sam Ratulangi Tentu Kecewa….

Pahlawan Nasional asal Minahasa Sam Ratulangi berkata, “Manusia baru bisa dikatakan manusia bila sudah bisa memanusiakan manusia”

Maka alangkah pedihnya ia bila kini masih hidup. Betapa kekalutan, tindakan barbar dari para generasi muda yang berpredikat MAHASISWA di Universitas Sam Ratulangi berlangsung dengan gempita dan menyeramkan, tentu tak sepadan dengan nama Sam Ratulangi yang diemban dan dikenakan di tempat menimba ilmu itu.

Di mana letak memanusiakan manusia di tempat terhormat itu? Bagai tak berbekas….

Categories: Renungan Hidup | 1 Comment

Tuan Kanada Kini Sendiri

pepohonan rimbun
rambutan menggelantung
ranum
merah terang
ikuti ayunan angin
semilir sejuk

rerumputan terhampar
bersiram sisa embun
daun kering merayap pelan
sepi…

tuan Kanada termangu
tiada lagi belahan jiwa
menemani di rumah asri
tiada lagi suara lantunan
rentetan ayat suci mulia mengawang

tuan Kanada termangu
perempuan Brebes muslimah telah pergi
membawa derita sakitnya
meninggalkan tiga anak tercinta
dan dirinya…

tuan Kanada kini sendiri
tangannya bagai tiada daya
kaki menapak bumi penuh kelu
buku nikah di depan mata
bagai jarum menusuk ulu hati
maka buku terbelah dua
terbelah empat
terbelah enam..
lewat gunting tanaman
dari tangan lelaki bule kekar pedih…

tuan Kanada memanggil tukang kebunnya
asal kamu tahu
bagi saya pernikahan hanya sekali
Brebes cinta saya hanya satu
tak ada Brebes lain
dan daerah lain…
yang mampu merasuk dalam raga
dalam batin kosong seperti ini…
tukang kebun pun termangu
iya mister..
iya mister..
saya paham..
tapi mister kenapa tidak pindah rumah saja
daripada tiap hari lihat nyonya di mana-mana
sholat bersama mister di ruang tengah
di sudut rumah atau di kamar pakaian
padahal ia sudah tiada

tuan Kanada termangu lagi
air matanya muncul dari mata birunya
sepi melanda..
tak ada lagi Indonesia..
baginya sudah tamat…
benang merah putus kusut masai sudah
anak-anak di negeri seberang
bersiap menerimanya..
seorang lelaki yang patah hati
patah semangat..
pupus cinta..
pulang ke kandang

Categories: Puisi | 1 Comment

Antasari

menelusuri Antasari
jalanan panjang membelah Cipete Kemang
kini ruwet dulu lapang
jembatan kokoh seram
tiang sangga raksasa tiada ramah
bagai jalan bukan dari nama pangeran…
menjadikan diri aku seringkali teringat seseorang

Antasari
tak kukenal setengah meterpun
hanya kumis tebal yang terpajang di layar kaca
wajah sendu bagai jiwa melayang
tanah tempat berpijak retak terbelah rentang
kasihan…

Antasari yang malang
mendapat penobatan dusta selangit penuh
dari mulai sang asli pembunuh
hingga perempuan centil pencari mangsa
berdalih bola gelinding di rerumputan luas terbuka

Antasari termangu di balik jeruji
nasibnya sama lelahnya dengan luka hatinya
awan pun tak mampu melawan arus untuk membela
hingga lompatan katak di kali bertimbun lumpur
semakin banyak dari hari ke hari
semakin tolol bagai orang sakit jiwa tak tertolong
semua gelap
semu
tanpa harapan

apalah artinya skenario manusia
bila sudah terlindas oleh Sang Sutradara kehidupan
sejak kapan Sang Rabb bisa tertandingkan?
bila telapak tangan tinggal disentuh sedikit tiupan
apa yang akan terjadi.. terjadilah

Antasari berada di ruang persidangan
tubuhnya kembali melayang hingga ujung lautan
air mata menyembul dari sudut mata tuanya
anak istri tak tahan bersembunyi dari tangis ledakan
inilah hebatnya sebuah kesempatan
atas aturan Tuhan..
atas aturan Tuhan…
saat permohonan peninjauan dikabulkan

bila kelak Antasari mencapai kemenangan
maka tamatlah riwayat para kerbau dungu berangasan
kini mulai tiada tenang tidur sepanjang jam blingsatan
dari si pembuat cerita
si tukang kibul
si tukang ketok palu
sampai perempuan misterius nan dahsyat mata duitan
satu lagi…
raja diraja yang menyimpan kesumat dendam…
sebaiknya bertukar tempat di kubangan….
hingga Antasari menikmati dunia kebebasan..
sepenuhnya atas kehendak Tuhan…

Categories: Puisi | Leave a comment

Malam Jumat

malam Jumat di rumah yang dulu
ada sumur berisik
di ujung lampu
bergerak pelan
suara air
tanpa moncong terbuka
gelas gosok gigi berwarna kuning
berbunyi dengan sendirinya

malam Jumat di rumah yang dulu
pohon bambu berisik
ada suara perempuan menahan tangis
di sela-sela pohon tebu
muncul nyanyian perjuangan zaman dulu

mengapa aku bergidig baru sekarang
bukan saat kualami empat puluh tahun lalu..
dulu rasanya yang aneh tak pernah menjadi aneh
meski lubang sumur menderu-deru
malam Jumat dianggap tak secuilpun keramat
membedah baling-baling pesawat
lalu jatuh berserakan
persis di lubang sumur keramat…

Categories: Puisi | Leave a comment

Namamu Rosita

ya, namamu Rosita
bukan sekadar mirip judul buku
yang dibuat begitu keren oleh temanku
tapi namamu benar-benar Rosita
yang terpatri hingga aku tua

Rosita tukang main gila
banyak lelaki didekati semau-maunya
tak peduli suami orang maupun perjaka
seakan tiada batasan usia
kurang apa kamu Rosita..
punya suami pengusaha kaya
kediaman di kawasan super elit Jakarta
jemarimu tak lepas penuh berlian bertahta
bertabur kemewahan luar biasa…

namamu Rosita
membuat banyak perempuan merana
beberapa mahligai rumah tangga
hancur lebur porak poranda
lantara suami mereka terpesona
oleh goyangan pinggul kobaran nafsu cinta

namamu Rosita
tak mudah begitu saja dilupa
oleh para ibu rumah tangga
sepanjang waktu berlinang air mata
karena tak pernah menyangka
Rosita menggaet dahsyat suami mereka…

namamu Rosita
selalu membuat gara-gara
seorang istri masuk rumah sakit jiwa
karena amat sangat terguncang hatinya
sang suami yang dikiranya senantiasa setia
jatuh bangun mengikuti segala kemauan lirikan neraka

namamu Rosita
ada yang memaafkanmu
ada pula yang menyumpahimu
tatkala kamu tergelatak tubuh membiru
racun gerogoti payudara serta kemaluanmu
segala obat terasa begitu semu
tak manjur sedikitpun meski diminum hingga jemu

namamu Rosita…
terukir pada banyak wanita..
yang tersakiti batinnya…
musik bertalu goyangan tari dataran seberang sana…
mengiringi sumpah serapah tiada habisnya
sementara Rosita mengaduh mengerang menahan sakitnya
bagai menanggung dosa tiada tara…
Rosita…
Rosita…..
aku sendiri pun tak mudah lupa
pada dirimu yang membuat hati ini sengsara
hingga bertahan pada pernikahan langgeng sejuta upaya
lalu menyerah bubar tanpa daya…

Categories: Puisi | Leave a comment