Sampai Berapa Lama Lagi

terkulai lesu
pegal linu
tiada habis rasa jemu
di mana dunia yang dulu
penuh tawa kebebasan
penuh gerak gempa semaunya

meratap lunglai
tatkala lampu tak bersinar
surut pula semangat hidup
bagai seonggok tubuh tiada daya
merana…

sampai berapa lama lagi
derita muncul bertubi-tubi
perih tubuh tak terlukiskan
terjembab kesal tak berkeputusan

tangan pun berbicara
kaki berkata
helaian rambut tertawa
telinga bergerak melambai-lambai
mata mengeluarkan desis
hidung serasa lapang
dada bergoyang

sampai berapa lama lagi..
jumpa putri yang satu bagai mimpi
cermati putri yang satu lagi penuh haru
keduanya memang milik sang ayahanda
tampilan bagai siang dan malam
lemas tubuh menambah pedih
sampai berapa lama lagi
bersama sang putri yang di sini
berjumpa putri yang di sana
sebelum pergi jauh sekali…
menggedor pintu maaf
tobat tak terkirakan
atas seluruh kekurangan

mulut berdesis sulit berhenti
sampai berapa lama lagi…
sampai berapa lama lagi…
maut mencari
atau muzizat Tuhan yang diberi
menikmati dunia sekali lagi….

Categories: Puisi | Leave a comment

Condong

mengintip dedaunan condong ke segala arah
dibawa kehendak angin menderu dahsyat
hati terasa kuncup
itulah negeriku kini
tak jelas akan seperti apa
condong ke mana-mana
bila selalu saja
yang salah dibenarkan
yang benar disalahkan….

Categories: Puisi | Leave a comment

Somasi

seorang ibu bertanya-tanya
sembari menggendong bayinya ke empat
dengan selendang batik Pekalongan
merah bercampur hijau ungu
motif pesisiran kinclong sumringah
namun hatinya tak sebenderang sang selendang
kusam..
bingung..
gamang…
sebab kepalanya penuh wasangka
mengapa belakangan ini
sering ada kata somasi
yang tak pernah ia mengerti

seorang ibu penasaran
sebab empat anak tak membuatnya pandai
waktu bergulir terus menerus di dapur
memandikan anak
membuang ingusnya
hingga turut belajar matematika
yang tak pernah nyangkut di otaknya
apa itu somasi
ada hubungannya dengan makanan basi?
atau sambal terasi?

lalu ia mencoba belajar pintar
bertanya pada tetangga
tak jauh dari rumah sempitnya
apa arti somasi
makhluk apakah somasi…

tiba di rumah ia termangu
somasi..
somasi…
apa bedanya dengan menuntut
mengejar
mencengkeram sesama?

somasi menjadi top markotop
populer menggema di negeri ini
apapun yang membuat orang tersinggung
ada bedil bernama somasi
bisa pakai peluru
bisa hanya pepesan kosong…

siapa yang akan ditembak
siapa yang akan menembak
tiada penting baginya…
sebab ia baru mengerti
somasi mirip-mirip aroma terasi
sengit
namun lezat
bisa pula terasa tengik basi
bila somasi hanya selimut bagi si banci
lantaran kuping terlalu tipis
lantaran pula hati senantiasa tertutup
tak paham perbedaan
antara menghina
fakta
dan kritik membangun

aaaah… apanya yang membangun?
membangun amarah?
tak terima kocek hati terkuak
lalu algojo dipanggil datang
membawa pedang bertuliskan SOMASI
alat menusuk dari belakang
tanpa tepatnya alasan…

sang ibu mengusap kepala si bayi
berbalut selendang indah Pekalongan…
kau kelak menjadi besar
namun jangan besar kepala
kau kelak bisa menjadi orang besar
namun jangan pula congkakmu besar
menganggap dirimu selalu yang paling benar
tiada pula bodoh pada pendapat berbeda…
bukalah hatimu nak..
bukalah..
bila jiwamu matang
berpikir jernih dewasa
kritik serta saran tentu kau paham
sama sekali bukanlah keping penghinaan…
hingga kau sadari somasi tak kau perlukan
ketimbang terbit cerita memalukan…
menggelinding bebas hingga di jalanan !

Categories: Puisi | Tags: , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Saya Nyolong dan Khilaf

separuh dari sejuta dolar
saya terima
dengan seksama
riang gembira
tanpa bertanya
sudah tahu maknanya

rejeki nomplok
meski dari hasil jorok
tak diambil tentu goblog
urusan kelak diancam golok
masa bodoh sampai mabok

saya nyolong
saya khilaf
karena terlacak
oleh penyidik sialan…
lalu kuda-kuda saya pasang
kalau perlu butiran air mata
meleleh hingga samping telinga
sembari mulut berdesis
‘saya khilaf’

toh itu hanya separuh
dari sejuta dolar
rumah yang saya diami
beraroma kawasan super elit
lebih besar ketimbang dolar itu
rakyat toh bodoh
jaksa bodoh
hakim bodoh
polisi bodoh
sebab itu tak akan mungkin
saya akui sembari nyerocos kata khilaf
tak akan mungkin terjadi
sampai kapan pun…
namanya juga rejeki nomplok
meski dari hasil jorok
rugi amat bila tak ditanggok
sok bersih sok suci adalah goblog !!
sungguh betul amat sangat goblog !!

Categories: Puisi | Tags: | Leave a comment

Kepada Burung Kumengadu

Burung nan riang,
aku mengadu kepadamu ..
aku heran kenalanku sholeh tampaknya,
kenyang menghirup udara pesantren masa mudanya,
mencari mushola segera saat azan tiba,
kelakuannya sungguh tercela,
licik cerdas ruwet tertata
menggunting dalam lipatan terhadap guru terhormatnya,
mata berbinar menatap harta,
segala janji gemar dilanggarnya
berlindung di balik adiluhung sastra,
namun bernyali secilik semut,
semut rangrang yang pedas menyengat,
lupa balasan Allah bisa dari segala pintu,
dua anaknya mengecap rizki dari mana?
tak takutkah?

Categories: Puisi | Leave a comment

Burung Terbang Malam

burung terbang malam
siapa bilang tak punya taring
burung terbang malam
bersiap menggigit manusia kelam
yang tak pernah mau mendengar keluhan para jelata
bahkan acapkali mengejek jagad raya…
memerihkan hati sesama…
besar kepala
serendah-rendahnya menganggap semua manusia

ya.. ya.. puaskanlah
waktumu hanya tinggal sekian bulan lagi
kemudian urusan persidangan
akan menghabiskan sisa hidupmu …
hidupmu
hidupmu

Categories: Puisi | 1 Comment

Saya di Sini, Bu…

ibu mencari saya?
dengan geram
tiada alasan
yang masuk di akal waras
apa salah saya bu?
mencari untuk bertemu
atau mencari untuk menyemprot
atau bertemu karena iri
atau bertemu karena penasaran..

ibu mencari saya?
saya ada di sini bu…
dengan penuh cinta
melebarkan payung di atas kepala
suami tercinta
tatkala ia meninjau nestapa
karena banjir hebat melanda

mengapa ibu seketika mencari saya
menyebut nama saya…
adakah yang bisa saya bantu bu..
barangkali ikut meminjamkan payung
untuk suami ibu meninjau banjir juga…
tapi jangan suruh saya bantu di depan layar kaca
sebab saya gaptek sejadi-jadinya
tak pernah tahu apa itu instagram
dan sebangsanya…

saya di sini, bu…
memayungi kepala
suami saya
yang sedang sibuk berduka
di tengah rakyat sengsara
karena banjir melanda
seluruh kota…..

Categories: Puisi | Tags: , , , , | 4 Comments

Banjir !

dedaunan di pucuk pohon tertawa
ia adalah saksi
nontoni drama negeri
berhari-hari…
menahun
entah hingga kapan

banjir !
air bah melimpah
asinnya air laut pun makin terasa
meluap seru
kali beraroma congor binatang
menyerbu rumah mewah
hingga milik kaum hina papa

banjir !
banjir buku !
menampilkan keangkuhan lewat buku
pada waktu yang tak tepat
sebab di seluruh rongga dada
bermukim banjir congkak
menutupi skala prioritas
mana kelakuan yang pantas
mana yang menyakitkan khalayak

banjir !
dedaunan di pucuk pohon kembali menyaksikan
banjir duit !
maling tak mengaku maling
sekelompok makhluk dari seragam yang berwarna sama
berjamaah mengeruk harta
yang tak bukan haknya
si kepala seragam pun
masih bisa tertawa
seakan tak terjadi apa-apa
itulah banjir tak tahu malu
tengah melanda negara

banjir !
banjir sumpah palsu
banjir dusta
dari hal sepele
soal usia kamera
hingga bank yang dikuras dananya
meluncur berbusa keluar dari mulut
para pendusta

banjir !
banjir air mata
tatkala menjual citra
bencana di mana-mana
terkuraslah air mata
pedih nestapa
sebagai pertanda
ikut prihatin sebesar-besarnya
namun saat tahu tak ada lagi jalan ke puncak
air mata tak muncul pula…
meninjau bencana nanti-nanti saja…
yang ada banjir air mata
urusan anak karena dianggap terhina
tersedu-sedu seakan dunia runtuh bukan miliknya..

duh…
dedaunan di pucuk pohon tak sanggup senyum lagi
kini air mata murni mengalir deras
menatap para wanita
berkerudung di kepala
menggarong dana rakyat dengan rakusnya…
sembari tertawa-tawa
bila menuju ruang depan kantor pemeriksa….
itulah banjir moral kosong
banjir seada-adanya…
bini kedua ketiga keempat bergilir muncul
bini pertama menutup mata…
banjir rasa tak tahu malu
khusus berbulu mata palsu
ceplokan pipi merah di pipi
alis tebal terlukis..
hanya untuk ditangkap puluhan kamera..
uuuups, kamera… bukan tustel ya namanya…

banjiiiiiiiiiirrrrr…….. !!
betul-betul bau anyir
seanyir-anyirnya….

Categories: Puisi | Tags: | 1 Comment

Tustel, Jujurlah!! Usiamu dari 1976?

namamu tustel
gendut besar
lensa bisa dimajumundurkan
menangkap segala obyek
dengan megah mulia

namamu tustel
kata orang jadul
sebab gini hari
orang akan menyebutmu kamera

namamu tustel
coba kamu jujurlah
buka mulut dengan gagah
bila kamu sudah berada di sana
dipelukan si empunyamu
sejak tahun 1976
tentu di tubuhmu
masih melekat rol film bukan?
bukan klak klik klak klik macam sekarang

oh tustel rol bulat panjang….
siapa yang tak tahu isi perutmu
bila usiamu dari 1976 itu
ibarat kamu mobil tanpa bensin
kalau tak ada si rol film
mana mungkin kamu bernafas

maka dari itu
jujurlah tustel
ceritakan kepada kami
khalayak negeri ini
apa yang ada di tubuhmu sekarang..
ada rol filmkah??
maka kalau isi perutmu kosong
kamu bukan muncul sejak 1976
kamu telah didustai
oleh majikanmu…
oh maksud kami..
kamu adalah korban dusta
dari si pendusta……
yang acapkali naik darah
dan berada di puncak gunung …
dan tak mau merendah
dan tak mampu bersabar
dan selalu menganggap dirinya benar
dan orang lain dianggap tak pernah paham..
ow…
paham, tustel?
paham ??!

Categories: Puisi | Tags: , , , , , | 5 Comments

Tustel

klik
jepret
pret
klik
sreeeeeeet..
itulah suaramu
hai tustel
yang dipanggul
oleh manusia hebat itu
tak kenal saran
tak kenal kritik
tak kenal tempat
tak kenal waktu
tak kenal etika

tustel namamu
banyak sudah tak tahu
barang apa yang namanya tustel itu
tustel itu adalah kamera, tauk?
PAHAM…??!!

Categories: Puisi | Leave a comment