Korbi Kepala Kobra Merasa Dirinya Sampah?

korbi bule
bukan saudara si kebo bule
ia cantik
rambut tergerai
bergiwang berlian
hidung bangir
bulatan mata coklat kebiruan
kinclong kalau sadar
sayup kalau teler

korbi bule
penuh sensasi
punya kepala kobra
karena berisi siasat
busuk berbau ke mana-mana
licik penuh obat haram
serbuk setan bertebaran

korbi kepala kobra
kini mendongak congkak
dikiranya bebas karena istimewa
hasil kuasa si dungunya penguasa
menghidupkannya di dunia merdeka
tanpa berpikir ada lagi bahaya
mengintai mencaplok kenyamanan negara

korbi kepala kobra
bila ditekan ia merajuk
merasa dirinya sampah
tanpa ingat sesungguhnya ia siapa
sekedar makhluk berbusana
berkeringat lumuran parfum buatan seberang sana
tapi isinya memang sampah
darah tetelan daging sisa
ikan busuk pembuangan
kertas koran melompong remuk
kaleng kosong karatan
bukankah isi sampah memang demikian..
dan itulah dia,sang korbi
si kepala kobra
merasa dirinya sampah
yang memang nyampah
jelas-jelas nyampah
nyampah di bangsa tetangga
bebas leluasa pula
lagi-lagi karena nyampahnya keputusan sang raja!!

Categories: Puisi | 2 Comments

Mucikari

apakah kamu tak pernah tahu
untuk urusan lelaki sibuk
dan kepala ngebul karena jenuh
maka muncul para penghubung
letak titelnya hanya di sana
di ujung dunia maksiat
dialah mucikari

bagaimana seorang ibu baik-baik
didekati calo dipelajari melancongnya
pergaulannya
madatan uangnya..
tak pernah kenyang dari suaminya
tugas mucikarilah mengiming jutaan gaun
uang berlimpah yang jarang didapat
dari istri yang kadang menunggu dengan lelah…

tak akan ada yang percaya..
orang baik-baik itu dibela habis
tanpa cacat
tanpa dosa
seorang tertuduh penuh kepadatan cerita…

si biang kerok adalah asli biang kerok
menghadang mengumpulkan segala dana dan biaya
perempuan lemah iman menjadi kesuksesannya
lemari serta kamar mandi
bagai istana sehari…
lupakan rumah reyot
lupakan motor bapak kandung berada di ruang keluarga
sangking rumah begitu sempitnya

mucikar berguna
mucikari berjasa
calo
perantara
brooker
penghubung si pejabat buat yang berdada padat
kejarlah daku kau kusiram…
yang telah bercampur cuka,
lada putih dan air panas

Categories: Puisi | 1 Comment

Tatkala Aku Kagum Padamu Sejak Dulu

PADA SEBUAH KAPAL
muncul HIROKO
merenung di tengah untaian angin deras
ditemani SRI…
menggapai rasa hati yang sama..
hampa..
di tengah kegigihan makna kehidupan
lalu muncul cinta
serta rindu menggebu tak berujung

tatkala aku kagum padamu sejak dulu
ada nama SEKAYU
di sela-sela KUNCUP BERSERI..
menuju panjangnya jalan kawasan KEMAYORAN
yang bukan bagian LORONG DI KOTAKU…
sebab negeri orang sang PENCAKAR LANGIT
adalah tapak kaki berpijak
walau hanya sementara ..

awan bergumul pelahan
bagai tumpukan buku
hasil buah karya perempuan cemerlang…
memenuhi pesawat berisi pengemudi tampan
kembali membelah awan ..
SRI berdecak…
MURYATI menatap alam
jadilah manusia dalam DUA DUNIA
beranjak pada SEGI DAN GARIS …
karena mereka senantiasa bertutur kata yang sama..
LANGIT DAN BUMI SAHABAT KAMI
sembari menikmati pemandangan cantik tiada putus
PADANG ILALANG DI BELAKANG RUMAH

ah….,
aku hanya sekadar hormat padamu
tatkala kagumku berkobar sejak dulu
puluhan tahun silam…

mataku terpejam merenung dalam
masuk merasuk pada seluruh lakon yang diciptakan
menderu penuh gelora pada kapal pesiar
di tengah ombak berbuih putih
hati berbunga karena ada dia..
lelaki bersanding perempuan judes…
persembunyian cinta muncul di tengah goyangan kapal
indah rasanya …
bagai akulah sebagai tokohnya..

tatkala aku kagum padamu sejak dulu…
tatkala aku kagum padamu sejak dulu..
baru kini kuraih kesempatan emas ini..
menatapmu..
di ruang bersejarah ini ..
engkau adalah aset negeri..
dari waktu ke waktu bertambah usia
binar cemerlang
padat energi
tak berkesudahan…
memenuhi seluruh khazanah
lewat jemarimu
muncullah indahnya tulisan…

( puisi ini didedikasikan untuk Nh Dini, sastrawan Indonesia yang berulang tahun tanggal 29 Februari.. )

Categories: Puisi | 3 Comments

Betapa Tololnya Kau, Risma !

tembok itu berlumur darah
jangan mendekat
panci itu hitam pantatnya
jangan disentuh
kocek itu berlumur belatung
jangan dirogoh

Risma…
engkau gemerlap berkedip penuh pesona
kiri kananmu penuh kubangan
bila Tuhan berkata lain
maka jadikanlah ciptaan karyamu untuk yang lain
betapa tololnya kau, Risma
berada di antara manusia tiada arti
sementara rautmu menohok kejujuran mendalam
tak patut tersentuh penghuni rumah sengsara..

Risma,
larilah !
bila sudah waktumu
Sang Pengatur akan menggiringmu hingga tujuan
yang didambakanmu, pun kami !

Categories: Puisi | Leave a comment

Saat Ulang Tahun Anakku

jarum jam bergerak
pukul duabelas malam
inilah hari baru
duapuluh empat februari
saat bertambah usia anakku
senyap…
malam berdesis mengucap selamat
diiringi angin pelan sisa hujan

saat ulang tahun anakku
mata ini terpejam
menangkap segumpal kenangan panjang
bayi cakep muncul menggelar kebanggaan
menatap tajam hidung bangir berjari lentur
suara azan menyusup ke telinga
inilah awal dari segala kehidupan
menantang melewati penuh senang maupun rintangan
serta pengharapan menembus gelapnya hutan
menuju sungai jernih benderang di ujung alam
satu persatu asma Allah menjelang
memohon yang tak pernah berkesudahan

hanya keselamatan
hanya kesehatan
hanya kentalnya keimanan
hanya tingginya kejujuran
hanya lahir batin memohon kekayaan
serta kesantunan
yang kuinginkan
pada kehidupan kini hingga mendatang
bagi anakku semata wayang….

Categories: Puisi | 1 Comment

Kami Adalah OPEK

mengapa kecap rasa ini
meski sudah jauh badan pergi
masih terasa sari lama
tauto pekalongan
berbumbu segala rupa begitu lezat
citarasa khas..
mana mungkin bisa dilupa…

mengapa meski telah di ujung kota
jauuuuh…
jauh dari semilir angin pantai Boom
jauh dari terik
jauh dari aroma malam
wangi lilin batik bertebaran
tetap saja kami berada di sana
ditengah jemuran batik menjulur
warna pelangi begitu cemerlang…
belahan jiwa tak pernah terbang
lekat..
seindah mulianya sarung plakat…
bersulam kasih

kami adalah OPEK
yang tetap merasakan OPEK
dengan jiwa yang sama
muasal akar pohon yang sama…
jejak rekam yang serupa…
sebab tauto Pekalongan masih rasa Tjarlam yang sama
masih rasa Kunawi yang sama..
masih rasa Damudi yang sama..
becak pun masih dengan gelembung di belakang punggung yang sama
hingga suara azan di mana-mana yang masih sama..
menjadikan gemuruh cinta tetap melekat
berpelukan penuh rasa saudara yang sama..
Pekalongan..
Pekalongan..
mana mungkin setitik pun dilupakan
oleh OPEK.. Orang Pekalongan !

Categories: Puisi | 2 Comments

Kamu Kini Ada di Sana

di gundukan tanah basah
si jelita dibenam
dengan iringan doa
mendesis dari segala mulut
para sahabat
yang mencintaimu

lembut hati yang terpatri
menggelegar mulia ke mana-mana
kamu lama tertidur sebelumnya
pembaringan yang nyaman
bagi kamu yang selalu membuat orang lain nyaman
ketabahan yang sungguh luar biasa
bagimu semua adalah hadiah…

di gundukan tanah basah
kamu kini ada di sana..
selamat jalan teman
senyum cantikmu
santun indahmu
tawa renyahmu
rendah hatimu…
kini di sana…
seiring hujan mengguyur kota
kamu kini ada di sana..
di sana..
di tanah basah..
bersama Tuhanmu
selamanya…..

Categories: Puisi | Leave a comment

Hai Kamu, Si Jubah Hitam !

keringatmu yang mengucur tak sebanding dengan keringat rakyat yang kau peras
betapa jelaga telah menutupi hati telinga dan matamu selama ini…
sembari jubah hitam dalam keseharianmu menutupi seluruh kekejamanmu terhadap rakyat…..
gelora nafsu harta tak terbendung
kuasa merengkuh dunia
masa depan orang lain serasa pada telapak kakimu
sungguh berduri sangat hidupmu, hai jubah hitam….
tinggal kamu nikmati kelak bersama ribuan tahanan
sampai nafasmu selesaikah..??

Categories: Puisi | Leave a comment

Suaramu di Telefon Genggam…

telefon genggam di genggaman
telefon tidak
telefon tidak
iya tidak
iya jangan..
akhirnya toh tersambungkan

suara renyah di seberang
masih seperti yang dulu
lalu kuucapkan selamat
pertambahan usia bergerak cepat
suara kami pun bersambungan
cair..
memecah kekakuan
serta cerita lama…
yang nyaris sulit berkesudahan

selamat ulang tahun sayangku masa lalu
di seberang menjawab pula dengan riang
terima kasih banyak cantik cintaku masa lalu
dan gelak tawa lagi-lagi bersambungan

pembicaraan berakhir
klik
terbaca pesan singkat masa lalu
‘cintaku selalu jadikanlah energi bagimu’
begitu isinya
terbaca tanggalnya,
delapan belas februari
tahun dua ribu empat
sepuluh tahun silam yang bergulir cepat..
untuk sebuah cinta yang salah tempat….

Categories: Puisi | 1 Comment

Wawan Sang Kolektor Mobil

indahnya garasimu, Wan!
penuh kecantikan tiada tara
mobil berderetan puluh-puluhan
segala rupa segala warna
bagai pelangi berpamer di cakrawala
serupa warna lipstik segala perempuan
yang ada dalam catatanmu berderetan

Wawan sang kolektor mobil
kau punya segalanya
dari dua pintu sampai enam pintu
juga kepala mobil yang berpintu
menari-nari di kepala maling berkedok cendekiawan
cerah meriah riang kepalang

menderu di jalan raya
bagai jiwa melayang menghajar debu
asap knalpot yang tak mungkin nyata
kalau perlu kakus pun ada di dalamnya
Wawan nan pahlawan
raja mobil mendunia…
tertawa berderai-derai
penuh kepuasan

betapa mobil menari-nari di jalanan
menggelinding ban hitam bersemir kilap
degum musik menambah nafsu terbang bersayap
bersama mobil-mobil puluhan
yang ada di garasi Wawan..
sang kolektor…
di tengah kemiskinan rakyatmu
yang melihat kunci mobil pun bagai mimpi
namun hak kalian yang tersedot
jelas-jelas bukanlah mimpi hai kaum miskin
sebab semua keindahan hidup ada pada segala warna di sana…
seenaknya berpindah tangan

hai Wan !
cemerlang mobilmu bukankah menderu senantiasa
hanya berkibar di kala malam..
sebab siang akan ketahuan
semua adalah barang hasil copetan

Categories: Puisi | Tags: , , , , , , | 1 Comment