Takut !

takut !

kalau kamu yang maju

berada di singgasana

tikus tak lagi berpesta

gergoti keju  hingga tulang

berbagai sikap curang

 

takut !

kalau kamu di sana

geram akan membahana

melihat pelabuhan berjaya

mengangkut barang berbagai negara

dari beras garam kopi coklat tapioka  dan gula

 

takut !

kalau kau unjuk gigi

tak dapat lagi komisi tinggi

dari sewa kapal hingga jualan karung

lewat calo dadakan di sana sini

kocek gelembung di saku sang menteri

hingga pensiun bisa ongkang-ongkang kaki

 

takut !

kalau kamu mulai mengaum

pencoleng bagai tersengat jarum

si bule sulit berdecak kagum

lantaran bisnis  impor musnah ribuan drum

 

takut !

tak ada yang bisa dijual

tak ada lagi harga mahal

sebab biaya tinggi terpangkas untuk si bengal

kunker . eh kunjungan kerja pun dianggap tak halal

 

takut !

takuuuuuuuuuut… !!

maka bumi acak adul pencoleng di tempat ini

tak akan mau menerimamu…

ketimbang kesejahteraan keluarga menjadi sepi

hingga tak bisa lagi mobil  gratis dibagi-bagi

sampai memudahkan berkali-kali

untuk kawin siri…..

dan menyimpan perempuan di sana sini…

Categories: Puisi | Leave a comment

Nyoblos Besok !

 

 

tangan kita esok hari

adalah sebuah tanggung jawab besar untuk kemudian hari

memilih yang salah akan menjadikan negeri ini terulang salah

dari garong hingga pengintip video porno di kala rapat,

biang bolos kerja sampai urusan memeras kiri kanan,

akankah terulang dari para makhluk

yang memperoleh upah besar bulanannya dari keringat kita,

yang  akan  berjaya mulia mendekam di gedung bulat itu ??

Categories: Puisi | Leave a comment

Percakapan Suami Istri di Pagi Hari….

 

Pagi-pagi, seorang istri duduk di teras belakang rumah dinas sang suami yang luas. Bangunan kuno bersejarah, menyimpan sejuta cerita. Berdiri di tengah kawasan elit terpandang, megah. Berwibawa. Mulia. Di situlah kini kehidupan keluarganya membahana hingga ujung dunia bermula. Angin semilir membawa sisa embun. Pipinya dingin, tersentuh air mata dari kelopak yyang hangat. Ketakutan dan was-was merasuk ke seluruh tulang.

 

Suaminya mendekati, dengan menggenggam secangkir minuman temulawak di tangan. “Ibu kenapa?’, tanyanya. Sang istri menatap tajam. Ada duka terbesit di pancarannya. “Ah bapak kan tau, aku ndak nyaman lagi rasanya. Rumah ini cukup luas, tanggung jawab kerja bapak juga sangat luas dan sudah cukup besar. Aku sudah nerimo semua ini pak. Aku bangga bapak menjabat di sini meski kepala kejedut-jedut tiap hari. Lha bapak kenapa sekarang masih mau hadapi bahaya yang lebih besar lagi? Aku ndak ngarep jadi nyonya besar lho pak. Digadang-gadang ke sana ke mari tiap hari tiap menit tiap detik. Apalagi bapak dipuji-puji orang seperti kesetanan begitu, yang ndak tau asli2nya bapak..aku yo wedi pak.. takut banget. Aku tau bapak sebetulnya yo wedi tapi ambisi bapak kelewatan”.

 

Sang suami terdiam. Matanya menatap rerumputan hijau. seakan-akan rumput berkata juga kepadanya, “Matamu juga hijau menatap kekuasaan besar yang baru, yang ada di depan matamu”.

 

Ia menyentuh pundak istrinya. Suaranya lirih, “Bu, hanya kamu, aku dan Tuhan yang tahu betapa aku menyesal setengah mati sebetulnya nerima tawaran itu. Sebagai manusia biasa aku ya malu bu.. sungguh…sebetulnya aku malu. Aku sadar sudah bikin kecewa banyak orang, termasuk ibu dan anak-anak. Mereka, orang-orang di sana itu tidak pernah tahu sejak aku terima tawaran itu, kaki ini seperti ndak bisa napak, bu… dan senyumku juga semu rasanya. Mungkin juga bahagiaku lebih lagi dari semu…” .

 

Lalu mereka berpelukan. Semilir angin menerpa lembut. Namun tetap rasanya nyelekit !

 

( ~ Linda ~ / Jakarta, Sabtu pagi, 5 April 2014 )

 

Categories: Cerpen (Fiksi) | Leave a comment

Siapa Pilihan Saya?

 

 

Mengapa sekarang ramai sekali urusan pemilihan presiden dengan hanya dua nama? Ke mana yang lain? Tidakkah mereka juga adalah calon yang kuat? Apalagi yang termasuk dalam konvensi? Seakan-akan deretan nama itu bagai ubur-ubur yang menyusup ke dasar pasir di pinggir pantai….

Hingga detik ini, sayapun belum pernah bisa tahu apa kata hati saya untuk membuat suatu ketetapan, pilihan jatuh ke untuk siapa. Saya hanya sekadar ingin melihat Indonesia setelah ini punya greget di mana dunia…, aman tenteram antar tiap suku bangsa dan perbedaan kepercayaan yang dianut, dan indah kembali dalam perolehan rizkinya. No import…no import…no import — untuk komoditas sehari-hari ; beras, gula, bawang, coklat, garam, kedelai, hingga kaos kaki dan singlet lelaki !!!

Categories: Opini | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Tampil di Acara “Mata Najwa” Metro TV, 26 Maret 2014

ld-mtnaj

Dalam waktu yang singkat saya bertutur di “Mata Najwa” tentang pengalaman selama menjadi wartawan Istana di era Soeharto. Sesungguhnya, kurun waktu sembilan tahun ditugaskan di istana atas wakil dari majalah TEMPO dan dilanjutkan majalah GATRA, tentu banyak yang ingin diungkap. Sayangnya waktu begitu terbatas. Bahkan ada beberapa bagian cerita yang diedit.

Apapun, saya bersyukur diberi kesempatan tampil di acara Metro TV yang terkenal itu. Najwa Shihab, perempuan cantik yang mewawancarai saya sungguh cerdas, kritis, dan menyenangkan. Ia sangat paham celah serta ‘pancingan’ pertanyaan yang lugas seada-adanya, bahkan juga yang halus terselubung.

Semoga tayangan ini bermanfaat bagi semua.

 

Categories: Berbagi Info | 1 Comment

Hai Tetangga!!

Kalian biasanya sombong kepada kami. Dari urusan merebut pulau hingga penghinaan pada bangsa kami yang mencari nafkah di tempat kalian. Plus mengaku soal lagu hingga batik adalah ciptaan kalian. Kami sering dibuat mumet dan gregetan tetapi selalu berusaha menahan diri karena berlandaskan ‘saudara serumpun’.

Maka kini kami tinggal menjadi penonton saja melihat kepanikan, kesibukan, dan lontaran kecaman dari berbagai negara yang kalian rasakan sekarang… sampai-sampai keterangan resmi orang paling tinggi dan terhormat di tempat kalian itupun dicabut kembali — soal lokasi jatuhnya burung besi nan malang itu….

Categories: Renungan Hidup | Leave a comment

Ada Bunda Putri…

ada bunda putri
cantik sekali
indah senyumnya
legam rambutnya
langsing lekuk tubuhnya

bunda putri tertawa
menahan kepahitan
ia harus tetap berbinar
demi nama yang terlanjur tenar
dari suami yang nakal benar..

bunda putri berakting
menjelma menjadi bunda mulia
surga ikut
neraka turut
falsafah turun menurun
tatkala perjanjian nikah terwujud

bunda putri mengibaskan kebaya mahalnya
tenun puluhan juta harganya
kerennya batik sutra…
sesungguhnya ia ingin mencopot semua
mulai dari kalung mutiara
tertera di leher jenjang perkasa
hingga berlian pada jemari….
lentik penuh warna rupawan..
sebab semua hanya sarana…
bukan pembawa lekatan bahagia

bunda putri mendekap bantal
sembari berurai air mata
mulutnya berdesis ;
sampai kapan aku harus begini..
sampai kapan…
sampai belahan jiwa lumpuh tak berdaya
lalu aku juga yang kelak harus memandikannya…
karena hidup adalah perjalanan kewajiban
hingga predikatku terbawa mati..
tetap menjadi bunda putri
nan perkasa tak terperi….
sabar setia tertumpuk berpeti-peti..
berpeti-peti..
berpeti-peti…
padahal dadaku sesak menanggung nyeri

Categories: Puisi | 1 Comment

Oh, Beruang!!

beruang montok
kupeluk dikau
bagai tubuh berada di tengah selimut
hangat…

beruang gendut
kucubit dikau
karena kamu menggemaskan
bisa melirik
bibir membasah
mata merona
semua muncul pada aliran goda

beruang cinta
pucuk dicinta ulam tiba
ada anggukan
melayang di tengah awan
membelah angkasa
dari moncong burung besi
membuat orang lain iri…

oh beruang
tahukah kamu bila jadi manusia beruang
lho bukan dikau menjadi beruang
maksudku bila jadi manusia punya banyak uang
serasa lautan bisa dibeli
tak berlaku di negeri corat marut ini?

beruang….
dikau kupeluk karena uang…
ya karena beruang
cobalah tidak beruang
wajah tampanpun akan jauh-jauh terbuang…

maka beruang tergelak berderai
karena dusta membumbung tinggi
jauh ke ujung pulau
tempat memadu kasih erat jabat gemerlap
tinggal kini tumbal muncul dicari-cari…
berkata lebar tanpa sisi
khalayak mana percaya lagi??

Categories: Puisi | Leave a comment

Katakanlah Terima Kasih !

Aku berhadapan dengan seorang perempuan renta. Ia kini terbaring di tempat tidur tiada daya. Hanya berdiam diri, tidak rewel, serta tetap cantik. Seorang Ibu dengan tiga anak, super kaya raya dan memiliki usaha besar sejak tahun ’50 an hingga kini. Tanpa henti, tanpa mengalami kebangkrutan.

Tentu saja kini bukanlah dia lagi yang menjalankan perusahaan. Suami sudah lama wafat, dan tampik kekuasaan perusahaan berada pada anak-anaknya. Dan dalam kepikunannya, ia masih sering mengingat waktunya rapat, menandatangani surat-surat, dan penjualan produk yang dihasilkan di pabriknya.

Ibu tua ini masih dicat rambutnya, hingga warna hitam legam menghiasi kerutan wajahnya. Cincin emas, gelang emas serta kalung mutiara tetap terpajang di tubuhnya. Bahkan pemerah kuku masih teratur melekat cantik.

Waktunya makan ia dipapah atau didorong dengan kursi roda oleh beberapa pembantunya yang setia. Menghadap ke kolam renang yang indah, ia menikmati hidangan dari piring porselen Cina dan sendok perak mewah. Menuju meja makan, ia bergumam kepada para pembantunya, “Terima kasih” …. hingga sampai di meja. Setelah dilayani, disuapi, diberi minuman, ia kembali berucap, “Terima kasih ya”.

Saya terkenang cerita puluhan tahun silam. Sejak balita saya lebih sering hidup di rumahnya yang megah. Ia adalah kakak ayah saya tertua. Rumahnya besar sekali dengan halaman yang juga luas. Saya beserta putranya leluasa main sepeda dari ujung ke ujung halaman. Sore baru saya dijemput ayah ibu untuk pulang. Mandi sore tak lupa di rumahnya dulu. Berpamitan tanpa mengucapkan terima kasih? Ia akan mendelikkan matanya. Perempuan pengusaha sukses itu sangat terukur. Sangat berdisiplin dan cermat, hingga kadang para pegawai maupun kerabat menganggapnya ‘angker’, galak, dan bagai tentara yang penuh dengan segala aturan.

Suatu ketika ia pergi keliling Eropa bersama suaminya. Ketiga anaknya tidak ikut, karena ini adalah kunjungan kerja. Sebelum berangkat, saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dimintai tolong untuk menggantungkan mantel winternya. Saya ikat agar tak lepas di gantungan yang tersedia di pesawat udara. “Terima kasih Linda…, mantelnya rapi deh”, katanya. Rasanya saat itu saya bangga sekali karena hasil kerja saya dihargai olehnya. Selalu saja ucapan ‘terima kasih’ menjadi menu utama sehari-hari dalam kehidupannya, yang akhirnya menjadi hal yang utama dalam kehidupan keluarga besar kami.

Sepulangnya dari luar negeri, kami duduk mengelilingi kopernya. Oleh-oleh dibagikan. Mata kami terbelalak karena selain aroma ‘luar negeri’ yang harum muncul dari dalam koper, juga isinya sungguh menggiurkan. Namun saya sempat kecewa oleh-oleh bagian saya tidak ada, karena rupanya koper yang lain belum datang dari bandara. Entah bagaimana sistem zaman bandara Kemayoran saat itu.

Beberapa hari kemudian datang kiriman sekeranjang ke rumah. Ayah ibu dapat oleh-oleh, adik-adik juga. Saya dapat bola karet yang bagus sekali buatan Jerman, kaos kaki warna-warni, rok lebar serta sepatu kulit. Tentu saja saya gembira sekali.

Tak lama setelah itu, saya kembali berada di rumah megahnya lagi. Untuk bermain sekaligus biasanya membuat pekerjaan rumah tugas dari sekolah. Baju dipakai, sepatu dipakai, bola dipakai untuk dimainkan di halamannya yang super besar itu. Ia mengamati saya dari jauh, dan menatap tajam. Saya dengan santai berlari-lari di dekatnya. Lalu katanya, “Linda punya semua ini, baru ya?” Saya mengangguk. “Linda tahu ini dari mana?” “Dari Ibu, oleh-oleh dari Jerman,” jawab saya santai. Saya memang memanggilnya ‘ibu’ sejak kecil, karena sudah seperti ibu sendiri.

Lalu katanya lagi panjang lebar, “Begini ya Linda, meskipun kamu masih anak kecil, tapi kamu harus belajar kesopanan. Tidak boleh sedikitpun lupa untuk bilang terima kasih kalau dikasih apapun sama siapapun. Kenapa Linda tidak bilang terima kasih ke ibu atau ayah, setelah menerima semua ini? Mau suka atau tidak suka pada pemberian orang, harus tetap bilang terima kasih. Itu namanya orang yang tahu adat! Jangan sampai tidak tahu adat sampai kamu tua nanti lho…!”

Saya terkejut. Takut. Malu. Menyesal. “Iya bu… terima kasih yaaa.. saya lupa bu….”, kata saya gemetaran. Duh si Ibu ini galak amat siiiih! Saya betul-betul malu dan terpukul sekali. Saya juga menyesal karena takut dikiranya ayah dan ibu saya di rumah tidak pernah mengajari saya kesopanan, sehingga orang menganggap saya tidak tahu diri dan tidak tahu adat…. duh !!

Saya kembali mengingat perempuan uzur itu. Kekayaannya tak pernah hilang dari tubuhnya. Benda-benda mewah, juga kecermatannya. Pembantu mengambilkan handuk ke tempat tidurnya, ia berkata. “Terima kasih bik..”. Diambilkan gelas, didorong kursi rodanya, dimandikan, maupun bila anaknya memainkan piano untuknya, ia otomatis berdesis, “Terima kasih….”

Peristiwa masa kecil saya ditegur serupa dulu itu olehnya, sungguh membekas sampai usia saya melebihi separuh abad ini. Saya pun seringkali menasihati anak, maupun orang-orang terdekat saya apabila lupa berucap kata yang sangat sederhana dan singkat itu. Saya pun sering berupaya untuk mencubit diri sendiri, jangan sampai lupa berterimakasih kepada orang-orang yang sudah berbaik hati kepada saya dalam bentuk apapun. Hingga akhirnya, saya baca malam ini soal seorang ketua partai mengeluhkan adab seorang pejabat yang telah diandalkan posisinya tahun silam olehnya, dan tidak sepotong kalimatpun ia berucap ‘terima kasih’ manakala sudah berhasil duduk dalam singgasana hebatnya.

Saya paham betul walau kita telah memberi, tak perlu berharap balasan. Kalau perlu, tak usah menanti orang mengucapkan kata ‘terima kasih’. Tapi kalau situasi di balik, kita yang diberi sesuatu, barang atau kemudahan, kesempatan atau kepercayaan, sebaiknya memang kitalah yang berinisiatif serta menyentil diri sendiri untuk tahu diri, tahu adat, hingga kata ‘terima kasih’ bisa dengan sendirinya meluncur dari tuturan kata kita….., sebelum kita dicemooh orang. Dan, lagi-lagi, jangan sampai dianggap sebagai orang yang tidak tahu adat. Apalagi kalau sudah makin berumur. Malu ‘kan??!

Categories: Renungan Hidup | 3 Comments

Kamu dan Piano

tadi jemarimu di sana
luwes
memunculkan suara
dari piano lebar di depan mata
dari cinta lebar zaman baheula…

tadi matamu menimpa gamangku
musik itu masih menyala
lewat sekujur tubuh pria penuh talenta
menuju cinta yang tak lagi menyala
tertutup cerita masa lalu
bagian dari kehidupan
menapak ritme
lagi-lagi lewat jemarimu…
yang heboh
lirih
bersuara
tiada henti bersuara
dentingan masa lalu
terpatri bersahaja
yang sepakat kita simpan
selamanya….

Categories: Puisi | Tags: , , , , | Leave a comment