browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Tagged With: Moerdiono

Moerdiono, Kalau Masih Hidup……

Moerdiono pernah menjadi Sekretaris Negara. Ia seringkali dianggap o’on, membuat mual pemirsa televisi yang mendengarkan caranya berbicara. Terbata-bata, bagai orang bego’ yang duduk sebagai jubir Presiden Suharto kala itu. Tapi kami, para wartawan Istana yang tahu persis siapa Pak Moer, tentu tak menganggap demikian. Pak Moer memang alergi kamera televisi. Ia akan terlihat gagap bila … Continue reading »

Categories: sosok | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Moerdiono, Bicaranya yang Terbata-bata Hanya Pura-pura…, yang Tahu Hanya Wartawan Istana…

Dering telefon genggam bertubi-tubi sedari tadi.  Lelaki perempuan, teman-teman dekat saya, terisak menangis membicarakan wafatnya Moerdiono,  mantan Menteri Sekretaris Negara era Suharto.  Air mata saya bergulir deras. Ya Allah, harapan saya, ia wafat dengan husnul khotimah, dengan nyaman, dengan pemaafan yang besar darinya dan pemaafan dari orang kepadanya. Dan dipeluk Tuhan dengan segala cinta Baru … Continue reading »

Categories: Tokoh, Uncategorized | Tags: , , | 1 Comment

Moerdiono Tidak Suka Melihat Rombongan VVIP Belanja

  Sebelum rombongan VVIP berangkat mengikuti perjalanan Presiden Suharto ke luar negeri, lazimnya kami diberi pengarahan beberapa hari sebelumnya. Kepala protokol Istana, Kepala Rumah Tangga Istana, Sekretaris Militer Presiden, dan jajarannya biasanya berhadapan dengan para wartawan, kru pesawat termasuk pilot, pramugari pramugara, dokter dan sebagainya. Tak lupa pula jajaran Paspampres ( Pasukan Pengamanan Presiden ) … Continue reading »

Categories: Tokoh | Tags: , , | 5 Comments

Air Mata Moerdiono Ternyata Mudah Mengalir…..

    Pada saat hari ketiga tahlilan di kediaman Moerdiono di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan,  sebelum acara di mulai saya duduk di ruang keluarga.  Sakum, pembantu setianya selama puluhan tahun berkata, “Ya di situlah bu Lin, Bapak selalu duduk. Tangannya menyender seperti itu, persis.  Bantalan kursinya tetap di punggung,” ujarnya dengan sendu.  Hati saya … Continue reading »

Categories: Tokoh | Tags: , , | 3 Comments