browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Blusukan dan Telur Columbus

Posted by on January 6, 2013

 

 

siapa bilang dia meniru

yang sudah tenar berbulan lalu

mendengar keluh kesah rakyat sendu

kemiskinan membuat penguasa termangu

 

siapa bilang dia meniru

hanya saja kesibukan selalu menunggu

dari keluh kesah sampai ciptakan lagu

blusukan menjadi terlupakan sepanjang waktu

 

lalu ada orang lain

blusukan ke kali bau

mengundang sinis kata aroma  bacin

dari mereka tanpa prestasi tapi blagu

 

ingat kita pada Columbus

yang mengikuti angin berhembus

berlayar jauh  temukan  benua Amerika

tetap saja ada yang sinis terhadap pria asal Italia

di samping ada pula penghormatan bangga

 

begitulah  si jangkung kita

saat ia dianggap plesiran keliling kampung  di tengah kota

manusia kardus kembali dengki nestapa

menganggap  kerja orang Solo itu sia-sia

 

lalu muncul penirunya

ah gampang saja kalau cuma itu caranya

sayangnya  ada yang ia lupa

melakukan semua tanpa berjiwa

bagai kopi pahit tiada memakai gula

 

Columbus pun sempat dibuat nestapa

berbagai cerca dan hina dina

lalu ia mengeluarkan telur di atas meja

siapa yang bisa mendirikan telur ini dengan perkasa

tak satupun sanggup menirunya

 

Columbus mengetuk telur hingga pecah sedikit ujungnya

setelah  alas telur menjadi rata

maka berdirilah butiran itu di atas meja

para pecundang lancang tak sanggup lagi berkata-kata…

 

sesuatu yang ditiru memanglah mudah

sesuatu yang baru dijadikan sumpah serapah

maka hidup tak perlu berisi iri dengki

semua akan berbalik pada diri sendiri

 

blusukan kembali menyala

sebentar lagi ditiru oleh  lebih banyak orang semua

yang ingin menarik perhatian seluruh dunia

tebar pesona..

upaya merebut sejuta kharisma

tanpa ingat sebelumnya  acapkali mencela

 

blusukan…

blusukan..

kemarin dihina dina

kini ditiru dengan bangga……

 

 

 

Bagikan Posting ini di:

Comments are closed.