browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Si Udin

Posted by on November 19, 2012

Tubuhnya gempal. Gemuk, pendek, bulat.  Jari-jari tangannya juga  besar, sebesar cincin berliannya yang kinclong berwarna putih terang.  Untuk seorang lelaki, agak aneh memang memakai cincin sampai di tiga jari kiri kanan.  Kata sekretarisnya sembari berbisik-bisik kepada  staf  Udin yang lain,  cincin itu dibeli di toko berlian di  kawasan mal mewah.  Harganya, masing-masing Rp 600 juta rupiah. Wow..!  “Kok kamu tahu harganya segitu?”, tanya Markam juru tulis di ruang sebelah. “Lha iya laaaa, kan boss kalau taro’  kwitansi sembarangan. Ada di pinggir meja yang saya bereskan, ya tentu terbaca dong,” ujar sang sekretaris, oya, namanya Marni.

Udin mengurus segala izin. Izin bangunan, RUTR (apa ya singkatannya,  mungkin Rencana Umum Tata Ruang), juga perizinan lain. Dengan bangga ia pernah berkata kepada Marni, “Hey kamu tau nggak Mar,  anggukan kepala saya ini harganya milyar-milyar lho. Kalau saya bilang ‘ya’  tentu ada harganya. Kalau saya geleng kepala, artinya si pengusaha melongo saja dan bisa-bisa gulung tikar.. hahahahaaa!”, katanya sembari tertawa berderai-derai. Tentu dengan  nada bangga, bahagia, dan lupa segala. Plus lupa perutnya yang buncit sekali itu terguncang-guncang mengikuti irama tawanya.

Marni terkesiap.  Ya olooooo, uang segitu dihargai dari anggukan kepala.  Hatinya pedih. Suaminya baru saja operasi jantung, kantor tidak membiayai penuh sehingga sisa   yang harus dibayar terpaksa ia utang kiri kanan. Sang boss Udin dengan mudah meraup uang sembari meram melek.

Pengusaha yang datang ke ruang kerja, biasanya keluar dengan senyum cerah. Masuk pun sudah dengan simpulan tawa penuh arti, sambil menenteng tas kresek bagai tiada arti.  Padahal, isinya adalah uang ribuan lembar rupiah maupun dolar.  ” Gini hareeee… nenteng duit kontan, apa nggak ngerti ada transferan bank?,” ujar Marni lagi, bergosip dengan Markam. “Eh bodoh kali kau ini .. heh perempuan, kau kan tahu kalau ditransfer  nanti ada buktinya?,”  jawab Markam ketus.  Marni kembali tertawa terbahak-bahak. Matanya memandang deretan nama yang akan berkunjung esok mengunjungi sang boss.  Bila pengusaha cemen, kecil, uang receh,  spidol berwarna merah sudah tersedia di tangan kanannya. Coret segera, tiada kesempatan berbicara dengan mister Udin. Itu sudah perintah baku yang keluar dari mulut sang majikan. Maka diturutilah dengan hati ciut bercampur iba.

Sekian belas tahun kemudian…. Marni terkesima.  Ia sudah pensiun, si Udin majikannya  juga sudah tak berkuasa lagi. Namun kini ia berkuasa di tengah jalan raya hampir setiap hari.  Badannya yang bulat bagai menggelinding di trotoar. Ia menjerit-jerit, menunjuk ke atas langit, arah ke berbagai apartemen yang menjulang di seluruh kota. “Itu apartemen saya.  Yang sebelah sana saya punya tiga unit, yang apartemen ini ada sembilan unit. Ke mana semua sekaraaaaang..?  Haaaah? Ke manaaaaaaa….??!”   Cincin berlian Udin juga tak tampak lagi di jemarinya. Busananya kusut masai, kantongnya robek sebelah.  Udin bangkrut. Keempat  putranya menghabiskan uang.  Yang dua penjudi berat, yang dua lagi pemakai narkoba berat. Tak ada harta yang tidak dicuri oleh mereka. Sebelum istri ‘asli’ nya minta cerai, dua istri simpanannya sempat mengancam akan membongkar perselingkuhannya. Rahasia ditukar dengan harta. Selesai. Empat rumah dibagi kepada dua istri gelap. Istri utama sebelum bercerai, juga menodongnya dengan harta gono-gini yang menggiurkan.  Udin lemas, ditambah menjadi sulit berjalan normal karena asam urat yang mengganggu kedua kakinya. Marni sempat menonton dari sisi jalan. Mulutnya berdesis sambil menggenggam tangan suaminya, “Itu dulu majikan saya yang hebat berjaya…, dan  itulah  apartemen-apartemen yang seharusnya tidak berdiri di situ tapi atas izin kongkalikong boss semua bisa berjalan mulus.  Hadiahnya, ya unit apartemen  mewah itulah,” kenangnya.

Bagai drama sinetron yang  sering tak masuk di akal sehat., tapi begitulah yang terjadi pada kisah Udin. Ia meradang, karena amarahnya kepada segala manusia yang berada di dekat-dekatnya.  Ia juga dendam dengan atasannya, yang tak sedikitpun mempertahankannya pada jabatan itu lebih lama. Korupsinya dianggap masih belum maksimal, tahu-tahu sudah diganti. Maka menconglah otak si Udin.  Ia tidak sekedar gila harta lagi, namun gila betulan.  Teriakannya menggema ke mana-mana, ke seluruh pelosok kota.  Kadang ia tertawa terbahak-bahak , melihat kota semrawut akibat izin segala rupa yang tak boleh, olehnya diperbolehkan.  Lalu ia kembali meraung-raung.  “Mana unit apartemen sayaaaaaaaaaa…. heeeey… orang gilaaaaa…..! Kembalikan bagian sayaaaaaaa…..!”   Warga kota hanya menonton. Mungkin tak ada yang tahu muasalnya dia siapa…. koruptor yang sudah menelan buah pahit penuh duri yang ia tanam sendiri sebelumnya.

Bagikan Posting ini di:

4 Responses to Si Udin

  1. Tasha

    Manusia tamak harta dan kekuasaan adl manusia paling malang. Akar segala kejahatan adl cinta uang. Thanks mba Linda..

  2. Linda Djalil

    @Lies Sudianti : Ya, InsyaAllah kita selalu melangkah di jalan yang disukai DIA…
    Cerita imanjinasi ini muncul begitu saja…, mbak Lies..! Terima kasih sudah mampir.

  3. Lies sudianti

    Hukum Tabur Tuai tidak pernah luput, jika kita menanam kebaikan maka kita akan menuai kebaikan sebaliknya kalau kita menanam kejahatan maka kita akan menuai kejahatan yang terasa sangat berat karena tak seorang pun ikhlas kalau harus dicopot dari semua kenyamanan yang dianggapnya milik nya tujuh turunan.
    Semoga tak ada keturunan kita seperti ini, karena tak akan kuat kita menerima cemoohan orang banyak