browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Masa Kecilku yang Sumringah Berkat AT Mahmud

Posted by on August 27, 2013

 

TVRI  baru saja berulang tahun.  Banyak kenangan banyak acara yang menempel pada ingatan kita masing-masing. Salah satunya, adalah tokoh yang bernama AT Mahmud, ‘arsitek’  acara dan pengarang lagu anak yang tiap minggu dikumandangkan di TVRI puluhan tahun silam.  Tulisan saya ini saya buat tahun 2010 dan dipublikasikan  di buku CELOTEHAN LINDA yang sudah cetak ulang tiga kali  dalam setahun.  Seorang pahlawan bangsa yang saya rasa, sepatutnya dialah yang layak memperoleh bintang ‘maha-maha’  dari pemerintah dengan gemilang. AT Mahmud memang sungguh luar biasa !!

 

Siapa yang dulu tidak madatan masuk televisi? Semua mata memandang dari pelosok Indonesia. Masih TVRI sebagai pemancar satu-satunya yang dinanti rakyat. Dan tiap dua minggu sekali ada acara Ayo Menyanyi dan Lagu Pilihanku secara bergantian. Anak-anak Sekolah Dasar di DKI Jakarta diberi kesempatan untuk mengikuti acara ini, tentunya dengan murid-murid yang terpilih.

Ayo Menyanyi adalah acara yang dipandu oleh Ibu Fat, si wanita bertubuh gempal, bersanggul dan cantik sekali. Pianisnya adalah Ibu Meinar. Lagu-lagu baru minggu itu muncul satu persatu tiap acara itu diadakan. Darimana lagu itu datangnya? AT Mahmudlah yang menciptkannya.

Saya ingat betul, sekitar 10 anak berdiri, dari satu Sekolah Dasar yang sama, mengikuti petunjuk kayu panjang yang dilekatkan satu persatu pada not angka di kertas putih lebar oleh Ibu Fat. Do.. do .. sol..sol.. dan seterusnya. Lalu setelah nada terdengar sempurna, barulah kata-katanya. Ada lagu ‘Kapal Api’ ( lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut.. makin lama makin besar bentuk rupanya.. itulah kapal api yang sedang berlayar…), atau Ruri ( Ruri adalah abangku… ), Bintang Kejora ( kupandang langit penuh bintang bertaburan, berkelap kelip seumpama intan berlian.. itulah bintangku bintang kejora yang indah selalu..), Pelangi ( Pelangi-pelangi.. alangkah indahmu.. ). Karya AT Mahmud memang di mana-mana menggema, dinyanyikan banyak anak Indonesia. Di kelas masing-masing kami bergumam, bersenandung lagu-lagu baru, di rumah, di dalam becak….. di taman yang dulu masih banyak yang luas di sekitar kawasan Menteng…

Lalu acara yang satu lagi, Lagu Pilihanku. Yang memandu adalah wanita yang agak ‘centil’ alias seru lucu senyum genit khusus untuk anak-anak, dan di akhir acara selalu mata sebelah dikedipkan. Itulah Ibu Mul, si jelita istri AT Mahmud. Suaranya indah juga, dan memberikan kesempatan anak-anak antar SD dari sekolah yang berlainan ( satu sekolah diwakilkan satu sampai dua anak ), berlomba menyanyikan lagu yang judulnya harus dipilih sendiri, dicabut dari kertas lebar putih. Di situlah lagu-lagu karangan AT Mahmud dicantumkan. Anak yang sudah mengambil kertas pilihannya harus bisa menyanyikannya dengan lancar dan suara yang indah pula. Kadang ada yang gagap, tidak kenal lagu, atau suara sumbang sungsal. Maka Ibu Mul pun tergelak.

Selama sebulan itu, dalam kurun dua minggu sekali saya tak pernah lepas dari depan televisi pada acara lagu-lagu AT Mahmud. Dan untungnya, beberapa kali juga saya termasuk yang dipilih untuk ‘mejeng’ bernyanyi di Lagu Pilihanku maupun Ayo Menyanyi.

Betapa imajinasi anak-anak ditumbuhkembangkan, diasah, dilatih untuk cinta pada lingkungan dan sensitif pada hal-hal di sekitarnya. Begitu saya melihat pelangi di langit, berteriaklah saya sembari bernyanyi , pelangi.. pelangi.. alangkah indahmu.. merah kuning hijau.. di langit yang biru.. pelukismu agung.. siapa gerangan.. pelangi pelangi.. ciptaan Tuhan..

Lalu saya bertanya esoknya kepada guru agama, Pak Mufti. Kenapa Tuhan menciptakan warna di pelangi? Dan sebagainya dan sebagainya. Duh, seorang AT Mahmud sungguh menyelami dunia kanak-kanak yang digelutinya. Saya bergairah terus sambil mangap nyanyi segala rupa, sembari main bekel, tali loncat, main samse yang bunga kemboja diikat di karet kemudian di lempar dengan sebelah kaki. Semua dilakukan sambil menyanyi. Kalau sedang malas membuat Pekerjaan Rumah, maka saya menyanyi sendiri.. Ruri adalah abangku…. yang menceritakan seseorang yang rajin belajar. Ternyata lama kemudian barulah saya tahu bahwa Ruri adalah nama anak tertua AT Mahmud. Begitu pula pria yang bernama asli Totong kelahiran tahun 1930 ini dengan cintanya mengarang lagu Amelia, anak gadis cantik Emil Salim sahabatnya ( hahahaa.. kini Melly si Amelia sudah jadi emak-emak pula seperti saya… ). Kami sempat pula berurai air mata ketika lagu AT Mahmud tentang Ade Irma Suryani ( anak bungsu Jendral Nasution yang tewas dalam peristiwa G 30 S PKI ) dinyanyikan… ( akan kuingat selalu… Ade Irma Suryani… waktu dipeluk..dipangku ibu..)

Siapa AT Mahmud dan latar belakang pendidikannya, sengaja tidak saya urai lagi di sini. Saya tahu pasti sudah banyak yang menuliskannya hari ini saat tahu beliau sudah meninggalkan kita semua dengan tenang di usianya yang 80 tahun ini. Saya hanya bersedih melihat betapa penghargaan yang ia terima bertubi-tubi atas jasanya, rasanya tidak begitu berpengaruh kepada dunia pendidikan anak kita yang disiarkan kerapkali di televisi. Lihatlah manusia-manusia cilik berlomba menyanyi dengan instrumen listrik yang gombrang-gambreng dengan gaya dewasa dan lirik lagunya jauh sekali dari sensitifitas terhadap alam sekitar. Tak ada lagi tentang gemericik air, warna pelangi yang sekian rupa, tentang anak gembala, mendaki gunung, bintang kejora atau tentang layang-layang. Bahkan apa itu musim panen, bulan sabit, tupai dan burung nuri – semua yang tersebut dalam maha karya AT Mahmud, sudah terabaikan. Semua diganti dengan lagu-lagu patah hati, cinta-cintaan dewasa, dengan polesan dandanan sang penyanyi yang bergincu dewasa.

Tak heran beberapa saat sebelum AT Mahmud pamit kepada bumi ini, ia sempat mengutarakan mimpinya, ‘kapan lagu-lagu saya ada lagi di televisi…’


Selamat jalan, bapak tokoh pendidikan anak Indonesia…. terima kasih telah memberikan warna yang semarak dan sumringah semasa kecil saya, dengan lagu-lagu yang cantik, indah, menyadarkan seorang anak akan tanah airnya yang indah dan membanggakan, menyadarkan seorang anak terhadap lingkungan sekitar yang penuh ciptaan Tuhan yang luar biasa hebatnya

Bagikan Posting ini di:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>