browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Percakapan Suami Istri di Pagi Hari….

Posted by on April 5, 2014

 

Pagi-pagi, seorang istri duduk di teras belakang rumah dinas sang suami yang luas. Bangunan kuno bersejarah, menyimpan sejuta cerita. Berdiri di tengah kawasan elit terpandang, megah. Berwibawa. Mulia. Di situlah kini kehidupan keluarganya membahana hingga ujung dunia bermula. Angin semilir membawa sisa embun. Pipinya dingin, tersentuh air mata dari kelopak yyang hangat. Ketakutan dan was-was merasuk ke seluruh tulang.

 

Suaminya mendekati, dengan menggenggam secangkir minuman temulawak di tangan. “Ibu kenapa?’, tanyanya. Sang istri menatap tajam. Ada duka terbesit di pancarannya. “Ah bapak kan tau, aku ndak nyaman lagi rasanya. Rumah ini cukup luas, tanggung jawab kerja bapak juga sangat luas dan sudah cukup besar. Aku sudah nerimo semua ini pak. Aku bangga bapak menjabat di sini meski kepala kejedut-jedut tiap hari. Lha bapak kenapa sekarang masih mau hadapi bahaya yang lebih besar lagi? Aku ndak ngarep jadi nyonya besar lho pak. Digadang-gadang ke sana ke mari tiap hari tiap menit tiap detik. Apalagi bapak dipuji-puji orang seperti kesetanan begitu, yang ndak tau asli2nya bapak..aku yo wedi pak.. takut banget. Aku tau bapak sebetulnya yo wedi tapi ambisi bapak kelewatan”.

 

Sang suami terdiam. Matanya menatap rerumputan hijau. seakan-akan rumput berkata juga kepadanya, “Matamu juga hijau menatap kekuasaan besar yang baru, yang ada di depan matamu”.

 

Ia menyentuh pundak istrinya. Suaranya lirih, “Bu, hanya kamu, aku dan Tuhan yang tahu betapa aku menyesal setengah mati sebetulnya nerima tawaran itu. Sebagai manusia biasa aku ya malu bu.. sungguh…sebetulnya aku malu. Aku sadar sudah bikin kecewa banyak orang, termasuk ibu dan anak-anak. Mereka, orang-orang di sana itu tidak pernah tahu sejak aku terima tawaran itu, kaki ini seperti ndak bisa napak, bu… dan senyumku juga semu rasanya. Mungkin juga bahagiaku lebih lagi dari semu…” .

 

Lalu mereka berpelukan. Semilir angin menerpa lembut. Namun tetap rasanya nyelekit !

 

( ~ Linda ~ / Jakarta, Sabtu pagi, 5 April 2014 )

 

Bagikan Posting ini di:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>