browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Renunganku Bersayap Setelah Nonton Drama Sang Kuriang

Posted by on February 3, 2013

Siapa yang tak kenal cerita Sang Kuriang.  Kisah legendaris dari  tanah Pasundan yang sudah turun menurun ini dikenal sebagai cerita  asmara seorang anak yang jatuh hati kepada ibu kandungnya sendiri. Sang Kuriang memaksa Dayang Sumbi, sang Ibunda, untuk menjadi pasangan suami istri.  Semua berakhir dengan siasat, perjuangan, kelicikan, serta nestapa di ujung belati.   Bunuh diri adalah akhir penutup cerita.  Perahu sebagai sarana pengikat pernikahan terbuang sia-sia, berbekas hingga kini bila orang mempercayainya.

Di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat, drama musikal ini dipertontonkan di depan ratusan pengunjung teater keren.   Empat kali pertunjukan dalam dua hari berturut-turut plus satu hari ekstra untuk pekerja media,  di awal bulan Februari ini 2013 ini, membuat pemanggungan yang dipenuhi oleh para seniman (pemain drama, pemusik, penyanyi, penata panggung, sutradara dan peringkatnya yang lain) tampak menyatu, utuh dan terasa pancaran nilai estetika yang kuat bagai magnit.

Balik ke cerita Sang Kuriang,  lagi-lagi, ini adalah cerita biasa. Cerita umum.  Namun ternyata, tak saya sangka, banyak perenungan yang terbesit menyala-nyala hingga saya tiba di rumah, hingga malam sampai esok harinya.  Konteks kejadian masa lalu,  apapun, walau hanya sekedar dongeng, memiliki lirik kata yang masih tersimpan  langgeng sepanjang zaman. Inilah kehidupan. Berlalu dengan irama yang sama. Yang jahat tetap ada, segi baik juga tetap ada. Tokoh hitam, tokoh putih. Hutan belantara, dipenuhi oleh para makhluk jahat,  dengan lirik lagu suara dari paduan suara  Universitas Parahiyangan, menggema dengan kata di mana manusia mempercayai manusia, di sanalah kita , melihat lawan kuat sentausa.., dan kita celaka !  di mana manusia meragui manusia, di sanalah kita melihat lawan minta digoda, dan kita menggoda.. di mana manusia menidadakan manusia, di sanalah kita mendapat kawan untuk dipuja, dan kita bahagia !  mari-mari kita siap sedia, menghadapi manusia minta digoda, buat dijadikan kawan untuk dipuja…..

Itu adalah suara setan. Ya, siluman penggoda yang sering terbenam dalam hati manusia.  Besar kepala, kesombongan, sering dibisik tiap saat ke telinga manusia agar khilaf berlama-lama.  Puja puji yang menghanyutkan dan membuat  manusia kerapkali lupa.  Sebagai penunjuk tersirat  jenis tempat yang berbeda sifat, ada pula lirik lagu yang menyebutkan,  rimba raya bukan tempat untuk manusia, tetapi untuk tempat siluman…..

Dayang Sumbi, sebagai wanita yang sudah putus asa tak berhasil meyakinkan Sang Kuriang bahwa si  Tumang  makhluk buruk rupa adalah ayah kandungnya, akhirnya  bersimpuh,  menyebutkan dewata berkali-kali.  Bahkan ia meyakini bahwa dewata selain ada di mana-mana,  ada pula di dalam hati manusia. Dewatalah yang melembutkan hati manusia.

Saya kembali tercenung. Dewata —  yang saya artikan Tuhan Yang Kuasa,  memang adanya di segala tempat. Mengapa kita  acapkali menganggap DIA  adanya ‘di atas sana’… padahal sesungguhnya DIA seringkali berada di ujung mata kita, di ujung hidung kita, bahkan di dalam sanubari kita.

Ketika sang anak marah, protes, penasaran, ingin tahu terus-menerus siapa ayah aslinya, membuat ia gundah sepanjang hidup dan penasaran bertanya terus kepada Dayang Sumbi, seketika saya teringat  satu hal yang sangat universal, yang terjadi pada kehidupan sesungguhnya hingga kini.

Banyak anak yang sampai kini tak mengenal  siapa ayahnya,  atau kedua orang tuanya,  untuk anak-anak yang muncul dari rahim orang lain. Anak-anak angkat, yang sering diistilahkan dulu sebagai ‘anak pungut’,  yang diambil dari yayasan yatim piatu, dari  Rumah Sakit,  dan dirahasiakan muasal kedua orang tuanya,  masih sering terjadi hingga kini.  Suatu ketika,  sang anak mendengar selentingan kiri-kanan setelah ia paham kehidupan. Ada saja bukan, segelintir orang yang akhirnya menyampaikan, bahwa ia bukanlah anak kandung dari kedua orang tuanya?  Maka protes mulai berkobar. Rasa ingin tahu, kecewa berat, semua berkecamuk, sehingga membuat kedua orang tua angkat panik, serta tak sanggup menerima kenyataan akibat dari sebuah pengakuan.

Sang Kuriang, dalam dialog musikalisasinya  di panggung, menyanyikan lagu dengan kata-kata ,  ibu,  semua manusia yang bernama manusia, lahir ke dunia beribu  berbapak, hanya hamba seorang, lahir dari kandungan  ibunda, dengan tiada tahu siapa bapak… sudah berkali-kali hamba bertanya, siapa gerangan bapak hamba, di mana gerangan dia berada, tapi ibunda selalu berahasia, .. sunyi, sepi sekitar diri, entah di mana yang sudi, bintang di langit bukan cerlangku, bunga mengembang bukan untukku, melayang di gelap malam, itulah aku.., entah ke mana mencari…..

Kegelisahan sang anak berlarut-larut. Terus dan terus menerus.  Begitulah kehidupan anak manusia yang berlaku sampai kini.   Ada anak yang bapaknya tak sudi mengakui sebagai ayah kandungnya sampai masuk ke liang lahat, ada pula kedua orang tua angkat yang menyembunyikan ‘kemiskinan’  kedua orang tua asli sang anak.  Suatu saat, karena  sudah sangat terdesak, anak dipertemukan dengan kedua orang tua asli.  Bagaimana reaksinya? Tentu berbeda-beda.  Tetapi pada umumnya meledaklah drama pada saat itu.  Ada yang malu karena ternyata kedua orang tuanya sungguh miskin sedangkan sang anak hidup sangat berkecukupan di lingkungan yang jauh berbeda, ada pula yang marah besar mengapa sampai hati membuang anak kepada orang lain.

Yang paling menyedihkan adalah, tatkala anak angkat menuntut dicarikan siapa orang tua kandung sebenarnya,  bapak ibu angkatnya gelagapan, sebab merekapun tak tahu. Rahasia dipegang oleh sang dokter yang memberikan bayi merah ketika keluar dari rahim ibundanya.  Si pengambil anak disodori surat perjanjian untuk tidak bertanya muasalnya lagi, si  orang tua kandungpun juga dibuatkan perjanjian untuk tidak mencari  tahu apalagi menuntut di kemudian hari.  Sialnya lagi, sang dokter sebagai perantara itu sudah wafat pula!  Maka hiduplah sang anak dengan sebuah tanda tanya besar sampai hari tuanya.  Pedih, memang !

Keresahan yang amat sangat Sang Kuriang betul-betul badai api.  Tak ada hari yang tak ia tanya kepada Dayang Sumbi, siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.  Sebuah keterpaksaan,  situasi sulit yang tak terelakkan, membuat Dayang Sumbi mengakuinyalah, soal makhluk buruk rupa tadi.  Inilah gejolak rasa  baru yang bangkit secara dahsyat. Sang Kuriang tak bisa menerima —  bagai situasi zaman kini andai seorang anak akhirnya mengetahui orang tua kandungnya sungguh buruk dari segala segi dan hal.  Si Tumang, yang akhirnya ditunjuk Dayang Sumbi sebagai suami, membuat Sang Kurian bergidik, jijik, dan luapan amarahnya dicetuskan dalam kata- kata hina dina, siapa kau, sangat kusangsikan, dan jika kau benar bapakku, kau membuat aku malu, akhirnya kau bagiku merupakan beban, yang akan membuat kepalaku runduk tunduk selalu… pergilah kau jauh ke sana , aku tidak sudi lagi bertanya-tanya… sudah cukup aku menderita, disebabkan orang lain yang membisu tentang bapakku, sekarang mesti ditambah pula,,, maka jikalau engkau berkeras juga,  mengaku diri menjadi bapak, salah seorang dari kita mesti hilang, berani benar kau merangkul aku, kalau begitu terimalah ini tikaman…..

Sumbaran nasihat Ibunda memang tak mempan bagi Sang Kuriang, meski sudah dikatakan acapkali oleh wanita cantik itu, di dalam memandang kehidupan, jangan tuan disilaukan penglihatan, di dalam  menilai manusia, jangan terbatas hanya pada lahirnya.., memandanglah kepada dewata, yang bersemayam di mana-mana, yang berlainan di dalam bentuk…, di hadapanku berdiri anak durhaka, Sang Kuriang,  kau telah melakukan perbuatan terkutuk, lantaran silau memandang bentuk?

Dalam urusan keseharian kita, pergaulan, meniti karir, membina kekerabatan, tak jarang orang yang memang gemar ‘memandang kulit luarnya’  ketimbang budi yang ada di dalam kulit itu sendiri.  Kemegahan, kekuasaan, ketenaran, kecantikan,  seringkali dianggap pusat dambaan bangga dan patut dipuja.  ‘Jangan terbatas memandang hanya pada lahirnya’,  indah sekali ungkapan itu, yang mengisyaratkan bahwa kita mudah terjebak pada urusan lahiriah saja.  Seorang perempuan berlinang air mata tiada henti belasan bulan untuk menunjukkan kesetiaannya pada kematian suami, ternyata hanya sandiwara besar, misalnya. Itu bisa saja kan terjadi di dunia manapun?  Mengumbar dan menyitir ayat-ayat suci yang mulia namun implementasi perbuatan tak pernah sama dengan yang dituturkan, bisa saja  pada mulanya berhasil menarik pencitraan  ‘semu’ yang sukses menarik simpati banyak orang. Dan Dayang Sumbi sudah berkata-kata dengan bijak kepada anaknya yang gemar menghina dina……jangan terbatas hanya pada lahirnya…….dalam memandang kehidupan, jangan disilaukan penglihatan….

Dalam kepanikan, kekacauan hati Dayang Sumbi menghadapi anak kandungnya,  lagi-lagi kata berserah diri kepada Yang Kuasa menggema dari ungkapannya, Sang Kuriang  memang lain dari yang lain, tapi Sang Kuriang manusia, dan kepada manusia aku tetap yakin, ada dewata dalam dirinya.., dan selama ada dewata di dalam diri manusia, kewajiban kita, bukan menundukkan membinasakan, tapi menyatakan api kedewataan, yang bersemayam di tubuh lawan…, semoga api pembakar hutan, menjadi api kedewataan, yang bersinar terang benderang, dalam tubuh Sang Kuriang……..

Betapa simbol-simbol kata ini menjadi makna tersendiri bagi saya.  Bagi kita sebagai makhluk hidup yang berderajat.  Mengupayakan cinta, kebenaran, kasih sayang, meluruskan hal-hal yang tak lurus dari orang lain yang dianggap pihak lawan, adalah suatu keharusan.  Menghidupkan api kedewataan yang bersemayam di tubuh lawan…. betapa indahnya kata-kata itu.  Sebagai upaya manusia mencari pembenaran, memberikan kebenaran. Bila sudah tak mampu lagi, maka hanya berserahdirilah satu-satunya kepada ‘sang dewata’ ,  Tuhan Yang Maha Agung dan Segalanya…..

Menonton sebuah karya sastra, membaca buku, melihat karya seni,  mendengar alunan lagu, menikmati tari, memandang lukisan, adalah suatu pembekalan tersendiri.  Kita pulang membawa ‘sesuatu’.  Kita berpikir setelah itu…..  bukan tanpa bekas begitu saja.  Kita memiliki bekal yang baru lagi……  untuk tertuju bagi diri sendiri…, syukur-syukur bagi lingkungan terdekat kita.

Renunganku ……..   itulah renunganku.  Bersayap ke mana-mana setelah nonton drama Sang Kuriang.  Betapa sastrawan  hebat  Utuy Tatang Sontani asal Cianjur Jawa Barat  kelahiran tahun 1920 silam  ini  telah meninggalkan jejak rekam yang tiada tara, dari hasil  maha karya dan rentetan filosofi kata yang diselipkan  pada  dialog-dialog drama ini.  Bilakah kita sudi menyerap semua yang terkandung di dalamnya?

 

Bagikan Posting ini di:

5 Responses to Renunganku Bersayap Setelah Nonton Drama Sang Kuriang

  1. Ida Arimurti

    Mbaaa… bagus banget tulisanmu… Sangat menyentuh.. semoga jadi renungan buat kita semua. Thanks

  2. ratna delima hamid

    ulasan yang bagus sekali, banyak kata2 bijak yang bisa kita cerna, mungkin yang dimaksud suami dayang sumbi atau ayah nya sangkuriang itu adalah orang yang berprilaku seperti binatang, yang menyebab kan sangkuriang sering berkata kata kasar, juga suka menghina apakah seperti itu ? kadang cerita zaman dulu sering memperlihatkan wujud binatang, yang sebetul nya kalau dilihat mana mungkin manusia menikah dengan binatang.
    tx Linda Djalil, saya salah satu penggemar tulisan2 Linda. sukses selalu untuk Linda semoga tulisan2 Linda bermanfaat buat siapa saja yang membaca nya.

  3. berthy b r

    Terimakasih ulasannya, Mbak Lin… Kami yang belum sempat nonton, dapat simulasinya dulu… :)

    • Linda Djalil

      terima kasih bung Berthy…., saya beruntung sekali bisa menikmati pertunjukan itu kemarin sore.
      betul-betul berkesan, dan indah sekali.