browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Suatu Hari di Ruang Operasi

Posted by on January 16, 2014

Dita berada di kursi roda. Masuk pintu pertama, kedua, ketiga. Suster berderet di ruang dingin itu. Tempat tidur besi keren berselimut putih wangi menjadi tempat rebahan. Ia dipindahkan ke tempat itu. Lagi-lagi ia memandang para petugas di ruangan itu. Kalau lelaki, namanya apa ya?- ujar Dita dalam hati. Masa’ suster juga? Hihihihii..!! Perawat lelaki? Mereka pakai baju hijau-hijau, masker hijau, topi hijau. Hampir tidak bisa dibedakan mana yang perempuan mana yang lelaki.

Gesit, sigap, disiplin tinggi. Itulah kesan Dita, sembari menahan perut mulesnya yang sudah berbulan-bulan dirasakan. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Tiap detik menjadi waktu yang sangat berharga bagi para pekerja profesional itu. Bagai menunggu giliran di loket peron Kereta Api, beberapa pasien calon ‘penghuni’ ruang operasi berbaring di tempat tidur. Ada yang tenang-tenang saja, ada yang cukup resah. Dita termasuk yang ‘biasa-biasa saja’ campur aduk dengan ‘resah seyem gelisah atut buanget!’

Dita mencari-cari dokternya, ahli urusan perut mules. Lha bagaimana bisa mengenali wajah satu persatu, bila yang terlihat hanya biji mata? Ke mana ya si dokter? Urusan tubuh gue menjadi tanggungjawab dia sepenuhnya kan? — begitu kata hati Dita lagi.

Seorang perempuan lalu lalang di depan tempat tidur Dita. Entah itu perawat, entah itu dokter. Tapi dari gayanya berbicara, rasanya tak mungkin perawat. Sebab, agak seenaknya ia di ruangan itu. Dengan topi di kepala serba hijau hingga mata kaki, tangan kirinya menggenggam telefon. ‘Kamu masih demam? Kenapa ya? Apa karena kamu males ke sekolah? Cepet panggil si mbok, obat tadi jangan jauh-jauh, kalau panas lagi langsung diminum. Tapi makan dulu roti atau nasi ya. Mana Rini? Ayo cepet panggil di kamar atas. Halloooo… hallo Rin, kamu juga kenapa sih? Puyeng? Karena sakit betulan apa mikirin pacar? Halah ! Anak zaman sekarang urus pacaran melulu. Lha orang tua aja juga masih demen pacaran, apalagi kamu anak muda ya? Hahahaaa.. ya udah, pusing kepala ya minum obat. Udah sembuh panggil tuh pacarmu…”

Dita sekuat tenaga menahan gelak tawa. Busyet deh, di ruangan steril masih masih bisa pegang HP dan urus yang puyeng mikir pacar lah, yang badan panas lah. Kalau ketahuan si pemilik Rumah Sakit ini, ditegur tidak ya orang beginian?

Lalu seseorang menghampiri. Nah, ini dia…, Dita menebak yang datang adalah dokternya. “Tenang ya bu, biusnya nggak lama kok. Kan diendoskopi juga sebentar. Yakin aja ya nggak ada apa-apa ..” Huh, Dita agak sebal. Kalau tidak ada apa-apa kenapa dong perut gue melilit melulu? Eh tapi juga amit-amit kalau ‘ada apa-apa’ di perut. Intan berlian sih ok, bagai para koruptor menyembunyikan harga benda mereka lewat mulut, kalau perlu simpan di salah satu bagian organ perut. Tapi kalau penyakit? Owwww…,,oh.. noooo..no… !

Dita sesungguhnya jiper juga. Seyeeeeeem…, alias seram ! Tapi ia pantang menyerah. Si perempuan yang berhalo-halo dengan urusan rumah tadipun baginya adalah suatu hiburan juga di tengah ketakutan yang ia alami untuk masuk ruangan yang kelak ia dibius total. Nguping obrolan orang kan memang
‘dosa’ yang menarik, bukan? — ujar Dita lagi dalam hati.

Lalu, salah satu cara ia menenangkan hatinya sendiri, sang dokter jadi sasaran. “Dok, kok kayak tukang daging. Apa’an tuh.. pakai tutup kepala, tutup mulut, baju hijau kayak orang partai itu tuuuuh.. hahahahaaa… !” Sang dokter tertawa. Lalu, tibalah saat masuk ruang kecil. Satu perawat perempuan satu perawat lelaki, dan satu orang duduk memunggungi tempat tidur Dita. Ia sibuk mengutak-atik gambar lubang-lubang berwarna merah darah. Maka Dita mulai cerewet lagi untuk menutupi ketakutannya. “Kalian kok gesit banget ya. Emangnya sekolahnya apa’an sih bisa kerja beginian?”, tanyanya sengaja dibuat goblog. “Dari Aper bu…Akademi Perawat,” jawab yang perempuan. “Lalu, kalau yang duduk di depan komputer ini sekolahnya apa’an? IT ya? Sekolah komputer? Apa dia teknisi?”, kata Dita lagi tambah ngawur. Maka ada tiga suara tergelak bersamaan, sembari perawat perempuan menjawab, “Buuuu… itu kan yg lagi di depan komputer pak dokteeeeerrr…!”

Dita tersipu-sipu dan akhirnya ia tertawa tak ada habisnya. Perut mules seakan hilang seketika. Suasana riang gembira, emosi terjaga, ketakutan punah. “Aduh pak dokteeeerrr.., mahaaaap yaaaaa.., saya pikir tadi Anda adalah pengumpul data Rumah Sakit..”, ujar Dita lagi. Dokter hanya tertawa sebentar, lalu tak bergeming. Ia tampaknya sangat serius menghadapi layar kaca yang berisi bahasa teknis kedokteran beserta foto-foto ngeri yang tak dimengerti Dita. Ada lobang, daging, darah. hiiiiiii… !!! Barangkali jeroan gue juga nanti difoto seperti begini nih sama ini orang — kata Dita dalam hati.

Lalu perawat lelaki berkata, “Ibu … coba sebut nama panjang ibu, tanggal lahir, tahunnya…., setelah itu kami bius yaaa..” . Ente maksudnya apa sih nanya-nanya? Mungkin supaya tak salah bius orang, kalau metong juga gue nggak salah nama kaleeee di ruangan ini..nggak keliru sama pasien lain — pikir Dita lagi. Lalu terasa ia disuntik. “Ok deh dokteeeeerrrr, susteeeerrrr… daku jalan-jalan dulu ya ke mal…. bye..bye…..!”

Setengah jam kemudian, Dita sudah sadar, berada di ruang luar tempat ia pertama kali menunggu giliran. Sang dokter ‘ahli komputer’ itu datang, “Nggak apa-apa kok bu, hanya peradangan sedikit., tapi rasanya besok harus ulang periksa lagi ya?” Hah?? Ulang periksa…hiiiiiks ! “Besok kolonoskopi ya bu, karena kalau hanya peradangan usus begini kenapa sakitnya bulan-bulanan? Kami mau lihat usus besarnya,” ujar si dokter bawel itu. Huh, masuk ke ruangan ini lagi besok? Yang lebih tak sedap adalah Dita harus cuci perut, dikuras hingga melompong sepanjang malam agar perut besok bisa leluasa kemasukan kamera dengan hasil jernih.

Dita kembali ciut. Iya kalau tidak ada apa-apa. Kalau ada? Hari ini saja ia sudah bersyukur yang amat sangat, berhamdalah berkali-kali karena tak ada sesuatu yang mencurigakan. Air matanya mengalir. Antara lega dan was-was kembali jadi satu.

Esoknya, pagi, di jam yang sama ia sudah berada lagi di tempat yang sama. Dengan setengah mati berjuang ‘kebeol-beol’ cuci perut hingga tak ada lagi sebutir bubur sekalipun di perut. Di ruang kecil yang bakalan Dita dibius lagi, sudah ada ‘si tukang komputer’ dengan topi tukang dagingnya. Cermat, serius, mengetik gesit, meneliti seksama yang ada di layar. Dita bayangkan betapa banyak oom dan tantenya yang dokter, yang dulu juga bekerja semacam ini. Penuh pengabdian, waktu banyak tersita hingga keluarga tak kebagian jam santai, pagi ke Rumah Sakit, mengunjungi pasien dari kamar ke kamar, lalu menerima pasien di ruang praktek, lalu lari-lari ke ruang operasi. Sore praktek lagi hingga malam hari. Belum lagi telefon berbunyi terus dari pihak Rumah Sakit, dari suster jaga dan segala rupa. Menanyakan soal obat pasien, maupun melaporkan kondisi pasien yang sudah setengah kelenger. Duh!!

Dita mulai memahami mengapa dokternya yang khusus urusan perut ini sering jalan tergopoh-gopoh dari ruang praktek ke ruangan lain, tanpa wajahnya menengok kiri kanan lagi — seolah-olah di sampingnya dan depan belakangnya tak ada manusia hidup. Kapan waktu santainya? Kapan ia bisa tertawa atau selonjoran kaki sembari menikmati acara lawakan di televisi? Atau bersukaria di lapangan golf maupun mendengarkan musik keren? Waaah.. kembali Dita teringat oom ini tante itu yang hampir seluruh keluarga besarnya adalah dokter, dan sebagian dari mereka sudah tiada… hiiiks !!

Sembari menunggu, Dita menengok ke sisi kanan. Seorang perempuan yang ia tebak usianya lebih muda darinya, juga terbaring pasrah. “Mbak, kok saya pernah lihat kamu di mana ya?”, sapa Dita. “Iya, saya juga lho mbak, dari tadi mbak saya perhatikan, apa pernah masuk infotainment?”, jawabnya. Dita tergelak. “Impotemen? Emangnya gue Angelina Sondol yang doyan masuk impotemen? Enggak la yaaaaa…”, jawab Dita bergurau.

Tapi akhirnya keduanya ingat, memang mereka pernah bertemu. Di suatu kafe, si perempuan ini duduk di meja sudut. Ahaaaaa…, dia adalah ahli buka kartu. “Lha, kamu kan peramal yang ada di kafe X itu kan?”, tanya Dita lancang. “Iya mbak…, tapi mbak nggak pernah jadi pasien saya deh, cuma suka datang ke situ kan?”, jawabnya lagi. Maka muncullah obrolan baru sembari menunggu nasib dibius oleh si tukang daging yang sedang duduk di depan komputer ruang depan mereka itu.

Lalu tempat tidur besi Dita mulai didorong. Ia melambaikan tangan pada si peramal. Bius akan dimulai lagi. Perawat tanya lagi, nama panjang, alamat, umur. Lalu Dita nyeletuk,”Tanya dong sekalian, gue punya suami apa kagak? Huh suster ini bawel amat!”. Maka yang ada di ruang kecil itu kembali menggema tawa mereka. “Gue mau ke mal lagi. Ada yang mau ikut? Dokter, moga-moga usus saya nggak apa-apa yaaa….”, katanya. “Beres buuuuu….!”, jawab si dokter yang barangkali sesungguhnya dia sebal juga menghadapi pasien sudah mau dibuat pingsan masih nyerocos saja. Kali ini Dita terasa tak lama di ruangan itu. “Lho, kok saya sudah dengar suara kalian lagi?”, tanyanya. Ketiga manusia di ruangoperasi itu masih lengkap sama. “Lho sudah selesai dong buuuuu… ngapain lama-lama”. ujar salah satu di antara mereka. Sang dokter tukang daging ahli komputer itu kembali berada di depan layar. Nah, foto isi perut orang dianalisis, diceritakan, mungkin pula dibuat cerpen. Dita masa bodoh amat. Yang penting kali ini ia lebih ngeri karena takut sekali dengan hasilnya.

Lalu pak dokter datang menghampiri. Beres kok!– katanya sembari kaki kanan Dita ditepuk. Ini usus besarnya keram semua.., makanya mules melulu. Tidak ada apa-apa buuuuu…..! —- Dita kembali meneteskan air mata…, Tuhan begitu menyayanginya. Menjabah doanya. Menghilangkan ketakutannya. Seorang perempuan kembali mensyukuri segala nikmat.., memperoleh rizki diperiksa oleh seorang dokter yang cermat, perawat yang ramah dan gesit, ruang operasi yang nyaman…, selimut putih tebal yang keren, perkawanan sekejab dengan tukang ramal, dengan beberapa suster. Dan diberi kesembuhan !! Kali ini Dita didorong kembali ke kamarnya oleh petugas Rumah Sakit, sembari hatinya bernyanyi, “Terima kasih Gusti Allah….. hambaMU benar-benar telah Kau cintai sepenuhnya…. berikan hamba kesempatan hidup lebih lama, secara sehat, dan melakukan segala aktivitas dengan sehat..dengan kaya batin.., dengan pensyukuran nikmat yang tiada pernah putus kepadaMU……

Bagikan Posting ini di:

2 Responses to Suatu Hari di Ruang Operasi

  1. Melanie

    Pantess sekarang Dita jadi rajin olah raga niih… Salam ya uni Linda

  2. berthy b r

    Hmmm…. pengen buanget Dita, bertutur sebuku Novel tebal tentang saat istimewa itu… Do’a sejatiku juga Dita. Aku blajar dari syukurmu, Dita. :) Thx mbak Lin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>