browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Renungan Kejadian 25 Desember

Posted by on December 25, 2012
  1. Teringat kejadian di hari NATAL beberapa tahun lalu. Seorang suami ingin menyenangkan hati keluarga sang istri yang masih merayakan hari Natal. Meski ia adalah muslim dan istrinya menjadi mualaf, tapi penghormatan tetap dilakukan. Maka direncanakan tgl 25 Desember mengundang keluarga pihak istri, bahkan keluarga pihak suami lengkap pula diundang. Ini bukan perayaan Natal tapi silaturahmi biasa. Ada musik keroncong menyanyikan lagu-lagu tua seperti Bengawan Solo, Sepasang Mata Bola, dan memang bukan lagu-lagu Natal. Ada pohon Natal di sudut pintu kaca hanya sekedar untuk pajangan dengan lampu meriah dan kado-kado untuk seluruh anggota keluarga non muslim dan muslim sudah disiapkan di hamparan pohon Natal.
  2. Acara dimulai pukul 5 sore. Siang pk 1.00 nyonya rumah tidak ada di rumah. Rupanya NGABUR karena baru saja ribut dengan suami gara-gara urusan kamar anaknya yang balita. Si ayah inginkan kamar anak jangan terlalu dipenuhi pajangan mainan dan ornamen panggung2. Biarkan menjadi kamar tidur biasa, dan permainan adalah di luar kamar. Si ibu merasa terhina karena semua urusan memajang melukis membuat panggung mainan di dalam kamar tidur sudah memakan biaya besar atas upaya kocek pribadinya sendiri. Juga soal gantungan baju dan lemari yang dianggap milik anak-anak tiri si ibu jauh lebih bagus ketimbang yg dimiliki oleh anak kandungnya sendiri. Si istri protes berat. Mereka ribut besar.
  3. Jam 5 sore tamu berdatangan, nyonya rumah tidak ada. Tiba-tiba ia datang dengan rambut diikat satu, tanpa bedak, pakai blus lusuh celana sedengkul. Didampingi kedua orang tuanya. Hanya berkata kepada salah satu tamu,”saya nggak bisa munafik! saya  nggak bisa pura2.  nggak bisa temani tamu.  saya sakit, nggak enak badan, mau di kamar saja!’ — dengan wajah kusut cemberut dan galak. Lalu ia naik ke kamar tidur di lantai atas dengan segera. Tidak muncul lagi.Maka ‘pesta natal’ berlangsung dengan aneh dan gamang. Sang suami betapa memerah wajahnya, menahan malu yg amat sangat di depan anggota keluarganya yang lain, oom2 dan tante2 terhormat yg sudah khusus datang, juga apalagi di depan keluarga sang istri yg memang bukan muslim. Kedua orang tua si istri terdiam bagai tiada daya dan tidak memiliki wibawa apapun untuk membujuk anak kesayangannya agar turun menerima tamu dan secara santun berlaku sebagai nyonya rumah yang sepantasnya.
  4. Musik keroncong berbunyi, suasana dibuat pura-pura meriah…, makanan katering disantap dengan penuh tanda tanya. Betapa bisa dirasakan bahwa sang istri betul-betul tidak memperhitungkan gengsi dan martabat suami. Ia tdk perduli suami dipermalukan  di depan banyak orang pada saat acara silaturahmi yg khusus sebetulnya dibuat untuk keluarga sang istri. Kata-kata CERAI memang sudah meluncur berbulan-bulan sebelumnya, bahkan beberapa hari sebelum tanggal 25 Desember itu. Bahkan pula pada hari yang sama sebelum ia ‘minggat’ siang-siang.
  5. Saat acara selesai malam-malam, para tamu tetap mengunci mulut. Masing-masing pulang dengan geleng kepala, mempertanyakan sikap si nyonya rumah yang tidak memiliki kesantunan yang patut, dan sampai hati mempermalukan suaminya di depan banyak orang. Padahal, tanpa disadari, perempuan itu sesungguhnya sudah mempermalukan dirinya sendiri dan membuka siapa dirinya serta kualitasnya yg sebenarnya.

    Tak lama setelah bulan itu, suami meninggal. Tiba-tiba. Tanpa sakit. Seluruh negeri heboh ! Tapi yang lebih heboh adalah sang istri, yang begitu gencar menutupi segala keserampangan perilakunya terhadap sang suami selama ini. Maka sandiwara besar pun digelar. Urusan cinta kasih tak tertandingkan, kesetiaan, keharmonisan rumah tangga sampai titik darah penghabisan diumbar ke sana-sini. Masyarakat ikut mengalirkan air mata pertanda turut berduka dan memuji kesetiaan perkasa seorang perempuan. Berbulan-bulan drama dipertontonkan ke mana-mana. Seolah-olah ada bidadari turun dari langit menjelma sebagai seorang istri yang sungguh mencintai suaminya, sungguh terpukul, kehilangan luar biasa, plus air mata yang tiada henti dipamerkan.

    Dan Tuhan menggerakkan kekuasaanNYA. Tak akan mungkin DIA mendiamkan kebatilan disebar secara perkasa dari umatnya yang dianggapnya dajal dan penuh pendustaan. Hari demi hari segalanya terkuak. Dari urusan pribadi sampai isi kocek harta yang bukan menjadi hak yang seharusnya.

    Kita hanya sebagai penonton. Pelaku drama tragedi mudharat yang menganggap pihak lain adalah srigala berbulu domba, akhirnya tokh di penghujung cerita sudah menjadi srigala bagi dirinya sendiri. Semua terkuak dengan sangat telanjang.

    Hendaknya segala kejadian yang memalukan, kemunafikan dan kebohongan yang menjijikkan, menjadi pelajaran bagi kita semua, siapapun. Semoga kita tetap berada pada golongan yang selalu dicintai Tuhan….., sehingga jalan terang yang terbentang yang sesungguhnya disediakan olehNYA, jangan sekalipun kita anggap remeh dan kesampingkan. Apa gunanya kemuliaan semu di mata orang banyak yang dilumuri kepura-puraan , bila tidak ada kemuliaan di mata Tuhan…..

    Harta, jabatan, kekuasaan, kehebatan, cakep dan cantik, bahkan kesehatan, semua hanya titipan……..

Bagikan Posting ini di:

4 Responses to Renungan Kejadian 25 Desember

  1. MIA

    Sedih membcanya ya bu,ternyata di saat2 terakhir hidupnya Adjie dalam kondisi yang tidak bahagia,begitu disepelekan oleh istrinya. Kasian sekali Adjie istri yang dulu dikira emas permata ternyata hanya mendatangkan penderitaan saja, bahkan mungkin juga kematiannya????? sejak Adjie meninggal ,sedikitpun saya tidak simpati pada Angie, saya muak karena melihat AS ini terlalu” mengkomersialkan” kematian suaminya. Semoga Adjie tenang disana.

  2. berthy b r

    Inner beauty dimiliki kontestan para Puteri Indonesia, KATANYA, tapi mungkin tak seindah seputar ‘pengaturan skor pemenangnya’, demikian implementasi lapangan hidupnya, Mbak Lin…

  3. Tasha

    Ya ampun mbak Linda..sedih sekali membayangkannya. Kesombongan dan keangkuhan adalah awal dari kejatuhan. Memetik pelajaran dari pengalaman org lain tdk ternilai harganya, sbg refleksi diri utk tdk melakukan kesalahan yg sama. Thanks, MBA Linda!!

    • Linda Djalil

      Terima kasih temanku Tasha. Semoga kita bisa belajar dengan segala kerendahan hati, dari kesalahan orang lain, maupun kesalahan yang kita perbuat sendiri. Salam,